Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya

Kritik Tajam Penggunaan Pendekatan Militer dalam Pelatihan Pengelola Koperasi Desa Merah Putih Pasca Insiden Korban Jiwa

badge-check


					Kritik Tajam Penggunaan Pendekatan Militer dalam Pelatihan Pengelola Koperasi Desa Merah Putih Pasca Insiden Korban Jiwa Perbesar

JOGJA – Insiden yang melibatkan pelatihan dasar kemiliteran bagi calon pengelola Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) kembali memicu perdebatan mengenai relevansi metode pendisiplinan ala militer dalam sektor ekonomi sipil. Laporan terbaru mengonfirmasi bahwa jumlah korban dalam rangkaian kegiatan pelatihan tersebut kini mencapai lima orang. Peristiwa ini memicu reaksi keras dari kalangan akademisi yang menilai bahwa penggunaan pendekatan militeristik dalam organisasi koperasi adalah bentuk kekeliruan fundamental dalam tata kelola manajemen modern.

Koperasi, sebagai entitas ekonomi yang berakar pada prinsip demokrasi, partisipasi sukarela, dan musyawarah, seharusnya berpijak pada kompetensi manajerial, bukan ketahanan fisik yang bersifat represif. Pakar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Subarsono, menegaskan bahwa pelatihan yang melibatkan kegiatan fisik intensif seperti baris-berbaris, lari jarak jauh, hingga simulasi penggunaan senjata api, tidak memiliki korelasi langsung dengan tugas operasional seorang manajer koperasi.

Kronologi dan Latar Belakang Pelatihan KDMP

Kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) ini dirancang sebagai prasyarat wajib bagi para calon pengelola. Berdasarkan informasi yang dihimpun, program tersebut bertujuan untuk membangun mentalitas disiplin dan jiwa korsa di kalangan pengelola koperasi. Namun, implementasi di lapangan justru jauh dari ekspektasi pengembangan kapasitas ekonomi.

Peserta diwajibkan mengikuti serangkaian latihan fisik yang berat, yang seringkali dilakukan di bawah kondisi cuaca ekstrem dan intensitas yang tidak terukur bagi peserta yang tidak memiliki latar belakang fisik militer. Insiden mulai terkuak ketika satu per satu peserta mengalami kelelahan fisik ekstrem hingga membutuhkan penanganan medis intensif. Hingga berita ini diturunkan, tercatat lima orang korban yang mengalami dampak kesehatan serius akibat prosedur latihan yang dipaksakan.

Pihak penyelenggara hingga kini belum memberikan pernyataan resmi mengenai protokol keamanan (SOP) yang digunakan selama kegiatan berlangsung. Minimnya pengawasan kesehatan dalam latihan yang bersifat fisik ini menjadi sorotan utama, mengingat peserta adalah tenaga profesional yang disiapkan untuk mengelola aset ekonomi masyarakat, bukan personel militer yang sedang menjalani pendidikan tempur.

Ketimpangan Kompetensi: Antara Disiplin Militer dan Manajemen Koperasi

Dalam konteks manajerial, disiplin memiliki definisi yang jauh lebih luas dan bernuansa teknis. Menurut Dr. Subarsono, terdapat pergeseran makna disiplin yang berbahaya jika hanya diartikan sebagai kepatuhan fisik. Dalam dunia koperasi, disiplin harus diterjemahkan ke dalam bentuk integritas profesional.

"Seorang manajer koperasi yang ideal harus memiliki kemampuan untuk mengeksekusi kebijakan strategis yang ditetapkan oleh pengurus melalui tindakan operasional harian yang terukur. Tanggung jawab mereka mencakup pengelolaan sumber daya manusia, pengawasan arus kas secara presisi, pencapaian target penjualan, serta transparansi laporan kinerja kepada anggota koperasi," jelas Subarsono.

Lebih lanjut, ia merinci bahwa pelatihan yang seharusnya diberikan kepada calon pengelola koperasi adalah hal-hal yang berkaitan dengan tata kelola keuangan modern, manajemen SDM berbasis kinerja, pemanfaatan teknologi informasi dalam pemasaran (e-marketing), inovasi model bisnis, hingga perencanaan strategis jangka panjang. Pelatihan yang bersifat teknis ini jauh lebih relevan untuk menyejahterakan anggota dibandingkan dengan latihan fisik yang menguras energi dan berisiko membahayakan keselamatan jiwa.

Analisis: Mengapa Pendekatan Militer Sering Disalahpahami?

Fenomena penggunaan pendekatan militer dalam sektor sipil di Indonesia sering kali dipicu oleh mitos bahwa disiplin militer adalah "obat mujarab" untuk membangun karakter. Namun, dalam manajemen organisasi sipil, pendekatan ini sering kali kontraproduktif.

Dalam dunia militer, disiplin didefinisikan sebagai kepatuhan mutlak pada komando, ketepatan waktu dalam apel, dan keseragaman tindakan. Hal ini sangat berguna dalam situasi perang. Namun, dalam dunia ekonomi, disiplin berarti kemampuan manajer untuk membuat laporan keuangan yang akurat, berperilaku transparan, tidak menyalahgunakan aset koperasi untuk kepentingan pribadi, serta menyediakan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ketika pendekatan militer dipaksakan ke dalam lingkungan kerja koperasi, yang terjadi adalah penindasan kreativitas. Pengelola koperasi akan cenderung lebih takut pada atasan daripada memikirkan inovasi untuk melayani anggota. Hal ini pada gilirannya akan mematikan daya saing koperasi di tengah pasar yang sangat dinamis dan kompetitif.

