Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama ini dikenal luas sebagai pusat geowisata di Pulau Jawa, terutama setelah suksesnya pengembangan kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran di Kecamatan Patuk. Memanfaatkan momentum tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Pengkol, Kecamatan Nglipar, mulai mengambil langkah strategis untuk memetakan dan mengembangkan potensi serupa di wilayahnya. Langkah ini diambil sebagai upaya diversifikasi destinasi wisata yang berbasis pada kekayaan geologi dan warisan budaya lokal yang selama ini belum terjamah secara optimal.
Fokus pengembangan Pemdes Pengkol mencakup tiga titik utama yang merupakan bagian dari deretan geologi Gunung Api Purba, yakni Gunung Keruk, Song Putri, dan Gunung Genter. Ketiga lokasi ini memiliki karakteristik unik, baik dari sisi bentang alam maupun narasi sejarah yang melekat, yang diyakini memiliki daya tarik bagi wisatawan minat khusus, peneliti, maupun komunitas fotografi.
Menggali Potensi Geologi dan Legenda Lokal
Kepala Desa Pengkol, Margiyanto, menyatakan bahwa inisiatif ini muncul dari kesadaran akan kekayaan aset desa yang selama ini hanya dianggap sebagai area konservasi biasa. Menurut Margiyanto, integrasi antara pemandangan alam yang memukau dan nilai sejarah yang bersifat legendaris menjadi modal utama dalam menarik minat wisatawan.
Kawasan Gunung Keruk diproyeksikan sebagai spot unggulan untuk wisata fotografi alam. Karakteristik topografi di kawasan ini menawarkan pemandangan hamparan bukit yang pada waktu-waktu tertentu diselimuti kabut tebal, menciptakan lanskap yang dramatis. Sejumlah fotografer lokal telah mulai mengeksplorasi lokasi ini, yang menjadi indikator awal bahwa kawasan tersebut memiliki nilai estetika yang tinggi untuk dipromosikan sebagai destinasi wisata baru.
Bergeser ke Padukuhan Glompong, terdapat kawasan yang dikenal dengan sebutan Song Putri. Lokasi ini menawarkan dimensi wisata yang berbeda, yakni perpaduan antara wisata petualangan dan wisata religi. Berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat setempat, Song Putri diyakini sebagai petilasan Dewi Roso Wulan, seorang tokoh dari era Kerajaan Majapahit. Keunikan arkeologis di tempat ini terlihat dari formasi batu putih yang tersusun rapi membentuk struktur kotak bujur sangkar di dalam gua, yang hingga kini asal-usulnya masih menjadi misteri bagi masyarakat setempat maupun akademisi.
Sementara itu, di Padukuhan Gagan, terdapat Gunung Genter yang menawarkan tantangan bagi para pegiat wisata minat khusus. Lokasi ini memiliki ciri khas berupa batu berukuran raksasa—setara dengan volume dua rumah limasan—dengan ketinggian mencapai 10 meter. Di tengah batu tersebut terdapat celah gua yang menantang adrenalin. Untuk mengakses gua tersebut, wisatawan harus melakukan pendakian vertikal pada tebing tegak lurus, sebuah tantangan fisik yang menjanjikan pengalaman petualangan autentik.
Kronologi Rencana Pengembangan Desa
Langkah pengembangan ini merupakan bagian dari rencana pembangunan jangka menengah desa yang mulai digulirkan secara serius pada tahun 2019. Berikut adalah kronologi awal inisiasi pengembangan destinasi tersebut:
- Tahap Identifikasi (2018): Pemerintah desa bersama tokoh masyarakat melakukan pemetaan awal terhadap potensi wilayah yang masuk dalam gugusan Gunung Api Purba Nglipar.
- Tahap Perencanaan (Awal 2019): Penyusunan rencana anggaran yang diintegrasikan ke dalam Alokasi Dana Desa (ADD) untuk membiayai infrastruktur dasar.
- Tahap Sosialisasi: Melibatkan perangkat desa dan masyarakat setempat untuk membangun kesadaran akan pentingnya sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi desa.
- Tahap Pembangunan Akses (Target 2019-2020): Fokus utama pembangunan difokuskan pada perbaikan dan pembukaan akses jalan menuju tiga titik destinasi guna memudahkan mobilitas wisatawan.
Data Pendukung dan Konteks Geografis
Gunung Kidul merupakan wilayah yang memiliki karakteristik geologi karst dan vulkanik yang sangat unik. Kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran, yang telah diakui sebagai UNESCO Global Geopark, menjadi acuan bagi desa-desa di sekitarnya. Secara geologis, gugusan batuan vulkanik di Nglipar memiliki kesamaan karakteristik dengan batuan di Nglanggeran, yakni terbentuk dari aktivitas vulkanik purba jutaan tahun lalu.
