Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Pendidikan

Pengembangan inovasi konseling berbasis AI dan VR untuk cegah cyberbullying

badge-check


					Pengembangan inovasi konseling berbasis AI dan VR untuk cegah cyberbullying Perbesar

Dunia pendidikan di era digital saat ini menghadapi tantangan serius seiring dengan meningkatnya prevalensi perundungan siber atau cyberbullying di kalangan pelajar. Fenomena ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental korban, tetapi juga mengganggu iklim belajar di sekolah. Menanggapi urgensi tersebut, Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menjalin kemitraan strategis lintas negara dengan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Kolaborasi akademik ini difokuskan pada pengembangan inovasi sistem konseling yang mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI) dan Virtual Reality (VR) sebagai garda terdepan dalam upaya preventif dan kuratif terhadap kasus perundungan siber.

Langkah konkret ini menjadi sorotan setelah dosen dari Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknologi Informasi UMBY, Putri Taqwa Prasetyaningrum, mengumumkan hasil kunjungan akademik ke kampus UKM di Malaysia. Sinergi ini tidak hanya sekadar pertukaran gagasan, melainkan telah menghasilkan luaran akademik yang signifikan, mencakup publikasi di jurnal internasional bereputasi serta implementasi program pengabdian masyarakat yang menyasar tenaga pendidik.

Integrasi Teknologi dalam Terapi Konseling

Salah satu pilar utama dari kolaborasi ini adalah riset mengenai efektivitas sistem terapi berbasis Virtual Reality (VR). Penelitian yang dituangkan dalam artikel ilmiah berjudul "Impact of Lean UX-Driven Gamification on the Usability and Emotional Engagement of Virtual Reality Therapy Systems for Educational Counseling" ini berhasil menembus Journal of Engineering Science and Technology (JESTEC), sebuah jurnal terindeks Scopus Q3 pada tahun 2026.

Penelitian tersebut mengeksplorasi penggunaan metodologi Lean User Experience (Lean UX) dalam pengembangan sistem VR yang dirancang untuk kebutuhan konseling edukatif. Dalam konteks ini, gamifikasi diterapkan untuk menciptakan lingkungan simulasi yang lebih interaktif bagi siswa. Hasil pengujian menunjukkan efektivitas yang signifikan: sistem VR dengan gamifikasi mencatatkan tingkat penyelesaian tugas sebesar 92 persen, jauh melampaui sistem konvensional tanpa gamifikasi yang hanya berada di angka 75 persen.

Data ini mengonfirmasi bahwa teknologi imersif yang dirancang dengan pendekatan berpusat pada pengguna (user-centered design) mampu meningkatkan keterlibatan emosional dan kepuasan siswa saat menjalani sesi konseling. Dengan memposisikan siswa dalam lingkungan simulasi yang aman, mereka dapat melatih kemampuan resolusi konflik dan ketahanan diri tanpa harus mengalami perundungan secara langsung di dunia nyata.

Peran Artificial Intelligence sebagai Sistem Peringatan Dini

Selain pemanfaatan VR, tim kolaborasi ini juga mengembangkan sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi perundungan siber. Pengembangan ini bertujuan membantu guru dan konselor sekolah dalam mengidentifikasi pola interaksi digital siswa yang mengarah pada perilaku tidak etis.

Proyek ini memanfaatkan teknik Natural Language Processing (NLP) yang memungkinkan sistem untuk memproses data teks dalam skala besar. Fungsi utama dari inovasi AI ini mencakup tiga aspek krusial:

  1. Identifikasi Awal: Sistem secara otomatis memindai pola bahasa yang mengandung indikasi perundungan, seperti hinaan, ancaman, pelecehan, atau ujaran kebencian dalam interaksi digital siswa.
  2. Penentuan Prioritas: Hasil analisis sistem ditampilkan dalam dashboard khusus bagi guru atau konselor. Fitur ini membantu tenaga pendidik untuk segera melakukan intervensi terhadap kasus yang memiliki tingkat risiko tinggi, sehingga respons dapat diberikan sebelum dampak psikologis yang lebih berat terjadi.
  3. Evaluasi dan Pendampingan: Data yang terkumpul dari analisis AI menjadi basis data untuk mengevaluasi iklim pergaulan siswa di sekolah. Informasi ini kemudian digunakan untuk merancang materi edukasi dan program pendampingan yang lebih terarah dan relevan dengan kebutuhan siswa.

Putri Taqwa Prasetyaningrum menekankan bahwa implementasi AI dalam dunia pendidikan bukanlah bentuk penggantian peran manusia. AI dirancang sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system) yang mampu bekerja lebih cepat dalam menyaring informasi yang masif di ruang digital. Peran sentral tetap berada di tangan guru dan konselor yang memiliki kapasitas untuk memverifikasi konteks psikologis siswa serta menentukan tindakan korektif yang paling manusiawi dan tepat sasaran.

