Di balik perbukitan tandus Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, sebuah sumber air yang dikenal warga sebagai thuk Kali Wonosari bertransformasi menjadi tumpuan hidup bagi ratusan kepala keluarga. Ketika musim kemarau menyapa wilayah selatan Yogyakarta, fenomena krisis air bersih menjadi tantangan tahunan yang berulang, memaksa masyarakat untuk bergantung sepenuhnya pada mata air yang tersisa di tengah kondisi geologis yang menantang.
Kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi oleh topografi karst atau batu kapur memang menyimpan tantangan tersendiri dalam pengelolaan air tanah. Porositas batuan kapur yang tinggi menyebabkan air hujan cepat meresap ke dalam tanah dan mengalir melalui sistem sungai bawah tanah, yang sering kali sulit dijangkau oleh infrastruktur perpipaan konvensional. Akibatnya, saat intensitas hujan menurun drastis, cadangan air di permukaan tanah menyusut tajam, meninggalkan warga dalam ancaman kekeringan berkepanjangan.
Tradisi Ngangsu Banyu Sebagai Resiliensi Lokal
Aktivitas yang dikenal warga setempat sebagai ngangsu banyu telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Dusun Duwet selama beberapa generasi. Ngangsu banyu bukan sekadar rutinitas pengambilan air, melainkan sebuah manifestasi resiliensi atau ketangguhan masyarakat perdesaan dalam beradaptasi dengan keterbatasan sumber daya alam.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar menyengat, warga seperti Wiwin (30) sudah memulai perjalanan menuju mata air. Dengan memanggul jeriken atau menggendong galon bekas menggunakan kain jarik, mereka menempuh jarak sekitar dua kilometer melalui jalur perbukitan yang terjal. Mata air Kali Wonosari, yang debitnya menyusut drastis saat kemarau, menyuguhkan air dengan kejernihan yang jauh dari standar air konsumsi ideal. Namun, di tengah ketiadaan alternatif, air keruh tersebut menjadi satu-satunya sumber daya yang tersedia untuk memasak, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Di lokasi sumber air, infrastruktur yang tersedia sangatlah terbatas. Dua bilik mandi sederhana dari semen tanpa atap menjadi satu-satunya fasilitas pendukung bagi warga. Untuk mengambil air, warga harus menggunakan ember yang diikat dengan tali, sebuah metode tradisional yang mencerminkan betapa dalam dan sulitnya akses terhadap air tanah di wilayah tersebut.
Konteks Geologis dan Kerentanan Kekeringan Gunungkidul
Gunungkidul secara historis telah lama bergelut dengan problem kekeringan. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul, hampir setiap tahun terdapat puluhan kalurahan yang masuk dalam zona merah rawan krisis air bersih. Kondisi ini diperparah oleh perubahan iklim global yang menyebabkan pola curah hujan menjadi tidak menentu, sehingga masa kemarau sering kali berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Secara ilmiah, karakteristik wilayah Tepus dan sekitarnya adalah kawasan karst yang kering. Air tanah di daerah ini umumnya terkumpul dalam gua-gua bawah tanah atau sungai bawah tanah yang kedalamannya bisa mencapai puluhan hingga ratusan meter. Mata air seperti Kali Wonosari merupakan luapan atau titik munculnya air dari sistem hidrologi karst yang lebih kecil, sehingga sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan bulanan.
Kronologi Krisis Air Musim Kemarau 2026
Memasuki bulan Mei 2026, tanda-tanda krisis air di Dusun Duwet sudah mulai terlihat. Penurunan curah hujan yang signifikan sejak awal kuartal kedua tahun ini menyebabkan cadangan air di bak-bak penampungan warga cepat terkuras. Berikut adalah garis waktu umum krisis air yang dialami warga:

- Mei 2026 (Fase Awal): Curah hujan berhenti total. Warga mulai mengandalkan simpanan air hujan (PAH) di rumah masing-masing, namun dalam waktu kurang dari empat minggu, stok tersebut menipis.
- Juni 2026 (Fase Intensifikasi): Warga mulai beralih ke sumber air komunal, termasuk thuk Kali Wonosari. Intensitas kunjungan ke mata air meningkat dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
- Juli 2026 (Fase Krisis): Debit air di Kali Wonosari menyusut hingga titik terendah. Antrean warga mulai terlihat sejak pukul 05.00 WIB. Pengerahan tenaga ekstra untuk mengangkut air menjadi pemandangan sehari-hari di sepanjang jalan setapak menuju mata air.
