Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

Demam tanpa penyebab jelas bisa jadi tanda ISK pada anak, kata dokter

badge-check


					Demam tanpa penyebab jelas bisa jadi tanda ISK pada anak, kata dokter Perbesar

Jakarta, 19 Juni 2026 – Fenomena demam pada anak sering kali memicu kekhawatiran orang tua, namun kewaspadaan ekstra diperlukan ketika suhu tubuh meningkat tanpa disertai gejala umum seperti batuk, pilek, atau gangguan pencernaan. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut merupakan salah satu indikator kuat terjadinya Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada anak, sebuah kondisi medis yang jika diabaikan dapat berujung pada kerusakan ginjal permanen.

Dalam sebuah diskusi kesehatan mendalam mengenai kesehatan ginjal anak yang diselenggarakan di Jakarta pada Jumat (19/6/2026), dr. Henny yang merupakan lulusan Universitas Indonesia dan anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan pentingnya bagi orang tua untuk tidak melakukan diagnosis mandiri yang keliru. Sering kali, demam tinggi pada balita dianggap sebagai tanda radang tenggorokan atau gejala tumbuh gigi, padahal data klinis menunjukkan bahwa ISK merupakan salah satu infeksi bakteri yang paling umum terjadi pada populasi pediatrik.

Klasifikasi Gejala Berdasarkan Rentang Usia

Manifestasi klinis ISK pada anak sangat bervariasi dan sangat bergantung pada usia pasien. Menurut dr. Henny, semakin muda usia anak, gejala yang muncul cenderung semakin tidak spesifik, sehingga menuntut ketelitian lebih dari orang tua dan tenaga medis.

Pada kelompok usia bayi di bawah 24 bulan, gejala yang paling dominan adalah demam tanpa sumber yang jelas (fever without localizing signs). Bayi mungkin tampak rewel, tidak mau menyusu, atau mengalami penurunan aktivitas, namun tanda-tanda infeksi saluran pernapasan atau pencernaan tidak ditemukan. "Kita punya anak datang demam, tidak ada batuk, tidak ada pilek, tidak ada diare, tidak ada muntah, tiba-tiba demam. Hati-hati, mungkin itu adalah infeksi saluran kemih," papar dr. Henny. Suhu tubuh pada kondisi ini bisa melonjak drastis mencapai 38,5 hingga 40 derajat Celsius.

Kondisi yang lebih kompleks ditemukan pada kelompok neonatus atau bayi berusia di bawah satu bulan. Pada fase ini, ISK bisa bermanifestasi dalam bentuk yang lebih samar namun berbahaya. Salah satu indikator yang disoroti adalah kondisi kuning (ikterus) yang berkepanjangan atau infeksi berat yang penyebabnya sulit diidentifikasi secara kasatmata. Bayi pada usia ini memiliki sistem imun yang belum sempurna, sehingga infeksi pada saluran kemih dapat dengan cepat menyebar ke aliran darah (sepsis) jika tidak segera ditangani.

Memasuki usia di atas dua tahun, anak biasanya sudah memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik untuk menyampaikan ketidaknyamanan fisik mereka. Gejala pada kelompok usia ini lebih menyerupai gejala ISK pada orang dewasa, seperti nyeri perut bagian bawah, nyeri saat buang air kecil (disuria), hingga peningkatan frekuensi berkemih yang tidak wajar atau "anyang-anyangan". Dr. Henny mencontohkan, anak yang biasanya memiliki pola berkemih teratur setiap tiga hingga empat jam, tiba-tiba bisa buang air kecil hingga empat kali dalam satu jam dengan volume yang sedikit-sedikit.

Hubungan ISK dengan Gangguan Pertumbuhan

Selain demam, dr. Henny juga menggarisbawahi dampak jangka panjang ISK terhadap status gizi anak. Salah satu gejala yang sering terabaikan oleh orang tua adalah "failure to thrive" atau gagal tumbuh. Anak yang mengalami ISK kronis atau berulang cenderung mengalami hambatan dalam kenaikan berat badan.

