Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Wisata

Sleman Jadi Tuan Rumah Indonesia Creative Cities Festival 2018 Usung Semangat Gotong Royong Holopis Kutha Baris

badge-check


					Sleman Jadi Tuan Rumah Indonesia Creative Cities Festival 2018 Usung Semangat Gotong Royong Holopis Kutha Baris Perbesar

Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, secara resmi didapuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Indonesia Creative Cities Festival (ICCF) 2018. Perhelatan skala nasional yang menjadi ajang pertemuan para penggerak ekosistem kreatif dari berbagai penjuru nusantara ini dijadwalkan berlangsung selama enam hari, yakni mulai 15 hingga 20 Oktober 2018. Penunjukan Sleman sebagai pusat kegiatan menegaskan posisi kabupaten tersebut sebagai salah satu hub penting dalam peta ekonomi kreatif di Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, dalam keterangannya di Sleman, Senin, menjelaskan bahwa perhelatan ini merupakan tonggak sejarah baru dalam jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN). Jika pada tahun-tahun sebelumnya kegiatan ini dikenal dengan nama Indonesia Creative Cities Conference (ICCC), maka pada tahun 2018 terjadi transformasi nama menjadi Indonesia Creative Cities Festival. Perubahan nomenklatur ini bukan sekadar pergantian label, melainkan refleksi dari pergeseran paradigma agar jejaring kota kreatif tidak hanya terjebak dalam diskusi formal, tetapi lebih cair dan mampu membuka sekat-sekat antarpemangku kepentingan.

Sinergi yang dibangun dalam ICCF 2018 melibatkan kolaborasi lintas sektor antara ICCN sebagai organisasi jejaring, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) sebagai pemangku kebijakan nasional, serta Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai tuan rumah. Fokus utama festival ini adalah merajut kolaborasi yang lebih inklusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas di level kabupaten dan kota.

Evolusi Jejaring Kota Kreatif Indonesia: Dari ICCC ke ICCF

Indonesia Creative Cities Network (ICCN) pertama kali mencetuskan gerakan jejaring kota kreatif melalui ajang Indonesia Creative Cities Conference (ICCC) pada tahun 2015. Sejak saat itu, ICCC menjadi forum tahunan yang mempertemukan para inovator, pegiat seni, pelaku usaha kreatif, serta pemerintah daerah untuk merumuskan strategi pengembangan kota berbasis ekonomi kreatif.

Kronologi perhelatan jejaring kota kreatif nasional dapat dirunut sebagai berikut:

  1. ICCC 2015 di Solo: Menjadi titik awal deklarasi jejaring kota kreatif di Indonesia. Fokus utama saat itu adalah penguatan basis komunitas dan pemetaan potensi lokal.
  2. ICCC 2016 di Makassar: Memperkuat posisi kota kreatif dalam peta nasional dengan penekanan pada literasi digital dan keterlibatan komunitas urban.
  3. ICCF 2018 di Sleman: Transformasi menjadi "Festival" yang menekankan pada praktik lapangan, pemanfaatan ruang publik, dan keterlibatan langsung masyarakat melalui workshop tematik di desa-desa wisata.

Perubahan nama dari Conference ke Festival di Sleman menandai fase kedewasaan ekosistem kreatif Indonesia. Festival dianggap sebagai format yang lebih mampu menampung ekspresi kreatif, sehingga hasil dari konferensi dapat langsung diaplikasikan dalam bentuk karya nyata, pameran, dan interaksi sosial yang lebih luas.

Holopis Kutha Baris: Filosofi Gotong Royong dalam Ekonomi Kreatif

Tema yang diusung dalam ICCF 2018 adalah "Holopis Kutha Baris". Tema ini merupakan adaptasi kreatif dari ungkapan klasik "Holopis Kuntul Baris", sebuah semboyan perjuangan yang kerap dikumandangkan Presiden pertama RI, Soekarno, untuk memantik semangat gotong royong bangsa Indonesia dalam menghadapi masa kolonialisme.

