Yogyakarta, 29 Juni 2026 – Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada Minggu (28/6/2026) menjadi momentum krusial bagi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) untuk menegaskan kembali fundamental pengasuhan anak di tengah gempuran teknologi. Sekretaris Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Sesmendukbangga), Budi Setiyono, secara tegas menyatakan bahwa peran ayah dalam keluarga merupakan variabel yang bersifat absolut dan tidak dapat disubstitusi oleh kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Di tengah transformasi digital yang bergerak eksponensial, Budi menyoroti pergeseran paradigma pengasuhan yang kini menghadapi ancaman sistemik. Jika tantangan keluarga Indonesia pada masa lalu bersifat fisik dan kolonial, tantangan masa kini adalah "penjajahan algoritma". Fenomena di mana perangkat digital dan media sosial mendikte pola pikir, perilaku, hingga standar moral anak-anak dinilai menjadi ancaman serius bagi ketahanan karakter bangsa.
Transformasi Tantangan Keluarga di Era Digital
Dalam pidatonya di sela-sela kegiatan senam sehat Harganas, Budi Setiyono menekankan bahwa dominasi algoritma digital telah menciptakan ruang isolasi bagi anak. Algoritma yang dipersonalisasi sering kali menjebak anak dalam gelembung informasi (filter bubble) yang membatasi perspektif mereka terhadap dunia nyata.
"Kalau dulu kita berhadapan dengan para penjajah, sekarang kita berhadapan dengan penjajahan baru, yaitu dominasi algoritma digital. Perangkat digital, media sosial, hingga AI kini semakin memengaruhi cara berpikir dan bertindak anak-anak," ungkap Budi di hadapan masyarakat Yogyakarta.
Fenomena ini bukan sekadar isu domestik, melainkan tantangan global. Berdasarkan data literasi digital yang dihimpun berbagai lembaga riset, ketergantungan anak pada perangkat digital telah meningkatkan risiko paparan konten negatif, mulai dari radikalisme, cyberbullying, hingga perilaku antisosial. Di Indonesia, tantangan ini diperumit dengan maraknya fenomena kekerasan remaja seperti klitih dan tawuran pelajar, yang menurut para pakar psikologi perkembangan, sering kali berakar dari "father hunger" atau kekosongan figur ayah dalam proses pertumbuhan emosional anak.
Ayah Sebagai Benteng Karakter dan Keteladanan
Tema Harganas ke-33 yang mengusung narasi "Ayah Wajib Hadir" bukanlah sekadar slogan. Kemendukbangga menempatkan kehadiran ayah sebagai benteng pertama pertahanan keluarga. Dalam perspektif kebijakan pembangunan keluarga, peran ayah telah mengalami evolusi dari sekadar pencari nafkah (breadwinner) menjadi pendamping emosional dan pembimbing moral.
Budi menjelaskan bahwa AI mungkin mampu memberikan jawaban atas pertanyaan akademis, memberikan hiburan, bahkan memberikan simulasi pembelajaran, namun AI tidak memiliki kapasitas untuk memberikan keteladanan (modeling) dan empati. Kehadiran fisik seorang ayah—yang mencakup pendampingan, perlindungan, dan bimbingan langsung—merupakan instrumen vital yang membentuk neurobiologi dan kecerdasan emosional anak.
"Ayah tidak hanya bertugas mencari nafkah, tetapi juga hadir mendampingi anak, memberikan keteladanan, perlindungan, serta membimbing mereka menghadapi berbagai ancaman zaman," tambahnya. Kehadiran ini menjadi krusial dalam memitigasi risiko penyalahgunaan narkoba dan keterlibatan dalam tindakan kriminalitas remaja. Ketika seorang anak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan figur otoritas yang suportif di rumah, probabilitas mereka untuk mencari validasi di lingkungan luar yang berisiko akan menurun secara signifikan.
Strategi Pemerintah: Mengatasi Fenomena Fatherless
Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan besar terkait fenomena "fatherless country" atau negara yang kekurangan figur ayah. Data dari berbagai studi sosiologi keluarga menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkorelasi positif dengan kerentanan anak terhadap berbagai gangguan perilaku.
Menanggapi hal tersebut, Kemendukbangga menyiapkan skema intervensi sosial bagi keluarga yang mengalami kendala kehadiran ayah, baik karena perceraian, pekerjaan, maupun faktor lainnya. Pemerintah mendorong penguatan "sistem pendukung sosial" (social support system) di tingkat komunitas.

Pihak-pihak yang didorong untuk mengambil peran substitusi sementara meliputi:
- Pendidik (Guru): Sebagai figur otoritas di sekolah yang memberikan pengawasan karakter.
