Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta: Seni dan Budaya Sebagai Pilar Utama Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana

badge-check


					Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta: Seni dan Budaya Sebagai Pilar Utama Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Perbesar

Dua dekade telah berlalu sejak gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006. Memperingati momentum historis tersebut, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menggelar diskusi panel bertajuk Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat, Jumat, 8 Mei 2026. Forum yang berlangsung di Ruang Audio Visual Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta ini menjadi wadah refleksi mendalam mengenai posisi strategis sektor seni dan budaya dalam manajemen bencana di Indonesia.

Kronologi dan Memori Kolektif Gempa 2006

Pada 27 Mei 2006, tepat pukul 05.53 WIB, bumi Yogyakarta berguncang hebat selama kurang lebih 57 detik. Bencana ini tercatat sebagai salah satu peristiwa seismik paling merusak dalam sejarah modern Indonesia dengan dampak yang masif. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 6.200 jiwa kehilangan nyawa, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Kerusakan infrastruktur mencapai angka fantastis dengan sekitar 420.000 rumah hancur atau rusak berat, memaksa ratusan ribu warga mengungsi dalam waktu yang lama.

Namun, di balik kehancuran fisik, masyarakat Yogyakarta menunjukkan resiliensi yang luar biasa. Konsep "gotong royong" dan nilai-nilai lokal menjadi mesin penggerak pemulihan yang cepat. Selama dua dekade terakhir, proses rehabilitasi tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga aspek psikososial. Diskusi di ISI Yogyakarta ini menyoroti bahwa ingatan akan peristiwa tersebut tidak boleh sekadar menjadi catatan statistik, melainkan harus dihidupkan sebagai pembelajaran kolektif agar generasi mendatang memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik.

Seni Sebagai Seismograf Kultural dan Alat Mitigasi

Peran seni dalam kebencanaan sering kali disepelekan dalam pendekatan teknokratis yang terlalu berfokus pada infrastruktur fisik. Padahal, menurut Dr. Mikke Susanto, M.A., seni berfungsi sebagai seismograf kultural yang mampu merekam trauma, harapan, dan transformasi sosial masyarakat. Seni bukan sekadar medium estetika, melainkan instrumen mitigasi berbasis budaya yang efektif.

Dalam pemaparannya, Dr. Mikke menekankan bahwa seni memiliki kemampuan untuk melakukan advokasi sosial dan menjadi arsip alternatif. Ketika sistem formal gagal menjangkau trauma psikologis penyintas, karya seni—baik itu musik, rupa, maupun pertunjukan—hadir sebagai terapi kolektif. Seniman Endang Lestari, S.Sn., M.Sn., melalui praktik artistiknya yang menggunakan media tanah dan terakota, membuktikan bahwa artefak budaya dapat menjadi jembatan bagi masyarakat untuk berdamai dengan masa lalu sekaligus membangun fondasi masa depan yang lebih kokoh.

Integrasi Kebijakan dan Dimensi Kultural dalam Kebencanaan

Dr. Andre Notohamijoyo, S.Sos., MSM., Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, memberikan perspektif pemerintah mengenai pentingnya perubahan paradigma dalam manajemen bencana. Selama ini, kebijakan pengurangan risiko bencana sering kali bersifat top-down dan teknis. Namun, diskusi ini menegaskan bahwa pendekatan tersebut tidak akan maksimal tanpa melibatkan dimensi kultural masyarakat setempat.

Kebijakan yang mengadopsi kearifan lokal lebih mudah diterima oleh masyarakat dan terbukti memiliki keberlanjutan yang lebih tinggi. Kemenko PMK mendorong integrasi antara mitigasi berbasis sains dengan mitigasi berbasis budaya. Artinya, setiap program edukasi kebencanaan harus mempertimbangkan bagaimana masyarakat memaknai lingkungan dan sejarah bencananya sendiri. Ketangguhan (resiliensi) tidak bisa dibangun dari luar; ia harus tumbuh dari pemahaman mendalam tentang karakter sosial dan budaya sebuah komunitas.

Ketika Seni Membaca Getar Bumi: ISI Yogyakarta Teguhkan Peran Budaya dalam Ketangguhan Bencana

Peran Perguruan Tinggi Seni dalam Isu Kemanusiaan

Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, S.Sn., M.Sn., dalam sambutannya menegaskan bahwa tanggung jawab perguruan tinggi seni kini telah melampaui sekadar penciptaan karya. Kampus seni memiliki tanggung jawab akademik untuk memproduksi pengetahuan yang relevan dengan tantangan zaman, termasuk isu kemanusiaan.

ISI Yogyakarta memandang diri sebagai aktor yang mampu menjembatani antara disiplin seni rupa, pertunjukan, media rekam, dan kajian budaya untuk membedah kompleksitas bencana. Dengan memposisikan seni sebagai bagian dari kerja-kerja kemanusiaan, ISI Yogyakarta berusaha menghapus stigma bahwa seni hanya berfungsi sebagai hiburan. Dalam konteks bencana, seni menjadi bahasa pemulihan (healing) yang melintasi batas-batas bahasa dan status sosial.

