Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

PT TWC Latih 1.000 Siswa SMA Wujudkan Masyarakat Tangguh Bencana Sebagai Bagian dari Refleksi Dua Dekade Gempa Yogyakarta

badge-check


					PT TWC Latih 1.000 Siswa SMA Wujudkan Masyarakat Tangguh Bencana Sebagai Bagian dari Refleksi Dua Dekade Gempa Yogyakarta Perbesar

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (TWC) atau yang kini dikenal sebagai InJourney Destination Management (IDM) mengambil langkah strategis dalam memperkuat ketahanan sosial melalui program pelatihan tanggap bencana bagi 1.000 siswa SMA di Daerah Istimewa Yogyakarta. Inisiatif yang terangkum dalam program InJourney Community Care ini menyasar sekolah-sekolah yang berada di zona rawan bencana di Kabupaten Sleman, Bantul, Gunungkidul, hingga Kota Yogyakarta. Langkah ini diambil sebagai bentuk tanggung jawab korporasi dalam menciptakan destinasi wisata yang tidak hanya berfokus pada ekonomi, tetapi juga menjadi pusat edukasi masyarakat mengenai mitigasi risiko.

Pelatihan yang berlangsung secara intensif sejak Januari hingga Mei 2026 ini mencakup spektrum mitigasi yang luas. Para siswa dibekali dengan pemahaman risiko gempa bumi, teknik penyelamatan diri, prosedur evakuasi, hingga simulasi penanganan darurat yang realistis. Direktur Operasi IDM, Indung Purwita Jati, menegaskan bahwa keterlibatan perusahaan merupakan manifestasi komitmen untuk menghadirkan destinasi yang memiliki nilai edukasi dan keberlanjutan. Kawasan wisata, menurutnya, memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik dalam membangun budaya sadar bencana bagi generasi muda.

Refleksi Dua Dekade Gempa Yogyakarta 2006

Kegiatan pelatihan ini menjadi semakin relevan mengingat pelaksanaannya bertepatan dengan momentum peringatan 20 tahun bencana gempa bumi dahsyat yang melanda Yogyakarta pada 27 Mei 2006. Peristiwa tersebut menjadi luka kolektif sekaligus pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia mengenai pentingnya infrastruktur yang tahan gempa dan kesiapsiagaan masyarakat.

Gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter yang mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya pada Sabtu pagi, 27 Mei 2006, tercatat menelan ribuan korban jiwa dan merusak ratusan ribu bangunan. Mengingat kembali kronologi tersebut, wilayah Bantul menjadi episentrum kerusakan terparah. Dampak kehancuran yang masif memaksa pemerintah dan masyarakat untuk melakukan pemulihan dalam skala besar, yang juga menjadi titik balik lahirnya kebijakan nasional mengenai Penanggulangan Bencana di Indonesia yang lebih terstruktur melalui Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Dua dekade setelah peristiwa tersebut, peringatan yang dipusatkan di Lapangan Garuda Candi Prambanan bukan sekadar ritual seremonial. Acara ini menjadi ruang refleksi mendalam mengenai sejauh mana Indonesia, khususnya Yogyakarta, telah berbenah. Kehadiran Kemenko PMK dalam kegiatan ini menggarisbawahi bahwa ancaman bencana di wilayah Indonesia, yang terletak di zona cincin api (ring of fire), adalah keniscayaan yang harus diantisipasi dengan pendekatan sistemik.

PT TWC melatih seribu siswa SMA wujudkan masyarakat tangguh bencana

Pendekatan Pentahelix dalam Mitigasi Bencana

Peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta mengusung konsep kolaborasi pentahelix. Pendekatan ini melibatkan lima unsur utama, yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan, menekankan bahwa tanggung jawab mitigasi tidak bisa dibebankan kepada pemerintah semata.

Rangkaian kegiatan peringatan tersebut meliputi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), di mana sekolah didorong untuk memiliki manajemen risiko mandiri. Selain itu, terdapat pula agenda Pasar Penyintas yang menjadi ruang bagi para pelaku UMKM yang merupakan korban gempa 2006 untuk memamerkan produk mereka. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemulihan pascabencana bukan hanya soal fisik bangunan, melainkan juga pemulihan ekonomi berkelanjutan bagi para penyintas.

Gelar peralatan penanggulangan bencana yang turut ditampilkan dalam acara tersebut memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai kapasitas instansi terkait seperti Basarnas, BPBD, dan relawan dalam merespons situasi darurat. Kesiapan teknologi dan peralatan adalah salah satu pilar penting dalam meminimalisir risiko, namun edukasi perilaku (behavioral education) bagi masyarakat tetap menjadi kunci utama.