Infeksi yang terjadi secara terus-menerus menyebabkan tubuh anak berada dalam kondisi stres metabolik. Energi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan fisik justru tersedot untuk melawan infeksi bakteri di saluran kemih. Akibatnya, kurva pertumbuhan anak pada buku kesehatan (seperti KMS) mungkin menunjukkan grafik yang mendatar atau bahkan menurun. Oleh karena itu, dokter nefrologi anak sering kali merekomendasikan pemeriksaan urine lengkap bagi anak-anak yang datang dengan keluhan berat badan sulit naik meskipun asupan nutrisinya terlihat cukup.

Pentingnya Observasi Karakteristik Urine

Orang tua juga dihimbau untuk lebih memperhatikan aspek fisik dari urine anak. Selain frekuensi, perubahan warna dan aroma urine merupakan indikator klinis yang penting. Urine yang sehat biasanya berwarna jernih hingga kuning muda dan tidak memiliki bau yang menyengat. Namun, pada anak yang terinfeksi, urine mungkin tampak keruh (cloudy urine) akibat adanya nanah atau leukosit, atau bahkan berwarna kemerahan jika terjadi hematuria (adanya darah dalam urine).

Bau urine yang sangat menyengat atau berbau busuk juga merupakan sinyal adanya aktivitas bakteri pemecah urea di dalam saluran kemih. Jika infeksi telah naik menuju ginjal (pielonefritis), gejala akan meningkat menjadi lebih sistemik, meliputi nyeri punggung bawah (nyeri ketok kostovertebra), muntah-muntah, hingga dehidrasi.

Demam tanpa penyebab jelas bisa jadi tanda ISK pada anak, kata dokter

Analisis Risiko dan Komplikasi Jangka Panjang

ISK pada anak bukanlah infeksi ringan yang bisa sembuh dengan sendirinya tanpa intervensi medis yang tepat. Secara anatomis, saluran kemih anak, terutama anak perempuan, lebih pendek dibandingkan laki-laki dewasa, yang memudahkan bakteri (paling sering Escherichia coli) untuk bermigrasi dari area perianal ke kandung kemih.

Dr. Henny menjelaskan bahwa ISK merupakan pintu masuk utama bagi berbagai gangguan ginjal serius pada anak. Infeksi yang berulang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut (scarring) pada ginjal. Jaringan parut ini bersifat permanen dan dapat merusak fungsi filtrasi ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko hipertensi pada usia muda dan penyakit ginjal kronis (PGK) yang mungkin memerlukan terapi pengganti ginjal seperti dialisis atau transplantasi di masa depan.

Berdasarkan data medis global, sekitar 7-8 persen anak perempuan dan 2 persen anak laki-laki akan mengalami setidaknya satu kali episode ISK sebelum usia 10 tahun. Risiko ini meningkat secara signifikan pada anak-anak dengan kelainan kongenital pada saluran kemih, seperti Vesicoureteral Reflux (VUR), di mana urine mengalir kembali dari kandung kemih ke ginjal.

Prosedur Diagnosis dan Penanganan Medis

Penegakan diagnosis ISK tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan gejala klinis semata. Dr. Henny menekankan pentingnya pemeriksaan laboratorium yang akurat. Standar emas (gold standard) untuk diagnosis ISK adalah kultur urine untuk mengidentifikasi jenis bakteri dan sensitivitasnya terhadap antibiotik tertentu.

Proses pengambilan sampel urine pada bayi sering kali menjadi tantangan. Penggunaan urine bag (kantong urine) memiliki risiko kontaminasi yang tinggi, sehingga hasil positif palsu sering terjadi. Dalam kasus tertentu, prosedur kateterisasi atau aspirasi suprapubik mungkin diperlukan untuk mendapatkan sampel urine yang steril guna memastikan diagnosis yang tepat sebelum pemberian antibiotik jangka panjang.

Selain pengobatan antibiotik, evaluasi radiologis seperti Ultrasonografi (USG) ginjal dan saluran kemih sangat dianjurkan pada anak yang mengalami ISK pertama kali untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kelainan struktur organ. Jika ditemukan indikasi infeksi berulang, pemeriksaan lebih lanjut seperti Voiding Cystourethrogram (VCUG) mungkin diperlukan untuk melihat dinamika aliran urine di dalam tubuh anak.