Dalam konteks ICCF 2018, "Holopis Kutha Baris" dimaknai sebagai upaya kolektif untuk menyelesaikan tantangan pembangunan kota yang kompleks melalui sinergi. Sudarningsih menjelaskan bahwa filosofi ini sangat relevan dengan tantangan industri kreatif saat ini, di mana sebuah kota tidak bisa berdiri sendiri. Sinergi antar-stakeholder, mulai dari akademisi, komunitas, pelaku bisnis, pemerintah, hingga media (sering disebut sebagai konsep Pentahelix), menjadi kunci keberhasilan.

Tema ini juga membawa pesan bahwa masalah seberat apa pun dalam pengembangan ekonomi daerah dapat diselesaikan jika dikerjakan bersama-sama. Dengan "Holopis Kutha Baris", diharapkan kota-kota di Indonesia tidak lagi saling berkompetisi secara tidak sehat, melainkan saling berjejaring untuk menciptakan ekosistem kreatif yang tangguh.

Agenda Utama dan Lokasi Kegiatan

Rangkaian ICCF 2018 di Sleman dirancang untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan, mulai dari diskusi kebijakan strategis hingga penguatan kapasitas teknis di tingkat akar rumput. Beberapa agenda utama yang disiapkan meliputi:

  1. Indonesia Creative Cities Conference: Bertempat di Hotel Sahid Jaya, forum ini menjadi ajang diskusi tingkat tinggi yang menghadirkan narasumber kredibel, seperti Triawan Munaf (Kepala BEKRAF), Ridwan Kamil (saat itu menjabat Gubernur Jawa Barat), Joshoua Simanjuntak, serta tokoh industri kreatif seperti Wishnutama dan konsultan kreatif internasional, Tom Flemming.
  2. Sleman Living Culture Night: Jamuan makan malam yang dikemas secara khusus di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman. Acara ini dirancang untuk memperkenalkan kuliner lokal dan kekayaan budaya Sleman kepada para delegasi dari berbagai kota di Indonesia.
  3. Pameran Kota Kreatif: Berlangsung di Hotel Sahid Jaya, pameran ini menampilkan produk unggulan, inovasi desain, dan narasi pengembangan dari berbagai kota anggota ICCN.
  4. Workshop Tematik: Kegiatan ini menjadi salah satu keunggulan ICCF 2018. Workshop tidak hanya dilakukan di ruang tertutup, melainkan disebar ke berbagai desa wisata di Kabupaten Sleman. Langkah ini diambil untuk memberikan pengalaman langsung kepada para peserta tentang bagaimana ekonomi kreatif dapat menghidupkan sektor pariwisata berbasis komunitas.

Dampak dan Implikasi terhadap Ekonomi Kreatif Daerah

Penyelenggaraan ICCF 2018 memiliki implikasi strategis bagi pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Berdasarkan data BEKRAF (saat itu), sektor ekonomi kreatif telah memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Namun, tantangan utama masih terletak pada kesenjangan pertumbuhan antara kota-kota besar di Pulau Jawa dengan daerah lainnya.

Dengan adanya festival ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan dan teknologi. Para pelaku industri kreatif di tingkat kabupaten/kota dapat saling belajar mengenai model bisnis yang berhasil, strategi branding kota, hingga cara mengoptimalkan aset daerah menjadi produk kreatif bernilai jual tinggi.

Selain itu, dampak jangka panjang dari pertemuan ini adalah terciptanya jejaring pemasaran yang lebih luas. Ketika kota-kota kreatif di Indonesia mampu bersinergi, mereka akan memiliki daya tawar yang lebih kuat dalam pasar global. Kota-kota kreatif tidak lagi hanya menjadi konsumen dari produk luar, melainkan produsen yang mampu mengekspor nilai budaya dan kreativitas lokal.