Implikasi Strategis dan Budaya Kesiapsiagaan

Implikasi dari pelatihan 1.000 siswa SMA ini sangat luas. Generasi muda merupakan kelompok yang paling adaptif dalam menerima informasi dan memiliki potensi besar sebagai agen perubahan di tingkat keluarga dan komunitas. Dengan memberikan pemahaman sejak dini, diharapkan akan terbentuk budaya kesiapsiagaan yang mengakar, sehingga ketika bencana terjadi, masyarakat tidak lagi panik, melainkan mampu melakukan tindakan preventif yang tepat guna.

Analisis dari para ahli kebencanaan menunjukkan bahwa mitigasi berbasis komunitas (community-based disaster risk management) adalah metode paling efektif di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Yogyakarta. Keterlibatan IDM sebagai BUMN di sektor pariwisata dalam agenda ini juga memberikan dimensi baru bahwa destinasi wisata dapat menjadi "hub" atau pusat edukasi. Pengunjung wisata yang datang ke Prambanan nantinya juga diharapkan mendapatkan literasi bencana melalui narasi yang dibangun di kawasan tersebut.

Secara makro, peringatan dua dekade gempa Yogyakarta ini menjadi katalisator bagi perumusan kebijakan baru yang lebih komprehensif. Pemerintah diharapkan dapat memperkuat integrasi antara riset kebencanaan dari akademisi dengan implementasi di lapangan. Fokus utamanya bukan lagi sekadar respons pascabencana (rehabilitasi dan rekonstruksi), melainkan penguatan fase pra-bencana melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

PT TWC melatih seribu siswa SMA wujudkan masyarakat tangguh bencana

Harapan Masa Depan: Membangun Indonesia Tangguh

Lilik Kurniawan dalam pernyataannya menekankan bahwa semangat gotong royong adalah fondasi utama. Peringatan ini diharapkan mampu meningkatkan komitmen lintas sektor agar koordinasi tidak hanya berjalan saat terjadi krisis, tetapi juga dalam masa tenang.

Data historis menunjukkan bahwa wilayah DIY berada di zona subduksi pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang secara geologis menempatkan Yogyakarta pada risiko seismik tinggi secara permanen. Oleh karena itu, membangun "masyarakat tangguh bencana" adalah proyek jangka panjang yang harus berkelanjutan, melintasi pergantian kepemimpinan, dan terus relevan dengan perkembangan zaman.

Melalui sinergi antara PT TWC/IDM dengan institusi pemerintah seperti Kemenko PMK, upaya edukasi ini menjadi langkah konkret dalam membumikan kesadaran bencana ke level pendidikan menengah. Keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa tangguh para siswa tersebut dalam mengaplikasikan ilmu mitigasi di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal mereka saat menghadapi situasi darurat yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, peringatan 20 tahun gempa Yogyakarta menegaskan bahwa meskipun bencana adalah peristiwa yang tidak dapat diprediksi kapan datangnya, kesiapan masyarakat adalah variabel yang dapat dikelola. Kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam pendidikan kebencanaan menjadi model yang ideal untuk direplikasi di wilayah-wilayah rawan bencana lainnya di seluruh pelosok Indonesia. Ketangguhan sebuah bangsa diukur dari sejauh mana ia belajar dari masa lalunya untuk melindungi masa depan generasi penerusnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

UMY Dorong Transformasi UMKM Kuliner Melalui Pendampingan Berbasis Syariah untuk Akselerasi Ekonomi Lokal

25 Mei 2026 - 12:03 WIB

Presiden Prabowo Subianto Beli Sapi Kurban Seberat 1,05 Ton dari Peternak Bantul untuk Idul Adha 1447 Hijriah

25 Mei 2026 - 00:03 WIB

DIY Menyusun Katalog Desain Batik untuk Memperluas Jangkauan Pasar Fesyen Mancanegara

24 Mei 2026 - 18:03 WIB

DPKP DIY Pastikan Stok Hewan Kurban Aman dan Sehat dengan Dua Kabupaten Menjadi Tulang Punggung Pasokan

24 Mei 2026 - 12:03 WIB

Kemenko PMK dan InJourney TWC Perkuat Budaya Tangguh Bencana di Kawasan Cagar Budaya Berbasis Sinergi Relawan

24 Mei 2026 - 06:03 WIB

Trending di Headline