- Lingkungan Sosial (Tetangga): Menciptakan pengawasan berbasis komunitas (community watch) terhadap aktivitas remaja.
- Keluarga Besar: Mengaktifkan kembali peran kakek, paman, atau saudara laki-laki sebagai figur pengganti dalam proses pengasuhan.
- Tokoh Agama dan Pemimpin Masyarakat: Menjadi mediator dan mentor moral bagi generasi muda.
Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir dampak psikologis pada anak yang tumbuh dalam keluarga dengan keterlibatan ayah yang rendah, sehingga mereka tetap memiliki panduan moral di tengah gempuran arus informasi digital yang tidak terfilter.
Implikasi Sosiologis dan Analisis Kebijakan
Secara sosiologis, penegasan Kemendukbangga mengenai peran ayah mencerminkan pergeseran kebijakan publik menuju pendekatan yang lebih humanis dan berbasis keluarga (family-centered approach). Selama dua dekade terakhir, kebijakan keluarga sering kali terfokus pada kesehatan fisik (stunting, gizi) dan ekonomi. Namun, Harganas ke-33 menandai pergeseran fokus ke arah kesehatan mental dan pembangunan karakter (character building).
Analis kebijakan keluarga menilai bahwa jika negara tidak segera mengintervensi penurunan kualitas interaksi dalam keluarga, Indonesia berisiko kehilangan potensi bonus demografi. Anak-anak yang tumbuh dengan ketergantungan penuh pada algoritma AI cenderung memiliki kemampuan berpikir kritis yang rendah dan tingkat ketergantungan yang tinggi pada validasi virtual.
Implikasi dari kebijakan "Ayah Wajib Hadir" ini nantinya akan diterjemahkan ke dalam program-program pemberdayaan masyarakat, seperti kelas pengasuhan (parenting classes) yang diwajibkan bagi calon pengantin, serta peningkatan literasi digital bagi orang tua agar mereka tidak kalah cepat dengan teknologi dalam memahami dunia anak.
Kronologi Peringatan Harganas ke-33
Peringatan Harganas ke-33 di Yogyakarta bukan sekadar seremonial. Acara ini menjadi puncak dari serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan sepanjang bulan Juni 2026. Berikut adalah kronologi singkat rangkaian kegiatan:
- Minggu, 1 Juni 2026: Kick-off peringatan Harganas di tingkat provinsi dengan peluncuran kampanye "Ayah Hebat, Anak Kuat".
- 10-20 Juni 2026: Sosialisasi edukasi pengasuhan di tingkat kecamatan melalui Pos Pelayanan Keluarga Berencana (Posyandu) dan balai desa.
- 25 Juni 2026: Seminar nasional tentang "Tantangan Keluarga di Era Kecerdasan Buatan" yang melibatkan akademisi, praktisi psikologi, dan pengambil kebijakan.
- 28 Juni 2026: Puncak peringatan di Yogyakarta, ditandai dengan kegiatan senam sehat dan deklarasi pentingnya peran ayah sebagai benteng pertahanan keluarga dari pengaruh negatif algoritma digital.
Menyongsong Masa Depan dengan Ketahanan Keluarga
Di akhir paparannya, Budi Setiyono menekankan bahwa teknologi sejatinya adalah alat. Ia tidak menolak perkembangan AI, melainkan mendorong agar teknologi tersebut digunakan sebagai alat bantu dalam pengasuhan, bukan sebagai pengganti orang tua. Kehadiran ayah adalah bentuk komitmen jangka panjang dalam membangun fondasi karakter bangsa yang tangguh.
Dengan semangat Harganas ke-33, pemerintah berharap setiap keluarga di Indonesia dapat melakukan refleksi mendalam mengenai kualitas interaksi di dalam rumah. "Teknologi akan terus berkembang, namun nilai-nilai kemanusiaan, kasih sayang, dan bimbingan seorang ayah tetap menjadi jangkar utama bagi anak untuk tidak tersesat dalam arus zaman yang tidak pasti," tutup Budi.
Peringatan ini diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh lapisan masyarakat bahwa tanggung jawab mendidik anak bukanlah beban yang bisa dialihkan ke sistem digital. Di tengah dunia yang semakin otomatis, sentuhan manusia—terutama figur ayah—adalah elemen yang paling otentik dan paling dibutuhkan dalam menjaga masa depan generasi penerus bangsa.
Melalui sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan kesadaran individu para ayah, diharapkan Indonesia mampu membangun ketahanan keluarga yang adaptif namun tetap memegang teguh nilai-nilai karakter yang tidak bisa dikomputasi oleh kecerdasan buatan mana pun.