Analisis Dampak dan Implikasi Ekonomi
Dampak dari krisis air ini tidak hanya terbatas pada kenyamanan hidup, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi yang nyata. Bagi warga yang bekerja di sektor pertanian, kelangkaan air memaksa mereka meninggalkan lahan garapan lebih awal untuk fokus mencari air. Waktu produktif yang seharusnya digunakan untuk kegiatan ekonomi lainnya tersita habis hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga.
Secara sosial, beban ini secara tidak proporsional ditanggung oleh perempuan dan anak-anak. Beban fisik membawa air sejauh dua kilometer dengan medan menanjak membawa risiko kesehatan jangka panjang, terutama bagi warga lanjut usia. Selain itu, ketergantungan pada sumber air yang tidak higienis menimbulkan potensi risiko kesehatan masyarakat, seperti penyakit kulit atau gangguan pencernaan jika air tidak diolah dengan benar sebelum dikonsumsi.
Respon Pihak Terkait dan Kebutuhan Infrastruktur Jangka Panjang
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, melalui dinas terkait, secara berkala melakukan program dropping air bersih ke daerah-daerah yang terdampak parah. Namun, langkah ini sering kali bersifat mitigasi jangka pendek (ad hoc) dan belum menyentuh akar permasalahan yakni keterbatasan akses infrastruktur perpipaan permanen.
Para ahli hidrologi menyarankan perlunya intervensi teknologi yang lebih tepat guna di wilayah karst. Misalnya, pemanfaatan teknologi pompa air tenaga surya untuk menarik air dari sungai bawah tanah yang lebih dalam, serta pembangunan embung-embung skala besar yang mampu menyimpan air hujan lebih lama saat musim penghujan. Selain itu, edukasi mengenai konservasi air dan penanaman vegetasi di sekitar daerah tangkapan air (catchment area) di sekitar mata air perlu ditingkatkan untuk menjaga kestabilan debit air.
Masyarakat Dusun Duwet berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah pusat maupun daerah untuk memperbaiki aksesibilitas air. Meskipun semangat gotong royong dan ketangguhan warga dalam melakukan ngangsu banyu patut diapresiasi, ketergantungan pada sumber air yang rentan kering bukanlah solusi berkelanjutan di masa depan.
Menatap Masa Depan Ketahanan Air di Gunungkidul
Kasus mata air Kali Wonosari hanyalah satu dari sekian banyak potret perjuangan warga di Gunungkidul. Oase kecil ini menjadi simbol bagaimana manusia harus berdamai dengan alam, namun di saat yang sama, ia juga menjadi pengingat keras bahwa ketersediaan air bersih adalah hak asasi yang harus dipenuhi melalui perencanaan infrastruktur yang matang.
Ke depan, koordinasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan partisipasi masyarakat lokal menjadi kunci utama. Pembangunan sistem distribusi air yang berkelanjutan, peningkatan efisiensi penggunaan air, dan perlindungan terhadap ekosistem mata air yang tersisa harus menjadi prioritas kebijakan. Tanpa adanya langkah konkret yang komprehensif, tradisi ngangsu banyu akan terus menjadi beban berat yang dipikul oleh warga setiap kali musim kemarau tiba, menghambat potensi kemajuan daerah tersebut.
Perjuangan warga Dusun Duwet untuk mendapatkan air bersih adalah cermin dari urgensi penanganan isu perubahan iklim di tingkat lokal. Ketika air menjadi komoditas yang mahal harganya, ketahanan masyarakat dalam menghadapi krisis bukan lagi soal pilihan, melainkan soal kelangsungan hidup. Harapan warga kini tertumpu pada solusi permanen yang dapat membebaskan mereka dari siklus tahunan "berburu air" di perbukitan karst yang kering.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, diharapkan di masa depan, mata air seperti Kali Wonosari tidak lagi menjadi satu-satunya tumpuan, melainkan bagian dari sistem tata kelola air yang terintegrasi, memberikan akses yang lebih manusiawi bagi seluruh masyarakat Gunungkidul.









