Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi terpilih sebagai pusat atau hub bagi program bergengsi internasional, Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Underrepresented Scholars of Asia (CHSS). Inisiatif strategis ini dikelola oleh Association for Asian Studies (AAS) dengan dukungan pendanaan penuh dari Swedish International Development Cooperation Agency (SIDA). Penunjukan ini mengukuhkan posisi UGM dalam peta jejaring akademik global, sekaligus menjadi mandat bagi universitas untuk menjembatani kesenjangan aksesibilitas riset dan publikasi bagi akademisi yang selama ini berada di luar arus utama jejaring sumber daya akademik dunia.
Program CHSS dirancang sebagai instrumen untuk mendemokratisasi akses pengetahuan. Selama ini, terdapat ketimpangan yang mencolok dalam ekosistem publikasi ilmiah global, di mana akademisi dari kawasan Asia—khususnya dari wilayah dengan keterbatasan infrastruktur riset—sering kali mengalami kendala untuk menembus jurnal internasional bereputasi. Melalui kolaborasi ini, UGM akan berperan sebagai motor penggerak untuk meningkatkan kapasitas penulisan akademik, memperluas jejaring, dan memberikan pendampingan intensif bagi dosen muda serta mahasiswa pascasarjana.
Latar Belakang dan Konteks Ketimpangan Akademik Global
Ketimpangan akses dalam dunia akademik bukan sekadar isu teknis, melainkan cerminan dari disparitas ekonomi dan geopolitik yang lebih luas. Berdasarkan data dari UNESCO Institute for Statistics, proporsi riset dan publikasi ilmiah masih didominasi oleh negara-negara maju (Global North). Sementara itu, akademisi dari negara berkembang, terutama yang berasal dari wilayah pasca-konflik, daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta kelompok marjinal, sering kali menghadapi hambatan struktural yang menghalangi mereka untuk berkontribusi secara penuh dalam diskursus ilmu pengetahuan global.
Program CHSS hadir sebagai respons langsung terhadap tantangan tersebut. Dengan dukungan SIDA, AAS berupaya mengintervensi ketimpangan ini melalui pendanaan yang terarah pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Bagi UGM, tanggung jawab sebagai hub CHSS bukan sekadar administratif, melainkan sebuah misi untuk memastikan bahwa suara dan temuan riset dari Asia Tenggara—termasuk dari Filipina, Kamboja, dan Timor Leste—mendapatkan ruang yang setara di panggung internasional.
Rangkaian Kronologi dan Implementasi Program
Program ini direncanakan berlangsung selama tiga tahun, dimulai dengan fase persiapan dan koordinasi yang matang. Berikut adalah proyeksi tahapan implementasi program CHSS di UGM:
- Fase Inisiasi (2024-2025): Tahap konsolidasi antara AAS, SIDA, UGM, dan mitra strategis seperti Asia Research Center (ARC) Universitas Indonesia. Fokus pada pemetaan kebutuhan dan identifikasi target audiens (underrepresented scholars).
- Fase Peluncuran Workshop (Oktober 2026): Penyelenggaraan pelatihan penulisan akademik perdana di UGM dengan kuota awal 25 peserta terpilih.
- Fase Keberlanjutan dan Publikasi (2026-2027): Pendampingan intensif (mentoring) berkelanjutan bagi para peserta hingga naskah mereka layak terbit di jurnal internasional bereputasi.
- Fase Evaluasi dan Ekspansi (2027 dan seterusnya): Peninjauan dampak program terhadap profil akademik peserta dan perluasan jejaring kolaborasi antar-peneliti di kawasan Asia Tenggara.
Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada teknik penulisan, tetapi juga pada metodologi riset yang memenuhi standar global, etika publikasi, serta cara menavigasi proses peer-review yang sering kali menjadi momok bagi peneliti pemula.
Peran Strategis UGM dan Kolaborasi Lintas Institusi
Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menegaskan bahwa keterlibatan UGM dalam program ini merupakan bentuk komitmen universitas terhadap inklusivitas pendidikan. Menurutnya, program ini secara spesifik membidik kelompok-kelompok yang selama ini termarjinalkan, termasuk penyandang disabilitas dan akademisi dari daerah dengan tantangan geografis atau sosial.
“UGM akan menjadi hub program CHSS yang didanai oleh SIDA melalui AAS. Kami ingin memastikan bahwa dosen muda, scholar, dan mahasiswa pascasarjana dari kelompok underrepresented ini mendapatkan kesempatan yang sama untuk membangun karier akademik mereka,” ujar Prof. Wening.
