Pemerintah Kabupaten Gunungkidul secara resmi memulai pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap III Tahun 2026. Fokus utama dari kegiatan yang melibatkan kolaborasi lintas sektoral antara TNI, Pemerintah Daerah, dan masyarakat ini adalah pembangunan infrastruktur fisik strategis di Padukuhan Sunggingan, Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong. Pembangunan jalan cor rabat beton sepanjang 575 meter menjadi proyek prioritas yang diharapkan mampu menjadi urat nadi ekonomi baru bagi warga setempat.
Pelaksanaan TMMD kali ini mengusung tema besar "TMMD Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa". Tema tersebut dipilih sebagai representasi nyata dari semangat gotong royong dan kemanunggalan antara TNI dengan rakyat, yang telah menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas serta akselerasi pembangunan di wilayah-wilayah terpencil atau pedesaan di seluruh Indonesia.
Urgensi Pembangunan Infrastruktur di Ponjong
Kapanewon Ponjong, khususnya di wilayah Kalurahan Umbulrejo, selama ini membutuhkan perhatian lebih terkait konektivitas antar-wilayah. Akses jalan yang memadai bukan sekadar masalah mobilitas orang, melainkan faktor determinan dalam distribusi hasil pertanian dan akses pendidikan bagi warga. Pembangunan jalan sepanjang 575 meter dengan metode cor rabat beton dipilih karena daya tahannya yang tinggi terhadap kondisi geografis Gunungkidul yang cenderung berbukit dan berkapur.
Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, dalam keterangannya pada Rabu (15/7/2026), menegaskan bahwa proyek ini merupakan manifestasi dari komitmen pemerintah dalam mengurangi disparitas pembangunan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. "Program TMMD adalah instrumen percepatan pembangunan yang paling efektif karena melibatkan partisipasi langsung masyarakat dalam pengerjaannya, sehingga rasa memiliki terhadap infrastruktur tersebut jauh lebih besar," ujar Joko.
Akar Sejarah dan Filosofi Kemanunggalan TNI
Pelibatan TNI dalam pembangunan infrastruktur desa bukanlah fenomena baru. Secara historis, keterlibatan militer dalam pembangunan sipil berakar dari konsep dwifungsi yang berevolusi menjadi kemanunggalan TNI-Rakyat. Joko Parwoto merujuk pada pidato Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, dalam Deklarasi Ekonomi pada 28 Maret 1963. Saat itu, Bung Karno menekankan bahwa Angkatan Bersenjata harus menjadi bagian integral dari pembangunan nasional.
Dalam konteks modern, semangat tersebut diadaptasi ke dalam TMMD sebagai upaya untuk memperkuat ketahanan nasional dari tingkat tapak. Dengan turun langsung ke desa-desa, TNI tidak hanya membantu membangun fisik jalan atau jembatan, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Ini adalah strategi pertahanan nirmiliter yang sangat krusial dalam menjaga keutuhan NKRI melalui pendekatan kesejahteraan.
Rincian Sasaran Fisik dan Nonfisik TMMD Sengkuyung III 2026
Pembangunan jalan cor rabat beton bukan menjadi satu-satunya agenda dalam TMMD di Umbulrejo. Program ini dirancang secara komprehensif untuk menyentuh berbagai aspek kebutuhan dasar masyarakat. Berikut adalah rincian sasaran kegiatan yang sedang dan akan dijalankan:
- Infrastruktur Dasar: Pembangunan jalan rabat beton sepanjang 575 meter untuk mempermudah akses ekonomi warga.
- Drainase: Pembangunan sistem gorong-gorong untuk mencegah banjir atau kerusakan jalan akibat genangan air saat musim hujan.
- Peningkatan Kualitas Hunian: Rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) bagi keluarga kurang mampu di wilayah sekitar.
- Fasilitas Sosial dan Keagamaan: Pengecatan dan perbaikan sarana Gedung Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan karakter anak-anak di pedesaan.
Selain sasaran fisik, program nonfisik menjadi komponen yang tidak kalah penting. TNI bersama aparat pemerintah setempat memberikan penyuluhan mengenai wawasan kebangsaan, bela negara, serta keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan masyarakat yang tangguh, memiliki nasionalisme tinggi, dan sadar akan hukum, sehingga stabilitas di level desa dapat terjaga dengan baik.

