Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) secara resmi menggelar puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tahun 2026. Acara yang dipusatkan di Lapangan Garuda Mandala, Kompleks Candi Prambanan, pada Rabu (22/7/2026) tersebut menjadi momentum strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda di tengah gempuran arus digitalisasi dan budaya populer global.
Kegiatan ini melibatkan 380 siswa dan 54 guru pendamping dari 27 sekolah jenjang SMP dan MTs di wilayah Kabupaten Sleman. Hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa, yang didampingi oleh jajaran direksi InJourney Holding serta InJourney Destination Management (IDM), mempertegas sinergi antara pemerintah daerah dengan pemangku kepentingan industri pariwisata dalam mengedukasi generasi penerus.
Transformasi Pendekatan Budaya untuk Generasi Z dan Alpha
Dalam arahannya, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menyoroti tantangan krusial yang dihadapi anak-anak Indonesia saat ini, yaitu krisis identitas budaya. Fenomena di mana generasi muda lebih akrab dengan narasi budaya pop internasional dibandingkan sejarah lokal, menurut Danang, merupakan ancaman laten bagi keberlangsungan jati diri bangsa.
"Generasi muda saat ini kerap merasa enggan saat diajak mendalami sejarah, tetapi begitu antusias ketika membahas budaya populer seperti drama Korea. Ini tentu perlu kita benahi bersama. Jika kita ingin mewariskan keagungan budaya bangsa, kita harus lebih sering membagikan kisah-kisah sejarah dengan cara yang relevan dan menarik bagi mereka," ujar Danang di hadapan para siswa.
Pendekatan yang diterapkan pada HAN ke-42 ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Alih-alih menggunakan format seremonial formal, panitia memilih suasana duduk lesehan yang lebih akrab. Selain itu, para siswa diajak berpartisipasi langsung dalam pelatihan membatik dan seni ecoprint. Penggunaan metode experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung ini diharapkan mampu menciptakan ikatan emosional antara anak-anak dengan warisan leluhur mereka.
Candi Prambanan sebagai Living Heritage
Keterlibatan InJourney Destination Management (IDM) dalam acara ini memberikan dimensi baru bagi pelestarian cagar budaya. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko IDM, Joel Siahaan, menegaskan bahwa Candi Prambanan kini diposisikan bukan sekadar situs purbakala yang statis, melainkan living heritage yang harus hidup di tengah masyarakat modern.
"Pengelolaan kawasan Candi Prambanan difokuskan pada keseimbangan tiga pilar utama, yaitu pelestarian cagar budaya, pengelolaan yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan masyarakat lokal," jelas Joel.
Menurut Joel, langkah ini adalah upaya untuk memastikan bahwa generasi muda tidak memandang situs bersejarah sebagai ruang asing yang hanya bisa dilihat dari kejauhan. Melalui program-program seperti Heritage Class, Junior Wonder, serta kegiatan kepramukaan, IDM berupaya membangun literasi budaya sejak dini. Selain itu, integrasi pelatihan mitigasi bencana gempa bumi di lingkungan situs juga dilakukan sebagai bagian dari pendidikan kesiapsiagaan yang relevan dengan kondisi geografis Indonesia.

Menuju Sleman sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) yang Inklusif
Peringatan HAN ke-42 di Sleman bukan hanya menjadi ajang perayaan, melainkan juga instrumen evaluasi bagi komitmen daerah dalam pemenuhan hak-hak anak. Selaras dengan tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan", pemerintah daerah menekankan pentingnya inklusivitas dalam setiap kebijakan pendidikan dan perlindungan anak.
Pada puncak acara, dilakukan penyerahan bantuan peralatan sekolah secara simbolis yang ditujukan bagi anak-anak dari kelompok rentan serta penyandang disabilitas. Langkah ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Sleman untuk mempertahankan predikat sebagai Kabupaten Layak Anak (KLA) dengan standar yang lebih tinggi, yang tidak hanya menekankan pada aspek administratif, tetapi juga pada aksesibilitas dan kesetaraan kesempatan bagi seluruh anak tanpa terkecuali.
Konteks Historis dan Urgensi Perlindungan Anak
Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap 23 Juli di Indonesia memiliki sejarah panjang sejak ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984. Peringatan ini dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan terhadap hak-hak anak Indonesia. Dalam konteks Sleman, HAN ke-42 pada 2026 menjadi titik balik setelah periode panjang di mana interaksi sosial anak-anak banyak terbatasi oleh protokol kesehatan dan transisi menuju digitalisasi pendidikan pasca-pandemi.
Data dari P3AP2KB Kabupaten Sleman menunjukkan bahwa tantangan terbesar saat ini mencakup perlindungan anak dari konten negatif di dunia maya, perundungan (bullying), serta perlunya ruang publik yang aman dan edukatif. Dengan mengintegrasikan kegiatan di situs warisan dunia seperti Candi Prambanan, pemerintah daerah berusaha menarik anak-anak keluar dari ruang digital dan membawa mereka kembali ke ruang fisik yang memiliki nilai edukasi tinggi.
Implikasi Kebijakan: Budaya sebagai Benteng Pertahanan
Secara sosiologis, upaya Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mengenalkan kembali budaya lokal kepada anak-anak memiliki implikasi yang dalam bagi ketahanan sosial. Ketika seorang anak memiliki pemahaman yang kuat tentang sejarah daerahnya, maka akan tumbuh rasa memiliki (sense of belonging) yang kuat. Hal ini pada gilirannya akan menjadi benteng bagi mereka dalam menyaring pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Analisis singkat menunjukkan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada keberlanjutan. Pelatihan batik dan ecoprint yang dilakukan dalam satu hari perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah-sekolah di Sleman. Sinergi antara Dinas Pendidikan, Dinas P3AP2KB, dan sektor pariwisata (seperti IDM) menjadi kunci agar narasi "cinta budaya" tidak berhenti pada seremoni tahunan, melainkan menjadi gaya hidup keseharian siswa.
Harapan Masa Depan
Puncak peringatan HAN ke-42 di Sleman diakhiri dengan aksi simbolis membunyikan mainan tradisional ‘othok-othok’ oleh para pejabat bersama para siswa. Suara ritmis dari mainan kayu tradisional ini menjadi simbol perlawanan terhadap budaya populer yang artifisial, sekaligus simbol kebangkitan kembali kearifan lokal di tangan generasi muda.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sleman diharapkan mampu memperluas cakupan program ini ke tingkat kecamatan hingga pelosok desa, memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan akses edukasi sejarah dan budaya. Dengan memadukan unsur perlindungan, pendidikan, dan pelestarian budaya, Sleman menunjukkan langkah nyata dalam membangun generasi masa depan yang tangguh, cerdas, dan tetap membumi pada akar sejarah bangsanya.
Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa sinergi lintas sektor, antara pemerintah, korporasi, dan institusi pendidikan, mampu menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara holistik. Hal ini sekaligus menjadi pesan bagi daerah lain di Indonesia mengenai pentingnya menempatkan perlindungan anak dan pelestarian budaya sebagai prioritas dalam agenda pembangunan daerah.









