JOGJA, bisnisjogja.id – Era globalisasi menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki penguasaan teori di dalam kelas, tetapi juga kemampuan adaptasi terhadap praktik industri di kancah internasional. Menjawab tantangan tersebut, tiga mahasiswa dari Program International Undergraduate Program (IUP) Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) baru saja menyelesaikan rangkaian Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang berstandar global setelah menuntaskan program magang selama enam bulan di Sumiyoshi Livestock Station, University of Miyazaki, Jepang.
Program yang berlangsung sejak September 2025 hingga Februari 2026 ini merupakan bentuk nyata kolaborasi akademik lintas negara yang mengintegrasikan pengalaman praktis langsung ke dalam kurikulum universitas. Melalui skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pengalaman magang ini diakui setara dengan 20 SKS, ditambah dengan 2 SKS untuk mata kuliah PKL, yang menunjukkan komitmen UGM dalam memberikan bobot akademik yang substansial bagi pengalaman praktis mahasiswanya.
Profil Peserta dan Fokus Kajian Teknis
Ketiga mahasiswa yang telah menyelesaikan program tersebut adalah Mok Zi Liang, mahasiswa internasional asal Malaysia, Muhammad Farrel Ziafawwaz, dan Swito Sakka Wahudi. Masing-masing mahasiswa memfokuskan kajian mereka pada manajemen peternakan yang menjadi keunggulan utama dari stasiun peternakan di Universitas Miyazaki tersebut.
Mok Zi Liang dan Muhammad Farrel Ziafawwaz mendalami topik Livestock Feeding Management of Wagyu Cattle in Sumiyoshi Livestock Station. Fokus ini sangat krusial mengingat Jepang merupakan standar emas dunia dalam produksi daging sapi Wagyu yang membutuhkan manajemen pakan presisi tinggi guna menghasilkan kualitas marbling yang sempurna. Sementara itu, Swito Sakka Wahudi mengambil spesialisasi pada Feeding Management of Dairy Cows, yang mencakup manajemen nutrisi untuk sapi perah dalam sistem peternakan modern yang efisien.
Pemilihan topik ini didasarkan pada kebutuhan industri peternakan di Indonesia yang saat ini sedang bertransformasi menuju sistem yang lebih efisien, berbasis teknologi, dan berkelanjutan. Dengan mempelajari manajemen pakan di Jepang, para mahasiswa diharapkan mampu membawa pulang metodologi yang dapat diadaptasi ke dalam ekosistem peternakan nasional.
Kronologi dan Integrasi Kurikulum MBKM
Program ini berjalan melalui perencanaan yang matang antara Fakultas Peternakan UGM dan University of Miyazaki. Berikut adalah garis waktu dan tahapan yang dilalui oleh ketiga mahasiswa tersebut:
- September 2025: Keberangkatan mahasiswa ke Miyazaki, Jepang, diikuti dengan masa orientasi mengenai protokol keamanan hayati (biosecurity) dan manajemen operasional di Sumiyoshi Livestock Station.
- Oktober 2025 – Januari 2026: Fase inti magang di mana mahasiswa terlibat langsung dalam aktivitas harian, mulai dari pemeliharaan ternak, pencatatan data kesehatan, hingga analisis efisiensi pakan.
- Februari 2026: Penyusunan laporan akhir dan penyelesaian kewajiban akademik di universitas mitra sebelum kembali ke Indonesia.
- Maret 2026: Pelaksanaan ujian PKL di Fakultas Peternakan UGM sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik atas kegiatan yang telah dijalani.
Integrasi ke dalam skema MBKM memberikan fleksibilitas bagi mahasiswa untuk tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga mendapatkan pengakuan kredit yang sah, sehingga masa studi mereka tetap terjaga tanpa harus tertunda.
Mengapa Sumiyoshi Livestock Station Menjadi Standar Utama
Sumiyoshi Livestock Station, University of Miyazaki, dikenal secara internasional sebagai pusat penelitian peternakan yang mengedepankan presisi. Peternakan di Jepang, khususnya untuk sapi Wagyu, memiliki karakteristik yang sangat spesifik. Penggunaan teknologi sensor, manajemen data digital untuk memantau asupan pakan, serta standar kebersihan yang sangat ketat menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa peternakan dari berbagai negara.
Data dari Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries (MAFF) Jepang menunjukkan bahwa efisiensi produksi ternak di Jepang didorong oleh integrasi riset akademis ke dalam operasional praktis. Bagi mahasiswa UGM, kesempatan untuk melihat bagaimana riset akademik diterapkan secara masif di lapangan merupakan pembelajaran yang tidak bisa didapatkan dari literatur semata. Mereka belajar bagaimana menjaga keseimbangan antara produktivitas ternak dan tanggung jawab etis terhadap kesejahteraan hewan (animal welfare).