Implikasi Strategis: Menuju Masyarakat yang Tangguh Bencana

Peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta ini memberikan implikasi penting bagi arah kebijakan nasional terkait pengurangan risiko bencana. Ada beberapa poin kunci yang dapat disimpulkan dari forum tersebut:

  1. Transformasi Edukasi Kebencanaan: Edukasi kebencanaan tidak boleh lagi bersifat kaku dan menakut-nakuti. Pendekatan kreatif berbasis seni dapat meningkatkan partisipasi publik dalam simulasi dan pemahaman risiko bencana.
  2. Pemulihan Psikososial Berkelanjutan: Seni harus diintegrasikan ke dalam program pemulihan pascabencana oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai alat untuk memulihkan kesehatan mental penyintas secara jangka panjang.
  3. Pemanfaatan Arsip Budaya: Ingatan kolektif tentang bencana perlu diarsipkan dalam bentuk karya kreatif agar generasi muda memahami kerentanan wilayah tempat mereka tinggal tanpa harus mengalami peristiwa tragis secara langsung.
  4. Kolaborasi Multidisiplin: Pentingnya keterlibatan seniman dan budayawan dalam perumusan kebijakan bencana bersama para ahli geologi, arsitek, dan pembuat kebijakan.

Analisis Masa Depan: Budaya Sebagai Ketahanan Nasional

Dalam perspektif ketahanan nasional, budaya adalah modal sosial (social capital) yang paling kuat. Indonesia, sebagai negara yang berada di wilayah Ring of Fire, tidak bisa melepaskan diri dari ancaman bencana. Oleh karena itu, membangun ketangguhan bukan hanya tentang membangun gedung tahan gempa, tetapi membangun komunitas yang "tahan" secara mental dan sosial.

Pengalaman 20 tahun pascagempa Yogyakarta menjadi laboratorium hidup bagi dunia. Dunia internasional kerap mengamati bagaimana Yogyakarta bangkit dengan kekuatan nilai-nilai lokalnya. ISI Yogyakarta melalui kegiatan ini ingin memastikan bahwa pelajaran berharga tersebut tidak hilang ditelan waktu. Dengan mengintegrasikan seni ke dalam kebijakan mitigasi, Indonesia memiliki peluang untuk menciptakan model ketangguhan bencana yang unik dan humanis.

Kesimpulan

Diskusi panel yang diinisiasi oleh ISI Yogyakarta dan Kemenko PMK ini bukanlah sekadar acara seremonial. Ini adalah pernyataan sikap bahwa dunia seni siap berkontribusi nyata dalam isu-isu strategis nasional. Dengan menutup kegiatan ini, harapan besar muncul agar pemerintah pusat dan daerah mulai melibatkan praktisi seni dalam setiap fase manajemen bencana—mulai dari pra-bencana, saat terjadi bencana, hingga fase pemulihan.

Seni telah terbukti mampu menyembuhkan luka dan membangun kembali semangat hidup masyarakat setelah trauma hebat. Di masa depan, integrasi antara ilmu pengetahuan kebencanaan dan pendekatan budaya akan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman bencana yang tak terelakkan di masa mendatang. Yogyakarta, dengan sejarah panjangnya, sekali lagi membuktikan diri sebagai pionir dalam merawat kehidupan dan menata masa depan melalui kekuatan budaya yang tangguh dan adaptif.

Forum ini juga menjadi pengingat bagi seluruh elemen masyarakat bahwa bencana adalah urusan bersama. Sinergi antara pemerintah, akademisi, seniman, dan komunitas lokal merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya masyarakat yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu tumbuh lebih kuat pascabencana. Melalui karya dan pemikiran, seni akan terus hadir sebagai mercusuar yang menjaga kewaspadaan sekaligus menanamkan harapan di tengah kerentanan geografis yang dimiliki oleh Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tim Bullseye Consulting FEB UGM Raih Prestasi Gemilang sebagai 1st Runner-up HSBC Indonesia Business Case Competition 2026

9 Mei 2026 - 00:37 WIB

Darurat Pengelolaan Sampah Nasional: Mengurai Benang Kusut Praktik Open Dumping dan Tantangan Infrastruktur Berkelanjutan

8 Mei 2026 - 18:37 WIB

UGM dan Institut Français Yogyakarta Gelar Summer Course Internasional untuk Memperkuat Diplomasi Budaya Melalui Penerjemahan dan Penulisan Kreatif

8 Mei 2026 - 12:37 WIB

Menggugat Dominasi Penutur Asli dalam Bahasa Inggris: Refleksi Pragmatik dan Identitas Budaya Indonesia di Kancah Global

8 Mei 2026 - 06:37 WIB

Menilik Kembali Jejak Walter Spies di Bali: ISI Yogyakarta Gelar Pemutaran Film Dokumenter ROOTS dan Diskusi Kritis Seni Budaya

8 Mei 2026 - 06:12 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya