Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PP ISEI) mengambil langkah strategis dalam upaya merumuskan kembali arah kebijakan ekonomi nasional dengan menggelar Focused Group Discussion (FGD) bertajuk Membumikan Sumitronomics: Pendalaman Konsep Pemikiran Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Acara yang berlangsung di Yogyakarta ini merupakan kolaborasi komprehensif antara PP ISEI, Bank Indonesia (BI), Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (FBE UII), serta ISEI Cabang Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi momentum krusial untuk meninjau kembali relevansi pemikiran ekonomi sang "Begawan Ekonomi Indonesia" dalam menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik di era modern.
Diskusi yang berlangsung selama dua hari ini menghadirkan perpaduan antara pembuat kebijakan, akademisi senior, sejarawan, dan praktisi ekonomi. Hadir dalam kesempatan tersebut Sekretaris PP ISEI Solikin M. Juhro, Dekan FBE UII Johan Arifin, Guru Besar FBE UII sekaligus Wakil Ketua Bidang V PP ISEI Jaka Sriyana, serta sejumlah pejabat Bank Indonesia termasuk Deputi Direktur Asesmen Korporasi DKMP BI Dhaha P. Kuantan dan Direktur Eksekutif Bank Indonesia Haris Munandar. Kehadiran para tokoh ini menegaskan bahwa pemikiran Sumitro Djojohadikusumo bukan sekadar arsip sejarah, melainkan instrumen hidup yang diproyeksikan untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Menelusuri Akar Pemikiran Sumitronomics
Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo dikenal sebagai arsitek ekonomi Indonesia pasca-kemerdekaan yang meletakkan dasar bagi pembangunan berbasis kemandirian. Konsep yang kemudian dikenal sebagai Sumitronomics memiliki tiga pilar utama yang sangat mendasar: pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas nasional yang dinamis, serta pemerataan manfaat pembangunan. Solikin M. Juhro, dalam sambutan pembukanya, menekankan bahwa inti dari pemikiran Sumitro adalah pembangunan ekonomi yang bertumpu pada kekuatan domestik.
Sinergi antara negara, pasar, dan masyarakat menjadi tulang punggung dari gagasan ini. Dalam pandangan Sumitro, negara memiliki peran vital dalam merancang arah pembangunan, namun pasar harus tetap menjadi penggerak efisiensi, sementara masyarakat harus menjadi penerima manfaat utama dari setiap kebijakan ekonomi. Pendekatan ini merupakan respons terhadap tantangan struktural ekonomi Indonesia yang sering kali terjebak dalam ketergantungan pada modal dan pasar luar negeri.
Dinamika Diskusi dan Kontribusi Narasumber
FGD ini dirancang secara sistematis dengan menghadirkan narasumber dari berbagai disiplin ilmu guna memberikan perspektif yang utuh. Pada hari pertama, diskusi difokuskan pada kedalaman teoretis dan historis. Guru Besar FBE UAJY, Aloysius Gunadi Brata, bersama sejarawan Anhar Gonggong, mengulas bagaimana konteks historis kelahiran pemikiran Sumitro menjadi jawaban atas krisis dan tantangan zaman pada masanya.
Selain itu, Guru Besar IPB yang juga peneliti INDEF, Didin S. Damanhuri, serta Chief Economist Indonesia Business Council, Denni Puspa Purbasari, memberikan analisis komparatif mengenai relevansi model pembangunan Sumitro terhadap kondisi makroekonomi saat ini. Mereka menyoroti perlunya Indonesia untuk kembali memperkuat fondasi industri domestik di tengah ketidakpastian rantai pasok global.
Pada hari kedua, fokus diskusi bergeser pada implementasi kebijakan. Eko Atmaji dari FBE UII, Haris Munandar dari Bank Indonesia, dan Haryo B. Rahmadi dari Yayasan Sumitro Institute membahas bagaimana konsep Sumitronomics dapat diintegrasikan dalam kebijakan ekonomi terkini. Rokhedi Priyo Santoso, yang bertindak sebagai moderator, memandu jalannya diskusi yang berhasil menyimpulkan bahwa pemikiran Sumitro bukan berarti menutup diri dari ekonomi global, melainkan memperkuat kapasitas dalam negeri sebagai syarat utama untuk berkompetisi di kancah internasional.
Relevansi dengan Agenda Ekonomi Modern: Asta Cita
Salah satu poin penting yang mengemuka dalam diskusi ini adalah keterkaitan pemikiran Sumitro dengan agenda nasional saat ini, yaitu Asta Cita. Y. Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, secara spesifik menyebut bahwa pendekatan inward-looking yang strategis sebagaimana digagas Sumitro memiliki relevansi kuat dengan target penguatan ekonomi nasional ke depan.