Pengembangan inovasi konseling berbasis AI dan VR untuk cegah cyberbullying

Dampak Cyberbullying dan Urgensi Intervensi Digital

Perkembangan teknologi ini muncul di tengah data yang menunjukkan bahwa perundungan siber telah menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental remaja global. Berdasarkan berbagai studi psikologi pendidikan, korban perundungan siber berisiko tinggi mengalami depresi, kecemasan, hingga penurunan prestasi akademik.

Di Indonesia, ketergantungan siswa terhadap platform media sosial dan pesan instan sering kali menjadi celah bagi terjadinya perundungan. Seringkali, guru dan orang tua terlambat menyadari adanya kasus tersebut karena sifat perundungan siber yang cenderung tersembunyi (hidden) dan terjadi di luar jam sekolah. Inovasi yang dikembangkan oleh UMBY dan UKM ini menjawab kesenjangan tersebut dengan menyediakan alat pemantauan yang lebih proaktif.

Program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim kolaborasi ini pun telah mendapatkan pengakuan luas, salah satunya dengan diterimanya artikel inovasi pelatihan AI bagi guru di Jurnal Masyarakat Mandiri (JMM) yang terakreditasi Sinta 3. Hal ini menunjukkan bahwa upaya preventif tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat sekolah.

Implikasi Masa Depan dan Keberlanjutan Program

Kolaborasi antara UMBY dan UKM ini menandai babak baru dalam transformasi layanan bimbingan konseling di sekolah-sekolah di Indonesia dan Malaysia. Penggunaan teknologi yang canggih dan berbasis riset membuktikan bahwa sektor pendidikan dapat beradaptasi dengan tantangan era disrupsi digital.

Ke depan, tantangan utama bagi tim pengembang adalah memastikan aksesibilitas teknologi ini bagi sekolah-sekolah dengan berbagai latar belakang fasilitas. Selain itu, aspek privasi data siswa menjadi perhatian utama dalam pengembangan sistem berbasis AI ini. Penggunaan NLP dalam memonitor interaksi digital menuntut standar etika data yang ketat guna memastikan bahwa informasi sensitif siswa tetap terlindungi dan hanya digunakan untuk tujuan konseling yang edukatif.

Analisis dari para ahli pendidikan menunjukkan bahwa keberhasilan model ini akan bergantung pada dua faktor kunci: integrasi kurikulum digital di sekolah dan kesiapan konselor dalam mengoperasikan alat berbasis teknologi. Jika sistem ini dapat diadopsi secara luas, maka Indonesia akan memiliki model penanganan cyberbullying yang berbasis data (data-driven) dan mampu memitigasi dampak negatif teknologi dengan teknologi itu sendiri.

Kesimpulan

Proyek inovasi konseling berbasis AI dan VR yang digagas oleh Universitas Mercu Buana Yogyakarta dan Universiti Kebangsaan Malaysia merupakan langkah progresif dalam menjawab tantangan sosial di era digital. Dengan mengkombinasikan metodologi Lean UX, gamifikasi, dan teknik NLP, proyek ini tidak hanya menawarkan solusi teknis, tetapi juga menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih aman dan suportif.

Keberhasilan riset yang diakui secara internasional melalui publikasi di JESTEC dan JMM membuktikan bahwa sinergi lintas negara menjadi kunci dalam memecahkan masalah kompleks seperti perundungan siber. Melalui pendekatan yang humanis dengan dukungan kecerdasan buatan, diharapkan tercipta lingkungan belajar di mana teknologi tidak lagi menjadi pemicu perundungan, melainkan alat untuk melindungi martabat dan kesehatan mental generasi muda.

Pemerintah melalui kementerian terkait diharapkan dapat menindaklanjuti inisiatif akademis ini dengan memberikan dukungan kebijakan maupun pendanaan, sehingga inovasi yang lahir dari laboratorium universitas dapat segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas di seluruh penjuru tanah air. Pada akhirnya, keberhasilan pencegahan cyberbullying bukan hanya diukur dari kecanggihan algoritma yang dibuat, melainkan dari keberhasilan menjaga ruang digital agar tetap menjadi tempat yang nyaman bagi pertumbuhan intelektual dan emosional siswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kemdiktisaintek Buka Peluang Emas Peningkatan Kualifikasi Akademik Melalui Beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia 2026

21 Juni 2026 - 06:13 WIB

Mendikdasmen Buka Peluang Pelibatan Kantin Sekolah dalam Transformasi Skema Program Makan Bergizi Gratis

21 Juni 2026 - 00:13 WIB

Siswa Tumbuh High School Mengangkat Isu Keberlanjutan Melalui Pertunjukan Seni Seeds of Learning di Yogyakarta

20 Juni 2026 - 18:13 WIB

Kemendikdasmen Perkuat Ekosistem Literasi Nasional Melalui Sinergi Strategis dengan Perguruan Tinggi dalam Pemartabatan Bahasa Indonesia

20 Juni 2026 - 00:13 WIB

Strategi Komprehensif Kemendikdasmen dalam Menyiapkan Lulusan SMK Berdaya Saing Global yang Legal dan Bermartabat

19 Juni 2026 - 18:13 WIB

Trending di Pendidikan