Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menegaskan perannya dalam hilirisasi riset strategis melalui pengembangan sistem teknologi agro-voltaic hybrid di Kalurahan Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta. Proyek ini tidak sekadar menjadi instalasi energi surya biasa, melainkan sebuah model pemberdayaan masyarakat berbasis energi berkelanjutan yang mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), pemantauan data iklim real-time, dan kolaborasi lintas negara dengan Solar Research Institute (SRI) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia. Program ini bertujuan mentransformasi Pandowoharjo menjadi desa mandiri hijau yang mampu mengoptimalkan potensi lahan pertanian sekaligus pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) secara efisien.
Konteks Strategis Pengembangan Agrivoltaik di Indonesia
Di tengah tuntutan transisi energi global, sektor pertanian di Indonesia menghadapi tantangan ganda: keterbatasan efisiensi energi untuk irigasi dan ancaman perubahan iklim terhadap produktivitas tanaman hortikultura. Konsep agrivoltaik—penggabungan panel surya di atas lahan pertanian—menjadi solusi krusial. Teknologi ini memungkinkan penggunaan lahan secara ganda (dual-use), di mana panel surya menghasilkan listrik tanpa harus mengorbankan lahan pangan, bahkan mampu memberikan perlindungan bagi tanaman dari intensitas cahaya matahari yang berlebih.
UGM, melalui Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika serta Fakultas Teknologi Pertanian, memimpin inisiatif ini dengan skala PLTS Hybrid 2,6 kWp. Kapasitas ini dirancang secara presisi untuk memenuhi kebutuhan beban irigasi cerdas dan mesin-mesin pendukung hilirisasi produk pertanian di tingkat desa. Dengan melibatkan warga lokal sejak tahap perakitan prototype di laboratorium, proyek ini meminimalisir gap teknologi dan memastikan keberlanjutan operasional di masa depan.
Kronologi dan Rangkaian Kunjungan Strategis ke Malaysia
Langkah ambisius UGM dalam memastikan standar global pada proyek ini ditandai dengan rangkaian kunjungan strategis ke Malaysia pada 5–9 Mei lalu. Kunjungan ini bukan sekadar pertukaran akademis, melainkan langkah transfer pengetahuan (knowledge transfer) yang intensif.
Pada hari pertama dan kedua, tim UGM yang dipimpin oleh Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., bersama Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, Ph.D., melakukan observasi mendalam di UiTM Large Solar Scale (LSS) Park 2 di Gambang, Pahang. Di lokasi ini, tim mempelajari manajemen tata kelola sistem surya skala besar yang kompleks. Kunjungan berlanjut ke Universiti Putra Malaysia (UPM), di mana tim UGM mendiskusikan integrasi sistem energi surya dengan peternakan dan sistem pangan terpadu.
Puncak dari kunjungan tersebut adalah perumusan strategi teknis bersama Prof. Nofri Yenita Dahlan dari SRI UiTM. Fokus diskusi tertuju pada pentingnya simulasi energy yield dan analisis shading (bayangan). Analisis ini sangat vital; jika penempatan panel surya tidak dihitung dengan cermat, bayangan yang jatuh di atas lahan pertanian justru akan menurunkan fotosintesis tanaman. Dengan simulasi yang matang, tim memastikan bahwa sistem agrivoltaik justru menciptakan iklim mikro yang ideal bagi pertumbuhan tanaman hortikultura di bawah panel.
Pendekatan Pemberdayaan Berbasis Kesetaraan Gender
Salah satu aspek paling progresif dari proyek ini adalah pengarusutamaan gender. Kelompok Wanita Tani (KWT) di Pandowoharjo ditempatkan sebagai aktor utama dalam ekosistem ini. Keterlibatan KWT bukan hanya simbolis, melainkan operasional. Mereka diberikan akses untuk memahami teknologi energi terbarukan, yang selama ini sering kali didominasi oleh laki-laki.

Dukungan kelembagaan pun sangat kuat. Pemerintah Kalurahan Pandowoharjo, BUMKal Amarta, Babinsa, Babinkamtibmas, hingga Badan Perwakilan Kalurahan telah membentuk konsorsium pendukung. Kalurahan telah berkomitmen menyediakan sumber daya manusia (SDM) untuk proses perakitan hingga pemeliharaan jangka panjang. Keterlibatan multipihak ini merupakan strategi mitigasi risiko sosial, memastikan bahwa teknologi yang diinstal memiliki rasa kepemilikan (sense of ownership) yang tinggi dari masyarakat desa.
Integrasi Teknologi AI dan Internet of Things (IoT)
Keunggulan sistem di Pandowoharjo terletak pada integrasi teknologi cerdas. Untuk menjamin keberlanjutan, sistem tidak hanya berfungsi sebagai pemasok listrik, tetapi juga sebagai pusat data pertanian. Beberapa fitur teknologi yang diterapkan meliputi:
- Sensor RiTx: Sensor ini berfungsi memantau kondisi tanah (kelembapan, pH, nutrisi) dan cuaca secara real-time. Data ini kemudian diolah untuk menentukan kapan irigasi harus dijalankan secara otomatis melalui sistem irigasi cerdas.
- Kamera Pengawas Berbasis Internet: Pihak kalurahan memasang kamera pengawas untuk memastikan keamanan perangkat sekaligus memantau aktivitas di area agrivoltaik dari jarak jauh.
- Deteksi Anomali Berbasis AI: Ahmad Agus Setiawan menekankan bahwa biaya perawatan sering menjadi kendala utama PLTS di pedesaan. Dengan pelatihan deteksi anomali menggunakan kecerdasan buatan, sistem dapat memprediksi kerusakan atau penurunan efisiensi panel sebelum benar-benar rusak. Hal ini secara signifikan menurunkan biaya operasional dan pemeliharaan (O&M).
Analisis Dampak dan Implikasi Masa Depan
Implementasi proyek agrivoltaik di Pandowoharjo memiliki implikasi yang luas bagi ketahanan pangan dan energi nasional. Secara empiris, integrasi energi surya dengan pertanian dapat meningkatkan nilai ekonomi lahan. Petani tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga memiliki opsi untuk menjual kelebihan listrik (jika regulasi memungkinkan) atau setidaknya menekan biaya produksi melalui pemanfaatan energi surya untuk mesin pasca-panen.
Prof. Mohammad Effendy bin Yaacob dari UPM, dalam pertemuannya dengan tim UGM, memberikan catatan kritis bahwa teknologi ini harus berorientasi pada "kesejahteraan petani". Artinya, kompleksitas teknis dari panel surya dan sensor IoT tidak boleh menjadi beban administratif bagi petani. Oleh karena itu, pendekatan UGM dalam melakukan transfer pengetahuan kepada warga desa adalah langkah yang sangat tepat.
Dari sisi kebijakan, proyek ini menjadi laboratorium hidup bagi BAPPENAS—di mana Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho juga berperan sebagai tenaga ahli—untuk melihat bagaimana teknologi agrivoltaik bisa direplikasi di desa-desa lain di Indonesia. Keberhasilan di Pandowoharjo akan menjadi bukti konsep (proof of concept) bahwa teknologi tinggi tidak harus eksklusif, melainkan dapat diadaptasi untuk skala komunitas pedesaan.
Kesimpulan: Menuju Kemandirian Hijau
Proyek agrivoltaik UGM di Pandowoharjo merupakan perpaduan harmonis antara riset teknis tingkat tinggi dengan kearifan lokal. Dengan melibatkan pihak internasional, UGM memastikan bahwa sistem yang diterapkan memiliki standar keamanan dan efisiensi global. Sementara itu, dengan melibatkan pemerintah kalurahan dan Kelompok Wanita Tani, proyek ini memastikan bahwa dampak sosialnya akan terasa nyata bagi ekonomi masyarakat desa.
Di masa depan, pengembangan sistem ini diharapkan dapat menjadi prototipe nasional untuk desa-desa di Indonesia yang memiliki potensi lahan pertanian luas namun kekurangan akses energi yang efisien. Dengan dukungan teknologi AI dan pemantauan data iklim, Pandowoharjo tidak hanya akan menjadi desa mandiri energi, tetapi juga menjadi model pertanian modern yang tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim global. Keberhasilan proyek ini nantinya akan menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia mencapai target Net Zero Emission (NZE) melalui inisiatif dari tingkat tapak (grassroots).
Langkah selanjutnya bagi tim UGM adalah melakukan monitoring ketat setelah instalasi penuh beroperasi, serta mendokumentasikan setiap data produksi energi dan hasil panen untuk dijadikan basis data riset lanjutan. Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat lokal ini membuktikan bahwa hilirisasi riset bukan sekadar memindahkan teknologi dari kampus ke lapangan, melainkan membangun ekosistem di mana teknologi tersebut benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi kehidupan rakyat.









