Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk Advanced Training in Sustainable Leather Technology di Yogyakarta pada Selasa, 23 Juni 2026. Program ini merupakan langkah konkret untuk memodernisasi sektor industri kulit Indonesia agar mampu beradaptasi dengan standar keberlanjutan global yang semakin ketat. Kegiatan ini menjadi titik temu bagi akademisi, praktisi industri, pemerintah, dan mitra internasional guna membedah tantangan serta peluang dalam penerapan teknologi hijau di ekosistem pengolahan kulit nasional.
Urgensi Transformasi Industri Kulit di Era Global
Industri kulit di Indonesia merupakan salah satu sektor manufaktur yang memiliki akar sejarah panjang dan potensi ekonomi yang signifikan. Data historis menunjukkan bahwa produk kulit asal Indonesia, khususnya dari sentra kerajinan seperti Yogyakarta dan Magetan, telah memiliki reputasi di pasar mancanegara. Namun, dalam dekade terakhir, industri ini menghadapi tekanan ganda: tuntutan efisiensi produksi dan kewajiban mematuhi regulasi lingkungan internasional yang semakin ketat, terutama terkait pengelolaan limbah kimia berbahaya dari proses penyamakan.
Program ELEGTEC (Enhancing Sustainable and Green Technology in Indonesia), yang menjadi payung dari pelatihan ini, dirancang untuk merespons celah pengetahuan antara riset akademis dan praktik lapangan. Selama empat hari, para peserta yang terdiri dari pemangku kepentingan lintas sektor mendiskusikan implementasi teknologi penyamakan berbasis hayati (bio-tanning), sistem sirkular pengelolaan limbah cair, dan optimalisasi penggunaan sumber daya air dalam proses produksi.
Kronologi dan Latar Belakang Program ELEGTEC
Program ini bukanlah inisiatif insidental, melainkan bagian dari kolaborasi jangka panjang yang difasilitasi melalui skema Erasmus+. Kerjasama internasional ini melibatkan konsorsium universitas dari Eropa dan Asia untuk memperkuat kapasitas riset dan transfer teknologi di negara berkembang.
Sejak awal 2025, UGM telah melakukan pemetaan kebutuhan industri kulit nasional. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa mayoritas usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor kulit masih mengandalkan metode konvensional dengan tingkat emisi tinggi. Oleh karena itu, pelatihan yang digelar hingga akhir Juni 2026 ini diproyeksikan menjadi katalisator bagi transformasi industri yang lebih hijau. Agenda pelatihan mencakup:
- Hari Pertama: Evaluasi standar material kulit global dan regulasi lingkungan (ESG).
- Hari Kedua: Implementasi teknologi penyamakan ramah lingkungan tanpa logam berat.
- Hari Ketiga: Workshop manajemen limbah industri dan optimalisasi energi di pabrik penyamakan.
- Hari Keempat: Strategi pemasaran produk kulit berkelanjutan di pasar global.
Peran Strategis Sektor Peternakan dan Biodiversitas
Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, menekankan bahwa integrasi antara peternakan dan industri kulit merupakan mata rantai yang tidak terpisahkan. Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa ketersediaan bahan baku kulit mentah yang melimpah akibat populasi ternak yang besar. Namun, tantangan utamanya terletak pada kualitas bahan mentah dan efisiensi pengolahan pascapanen.
"Fakultas Peternakan UGM menempatkan diri sebagai jembatan antara inovasi di laboratorium dengan kebutuhan nyata di industri. Kita tidak bisa lagi memandang industri kulit secara terpisah dari isu keberlanjutan. Kualitas kulit yang dihasilkan sangat bergantung pada praktik peternakan yang baik (Good Farming Practices) dan proses pengolahan yang meminimalisir jejak karbon," ujar Prof. Budi Guntoro dalam pidato pembukaannya.
Analisis Data: Potensi dan Tantangan Pasar
Berdasarkan data kementerian perindustrian, industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki merupakan salah satu kontributor utama devisa non-migas Indonesia. Pada tahun 2025, ekspor produk kulit tercatat mengalami fluktuasi namun tetap menunjukkan tren positif pada segmen produk premium. Namun, hambatan utama dalam menembus pasar Uni Eropa dan Amerika Serikat adalah sertifikasi keberlanjutan (sustainability certification).

