Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

Waspadai Bahaya Penyakit Rematik Jantung yang Mengancam Usia Produktif Akibat Infeksi Tenggorokan yang Tidak Tertangani

badge-check


					Waspadai Bahaya Penyakit Rematik Jantung yang Mengancam Usia Produktif Akibat Infeksi Tenggorokan yang Tidak Tertangani Perbesar

Penyakit Rematik Jantung (PRJ) atau Rheumatic Heart Disease (RHD) tetap menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia, terutama karena dampaknya yang sering kali baru muncul bertahun-tahun setelah infeksi awal terjadi. Pakar kesehatan memperingatkan bahwa kondisi yang berawal dari infeksi bakteri sederhana di tenggorokan ini dapat berujung pada kerusakan permanen pada katup jantung, yang memaksa pasien menjalani prosedur medis berat pada usia produktif mereka.

Guru Besar Kardiologi dan Aritmia di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, mengungkapkan bahwa banyak pasien baru menyadari adanya kerusakan jantung pada usia 30-an. Padahal, akar permasalahannya terjadi jauh sebelumnya, yakni pada masa remaja atau anak-anak. Kerusakan tersebut umumnya berupa kebocoran atau penyempitan katup jantung yang dipicu oleh perjalanan penyakit rematik jantung yang tidak terdeteksi atau tidak diobati secara adekuat.

"Jadi biasanya di umur-umur 30-an itu katupnya bocor atau katupnya menyempit akibat penyakit rematik jantung yang diderita pada saat kitanya usia teenager (remaja)," ujar Prof. Yoga dalam sebuah diskusi kesehatan yang diselenggarakan oleh Primaya Hospital Kelapa Gading di Jakarta.

Patofisiologi: Dari Radang Tenggorokan Menuju Kerusakan Jantung

Penyakit rematik jantung bukanlah penyakit yang muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan komplikasi dari demam rematik akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Streptococcus hemolyticus tipe B atau dikenal juga sebagai Group A Streptococcus. Bakteri ini adalah penyebab umum faringitis atau radang tenggorokan pada anak-anak dan remaja.

Secara medis, mekanisme kerusakan terjadi melalui reaksi autoimun. Ketika bakteri Streptococcus menyerang tenggorokan, sistem kekebalan tubuh memproduksi antibodi untuk melawannya. Namun, karena struktur protein pada bakteri ini memiliki kemiripan dengan protein di jaringan tubuh manusia—terutama di jantung, sendi, dan otak—antibodi tersebut terkadang salah sasaran dan justru menyerang jaringan sehat.

"Kalau punya anak-anak infeksi saluran napas, nyeri menelan, riaknya hijau, harus segera diobati. Karena kalau tidak, dan jika itu kumannya Streptococcus hemolyticus tipe B, racunnya itu akan menyerang jantung," tegas Prof. Yoga.

Meskipun serangan awal terjadi di masa kanak-kanak, gejala kerusakan jantung sering kali bersifat laten atau tersembunyi. Prof. Yoga menjelaskan bahwa jantung tidak langsung rusak seketika saat infeksi terjadi. Proses peradangan kronis pada katup jantung membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk berkembang menjadi jaringan parut yang menyebabkan katup tidak dapat berfungsi normal. "Rusaknya nanti, 10 sampai 15 tahun kemudian," tambahnya.

Mengenal Empat Katup Jantung dan Risiko Kebocoran

Jantung manusia memiliki empat katup utama yang berfungsi sebagai pintu satu arah untuk memastikan darah mengalir ke arah yang benar: katup trikuspid, katup mitral, katup aorta, dan katup pulmonal. Pada kasus penyakit rematik jantung, katup mitral adalah yang paling sering terkena dampak, diikuti oleh katup aorta.

Gangguan pada katup ini secara garis besar terbagi menjadi dua jenis:

  1. Stenosis (Penyempitan): Katup menjadi kaku atau menebal sehingga lubang katup menyempit. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melalui celah yang sempit tersebut.
  2. Regurgitasi (Kebocoran): Katup tidak dapat menutup dengan sempurna, sehingga darah mengalir kembali (refluks) ke ruang jantung sebelumnya. Hal ini mengurangi efisiensi pemompaan darah ke seluruh tubuh.

