Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Foto Jogja

Bedah Buku Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa Perkuat Ekosistem Literasi dan Pembangunan Daerah di Bantul

badge-check


					Bedah Buku Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa Perkuat Ekosistem Literasi dan Pembangunan Daerah di Bantul Perbesar

Gedung Serbaguna Yayasan Ar Raihan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi pusat diskursus intelektual pada Kamis (16/4/2026) melalui gelaran bedah buku bertajuk "Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa". Acara ini bukan sekadar ajang apresiasi karya sastra atau pemikiran, melainkan sebuah inisiatif strategis untuk membedah tantangan pembangunan perdesaan yang saat ini menjadi prioritas nasional. Kehadiran tokoh-tokoh kunci, mulai dari praktisi pemberdayaan masyarakat hingga pemangku kebijakan daerah, menegaskan urgensi literasi sebagai instrumen perubahan sosial di tingkat akar rumput.

Kegiatan ini menghadirkan dua penulis buku, Jidda Robbani Al Azka dan Tardi Alfatih, yang memaparkan visi mereka mengenai mekanisme pemberdayaan desa yang berkelanjutan. Diskusi yang terbangun tidak hanya berfokus pada konten buku, tetapi juga pada bagaimana narasi pemberdayaan dapat diimplementasikan dalam kebijakan publik yang lebih inklusif. Di tengah arus modernisasi, peran literasi dianggap krusial agar masyarakat desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki kedaulatan dalam mengelola potensi daerahnya sendiri.

Konteks Literasi dan Pembangunan Desa

Pembangunan desa merupakan salah satu pilar utama dalam visi Indonesia Emas 2045. Dengan adanya Dana Desa yang terus digulirkan oleh pemerintah pusat, tantangan utama yang dihadapi bukan lagi semata-mata pada ketersediaan anggaran, melainkan pada kapasitas sumber daya manusia di desa untuk mengelola dana tersebut secara transparan, partisipatif, dan produktif.

Bedah buku dorong literasi

Dalam konteks inilah, buku "Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa" menjadi referensi yang relevan. Literasi tidak lagi dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis secara konvensional, melainkan sebagai literasi fungsional—kemampuan masyarakat dalam mengakses informasi, mengolah data, dan mengambil keputusan berbasis pengetahuan. Pustakawan Ahli Utama Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Budiyono, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan bedah buku ini adalah salah satu upaya konkret dalam meningkatkan indeks literasi masyarakat yang saat ini masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

Kronologi dan Dinamika Diskusi

Acara yang berlangsung di Bantul ini dimulai dengan sesi pemaparan oleh penulis buku, Tardi Alfatih, yang menyoroti filosofi pemberdayaan. Menurut Tardi, pemberdayaan harus berbasis pada kekuatan lokal (local wisdom) dan bukan merupakan intervensi yang bersifat "top-down" atau dari atas ke bawah. Ia menggarisbawahi pentingnya keterlibatan pemuda desa dalam mengawal proses pembangunan agar terjadi regenerasi kepemimpinan yang progresif.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mendalam oleh Jidda Robbani Al Azka yang mengulas aspek teknis pemberdayaan. Jidda menekankan pentingnya penguatan kelembagaan desa, mulai dari Badan Permusyawaratan Desa (BPD) hingga organisasi kemasyarakatan lainnya. Dalam paparannya, Jidda membedah beberapa studi kasus di berbagai daerah yang berhasil melakukan transformasi ekonomi desa berkat penguatan sektor literasi dan keterampilan teknis masyarakatnya.

Diskusi menjadi semakin dinamis saat Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, memberikan pandangan dari perspektif kebijakan publik. Amir menyoroti perlunya integrasi antara hasil pemikiran dalam buku dengan regulasi di tingkat daerah. Menurutnya, DPRD DIY memiliki komitmen kuat untuk mendukung program-program yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat, khususnya yang berorientasi pada kemandirian ekonomi desa.

Bedah buku dorong literasi

Data Pendukung dan Analisis Sektor Perdesaan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor pertanian dan ekonomi perdesaan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih mendominasi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun, tantangan berupa urbanisasi kaum muda dari desa ke kota masih menjadi isu yang persisten.

Pemberdayaan masyarakat yang efektif, seperti yang diulas dalam buku tersebut, berpotensi menekan angka urbanisasi dengan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru di desa. Literasi digital, misalnya, menjadi salah satu instrumen penting yang kini sedang digalakkan. Masyarakat desa yang melek literasi digital mampu memasarkan produk unggulan desa melalui platform e-commerce, sehingga memangkas rantai distribusi yang selama ini merugikan petani atau perajin lokal.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan sangat bergantung pada tiga pilar utama: akses informasi, modal sosial, dan dukungan kebijakan. Acara bedah buku di Yayasan Ar Raihan ini secara tidak langsung memperkuat modal sosial tersebut dengan mempertemukan para akademisi, praktisi, dan birokrat dalam satu ruang dialog.

Tanggapan Pihak Terkait

Budiyono dari DPAD DIY menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian upaya pemerintah untuk membudayakan gemar membaca di tingkat komunitas. "Kami mendukung penuh setiap inisiatif bedah buku yang membawa nilai tambah bagi masyarakat. Literasi harus menjadi gaya hidup, terutama bagi generasi muda di perdesaan yang akan menjadi tulang punggung pembangunan masa depan," ujarnya.

Bedah buku dorong literasi

Sementara itu, Amir Syarifudin, perwakilan legislatif, menegaskan bahwa hasil diskusi ini akan menjadi catatan penting dalam pembahasan kebijakan pembangunan daerah. Ia berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat tidak boleh dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dengan kebijakan pendidikan dan ekonomi daerah. "Kami melihat ada korelasi positif antara literasi yang baik dengan efektivitas pengelolaan dana desa. Oleh karena itu, kita perlu terus mendorong kegiatan literasi yang substansial seperti ini," tambah Amir.

Dampak dan Implikasi Luas

Kegiatan bedah buku ini diharapkan mampu memicu lahirnya diskusi-diskusi serupa di wilayah lain di Kabupaten Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta secara umum. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah meningkatnya partisipasi aktif masyarakat dalam setiap tahapan pembangunan desa, mulai dari perencanaan (musrenbangdes) hingga pengawasan.

Selain itu, keberadaan buku sebagai medium penyebaran ilmu pengetahuan terbukti efektif untuk memantik daya kritis masyarakat. Ketika masyarakat kritis, maka tuntutan terhadap tata kelola pemerintahan desa yang bersih (good governance) akan meningkat. Hal ini secara langsung akan meminimalisir potensi penyimpangan dana desa dan meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran.

Secara makro, apa yang terjadi di Gedung Serbaguna Yayasan Ar Raihan adalah cerminan dari upaya kolektif untuk membumikan konsep-konsep pembangunan yang selama ini hanya tersimpan dalam tumpukan teori. Dengan membawa buku ke tengah masyarakat, penulis dan pemangku kebijakan telah melakukan langkah awal dalam demokratisasi ilmu pengetahuan.

Bedah buku dorong literasi

Kesimpulan

Bedah buku "Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa" di Bantul menjadi momentum krusial untuk menyegarkan kembali komitmen kita terhadap pembangunan perdesaan yang berbasis pengetahuan. Dengan memadukan pemikiran penulis yang tajam, dukungan dari DPAD DIY dalam hal literasi, dan komitmen legislatif dari DPRD DIY, acara ini membuktikan bahwa sinergi lintas sektor adalah kunci utama keberhasilan pemberdayaan.

Ke depannya, diharapkan inisiatif ini tidak berhenti pada seremoni bedah buku saja, melainkan berlanjut pada aksi nyata di lapangan. Implementasi dari konsep-konsep yang ada dalam buku tersebut—seperti penguatan peran serta masyarakat, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kelembagaan desa—dapat menjadi fondasi bagi desa-desa di Bantul untuk tumbuh menjadi entitas yang mandiri, sejahtera, dan literat.

Transformasi desa bukan sekadar tentang pembangunan infrastruktur fisik seperti jalan atau jembatan, melainkan tentang membangun "manusia-manusia desa" yang berdaya. Melalui literasi, jendela dunia terbuka bagi masyarakat desa, memungkinkan mereka untuk berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa harus kehilangan identitas dan akar budaya mereka. Peristiwa di Bantul pada 16 April 2026 ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kunci kemajuan bangsa memang dimulai dari setiap desa, dan literasi adalah kunci pembukanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kemenko PMK Tegaskan Budaya Riset Menjadi Kunci Utama Kebijakan Pengurangan Risiko Bencana di Indonesia

7 Mei 2026 - 00:22 WIB

Tim Hukum Pemkot Yogyakarta Kawal Ketat Proses Hukum Kasus Kekerasan Daycare Little Alesha hingga Inkrah

6 Mei 2026 - 18:22 WIB

TPID DIY Pastikan Ketersediaan dan Kesehatan Hewan Kurban Jelang Idul Adha 1447 Hijriah di Kabupaten Bantul

6 Mei 2026 - 12:22 WIB

Semarak Hari Kartini di Jantung Yogyakarta Melalui Aksi Malioboro Menari

6 Mei 2026 - 12:04 WIB

Kemendikdasmen Luruskan Misinformasi Terkait Nasib Guru Non-ASN dan Pastikan Keberlanjutan Pengabdian Pasca 2027

6 Mei 2026 - 06:22 WIB

Trending di Foto Jogja