Strategi Pencegahan dan Edukasi Orang Tua

Mencegah lebih baik daripada mengobati, dan hal ini sangat relevan dalam kasus kesehatan saluran kemih. Dr. Henny dan para ahli kesehatan anak menyarankan beberapa langkah preventif yang dapat diterapkan di rumah:

  1. Higiene Perianal yang Tepat: Mengajarkan cara membersihkan area kelamin dari depan ke belakang (dari arah uretra ke arah anus), terutama pada anak perempuan, untuk mencegah perpindahan bakteri dari tinja ke saluran kemih.
  2. Hidrasi yang Cukup: Memastikan anak mengonsumsi air putih dalam jumlah yang memadai sesuai usianya untuk membantu "membilas" saluran kemih secara alami melalui frekuensi berkemih yang teratur.
  3. Hindari Kebiasaan Menahan Pipis: Orang tua dan guru di sekolah perlu memberikan akses yang mudah dan nyaman bagi anak untuk buang air kecil kapan pun dibutuhkan.
  4. Manajemen Konstipasi: Sembelit kronis dapat menekan kandung kemih dan menghambat pengosongan urine secara sempurna, yang kemudian menjadi media pertumbuhan bakteri. Diet tinggi serat sangat dianjurkan.
  5. Pemilihan Pakaian Dalam: Menggunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat dan tidak terlalu ketat untuk menjaga area kemaluan tetap kering.

Implikasi Kebijakan Kesehatan Masyarakat

Kewaspadaan terhadap ISK pada anak bukan hanya tanggung jawab individu orang tua, tetapi juga merupakan bagian dari isu kesehatan masyarakat yang lebih luas. Deteksi dini ISK dapat secara signifikan menurunkan beban biaya kesehatan nasional akibat penanganan gagal ginjal kronis di masa depan.

Melalui diskusi yang diadakan di Rumah Sakit Pondok Indah tersebut, diharapkan para tenaga kesehatan di tingkat fasilitas kesehatan primer (Puskesmas) juga semakin tajam dalam melakukan skrining terhadap anak-anak dengan keluhan demam non-spesifik. Edukasi publik mengenai ISK harus terus digalakkan agar tidak ada lagi kasus anak yang datang ke rumah sakit dalam kondisi kerusakan ginjal tahap lanjut hanya karena gejala ISK awal dianggap sebagai demam biasa.

Dr. Henny menutup diskusinya dengan pesan kuat bahwa kesehatan ginjal anak di masa depan sangat ditentukan oleh seberapa cepat orang tua bereaksi terhadap gejala-gejala kecil yang muncul saat ini. Deteksi dini bukan sekadar mengobati infeksi, melainkan investasi jangka panjang untuk kualitas hidup anak yang lebih baik. Kesadaran kolektif ini diharapkan mampu menurunkan angka kejadian gangguan ginjal pada anak di Indonesia secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menkomdigi Meutya Hafid Desak Platform Digital Prioritaskan Keamanan Anak Melalui Implementasi PP Tunas dan Prinsip Tunggu Anak Siap

28 Juni 2026 - 00:09 WIB

Waspadai Bahaya Penyakit Rematik Jantung yang Mengancam Usia Produktif Akibat Infeksi Tenggorokan yang Tidak Tertangani

27 Juni 2026 - 18:09 WIB

Fajar Noor Merilis Album Perdana Sementara Selamanya yang Menggambarkan Siklus Dinamika Cinta dalam Balutan Pop Ballad Modern

27 Juni 2026 - 12:09 WIB

Fajar Noor Rilis Album Perdana Sementara Selamanya dengan Sentuhan Inspirasi Musik dari Afgan

27 Juni 2026 - 06:09 WIB

Strategi Akselerasi Industri Gim Nasional Melalui Keunikan Budaya Lokal dan Penguatan Ekosistem Global Menuju Kemandirian Ekonomi Kreatif Indonesia

27 Juni 2026 - 00:09 WIB

Trending di Hiburan