Jika tidak ditangani, kerusakan katup ini dapat menyebabkan gagal jantung, pembengkakan jantung (kardiomegali), hingga gangguan irama jantung yang mematikan.

Data Pendukung dan Beban Penyakit di Indonesia

Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit rematik jantung diperkirakan memengaruhi lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia, dengan angka kematian mencapai 300.000 jiwa setiap tahunnya. Di negara berkembang seperti Indonesia, PRJ masih menjadi penyebab utama morbiditas kardiovaskular pada populasi muda.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa meskipun tren penyakit menular menurun, komplikasi dari infeksi seperti PRJ masih ditemukan di berbagai daerah, terutama di wilayah dengan akses layanan kesehatan primer yang terbatas. Penyakit ini sering dijuluki sebagai "penyakit kemiskinan" karena erat kaitannya dengan lingkungan tempat tinggal yang padat, sanitasi yang buruk, dan kurangnya akses terhadap antibiotik dasar seperti penisilin.

Penyakit rematik jantung bisa sebabkan kebocoran katup jantung

Analisis ekonomi kesehatan menunjukkan bahwa biaya penanganan PRJ pada tahap lanjut sangatlah tinggi. Pasien yang mengalami kebocoran katup parah sering kali memerlukan tindakan bedah jantung terbuka untuk perbaikan atau penggantian katup (Valve Replacement Surgery), yang biayanya dapat mencapai ratusan juta rupiah per pasien. Hal ini memberikan beban signifikan pada sistem jaminan kesehatan nasional (BPJS Kesehatan).

Faktor Risiko Tambahan dan Komplikasi Irama Jantung

Selain faktor infeksi bakteri, Prof. Yoga Yuniadi yang juga merupakan konsultan aritmia menekankan bahwa masalah katup jantung dapat diperburuk oleh gangguan irama jantung, khususnya fibrilasi atrium (AF). Fibrilasi atrium yang berlangsung lama dapat menyebabkan jantung berdenyut tidak teratur dan tidak efisien, yang pada akhirnya mempercepat kerusakan struktural pada katup.

Lebih lanjut, faktor gaya hidup modern juga memberikan kontribusi negatif. Kondisi seperti hipertensi (tekanan darah tinggi), diabetes melitus, dan obesitas dapat memicu penyakit jantung koroner atau kardiomiopati, yang jika terjadi bersamaan dengan riwayat penyakit rematik jantung, akan memperburuk prognosis pasien.

"Kita mencegah penyakit jantung lainnya itu, gangguan irama jantung, yang itu dijaga tensinya supaya normal, jangan sampai obesitas, tidak merokok, diabetesnya dijaga," saran Prof. Yoga sebagai langkah preventif komprehensif.

Kronologi Penanganan: Dari Gejala hingga Diagnosis

Penting bagi orang tua dan tenaga medis untuk mengenali kronologi perkembangan penyakit ini guna melakukan intervensi dini:

  1. Fase Infeksi Akut: Anak mengalami radang tenggorokan hebat, demam tinggi, dan nyeri menelan. Pada tahap ini, pemberian antibiotik yang tepat (seperti penisilin atau amoksisilin) selama jangka waktu yang ditentukan sangat krusial untuk membasmi bakteri sepenuhnya.
  2. Fase Demam Rematik: Jika infeksi awal tidak diobati, 2-3 minggu kemudian muncul nyeri sendi yang berpindah-pindah, bintik merah pada kulit, atau gerakan tubuh yang tidak terkendali (chorea).
  3. Fase Laten: Gejala mereda, namun proses peradangan diam-diam merusak jaringan katup jantung. Pasien merasa sehat selama bertahun-tahun.
  4. Fase Kerusakan Katup: Memasuki usia dewasa muda (20-30 tahun), pasien mulai merasakan sesak napas saat beraktivitas, cepat lelah, jantung berdebar, atau pembengkakan pada kaki.

Diagnosis biasanya ditegakkan melalui pemeriksaan fisik (ditemukannya bunyi bising jantung atau murmur) dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan ekokardiografi (USG jantung) untuk melihat struktur dan fungsi katup secara visual.

Implikasi Luas dan Strategi Pencegahan Nasional

Implikasi dari tingginya angka penyakit rematik jantung sangat luas, tidak hanya dari sisi kesehatan tetapi juga produktivitas nasional. Mengingat penyakit ini menyerang kelompok usia produktif, penderitanya sering kali kehilangan kemampuan untuk bekerja secara optimal, yang berdampak pada ekonomi keluarga.

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan terus mendorong penguatan layanan kesehatan primer (Puskesmas). Strategi utamanya adalah:

  • Pencegahan Primer: Edukasi masyarakat agar tidak meremehkan radang tenggorokan pada anak dan memastikan pemberian antibiotik yang tuntas.
  • Pencegahan Sekunder: Bagi individu yang sudah pernah terdiagnosis demam rematik, diperlukan suntikan antibiotik profilaksis secara rutin (biasanya setiap bulan) selama bertahun-tahun untuk mencegah infeksi berulang yang dapat memperparah kerusakan jantung.

Prof. Yoga Yuniadi menegaskan bahwa kesadaran masyarakat adalah kunci utama. Penyakit jantung sering kali dianggap sebagai penyakit orang tua yang disebabkan oleh kolesterol atau gaya hidup. Namun, kasus rematik jantung membuktikan bahwa perlindungan jantung harus dimulai sejak usia dini dengan menjaga kebersihan pernapasan dan menangani infeksi secara medis, bukan sekadar dengan pengobatan mandiri.

Dengan deteksi dini dan penanganan infeksi saluran pernapasan yang tepat, angka kebocoran katup jantung akibat rematik di masa depan diharapkan dapat ditekan secara signifikan. Langkah sederhana seperti memeriksakan anak ke dokter saat mengalami nyeri telan yang disertai demam bisa menjadi penentu kualitas hidup mereka dua dekade mendatang.

Analisis Penutup

Penyakit rematik jantung adalah pengingat bahwa masalah kesehatan yang tampak sepele di masa kecil dapat bertransformasi menjadi beban kesehatan kronis yang mengancam jiwa di masa dewasa. Di tengah kemajuan teknologi kedokteran seperti intervensi katup berbasis kateter, pencegahan tetap menjadi jalur yang paling efektif dan efisien secara biaya. Profesional medis sepakat bahwa integrasi antara kesadaran orang tua, ketajaman diagnosis dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama, dan ketersediaan antibiotik adalah pilar utama dalam menghapuskan penyakit rematik jantung dari peta kesehatan masyarakat Indonesia.

Upaya yang dilakukan oleh institusi seperti Primaya Hospital dan edukasi berkelanjutan dari para pakar seperti Prof. Yoga Yuniadi diharapkan mampu mengubah paradigma masyarakat. Jantung yang sehat di usia 30-an dan 40-an adalah hasil dari penjagaan kesehatan yang ketat sejak usia sekolah. Jangan biarkan infeksi tenggorokan hari ini menjadi operasi jantung di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menbud Fadli Zon Dorong Revitalisasi Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta Melalui Penguatan Museum dan Literasi Konstitusi di Bukittinggi

28 Juni 2026 - 18:09 WIB

InMotion Dance House Amankan Tiket Grand Final Yogyakarta Usai Juarai Semifinal POTEK Dance Fest 2026 di Medan

28 Juni 2026 - 12:09 WIB

Demam tanpa penyebab jelas bisa jadi tanda ISK pada anak, kata dokter

28 Juni 2026 - 06:09 WIB

Menkomdigi Meutya Hafid Desak Platform Digital Prioritaskan Keamanan Anak Melalui Implementasi PP Tunas dan Prinsip Tunggu Anak Siap

28 Juni 2026 - 00:09 WIB

Fajar Noor Merilis Album Perdana Sementara Selamanya yang Menggambarkan Siklus Dinamika Cinta dalam Balutan Pop Ballad Modern

27 Juni 2026 - 12:09 WIB

Trending di Hiburan