Data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan ke destinasi geowisata cenderung meningkat setiap tahunnya. Wisatawan kini lebih cenderung mencari lokasi yang menawarkan pengalaman "back to nature" dengan nilai edukasi. Hal ini menjadi peluang emas bagi Desa Pengkol untuk masuk ke dalam peta wisata regional, mengingat lokasinya yang relatif tidak jauh dari pusat keramaian wisata di Patuk.
Tanggapan dan Kolaborasi Pihak Terkait
Pemerintah Desa Pengkol menegaskan bahwa pengembangan ini tidak bisa dilakukan secara mandiri. Kolaborasi dengan pemerintah kabupaten, dinas terkait, serta pihak akademisi diperlukan untuk memastikan pengembangan tetap memperhatikan aspek konservasi alam.
"Kami sedang berkoordinasi dengan pihak terkait, termasuk Dinas Pariwisata dan dinas pekerjaan umum, untuk memastikan pembangunan infrastruktur jalan memenuhi standar keselamatan dan kelestarian lingkungan," ujar Margiyanto.
Keterlibatan pihak luar, khususnya ahli geologi, diharapkan dapat mengungkap sejarah pembentukan batu-batu di Song Putri dan Gunung Genter. Jika terbukti memiliki nilai ilmiah tinggi, kawasan ini tidak hanya akan berfungsi sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai laboratorium alam terbuka bagi para mahasiswa dan peneliti geologi.
Implikasi Ekonomi dan Sosial bagi Desa Pengkol
Pengembangan destinasi wisata di tingkat desa memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Berdasarkan model pengembangan desa wisata yang sukses di wilayah lain di Yogyakarta, sektor pariwisata mampu menyerap tenaga kerja lokal dalam berbagai peran, mulai dari pemandu wisata (guide), pengelola parkir, penyedia kuliner lokal, hingga pengrajin suvenir.
Secara sosial, pengembangan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat Desa Pengkol terhadap kekayaan alam dan sejarah desanya sendiri. Dengan adanya arus wisatawan, masyarakat didorong untuk menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan kearifan lokal yang selama ini mungkin mulai terlupakan.
Namun, tantangan besar yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi pariwisata dan pelestarian lingkungan. Pembangunan akses jalan, misalnya, harus direncanakan secara matang agar tidak merusak vegetasi asli atau struktur batuan yang ada di lokasi.
Analisis Strategis ke Depan
Untuk memastikan keberlanjutan proyek ini, Pemdes Pengkol disarankan untuk fokus pada tiga pilar utama:
- Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan: Memastikan jalan menuju lokasi dapat diakses oleh kendaraan standar namun tetap ramah lingkungan.
- Penguatan Narasi Wisata: Mengemas cerita legenda dan fakta geologi menjadi narasi yang menarik bagi wisatawan, baik melalui papan informasi di lokasi maupun platform digital.
- Pemberdayaan SDM Lokal: Melatih pemuda desa menjadi pemandu wisata profesional yang mampu menjelaskan sejarah dan nilai ekologis dari setiap spot wisata yang ada.
Strategi jangka panjang yang perlu dipertimbangkan adalah menjalin kemitraan dengan agen perjalanan wisata yang sudah beroperasi di Nglanggeran. Dengan menjadikan destinasi di Desa Pengkol sebagai bagian dari paket wisata "Extended Geopark", potensi kunjungan akan jauh lebih tinggi dibandingkan jika dikelola sebagai destinasi tunggal yang berdiri sendiri.
Kesimpulan
Langkah Pemerintah Desa Pengkol untuk mengangkat potensi Gunung Keruk, Song Putri, dan Gunung Genter merupakan upaya proaktif dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang selama ini tersembunyi. Dengan dukungan infrastruktur dari Alokasi Dana Desa dan visi pengembangan yang terukur, desa ini berpotensi menjadi destinasi geowisata baru yang melengkapi peta pariwisata Gunung Kidul.
Keberhasilan proyek ini akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah desa, dukungan penuh dari masyarakat lokal, serta kemampuan untuk mengintegrasikan nilai sejarah dan konservasi alam dalam satu paket pengalaman wisata yang unik. Jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan, pengembangan ini tidak hanya akan mendatangkan devisa bagi desa, tetapi juga memberikan perlindungan bagi situs-situs geologi yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi bangsa Indonesia.









