Tim Reactics, komunitas riset mahasiswa Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM), sukses menorehkan prestasi membanggakan pada ajang Chemical Reaction Car (Chem-E-Car) Competition yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 1 hingga 3 Mei 2026. Dalam kompetisi bergengsi yang mempertemukan inovator muda bidang teknik kimia dari berbagai universitas di Indonesia tersebut, UGM berhasil memborong tiga piala melalui tiga tim perwakilannya. Tim Reactics Antrasena berhasil mengamankan posisi ketiga, disusul oleh Tim Reactics Jayantaka di posisi keempat, dan Tim Reactics Antaredja di posisi kelima. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi bukti ketajaman riset mahasiswa UGM, tetapi juga menegaskan konsistensi mereka dalam mengembangkan teknologi ramah lingkungan berbasis reaksi kimia yang presisi.
Konteks dan Tantangan Kompetisi Chem-E-Car
Kompetisi Chem-E-Car bukan sekadar perlombaan mobil mainan biasa. Ini adalah sebuah platform bagi mahasiswa teknik kimia untuk mendemonstrasikan pemahaman mendalam mereka mengenai kinetika kimia, termodinamika, dan teknik kontrol. Peserta ditantang untuk merancang dan membangun sebuah kendaraan berskala kecil yang ditenagai sepenuhnya oleh reaksi kimia. Tantangan utamanya terletak pada dua hal: kemampuan mobil untuk menempuh jarak tertentu yang ditentukan oleh juri secara mendadak, serta kemampuan sistem pengereman otomatis yang juga berbasis reaksi kimia.
Dalam skenario kompetisi tahun ini, setiap tim harus memastikan mobil mereka berhenti tepat di garis finis yang ditentukan setelah menempuh jarak tertentu dengan membawa beban yang telah disesuaikan. Kesalahan kalkulasi dalam jumlah reaktan atau kegagalan dalam mengatur laju reaksi dapat menyebabkan mobil berhenti terlalu cepat atau justru melampaui target, yang berakibat pada pengurangan poin signifikan.
Inovasi Teknis di Balik Performa Reactics
Salah satu kunci sukses dari tim UGM adalah optimalisasi sistem penggerak melalui reaksi dekomposisi hidrogen peroksida (H₂O₂). Secara teoritis, dekomposisi hidrogen peroksida menghasilkan gas oksigen dan air sesuai dengan persamaan reaksi: 2H₂O₂ → 2H₂O + O₂. Gas oksigen yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai sumber tekanan untuk menggerakkan piston atau turbin yang memutar roda mobil.

Asyiq Manarul Hidayah, perwakilan dari Tim Reactics Antrasena, menjelaskan bahwa tantangan utama dari reaksi ini adalah laju alaminya yang cenderung lambat untuk kebutuhan akselerasi mobil. Oleh karena itu, tim melakukan serangkaian eksperimen untuk menemukan katalis yang paling efektif. Setelah menguji beberapa kandidat seperti yeast (ragi) dan kalium iodida, tim akhirnya memilih Besi(III) Klorida (FeCl₃).
Pemilihan FeCl₃ didasarkan pada analisis komprehensif yang meliputi aspek ekonomis, efisiensi laju reaksi, dan stabilitas hasil konversi. Penggunaan katalis ini memungkinkan tim untuk mengontrol output gas oksigen secara lebih terprediksi, yang sangat krusial saat melakukan kalibrasi di arena perlombaan. Selain itu, mekanisme penghentian otomatis dirancang dengan memanfaatkan titik jenuh konsumsi gas, di mana mobil akan berhenti tepat saat seluruh oksigen yang diproduksi habis digunakan untuk menekan sistem penggerak.
Kronologi Persiapan dan Eksekusi
Perjalanan menuju podium tidak dicapai dalam waktu singkat. Persiapan tim telah dilakukan jauh hari sebelum hari kompetisi. Proses tersebut dimulai dengan tahap perancangan desain 3D yang melibatkan perhitungan matematis rumit terkait massa kendaraan, koefisien gesek, dan volume reaktan. Setelah desain matang, tim beralih ke tahap manufaktur model fisik.
Setiap prototipe melalui fase pengujian intensif (trial and error) di laboratorium. Evaluasi dilakukan secara berkala untuk memantau performa mobil dalam berbagai kondisi lingkungan, termasuk perubahan suhu dan kelembapan yang dapat mempengaruhi laju reaksi kimia. Selain itu, tim melakukan perawatan rutin pada setiap komponen mekanis untuk memastikan tidak ada kebocoran gas yang dapat mengganggu akurasi tekanan.
Pada hari pelaksanaan, tantangan teknis beralih pada aspek kalibrasi di lapangan. Tim harus beradaptasi dengan kondisi lintasan yang sebenarnya. Ikbar Habibi, Ketua Tim Reactics Antrasena, mengungkapkan bahwa ketenangan saat menghadapi tekanan di lapangan adalah variabel yang tidak kalah penting dibanding riset teknis. "Dalam kompetisi ini, kepemimpinan diuji melalui konsistensi. Anggota tim harus mampu melakukan kontrol bukaan katup gas secara presisi di bawah tekanan waktu, sementara anggota lainnya memastikan sistem terintegrasi dengan sempurna," ujar Ikbar.