Sinergi dengan Asia Research Center dari Universitas Indonesia menambah kekuatan dalam eksekusi program ini. Melalui kolaborasi ini, diharapkan terjadi pertukaran keahlian (knowledge transfer) yang optimal. Para pakar publikasi internasional akan dihadirkan untuk memberikan kritik konstruktif terhadap draf penelitian peserta. Hal ini diharapkan mampu menekan angka penolakan naskah (rejection rate) dari peneliti Asia di jurnal-jurnal internasional bereputasi.
Mengapa Ilmu Sosial dan Humaniora Perlu Diberdayakan?
Di tengah dominasi narasi pendanaan riset yang sering kali condong pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), program CHSS mengambil langkah berani dengan memprioritaskan Ilmu Sosial dan Humaniora. Prof. Wening menekankan bahwa tantangan pembangunan kontemporer tidak dapat diselesaikan hanya melalui solusi teknis.
"Ilmu sosial dan humaniora adalah bidang yang tidak kalah pentingnya. Kita sedang menghadapi berbagai persoalan pembangunan yang kompleks, dan di sanalah peran ilmu sosial untuk membedah, mengentaskan, serta membagikan perspektif tersebut kepada dunia," tegasnya.
Implikasi dari penguatan riset sosial dan humaniora ini sangat luas. Publikasi yang dihasilkan oleh akademisi dari kelompok yang selama ini "tidak terdengar" akan membawa perspektif lokal yang otentik ke dalam teori-teori global. Hal ini memperkaya khazanah ilmu pengetahuan dengan pengalaman empiris dari wilayah-wilayah yang selama ini minim representasi dalam literatur akademik dunia.
Kaitan dengan Agenda Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Program CHSS yang dijalankan UGM ini merupakan perwujudan konkret dari dukungan universitas terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB. Implementasinya mencakup tiga target utama:
- SDG 4 (Quality Education): Melalui peningkatan kualitas sumber daya akademik dan kapasitas penulisan, program ini menjamin akses yang lebih baik bagi akademisi untuk mendapatkan pendidikan dan pelatihan berkualitas tinggi.
- SDG 5 (Gender Equality): Program ini dirancang dengan prinsip inklusivitas, memastikan bahwa keterwakilan gender dalam riset dan partisipasi peserta mendapatkan perhatian proporsional, guna menutup celah ketimpangan gender dalam dunia akademis.
- SDG 10 (Reduced Inequalities): Fokus utama program pada kelompok underrepresented (daerah 3T, pasca-konflik, penyandang disabilitas) secara langsung bertujuan untuk mengurangi kesenjangan peluang di tingkat global maupun regional.
Analisis Implikasi Jangka Panjang
Jika program ini berhasil, dampaknya akan melampaui sekadar peningkatan jumlah publikasi. Pertama, akan terjadi penguatan ekosistem akademik di Asia Tenggara yang lebih mandiri dan kompetitif. Kedua, meningkatnya profil akademik peneliti dari kelompok marginal akan membuka akses mereka terhadap hibah riset yang lebih besar dan peluang kolaborasi global yang lebih luas.
Secara institusional, posisi UGM sebagai hub CHSS akan memperkuat reputasi universitas sebagai pusat keunggulan (center of excellence) yang tidak hanya berorientasi pada ranking, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi masyarakat global. Dengan menyediakan ruang bagi akademisi untuk bertumbuh, UGM secara tidak langsung sedang membangun generasi intelektual baru yang lebih percaya diri dan mampu bersaing secara setara di arena internasional.
Kesimpulan
Kepercayaan internasional yang diberikan oleh AAS dan SIDA kepada UGM merupakan validasi atas rekam jejak universitas dalam manajemen riset dan pengabdian masyarakat. Program CHSS bukan sekadar proyek pelatihan penulisan, melainkan sebuah gerakan untuk mengubah wajah dunia akademik menjadi lebih adil dan inklusif.
Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang solid, UGM diharapkan dapat menjadi pionir yang membuka pintu bagi akademisi Asia untuk membawa narasi-narasi lokal ke panggung global. Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya akan diukur dari jumlah artikel yang terbit, tetapi juga dari keberlanjutan jejaring riset yang terbangun dan peningkatan kualitas hidup serta karier akademik dari para partisipan yang selama ini memiliki keterbatasan akses. Langkah UGM ini menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan harus terus berupaya meruntuhkan tembok-tembok eksklusivitas demi kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih demokratis.