Analisis Strategis: Pentingnya Kolaborasi Pentahelix

Keberhasilan Sleman sebagai tuan rumah menunjukkan pentingnya kesiapan infrastruktur daerah dalam mendukung kegiatan berskala nasional. Namun, lebih dari itu, keberhasilan ini sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Konsep "Holopis Kutha Baris" yang diusung merupakan strategi untuk menurunkan kebijakan makro dari pemerintah pusat menjadi tindakan mikro yang bisa dijalankan oleh masyarakat lokal.

Pemerintah Kabupaten Sleman sendiri telah menunjukkan komitmen dalam mengembangkan desa wisata sebagai basis ekonomi kreatif. Penggunaan desa wisata sebagai lokasi workshop adalah bukti nyata bahwa Sleman ingin mengintegrasikan antara sektor pariwisata dengan kreativitas digital dan kerajinan tangan. Hal ini sejalan dengan misi nasional untuk menciptakan 100 kabupaten/kota kreatif di seluruh Indonesia.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa tanpa adanya kolaborasi yang konsisten pasca-festival, acara seperti ICCF 2018 hanya akan menjadi seremoni tahunan. Oleh karena itu, penguatan peran ICCN sebagai fasilitator jejaring menjadi sangat krusial. ICCN bertugas memastikan bahwa janji-janji sinergi yang diucapkan di atas panggung konferensi dapat diterjemahkan ke dalam program kerja nyata di masing-masing kota anggota.

Harapan bagi Pelaku Industri Kreatif

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Pariwisata berharap bahwa melalui ICCF 2018, para pelaku industri kreatif di tanah air semakin aktif berkarya dan bekerja sama. Pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif—yang menyentuh hingga ke lapisan masyarakat paling bawah—adalah tujuan akhir yang ingin dicapai.

Dengan menghadirkan pembicara berkaliber internasional dan nasional, para peserta diharapkan mendapatkan wawasan baru mengenai tren global industri kreatif, seperti pemanfaatan teknologi digital, strategi storytelling dalam pemasaran produk, hingga manajemen ruang kreatif yang berkelanjutan.

Penyelenggaraan ini juga menjadi ajang pembuktian bahwa Sleman mampu menjadi etalase bagi Indonesia yang kaya akan budaya dan potensi kreatif. Melalui semangat gotong royong "Holopis Kutha Baris", diharapkan Indonesia tidak hanya menjadi penonton dalam ekonomi kreatif global, melainkan pemain kunci yang mampu menawarkan solusi kreatif atas berbagai tantangan zaman.

Sebagai penutup, ICCF 2018 di Sleman merupakan perwujudan dari visi besar bangsa untuk menjadikan kreativitas sebagai tulang punggung ekonomi masa depan. Sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku bisnis yang terjalin selama enam hari di Sleman menjadi modal sosial yang berharga bagi pengembangan kota-kota kreatif di Indonesia di masa depan. Keberhasilan festival ini akan diukur tidak hanya dari suksesnya penyelenggaraan acara, tetapi dari seberapa besar dampak ekonomi dan sosial yang dirasakan oleh masyarakat Sleman serta daerah-daerah lain yang terlibat dalam jejaring ICCN.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Transformasi Sektor Pariwisata Menjadi Lokomotif Utama Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten Bantul

4 Juli 2026 - 18:39 WIB

Dinas Pariwisata Sleman Perketat Regulasi Rute Jeep Wisata Merapi Demi Keselamatan dan Kenyamanan Pengunjung

4 Juli 2026 - 12:39 WIB

Menyoroti Kesenjangan Antara Inisiatif Warga dan Dukungan Pemerintah dalam Pengembangan Pariwisata Kulon Progo

4 Juli 2026 - 00:39 WIB

Transformasi Ekonomi Bantul: Sektor Pariwisata Berbasis Masyarakat Siap Geser Dominasi Pertanian

3 Juli 2026 - 18:39 WIB

Bank Indonesia Perwakilan DIY Dorong Akselerasi Sektor Pariwisata dan UMKM sebagai Motor Pertumbuhan Ekonomi Regional

3 Juli 2026 - 00:39 WIB

Trending di Wisata