Implikasi Hukum dan Kelembagaan bagi KDMP

Insiden jatuhnya lima korban dalam pelatihan ini membuka peluang bagi peninjauan ulang terhadap operasional KDMP. Secara hukum, setiap penyelenggara kegiatan yang melibatkan aktivitas fisik berisiko tinggi wajib memiliki izin, pengawasan medis yang memadai, serta analisis risiko yang jelas.

Jika terbukti adanya kelalaian dalam prosedur pelatihan, pihak penyelenggara dapat menghadapi sanksi administratif hingga tuntutan hukum pidana atas kelalaian yang menyebabkan orang lain mengalami cedera atau dampak kesehatan yang fatal. Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap standar pelatihan bagi pengelola koperasi di seluruh Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Transparansi dan akuntabilitas adalah harga mati bagi koperasi. Jika langkah awal dalam rekrutmen pengelola saja sudah tidak transparan dan tidak berbasis pada kompetensi yang tepat, maka akan sangat sulit bagi koperasi tersebut untuk mendapatkan kepercayaan dari anggotanya.

Rekomendasi Strategis untuk Transformasi Koperasi

Demi memperbaiki kualitas SDM di sektor koperasi, diperlukan pergeseran paradigma pelatihan. Berikut adalah beberapa poin rekomendasi yang dapat dipertimbangkan oleh pemangku kepentingan:

  1. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Pelatihan pengelola koperasi harus difokuskan pada penguasaan literasi keuangan digital, manajemen risiko, dan kemampuan analisis pasar.
  2. Standardisasi Sertifikasi: Pelatihan pengelola koperasi sebaiknya dikelola oleh lembaga pendidikan atau lembaga pelatihan profesional yang diakui oleh negara dan memiliki kurikulum berbasis standar kompetensi kerja nasional.
  3. Evaluasi Kinerja Berbasis Output: Alih-alih mengukur kedisiplinan melalui baris-berbaris, kinerja pengelola harus diukur berdasarkan pertumbuhan aset koperasi, peningkatan nilai transaksi, dan tingkat kepuasan anggota.
  4. Pengawasan oleh Dinas Koperasi: Pihak otoritas terkait harus lebih proaktif dalam memantau setiap kegiatan yang dilakukan oleh badan hukum koperasi yang bersifat massal, terutama yang melibatkan aktivitas fisik.

Dampak Jangka Panjang bagi Citra Koperasi

Kejadian ini tidak hanya merugikan para korban dan keluarga mereka, tetapi juga mencoreng citra koperasi secara nasional. Koperasi seringkali sudah dianggap sebagai entitas ekonomi yang kuno dan tidak menarik bagi generasi muda. Jika koperasi kemudian dipersepsikan sebagai tempat yang menerapkan budaya kekerasan atau latihan militer yang tidak relevan, maka minat tenaga kerja profesional untuk berkarier di koperasi akan semakin menurun.

Padahal, di tengah ketidakpastian ekonomi global, koperasi merupakan salah satu pilar penting dalam ketahanan ekonomi masyarakat desa. Oleh karena itu, penguatan koperasi harus dilakukan melalui penguatan kapasitas intelektual, bukan dengan pendekatan yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan profesionalisme.

Kesimpulan

Tragedi yang menimpa lima calon pengelola KDMP adalah alarm bagi kita semua. Disiplin dalam koperasi bukan berarti tunduk pada perintah atasan secara membabi buta, melainkan kepatuhan terhadap regulasi, etika bisnis, dan kesejahteraan anggota. Pendekatan militer yang diterapkan di luar koridornya hanya akan menghasilkan manajer yang cakap dalam berbaris, namun tumpul dalam inovasi bisnis.

Sudah saatnya koperasi kembali ke khittahnya sebagai organisasi ekonomi sipil yang modern, dinamis, dan demokratis. Pelatihan fisik yang berisiko tinggi harus dihentikan dan digantikan dengan program pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. Koperasi yang kuat tidak dibangun dengan latihan fisik yang keras, melainkan dengan tata kelola yang cerdas, transparan, dan berorientasi pada kepentingan anggota.

Ke depannya, masyarakat berharap agar pihak berwenang melakukan investigasi menyeluruh terhadap insiden ini. Tidak hanya untuk mencari siapa yang bertanggung jawab, tetapi juga untuk memastikan bahwa sistem pendidikan dan pelatihan di lingkungan koperasi di masa depan benar-benar mencerminkan nilai-nilai profesionalisme, bukan sekadar simbol kedisiplinan yang salah kaprah. Pendidikan bagi pengelola koperasi harus menjadi jembatan menuju kesejahteraan anggota, bukan jalan menuju musibah yang merenggut kesehatan dan masa depan para calon pengelolanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bank Indonesia DIY Perkuat Kedaulatan Ekonomi Nasional Melalui Ajang Duta Cinta Bangga Paham Rupiah

28 Juni 2026 - 18:57 WIB

Perkuat Jaringan Nasional, Honda Prospect Motor Resmikan Empat Dealer Baru di Jawa Tengah dan Bali

27 Juni 2026 - 06:57 WIB

Dilema Otonomi Daerah: Menakar Ulang Relasi Pusat dan Daerah Setelah Seperempat Abad Desentralisasi

27 Juni 2026 - 00:57 WIB

Tragedi Pelatihan Militer Calon Pengelola Koperasi Desa Memicu Desakan Penghentian Militerisasi Ruang Sipil

26 Juni 2026 - 06:57 WIB

GAC Indonesia Kebut Ekspansi Jaringan Dealer AION dan HYPTEC untuk Memperkuat Dominasi Pasar Kendaraan Listrik Nasional

26 Juni 2026 - 00:57 WIB

Trending di Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya