Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Wisata

Pemecahan Rekor MURI Stagen Terpanjang 1001 Meter di Candi Banyunibo Menjadi Ajang Promosi Wisata dan Pelestarian Budaya Sleman

badge-check


					Pemecahan Rekor MURI Stagen Terpanjang 1001 Meter di Candi Banyunibo Menjadi Ajang Promosi Wisata dan Pelestarian Budaya Sleman Perbesar

Kawasan objek wisata Candi Banyunibo, yang terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi pusat perhatian publik pada Minggu, 7 Oktober 2018. Perhelatan akbar yang dipusatkan di destinasi Pasar Digital Candi Banyunibo tersebut bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah upaya kolaboratif untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) melalui pencatatan stagen terpanjang dengan ukuran 1001 meter. Kegiatan ini merupakan inisiatif strategis yang melibatkan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman dan berbagai komunitas lokal untuk mengangkat kembali martabat kerajinan tenun tradisional yang kini mulai tergerus arus modernisasi.

Filosofi dan Signifikansi Budaya Stagen dalam Tradisi Jawa

Dalam khazanah busana tradisional Jawa, stagen memiliki kedudukan yang cukup vital. Secara teknis, stagen adalah kain panjang yang berfungsi sebagai korset atau sabuk yang dililitkan secara rapat pada bagian perut. Bagi masyarakat Jawa masa lampau, penggunaan stagen bukan sekadar pelengkap estetika, melainkan kebutuhan fungsional. Sebelum seorang individu mengenakan kebaya atau beskap, stagen harus dipasang terlebih dahulu untuk mengunci posisi kain panjang agar tidak mudah melorot.

Lebih dari sekadar fungsi teknis, penggunaan stagen juga mencerminkan kedisiplinan dan postur tubuh yang ideal bagi masyarakat Jawa. Stagen yang umumnya memiliki lebar sekitar 15 sentimeter dengan panjang berkisar antara 5 hingga 10 meter ini memberikan efek tekan pada perut, sehingga pemakainya akan terlihat lebih tegak, ramping, dan rapi. Hingga saat ini, tradisi penggunaan stagen masih dipertahankan oleh sebagian besar perempuan Jawa, terutama pasca melahirkan. Banyak ibu yang meyakini bahwa penggunaan stagen yang dikombinasikan dengan konsumsi jamu tradisional dapat membantu mengencangkan otot perut dan mengembalikan bentuk tubuh ke proporsi semula setelah proses persalinan.

Dinamika Industri Tenun Tradisional di Sleman

Dibalik kemeriahan pemecahan rekor MURI, terdapat isu krusial mengenai keberlangsungan pengrajin tenun bukan mesin (ATBM) di wilayah Sleman. Produksi stagen tradisional yang menggunakan alat tenun bukan mesin kini menghadapi tantangan berat dari produk stagen modern berbahan sintetis yang lebih elastis dan murah. Data menunjukkan bahwa jumlah pengrajin tenun tradisional di Sleman mengalami penyusutan yang signifikan.

Salah satu basis produksi yang tersisa berada di Kecamatan Moyudan. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, saat ini hanya tersisa sekitar 24 pengrajin yang masih setia menekuni profesi ini. Keahlian menenun tersebut merupakan warisan budaya yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Namun, minimnya regenerasi dan rendahnya daya saing harga di pasar global membuat profesi penenun stagen menjadi semakin marginal. Upaya Pemerintah Kabupaten Sleman untuk mengangkat stagen ke panggung rekor MURI dipandang sebagai langkah krusial untuk memberikan "panggung" bagi para pengrajin lokal agar produk mereka kembali dikenal oleh masyarakat luas.

Kronologi dan Persiapan Teknis Rekor MURI

Proses pemecahan rekor ini tidak dilakukan secara instan. Persiapan dimulai dengan koordinasi intensif antara Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) dan Dinas Pariwisata. Pemilihan angka 1001 meter memiliki simbolisme tersendiri, yang merepresentasikan kesatuan dan keberlanjutan. Dalam eksekusinya, kain stagen sepanjang 1001 meter tersebut diarak di kawasan Candi Banyunibo oleh 110 anak yatim piatu dari berbagai panti asuhan di wilayah Prambanan.

Penggunaan anak-anak sebagai pengarak stagen memiliki makna filosofis tentang pewarisan nilai budaya kepada generasi muda. Koreografi yang disusun sedemikian rupa saat mengusung kain sepanjang lebih dari satu kilometer tersebut menciptakan pemandangan visual yang memukau bagi para wisatawan. Selain aspek seremonial, acara ini juga dirancang sebagai paket wisata komprehensif. Pengunjung tidak hanya disuguhkan atraksi budaya, tetapi juga diajak untuk mengeksplorasi destinasi wisata berbasis digital, yakni Pasar Banyunibo, yang menawarkan kuliner khas lokal dengan nuansa pedesaan yang kental.

Integrasi Olahraga dan Pariwisata: Slebor Pit

Untuk memperluas jangkauan promosi, pihak penyelenggara mengintegrasikan kegiatan pemecahan rekor dengan ajang bersepeda yang diberi nama "Slebor Pit". Rute yang dipilih tidak sembarangan; panitia merancang jalur yang melintasi berbagai titik ikonik di kawasan Sleman Timur. Titik awal dimulai dari objek wisata Lava Bantal, sebuah situs geologi purba yang sangat populer, kemudian melintasi Pertanian Jambu Air Dalhari, melewati area bersejarah Goa Jepang, dan berakhir dengan menyusuri hamparan persawahan yang asri menuju Candi Banyunibo.

Integrasi ini bertujuan untuk menciptakan pengalaman "touring" yang unik bagi para pesepeda, sekaligus mengenalkan potensi destinasi wisata di sisi timur Kabupaten Sleman. Pemerintah Kabupaten Sleman berharap bahwa melalui ajang ini, wisatawan tidak lagi hanya terfokus pada destinasi utama seperti Candi Prambanan, tetapi juga mau melirik destinasi pendukung lainnya yang memiliki nilai sejarah, geologi, dan agrowisata.

Pernyataan Resmi dan Visi Pemerintah Daerah

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, dalam keterangannya menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari visi besar untuk menjadikan Sleman sebagai pusat destinasi wisata belanja, khususnya bagi kerajinan tangan dan souvenir khas daerah. Menurut Sudarningsih, Kabupaten Sleman memiliki potensi luar biasa dalam produk ekonomi kreatif. Stagen, jika dikelola dengan branding yang tepat, dapat bertransformasi dari sekadar alat bantu busana tradisional menjadi produk cenderamata yang diminati wisatawan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pengrajin, dan komunitas lokal adalah kunci utama. "Kegiatan pemecahan rekor MURI stagen terpanjang 1001 meter dan Slebor Pit ini diselenggarakan sebagai upaya untuk lebih mengenalkan destinasi wisata di Kabupaten Sleman, utamanya di Kawasan Timur. Ini adalah bagian dari strategi pemasaran terpadu untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan (length of stay) di Sleman," ungkapnya.

Analisis Dampak dan Implikasi Ekonomi

Ditinjau dari perspektif ekonomi pariwisata, inisiatif ini memiliki implikasi yang signifikan. Pertama, dari sisi pemasaran destinasi (destination branding), pemecahan rekor dunia atau nasional seperti MURI memberikan efek pemberitaan yang luas (media exposure). Hal ini secara otomatis meningkatkan kesadaran publik terhadap Candi Banyunibo dan kawasan sekitarnya.

Kedua, dari sisi ekonomi kreatif, keterlibatan pengrajin tenun di Moyudan dalam proyek ini secara tidak langsung memberikan validasi bahwa produk mereka memiliki kualitas yang layak untuk ajang bergengsi. Jika permintaan terhadap stagen tenun tradisional meningkat pasca-acara, hal ini akan memberikan insentif ekonomi bagi para pengrajin untuk terus mempertahankan alat tenun mereka.

Ketiga, pengembangan "Pasar Digital" sebagai ekosistem pendukung wisata merupakan strategi yang relevan dengan tren pariwisata masa kini. Pasar Digital yang menawarkan kuliner tradisional khas Prambanan di sekitar lokasi candi terbukti efektif dalam memberdayakan ekonomi warga lokal. Dengan adanya acara seperti ini, perputaran uang di sektor UMKM lokal diperkirakan akan meningkat secara signifikan dalam jangka pendek.

Namun, terdapat tantangan jangka panjang yang perlu diperhatikan. Keberhasilan sebuah rekor tidak boleh hanya berhenti pada seremoni. Keberlanjutan dari dampak ekonomi tersebut sangat bergantung pada strategi pemasaran pasca-acara. Dinas Pariwisata perlu memastikan bahwa pengrajin tenun di Moyudan memiliki akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan, bukan hanya saat ada event besar. Selain itu, pemeliharaan infrastruktur di rute Slebor Pit juga menjadi kunci agar para pesepeda dan wisatawan minat khusus tetap tertarik untuk berkunjung di luar waktu perhelatan.

Kesimpulan

Peristiwa pemecahan rekor MURI stagen terpanjang 1001 meter di Candi Banyunibo pada 7 Oktober 2018 merupakan contoh nyata bagaimana budaya tradisional dapat dikemas menjadi atraksi wisata modern yang memiliki nilai edukasi dan ekonomi. Melalui perpaduan antara kearifan lokal (stagen), olahraga (Slebor Pit), dan promosi destinasi, Kabupaten Sleman berhasil menciptakan model pengembangan pariwisata berbasis komunitas.

Upaya ini menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya, seperti alat tenun bukan mesin, tidak harus terisolasi dari modernitas. Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, tradisi dapat menjadi aset yang memperkuat daya tarik wisata sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat pengrajin. Kesuksesan acara ini diharapkan menjadi pemantik bagi program-program serupa yang berfokus pada penguatan identitas lokal di tengah arus globalisasi yang kian masif. Bagi masyarakat Sleman, stagen bukan lagi sekadar kain pelilit perut, melainkan simbol kebanggaan yang terbentang sepanjang 1001 meter, menghubungkan masa lalu dengan masa depan pariwisata daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pemerintah Desa Pengkol Kembangkan Potensi Wisata Geowisata Gunung Api Purba Nglipar sebagai Destinasi Baru di Gunung Kidul

10 Mei 2026 - 00:39 WIB

Wayang Jogja Night Carnival Menjadi Magnet Utama Pariwisata Yogyakarta Sepanjang Oktober

9 Mei 2026 - 12:39 WIB

Strategi Dinas Pariwisata Bantul Gelar Pentas Skala Nasional Akhir Tahun untuk Genjot Kunjungan Wisatawan dan PAD

9 Mei 2026 - 06:39 WIB

Dorong Peningkatan Pendapatan Asli Daerah, DPRD Kulon Progo Desak Pendataan Pelaku Usaha Pariwisata Tanpa Izin

9 Mei 2026 - 00:39 WIB

Strategi Bottom-Up Dorong Sektor Pariwisata Bantul Lampaui Kontribusi Pertanian dalam PDRB Daerah

8 Mei 2026 - 12:39 WIB

Trending di Wisata