Analisis Implikasi: Masa Depan Energi Berkelanjutan
Keberhasilan mahasiswa dalam kompetisi Chem-E-Car memiliki implikasi yang lebih luas, terutama dalam konteks pengembangan energi alternatif. Meskipun skala yang digunakan masih berupa prototipe, mekanisme reaksi kimia yang dipelajari dan dipraktikkan dalam kompetisi ini mencerminkan prinsip dasar dari teknologi sel bahan bakar (fuel cells) dan sistem penyimpanan energi kimia masa depan.
Pengembangan teknologi yang mengandalkan dekomposisi kimia yang terkontrol memberikan wawasan bagi mahasiswa mengenai bagaimana reaksi eksotermik dan tekanan gas dapat dikonversi menjadi energi kinetik yang aman dan berkelanjutan. Secara objektif, keberhasilan tim UGM ini menunjukkan bahwa integrasi antara riset akademis di laboratorium dengan aplikasi praktis di lapangan merupakan kunci untuk menjawab tantangan transisi energi global.
Selain itu, ajang ini berfungsi sebagai inkubator bagi talenta-talenta muda teknik kimia untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah (problem-solving) dan manajemen proyek. Pengalaman menghadapi kendala teknis secara langsung saat perlombaan memberikan pelajaran berharga mengenai ketahanan (resilience) yang tidak bisa didapatkan hanya melalui bangku kuliah.
Tanggapan Resmi dan Proyeksi ke Depan
Kemenangan ini diterima dengan apresiasi tinggi oleh sivitas akademika UGM. Pencapaian tiga piala sekaligus oleh tim yang berbeda menunjukkan kedalaman sumber daya manusia dan dukungan riset yang solid di lingkungan Teknik Kimia UGM. Meskipun belum berhasil meraih posisi pertama, para anggota tim memandang hasil ini sebagai batu loncatan yang berharga.
Evaluasi mendalam sedang dilakukan oleh tim untuk mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, mulai dari efisiensi sistem injeksi katalis hingga pengurangan berat kendaraan secara signifikan tanpa mengurangi kekuatan struktur. Komitmen untuk melakukan riset dan pengembangan berkelanjutan menjadi fokus utama bagi seluruh anggota Reactics.

"Kami tidak hanya mengejar peringkat. Tujuan utamanya adalah untuk menguji sejauh mana inovasi kami dapat bersaing. Pengalaman di ITS ini menjadi bahan bakar bagi kami untuk terus menyempurnakan strategi dan mempererat sinergi tim," tambah Ikbar.
Ke depannya, Tim Reactics UGM menargetkan untuk membawa inovasi ini ke level yang lebih tinggi, baik dalam kompetisi nasional lainnya maupun ajang internasional. Dengan dukungan fasilitas riset yang mumpuni dan semangat kolaborasi yang kuat, terdapat optimisme besar bahwa mahasiswa UGM akan terus memberikan kontribusi signifikan dalam bidang pengembangan teknologi kimia yang inovatif dan berorientasi pada masa depan yang lebih hijau. Keberhasilan ini bukan sekadar akhir dari sebuah kompetisi, melainkan awal dari pengembangan teknologi yang lebih presisi dan efisien di masa depan.