Dampak dan Implikasi Ekonomi-Sosial
Analisis terhadap program TMMD menunjukkan adanya korelasi positif antara pembangunan infrastruktur desa dengan peningkatan ekonomi lokal. Akses jalan yang baik akan menurunkan biaya logistik bagi petani di Ponjong saat hendak membawa hasil panen ke pasar-pasar utama di Gunungkidul. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul, sektor pertanian masih menjadi penyumbang signifikan bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Oleh karena itu, penguatan infrastruktur perdesaan secara langsung berkontribusi pada upaya pengentasan kemiskinan ekstrem.
Selain itu, implikasi dari rehabilitasi RTLH juga sangat dirasakan secara sosial. Rumah yang layak huni merupakan indikator dasar kesejahteraan keluarga. Dengan lingkungan tempat tinggal yang lebih sehat dan aman, produktivitas masyarakat diharapkan meningkat. Sinergi ini mencerminkan bahwa TMMD adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar proyek pembangunan sesaat.
Peran Masyarakat sebagai Subjek Pembangunan
Keberhasilan TMMD sangat bergantung pada keterlibatan aktif masyarakat lokal. Dalam pola kerja TMMD, masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat, melainkan sebagai subjek pembangunan. Mereka bekerja berdampingan dengan anggota TNI dalam mengolah material, membangun pondasi, hingga pengecoran jalan.
Gotong royong ini adalah modal sosial (social capital) yang sangat mahal harganya. Di era modern di mana individualisme cenderung meningkat, kegiatan TMMD menjadi wadah untuk memupuk kembali nilai-nilai kebersamaan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berharap bahwa semangat ini tidak berhenti setelah program TMMD selesai, melainkan terus berkelanjutan melalui kegiatan pemeliharaan infrastruktur yang telah dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
Analisis Sosiologis: Membangun dari Pinggiran
Kebijakan pembangunan yang menitikberatkan pada wilayah pedesaan sejalan dengan arah kebijakan nasional "Membangun dari Pinggiran". Bagi Kabupaten Gunungkidul, yang secara geografis memiliki tantangan topografi, pendekatan TMMD terbukti lebih efisien dibandingkan metode tender konvensional untuk proyek-proyek skala kecil di pelosok.
Kehadiran TNI di tengah-tengah masyarakat selama proses TMMD juga memberikan rasa aman. Secara sosiologis, interaksi informal antara prajurit TNI dengan warga saat istirahat kerja atau saat kegiatan penyuluhan, mampu memecah sekat birokrasi dan psikologis antara pemerintah/aparat dengan masyarakat. Hal ini memperkuat "ketahanan sosial" di tengah potensi ancaman radikalisme atau disintegrasi yang seringkali menyasar wilayah-wilayah dengan akses informasi yang terbatas.
Harapan ke Depan
Program TMMD Sengkuyung Tahap III di Ponjong ini diharapkan dapat rampung sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Pemkab Gunungkidul menargetkan bahwa setelah jalan ini selesai dibangun, geliat ekonomi di Padukuhan Sunggingan akan meningkat secara signifikan. Pemerintah juga terus berkomitmen untuk melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap setiap tahapan program agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Dukungan dari berbagai pihak, termasuk dukungan logistik dari masyarakat sekitar, menjadi kunci utama. Joko Parwoto mengajak seluruh elemen masyarakat di Kalurahan Umbulrejo untuk menjaga fasilitas yang telah dibangun. "Hasil pembangunan ini adalah milik kita bersama. Mari kita jaga dan rawat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh anak cucu kita di masa depan," pungkasnya.
Dengan sinergi yang terus terjaga antara TNI, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, dan masyarakat, program TMMD tidak sekadar menjadi kegiatan rutinitas, tetapi menjadi pilar pembangunan yang kokoh dalam mewujudkan visi Gunungkidul yang lebih maju, mandiri, dan berdaya saing di tingkat nasional. Langkah konkret di Ponjong ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan masih menjadi kekuatan terbesar bangsa dalam menghadapi tantangan pembangunan di tengah dinamika zaman.









