Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

Presiden Prabowo Subianto Beli Sapi Kurban Seberat 1,05 Ton dari Peternak Bantul untuk Idul Adha 1447 Hijriah

badge-check


					Presiden Prabowo Subianto Beli Sapi Kurban Seberat 1,05 Ton dari Peternak Bantul untuk Idul Adha 1447 Hijriah Perbesar

Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang jatuh pada tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan perhatiannya terhadap sektor peternakan lokal dengan memilih hewan kurban dari peternak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Seekor sapi jenis Simental dengan bobot fantastis mencapai 1,05 ton telah dipinang oleh pihak kepresidenan dari seorang peternak di Dusun Salakan, Kalurahan Bangunjiwo, Kabupaten Bantul. Sapi yang diberi nama "Sontrot" tersebut dibeli dengan harga Rp110 juta dan kini tengah dalam pengawasan ketat tim kesehatan hewan untuk memastikan kondisi prima sebelum diserahkan pada hari penyembelihan.

Keputusan Presiden untuk mengambil sapi dari Bantul ini tidak hanya menjadi kebanggaan bagi sang peternak, Supardiono Sambodo, tetapi juga menjadi sorotan nasional mengenai standar kualitas ternak lokal yang mampu bersaing di tingkat tertinggi. Pemilihan sapi ini dilakukan melalui proses seleksi yang panjang dan ketat, melibatkan otoritas kesehatan hewan baik dari pemerintah daerah maupun pusat, guna menjamin bahwa hewan yang akan dikurbankan memenuhi syarat syariat Islam serta standar kesehatan yang ditetapkan.

Kronologi Seleksi Sapi Kurban Kepresidenan

Proses pemilihan sapi kurban untuk orang nomor satu di Indonesia bukanlah perkara sederhana. Supardiono mengungkapkan bahwa awalnya terdapat tiga ekor sapi dari kandangnya yang diusulkan untuk menjadi kandidat kurban Presiden. Usulan tersebut datang melalui jalur koordinasi mantri kesehatan hewan setempat yang melihat potensi kualitas sapi-sapi di wilayah Bangunjiwo.

"Kemarin ada dari teman yang kebetulan dia juga mantri, menawarkan apakah sapi ini bisa diusulkan untuk hewan kurban Pak Prabowo. Akhirnya, kami memasukkan tiga ekor sapi dengan kriteria bobot yang hampir seragam. Setelah melalui serangkaian penilaian oleh tim dari pusat, satu ekor, yakni Sontrot, terpilih karena memenuhi semua kriteria yang ditetapkan," ujar Supardiono saat ditemui di kandangnya pada Jumat (15/5/2026).

Tahapan seleksi meliputi pemeriksaan fisik secara menyeluruh, mulai dari penimbangan berat badan, pemeriksaan gigi untuk memastikan umur ternak (poel), hingga tes kesehatan untuk memastikan sapi bebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) serta cacingan. Tim kesehatan hewan dari Pemerintah DIY dan pusat terjun langsung ke lokasi di Dusun Salakan untuk memberikan vitamin, obat cacing, dan memastikan sanitasi kandang terjaga dengan baik.

Profil Sapi Simental Sontrot

Sapi jenis Simental yang terpilih ini memiliki profil yang mengesankan. Dengan usia yang menginjak tiga tahun, Sontrot telah menunjukkan pertumbuhan yang optimal berkat pola perawatan yang intensif. Supardiono, yang merintis usaha peternakan sejak empat tahun lalu, mengaku telah merawat sapi tersebut sejak masih berupa anakan.

Nama "Sontrot" sendiri memiliki latar belakang unik. Supardiono, yang kesehariannya juga berprofesi sebagai penjual ubi, memberikan nama tersebut sebagai identitas bagi ternak kesayangannya. Bagi Supardiono, beternak bukan sekadar urusan bisnis, melainkan sebuah ikatan emosional antara pemilik dan hewan peliharaan. Ia menekankan bahwa kunci keberhasilan dalam beternak sapi dengan kualitas premium adalah ketekunan (istiqomah) dan kecintaan terhadap hewan itu sendiri.