Pendekatan ini berfokus pada tiga pilar utama:
- Penguatan UMKM: Sebagai fondasi ekonomi kerakyatan, UMKM harus mendapatkan akses yang lebih luas terhadap rantai pasok industri besar.
- Hilirisasi dan Industrialisasi: Mengubah ekspor bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi di dalam negeri untuk meningkatkan pendapatan nasional.
- Peningkatan Nilai Tambah: Memperkuat kapasitas teknologi dan inovasi nasional agar daya saing produk Indonesia di pasar global meningkat.
Transformasi ini selaras dengan kebutuhan Indonesia untuk keluar dari "middle income trap" atau jebakan pendapatan menengah. Dengan mengadopsi prinsip Sumitronomics, pemerintah diharapkan dapat menciptakan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan struktur ekonomi.
Kolaborasi Institusional sebagai Bentuk Penghormatan
Bagi Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII, FGD ini memiliki makna historis yang mendalam. Johan Arifin, sebagai Dekan FBE UII, mengingatkan para peserta bahwa Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo merupakan Dekan pertama di fakultas tersebut. Kolaborasi antara PP ISEI, Bank Indonesia, dan UII ini bukan sekadar kegiatan akademis, melainkan sebuah penghormatan intelektual terhadap warisan pemikiran pendiri fakultas tersebut.
Ke depan, diharapkan kolaborasi serupa dapat terus berlanjut. Jaka Sriyana, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang V PP ISEI, menegaskan bahwa seluruh hasil pemikiran dari FGD selama dua hari ini tidak akan berhenti sebagai notulensi diskusi. Panitia berencana untuk menyusun dan mendokumentasikan seluruh gagasan tersebut ke dalam sebuah buku, baik dalam format cetak maupun digital, sebagai referensi bagi para pengambil kebijakan, akademisi, dan mahasiswa ekonomi di Indonesia.
Analisis Implikasi: Tantangan di Masa Depan
Jika kita melihat tren ekonomi global, tantangan utama Indonesia ke depan adalah menghadapi fragmentasi ekonomi, tekanan inflasi global, dan transisi menuju ekonomi hijau. Sumitronomics, dengan penekanannya pada stabilitas nasional yang dinamis, menawarkan kerangka kerja yang sangat relevan. Stabilitas dalam konteks ini bukan berarti stagnasi, melainkan kemampuan sistem ekonomi untuk menyerap guncangan eksternal tanpa harus mengorbankan pertumbuhan domestik.
Implikasi dari revitalisasi pemikiran ini adalah perlunya sinkronisasi kebijakan antara moneter dan fiskal yang lebih erat. Bank Indonesia, melalui perannya, diharapkan dapat terus menjaga stabilitas harga, sementara pemerintah melalui kebijakan fiskal harus memastikan bahwa investasi diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki efek pengganda (multiplier effect) tinggi.
Penguatan ekonomi domestik melalui industrialisasi juga menuntut perbaikan pada aspek sumber daya manusia (SDM). Sumitro dalam berbagai tulisannya selalu menekankan pentingnya pendidikan dan keahlian sebagai syarat mutlak kemajuan bangsa. Oleh karena itu, membumikan Sumitronomics di masa kini juga berarti melakukan investasi besar-besaran pada pendidikan tinggi dan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Kesimpulan
Diskusi yang diinisiasi oleh PP ISEI di Yogyakarta ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai ekonomi kebangsaan dengan tuntutan pasar global. Melalui rekonstruksi pemikiran Sumitro Djojohadikusumo, para ekonom dan pembuat kebijakan di Indonesia diingatkan kembali akan pentingnya fondasi ekonomi yang kuat, berbasis pada kekuatan domestik, namun tetap terbuka terhadap kolaborasi internasional yang menguntungkan.
Keberhasilan FGD ini ditandai dengan partisipasi aktif dari 30 peserta yang merepresentasikan berbagai sektor strategis. Dengan rencana dokumentasi hasil diskusi menjadi buku referensi, warisan pemikiran Prof. Sumitro diharapkan dapat terus hidup, menjadi kompas bagi generasi ekonom Indonesia dalam menavigasi masa depan bangsa yang lebih mandiri, stabil, dan sejahtera. Ke depan, konsistensi dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip ini akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu mencapai visi ekonomi jangka panjangnya di tengah persaingan global yang semakin kompetitif.









