Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Wuri Handayani, S.E., Ak., M.Si., M.A., Ph.D., mencatatkan prestasi membanggakan di panggung pendidikan tinggi global. Ia resmi dianugerahi penghargaan bergengsi Universitas 21 (U21) Award atas kontribusi signifikan dalam mempromosikan inclusive global engagement. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi dunia internasional terhadap dedikasi Wuri dalam mendobrak hambatan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, serta keberhasilannya melakukan transformasi sistemik di lingkungan perguruan tinggi.
Penghargaan tersebut diserahkan secara resmi pada 21 April 2026 dalam rangkaian pertemuan The Universitas 21 Annual Network Meeting and Leadership Summit yang berlangsung di University of Glasgow, Skotlandia. Universitas 21 sendiri merupakan jaringan global yang terdiri dari universitas-universitas riset intensif dari seluruh dunia yang berkomitmen pada standar pendidikan tinggi internasional. Keberhasilan Wuri meraih penghargaan ini menempatkannya dalam jajaran akademisi dan advokat global yang dinilai berhasil mengintegrasikan nilai-nilai inklusivitas ke dalam kebijakan institusional.
Profil Penerima Penghargaan dan Konteks Global
Dalam ajang yang sama, U21 memberikan penghargaan kepada individu lain yang dinilai memberikan dampak global. Prof. Pamela Ronald dari University of California, Davis, menerima penghargaan kategori Climate Change berkat inovasi genetika tanamannya yang krusial bagi ketahanan pangan di tengah krisis iklim. Selain itu, kategori U21 Leaders of the Future diberikan kepada Emma Etim, mahasiswa University of Glasgow yang fokus pada tanggung jawab lingkungan, serta Deborah Adeniran, alumni University of Glasgow sekaligus pendiri CancerAid_Africa yang bergerak di bidang perawatan kesehatan di Nigeria.

Keberagaman penerima penghargaan ini menunjukkan bahwa U21 Award berupaya mengapresiasi upaya lintas disiplin yang berdampak nyata pada penyelesaian masalah kemanusiaan global, mulai dari perubahan iklim, kesehatan, hingga keadilan sosial dalam akses pendidikan.
Perjalanan Personal Menuju Advokasi Sistemik
Bagi Wuri Handayani, perjuangan ini bukanlah sekadar agenda akademik, melainkan panggilan jiwa yang berakar dari pengalaman personal. Sebagai seorang penyandang disabilitas, Wuri pernah merasakan sendiri diskriminasi dan hambatan aksesibilitas di berbagai layanan publik dan lingkungan akademik. Pengalaman pahit tersebut menjadi katalisator bagi komitmennya untuk memastikan bahwa institusi pendidikan tinggi di Indonesia harus menjadi ruang yang ramah bagi semua kalangan tanpa terkecuali.
Titik balik perspektifnya terjadi saat ia menempuh pendidikan magister di University of Leeds, Inggris. Di sana, Wuri melihat implementasi Disability Service Unit yang terstruktur dan komprehensif. Unit tersebut tidak sekadar menyediakan akses fisik, melainkan juga dukungan akademik dan non-akademik yang sistematis bagi mahasiswa disabilitas. Pengalaman inilah yang memicu visinya untuk mereplikasi dan mengadaptasi model tersebut di UGM agar tercipta ekosistem pendidikan yang setara.
Kronologi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM
Upaya Wuri dalam mengarusutamakan isu disabilitas di UGM melewati proses panjang dan penuh tantangan. Berikut adalah garis waktu utama perjalanan pembentukan ULD UGM:

- Tahun 2016: Pemerintah Republik Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, yang menjadi payung hukum utama bagi upaya pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas di berbagai sektor, termasuk pendidikan.
- Tahun 2019: Wuri Handayani bersama tim mulai menginisiasi diskusi awal mengenai pembentukan unit layanan khusus bagi mahasiswa disabilitas di UGM.
- Tahun 2020-2022: Rencana strategis sempat mengalami kendala dan perlambatan akibat pandemi Covid-19 yang mengalihkan fokus operasional universitas ke penanganan krisis kesehatan.
- Tahun 2023: Momentum perjuangan kembali menguat. Tim melakukan serangkaian workshop, penyusunan naskah akademik, dan negosiasi intensif dengan pemangku kepentingan di tingkat universitas.
- Awal 2024: Perjuangan membuahkan hasil dengan terbitnya Peraturan Rektor Nomor 19 Tahun 2024 tentang pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM.
- Desember 2024: ULD UGM diresmikan sebagai unit resmi yang melayani civitas akademika penyandang disabilitas di lingkungan kampus.
Dampak Nyata dan Perubahan Budaya Kampus
Sejak ULD UGM beroperasi, perubahan signifikan dirasakan oleh para mahasiswa disabilitas. Fokus utama unit ini mencakup penyediaan akomodasi yang layak, penyesuaian fasilitas fisik, hingga dukungan teknologi pendukung bagi mahasiswa tunanetra, tuli, disabilitas fisik, maupun disabilitas mental.
Data menunjukkan adanya peningkatan jumlah mahasiswa disabilitas yang berani mengakses layanan dan meminta dukungan. Keberadaan ULD memberikan rasa aman dan percaya diri bagi mahasiswa, karena mereka kini memiliki kanal resmi untuk menyampaikan kebutuhan akademik mereka. Wuri menegaskan bahwa inklusivitas bukan sekadar menyediakan sarana fisik, tetapi juga membangun budaya empati di mana asking for support bukan lagi dianggap sebagai beban, melainkan bagian dari hak mahasiswa.
Analisis Implikasi: UGM Sebagai Trendsetter Inklusivitas
Wakil Rektor UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., yang mewakili Wuri Handayani dalam penyerahan penghargaan di Glasgow, menyatakan bahwa capaian ini adalah validasi global terhadap sistem yang dibangun UGM. Menurutnya, penghargaan ini membawa implikasi strategis bagi reputasi UGM di mata internasional.
Secara analisis, pengakuan U21 terhadap UGM memperkuat posisi universitas sebagai pemimpin dalam kebijakan pendidikan inklusif di Asia Tenggara. Hal ini memberikan tekanan positif bagi perguruan tinggi lain di Indonesia untuk mulai mengadopsi standar serupa. Inklusivitas yang dipraktekkan UGM kini menjadi model (prototipe) yang bisa dipelajari, direplikasi, dan dikembangkan oleh institusi lain. Selain itu, pengakuan ini memperkuat kepercayaan publik bahwa UGM tidak hanya unggul dalam riset dan akademik, tetapi juga dalam etika sosial dan kemanusiaan.

Visi Masa Depan: Menuju Center of Excellence
Menatap masa depan, Wuri Handayani memiliki ambisi untuk mentransformasi ULD UGM menjadi center of excellence (pusat keunggulan) dalam pengembangan kebijakan pendidikan inklusif. Cakupan layanan ULD yang saat ini difokuskan pada mahasiswa diharapkan akan meluas untuk mencakup dosen dan tenaga kependidikan yang juga merupakan penyandang disabilitas.
Lebih jauh lagi, Wuri menekankan pentingnya pendekatan Universal Design for Learning (UDL). Pendekatan ini berupaya merancang kurikulum yang fleksibel sejak awal, sehingga dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan belajar siswa tanpa perlu melakukan penyesuaian di tengah jalan yang sering kali melelahkan bagi mahasiswa disabilitas.
"Inklusif itu bukan titik akhir, melainkan sebuah proses yang harus terus diperjuangkan secara berkelanjutan. Kita memerlukan sinergi yang kuat, tidak bisa bekerja sendiri," ujar Wuri dalam pernyataannya.
Kesimpulan
Penghargaan U21 Award yang diraih oleh Wuri Handayani merupakan cerminan dari komitmen institusional UGM untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi semua. Keberhasilan ini bukan hanya tentang piala atau pengakuan internasional, melainkan tentang perubahan paradigma dalam dunia pendidikan tinggi di mana kesetaraan akses menjadi standar operasional, bukan sekadar pelengkap. Dengan fondasi yang telah diletakkan, UGM diharapkan dapat terus menjadi inspirator bagi kebijakan inklusivitas di tingkat nasional maupun global, memastikan bahwa pendidikan berkualitas benar-benar dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang keterbatasan fisik maupun mental.

Langkah Wuri Handayani membuktikan bahwa advokasi berbasis data, didukung oleh regulasi yang kuat, dan dijalankan dengan ketekunan, mampu menghasilkan perubahan sistemik yang bertahan lama. Kini, tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga keberlanjutan unit ini agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan mahasiswa disabilitas yang dinamis di masa depan.