"Beternak itu harus dimulai dengan bismillah dan rasa senang. Jika kita tidak mencintai hewan tersebut, maka perawatan yang diberikan tidak akan maksimal. Saya tidak menyangka sapi dari kandang kecil kami bisa dipercaya oleh Presiden, mengingat persaingan dari peternak lain di seluruh Indonesia sangat ketat," tambahnya.

Standar Kesehatan Hewan Kurban Nasional

Pemilihan sapi kurban oleh Presiden Prabowo Subianto selalu mengacu pada standar kesehatan yang sangat ketat. Di Indonesia, setiap hewan kurban yang diperuntukkan bagi agenda kenegaraan harus melewati prosedur karantina dan pengawasan kesehatan yang intensif. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran penyakit zoonosis serta memastikan daging yang akan dibagikan nantinya layak konsumsi dan higienis.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) setempat biasanya berperan sebagai pengawal teknis. Mereka melakukan pemantauan berkala terhadap sapi-sapi yang masuk dalam kandidat kurban presiden. Penggunaan obat cacing, pemberian pakan bernutrisi tinggi, dan pemantauan suhu tubuh adalah standar operasional prosedur yang wajib dipenuhi. Dalam kasus sapi di Bantul ini, seluruh prosedur tersebut telah dilakukan jauh sebelum hari penyembelihan tiba, sehingga kondisi Sontrot dipastikan dalam keadaan optimal saat diserahterimakan nanti.

Presiden Prabowo beli sapi kurban dengan bobot 1,05 ton dari peternak Bantul

Dampak dan Implikasi bagi Sektor Peternakan Lokal

Pembelian sapi seberat 1,05 ton oleh Presiden memiliki implikasi positif yang luas bagi para peternak di Bantul khususnya, dan DIY pada umumnya. Pertama, hal ini menjadi validasi atas kualitas bibit ternak Simental yang dikembangkan oleh peternak lokal. Keberhasilan Supardiono menjadi "etalase" bagi peternak lain bahwa dengan manajemen pemeliharaan yang baik, peternak skala rumahan pun mampu menghasilkan ternak berkelas premium yang layak dipilih oleh pemimpin negara.

Kedua, kegiatan ini memberikan stimulus ekonomi bagi wilayah setempat. Harga jual Rp110 juta untuk satu ekor sapi bukan sekadar angka transaksi, melainkan apresiasi terhadap biaya operasional, pakan, dan tenaga kerja yang telah dikeluarkan peternak selama tiga tahun masa pemeliharaan. Hal ini diharapkan mampu memotivasi peternak lain untuk terus meningkatkan kualitas nutrisi pakan ternak mereka, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya saing peternakan sapi nasional.

Ketiga, dari perspektif sosial, keterlibatan Presiden dalam kurban di daerah mencerminkan upaya desentralisasi perhatian pemerintah. Dengan memilih sapi dari daerah yang jauh dari ibu kota, Presiden Prabowo mengirimkan pesan simbolis bahwa seluruh peternak di Indonesia, tanpa memandang skala usaha, memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam perayaan hari besar keagamaan nasional.

Menuju Idul Adha 1447 H

Hingga saat ini, sapi Sontrot masih berada di bawah perawatan Supardiono di Dusun Salakan. Peternak tersebut menyatakan bahwa ia tetap melakukan rutinitas pemeliharaan seperti biasa, menjaga asupan nutrisi, serta menjaga kebersihan kandang hingga waktu pengiriman tiba. Meski lokasi penyembelihan dan pendistribusian daging sapi tersebut belum diputuskan secara resmi oleh pihak istana, Supardiono mengaku bangga telah menuntaskan amanah awal dalam penyediaan hewan kurban.