Banyak pelaku industri lokal yang kesulitan memenuhi standar Leather Working Group (LWG) yang menuntut transparansi dalam penggunaan bahan kimia. Pelatihan yang diselenggarakan UGM ini bertujuan memberikan pemahaman teknis kepada pelaku industri agar mereka mampu melakukan transisi ke metode produksi yang memenuhi standar LWG tersebut, sehingga daya saing produk Indonesia di pasar global dapat meningkat secara signifikan.
Tanggapan Pihak Terkait dan Sinergi Internasional
Direktur Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM, Puji Astuti, menambahkan bahwa kolaborasi ini adalah bentuk nyata dari misi universitas dalam memberikan dampak global. Melalui program Erasmus+, para mitra internasional membawa teknologi penyamakan terbaru yang telah sukses di Eropa untuk diadaptasi sesuai dengan kondisi tropis Indonesia.
"Industri kulit di Yogyakarta adalah contoh nyata bagaimana ekonomi rakyat bisa bertransformasi menjadi industri ekspor. Dengan bantuan teknologi yang tepat, limbah yang selama ini dianggap sebagai beban dapat diolah kembali menjadi produk sampingan yang bernilai ekonomi, sehingga meningkatkan efisiensi operasional," jelas Puji Astuti.
Pihak pemerintah, yang diwakili oleh perwakilan dinas terkait di Yogyakarta, menyambut positif inisiatif ini. Pemerintah daerah menargetkan bahwa melalui pelatihan ini, setidaknya 30 persen pelaku industri kulit di Yogyakarta dapat melakukan modernisasi peralatan produksi mereka dalam kurun waktu dua tahun ke depan.
Implikasi Luas: Menuju Industri Kulit Sirkular
Dampak dari inisiatif ini diharapkan melampaui sekadar peningkatan teknis. Transformasi menuju industri kulit berkelanjutan akan membawa dampak makro:
- Lingkungan: Penurunan drastis limbah kromium dan bahan kimia beracun yang masuk ke saluran air tanah, yang selama ini menjadi permasalahan lingkungan di sentra-sentra industri kulit.
- Ekonomi: Peningkatan nilai tambah produk. Kulit yang diproduksi dengan proses berkelanjutan memiliki harga jual yang lebih tinggi (premium) di pasar internasional.
- Sosial: Peningkatan kesehatan kerja bagi para pengrajin kulit melalui penggunaan bahan kimia yang lebih aman (eco-friendly chemicals).
Implikasi jangka panjang dari kegiatan ini adalah terwujudnya ekosistem industri kulit yang mandiri dan kompetitif. Dengan mengadopsi teknologi yang tepat, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada bahan penyamak impor sekaligus menjadi pemain kunci dalam pasar produk kulit ramah lingkungan (green leather) yang permintaannya terus melonjak di pasar global seiring dengan gaya hidup konsumen yang semakin peduli terhadap lingkungan.
Kesimpulan
Pelatihan Advanced Training in Sustainable Leather Technology yang diselenggarakan oleh UGM merupakan langkah strategis yang tepat waktu. Di tengah persaingan pasar global yang menuntut tanggung jawab etis dan lingkungan, penguasaan teknologi menjadi syarat mutlak bagi industri kulit Indonesia untuk tetap relevan.
Integrasi antara riset akademis, kebijakan pemerintah, dan praktik industri yang dilakukan melalui program ini memberikan cetak biru bagi pengembangan industri berbasis sumber daya lokal yang berkelanjutan. Fokus pada pengelolaan limbah, efisiensi energi, dan penggunaan bahan kimia ramah lingkungan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan fundamental bagi keberlangsungan industri kulit nasional di masa depan. Dengan sinergi yang berkelanjutan, industri kulit Indonesia tidak hanya akan mampu bertahan dari gempuran pasar global, tetapi juga berpotensi memimpin sebagai produsen produk kulit yang etis dan ramah lingkungan di kawasan Asia Tenggara.