Perspektif Akademik: Nilai Tambah di Luar Teknis
Ketua Program Studi S1 Fakultas Peternakan UGM, Muhlisin, PhD, menegaskan bahwa nilai dari magang internasional ini melampaui sekadar transfer pengetahuan teknis. Dalam pandangannya, mahasiswa yang ditempatkan di lingkungan kerja Jepang akan terpapar pada budaya kerja yang sangat disiplin dan sistematis.
"Mahasiswa tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam manajemen peternakan modern, tetapi juga memahami nilai-nilai disiplin, filosofi kerja, dan tanggung jawab etis yang menjadi fondasi pengembangan peternakan di Jepang," ujar Muhlisin.
Filosofi "Kaizen" atau perbaikan terus-menerus yang melekat dalam budaya kerja Jepang menjadi salah satu pelajaran penting yang dipetik oleh mahasiswa. Dalam dunia peternakan, hal ini diwujudkan melalui evaluasi harian terhadap kesehatan ternak, kebersihan kandang, dan presisi pemberian nutrisi. Muhlisin menambahkan bahwa pengalaman ini akan menjadi modal besar bagi mahasiswa saat mereka terjun ke dunia profesional di Indonesia, di mana tantangan utama dalam sektor peternakan adalah efisiensi dan peningkatan kualitas hasil produksi.
Implikasi bagi Masa Depan Peternakan Indonesia
Dunia peternakan global sedang bergerak menuju era Agriculture 4.0, di mana penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) dan Big Data menjadi standar dalam pemeliharaan ternak. Pengalaman yang didapatkan oleh Mok Zi Liang, Muhammad Farrel Ziafawwaz, dan Swito Sakka Wahudi diharapkan menjadi titik awal bagi Fakultas Peternakan UGM untuk terus menjalin jejaring yang lebih luas dengan universitas-universitas kelas dunia.
Implikasi jangka panjang dari program ini adalah munculnya agen perubahan di sektor peternakan nasional. Para lulusan ini tidak hanya membawa pengetahuan tentang bagaimana memelihara sapi dengan cara yang benar, tetapi juga pola pikir untuk mengelola peternakan sebagai sebuah industri yang profesional, terukur, dan berbasis data.
Dalam skala yang lebih luas, keterlibatan mahasiswa UGM di Jepang memperkuat posisi Indonesia dalam peta pendidikan peternakan internasional. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing dan belajar di lingkungan dengan standar tinggi. Diharapkan ke depannya, program magang internasional seperti ini dapat diperluas, baik dari segi jumlah peserta maupun cakupan negara mitra, sehingga lebih banyak mahasiswa yang terpapar pada praktik peternakan global.
Analisis Kritis: Tantangan Adaptasi Lokal
Meskipun model peternakan di Jepang sangat maju, tantangan utama bagi para mahasiswa setelah kembali ke Indonesia adalah proses adaptasi. Perbedaan iklim, ketersediaan bahan pakan, hingga infrastruktur peternakan di Indonesia yang masih dalam tahap pengembangan menuntut kreativitas mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang didapat.
Namun, efisiensi yang dipelajari di Jepang—seperti manajemen pakan berbasis kebutuhan nutrisi spesifik—sebenarnya sangat relevan untuk diaplikasikan di Indonesia guna menekan biaya produksi yang seringkali menjadi kendala utama peternak lokal. Keberhasilan ketiga mahasiswa ini dalam menyelesaikan PKL di Jepang merupakan bukti bahwa dengan kurikulum yang tepat dan dukungan kemitraan internasional, kualitas lulusan peternakan Indonesia dapat ditingkatkan secara signifikan.
Penutup
Program magang internasional di University of Miyazaki merupakan salah satu contoh sukses implementasi kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan industri masa depan. Dengan menggabungkan teori akademik yang solid di UGM dan praktik industri yang presisi di Jepang, para mahasiswa tidak hanya lulus dengan gelar kesarjanaan, tetapi juga dengan kompetensi yang diakui dunia.
Fakultas Peternakan UGM terus berkomitmen untuk memberikan pengalaman yang memperkaya wawasan global bagi mahasiswanya. Keberhasilan Mok Zi Liang, Muhammad Farrel Ziafawwaz, dan Swito Sakka Wahudi adalah cerminan dari semangat mahasiswa Indonesia untuk terus belajar dan berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air. Dengan berbekal pengalaman dari Jepang, mereka kini siap menjadi pemimpin di industri peternakan yang akan membawa standar baru bagi praktik peternakan di Indonesia pada masa mendatang.