Fenomena ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat luas akan pentingnya memilih hewan kurban yang sehat dan memenuhi syarat sah secara syariat. Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk membeli hewan kurban di tempat-tempat yang sudah memiliki izin dan diawasi oleh dinas terkait guna meminimalisir risiko kesehatan.

Analisis Sektor Peternakan Sapi Nasional

Data menunjukkan bahwa permintaan sapi dengan bobot di atas satu ton (sering disebut sebagai sapi jumbo atau sapi super) selalu meningkat menjelang Idul Adha. Tren ini didorong oleh antusiasme masyarakat dan lembaga untuk memberikan kurban terbaik. Namun, pasokan sapi dengan bobot 1 ton ke atas memerlukan waktu pemeliharaan yang lebih lama (rata-rata 2,5 hingga 3 tahun) dan biaya pakan yang jauh lebih tinggi dibandingkan sapi penggemukan cepat (fattening).

Keberhasilan peternak Bantul dalam menyuplai sapi super ini menunjukkan bahwa ekosistem peternakan di Yogyakarta telah berkembang ke arah yang lebih profesional. Dukungan pemerintah pusat dalam bentuk penyuluhan kesehatan dan akses pasar melalui pemilihan hewan kurban presiden terbukti efektif menjadi magnet bagi pertumbuhan ekonomi pedesaan.

Ke depannya, diharapkan model kerjasama antara pemerintah dan peternak lokal ini dapat terus ditingkatkan, tidak hanya terbatas pada momen Idul Adha, tetapi juga dalam upaya swasembada daging nasional. Dengan memanfaatkan teknologi tepat guna dalam pemeliharaan sapi, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan pada impor daging dan memberdayakan peternak lokal agar lebih mandiri dan sejahtera.

Penutup

Kisah tentang Sontrot, sapi Simental asal Bantul yang dipilih Presiden Prabowo Subianto, bukan sekadar cerita tentang sebuah transaksi jual beli. Ini adalah narasi tentang dedikasi, ketekunan, dan standar tinggi yang dipenuhi oleh seorang peternak lokal. Di balik bobot 1,05 ton tersebut, tersimpan harapan akan kemajuan sektor peternakan Indonesia yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Bagi Supardiono dan warga Dusun Salakan, peristiwa ini akan menjadi catatan sejarah yang membanggakan. Bagi masyarakat Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa di pelosok-pelosok desa, terdapat talenta-talenta peternak yang mampu menghasilkan produk berkualitas kelas satu yang bahkan layak dipilih oleh seorang Presiden. Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah, perhatian publik kini tertuju pada kelancaran prosesi penyembelihan dan pendistribusian kurban, yang diharapkan dapat membawa berkah bagi masyarakat yang membutuhkan, sesuai dengan esensi utama dari perayaan Idul Adha itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

UMY Dorong Transformasi UMKM Kuliner Melalui Pendampingan Berbasis Syariah untuk Akselerasi Ekonomi Lokal

25 Mei 2026 - 12:03 WIB

DIY Menyusun Katalog Desain Batik untuk Memperluas Jangkauan Pasar Fesyen Mancanegara

24 Mei 2026 - 18:03 WIB

DPKP DIY Pastikan Stok Hewan Kurban Aman dan Sehat dengan Dua Kabupaten Menjadi Tulang Punggung Pasokan

24 Mei 2026 - 12:03 WIB

Kemenko PMK dan InJourney TWC Perkuat Budaya Tangguh Bencana di Kawasan Cagar Budaya Berbasis Sinergi Relawan

24 Mei 2026 - 06:03 WIB

PT TWC Latih 1.000 Siswa SMA Wujudkan Masyarakat Tangguh Bencana Sebagai Bagian dari Refleksi Dua Dekade Gempa Yogyakarta

24 Mei 2026 - 00:03 WIB

Trending di Headline