Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

NAVI-HF Inovasi Kecerdasan Buatan Karya Dokter Universitas Indonesia untuk Deteksi Dini Kongesti Paru pada Pasien Gagal Jantung

badge-check


					NAVI-HF Inovasi Kecerdasan Buatan Karya Dokter Universitas Indonesia untuk Deteksi Dini Kongesti Paru pada Pasien Gagal Jantung Perbesar

Dunia medis Indonesia kembali mencatatkan pencapaian gemilang melalui pengembangan teknologi kesehatan berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sebuah inovasi mutakhir bernama NAVI-HF resmi diperkenalkan sebagai alat bantu diagnostik yang dirancang khusus untuk mendeteksi tanda-tanda kongesti paru atau penumpukan cairan pada pasien gagal jantung. Dikembangkan oleh tim peneliti dari Universitas Indonesia (UI), alat ini menawarkan solusi atas tantangan klinis yang selama ini dihadapi para tenaga medis dalam mengidentifikasi kondisi pasien secara objektif dan cepat sebelum mereka diperbolehkan pulang dari perawatan rumah sakit.

Inovasi ini lahir dari tangan dingin Dr. dr. Rony Marethianto Santoso, Sp.JP, Subsp. K. I. (K), FIHA, seorang Dokter Spesialis Jantung dengan sub-spesialisasi Konsultan Kardiovaskular Intervensi dan Kedokteran Vaskular. Dalam temu media yang digelar di Jakarta pada Selasa (14/7/2026), Dr. Rony menjelaskan bahwa NAVI-HF dikembangkan untuk menjawab problematika tingginya angka perawatan ulang (rehospitalisasi) pada pasien gagal jantung akibat deteksi kongesti yang kurang akurat. Dengan memanfaatkan algoritma AI untuk menganalisis suara dari rongga dada, alat ini diharapkan mampu menjadi standar baru dalam pemantauan pasien kardiovaskular di Indonesia.

Urgensi Deteksi Kongesti Paru pada Pasien Gagal Jantung

Gagal jantung merupakan kondisi kronis di mana otot jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh seefektif yang seharusnya. Salah satu komplikasi yang paling sering muncul dan bersifat fatal adalah kongesti paru, yakni kondisi di mana cairan merembes ke dalam kantong udara di paru-paru, sehingga pasien mengalami sesak napas hebat. Di Indonesia, gagal jantung menjadi salah satu beban kesehatan terbesar, baik dari sisi mortalitas maupun pembiayaan kesehatan melalui skema JKN-BPJS.

Masalah utama yang dihadapi klinisi adalah "kongesti subklinis"—suatu kondisi di mana cairan sudah mulai menumpuk di paru-paru namun belum menunjukkan gejala fisik yang nyata seperti sesak napas yang berat atau suara ronkhi yang jelas terdengar melalui stetoskop konvensional. Pasien yang dipulangkan dengan kondisi kongesti subklinis ini memiliki risiko sangat tinggi untuk kembali masuk rumah sakit dalam waktu singkat atau bahkan mengalami kematian mendadak.

Dr. Rony menekankan bahwa pemeriksaan fisik tradisional menggunakan stetoskop memiliki keterbatasan subjektivitas yang tinggi. Kemampuan seorang dokter dalam mendengarkan suara paru sangat bergantung pada pengalaman dan ketajaman pendengaran individu. Di sisi lain, alat diagnostik yang lebih canggih seperti Ultrasonografi (USG) paru atau tes darah NT-proBNP (biomarker untuk gagal jantung) tidak selalu tersedia di seluruh fasilitas kesehatan, terutama di daerah terpencil, serta memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Mekanisme Kerja dan Pengembangan Teknologi NAVI-HF

NAVI-HF hadir sebagai jembatan antara kebutuhan akurasi tinggi dan kemudahan akses. Alat ini bekerja dengan cara merekam suara dari lima titik strategis di area toraks (dada) pasien. Rekaman suara tersebut kemudian diproses oleh algoritma kecerdasan buatan yang telah dilatih menggunakan basis data suara paru dari ratusan pasien. AI bertugas menyaring gangguan suara (noise) dan mengidentifikasi pola frekuensi tertentu yang mengindikasikan adanya keberadaan cairan di jaringan paru.

Dalam proses pengembangannya, tim peneliti melibatkan 246 pasien gagal jantung akut yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Subjek penelitian diambil dari kategori usia di atas 18 tahun, meski data menunjukkan bahwa rata-rata pasien gagal jantung yang menjadi sampel berada di rentang usia produktif, yakni sekitar 50 tahun. Hal ini mencerminkan tren pergeseran penyakit kardiovaskular di Indonesia yang kini mulai banyak menyerang kelompok usia yang lebih muda dibandingkan data global.

Setelah data suara diambil, sistem NAVI-HF akan memberikan analisis yang jauh lebih objektif dibandingkan pendengaran manusia. "Alat ini tidak hanya sekadar mendengarkan, tetapi melakukan kuantifikasi terhadap sinyal akustik yang dihasilkan oleh rongga dada," jelas Dr. Rony. Model akhir dari NAVI-HF menunjukkan performa yang sangat impresif jika dibandingkan dengan USG paru yang selama ini dianggap sebagai referensi standar emas dalam deteksi cairan paru secara non-invasif.

Validasi Data dan Tingkat Akurasi Klinis

Berdasarkan hasil uji klinis yang dipresentasikan, NAVI-HF menunjukkan angka performa yang solid. Alat ini memiliki tingkat akurasi mencapai 86 persen. Lebih jauh lagi, nilai sensitivitasnya berada di angka 91 persen, yang berarti alat ini sangat efektif dalam menemukan pasien yang benar-benar mengalami kongesti. Sementara itu, spesifikasinya tercatat sebesar 82 persen, menunjukkan kemampuan alat dalam mengidentifikasi pasien yang benar-benar bebas dari penumpukan cairan.

Penelitian ini tidak berhenti pada tahap deteksi awal. Seluruh pasien yang menjadi subjek penelitian dipantau secara ketat selama enam bulan setelah keluar dari rumah sakit. Hasil pemantauan menunjukkan korelasi yang signifikan antara hasil positif pada NAVI-HF dengan risiko perburukan kondisi kesehatan di masa depan. Pasien yang terdeteksi positif memiliki cairan oleh NAVI-HF cenderung memiliki struktur dan fungsi jantung yang lebih terganggu secara anatomis, serta menunjukkan kadar NT-proBNP yang jauh lebih tinggi dalam darah mereka.

Data tindak lanjut enam bulan tersebut membuktikan bahwa NAVI-HF memiliki nilai prognostik yang kuat. Pasien dengan hasil NAVI-HF positif terbukti lebih rentan mengalami rawat inap ulang atau bahkan meninggal dunia dalam periode pemantauan tersebut. Dengan demikian, NAVI-HF berfungsi ganda: sebagai alat deteksi dini sekaligus sebagai instrumen stratifikasi risiko untuk menentukan pasien mana yang membutuhkan pengawasan medis lebih intensif setelah pulang ke rumah.

NAVI-HF gunakan AI untuk deteksi cairan paru pada pasien gagal jantung

Implikasi bagi Sistem Kesehatan dan Pelayanan Pasien

Kehadiran NAVI-HF diprediksi akan membawa perubahan besar dalam protokol pemulangan pasien gagal jantung di rumah sakit. Saat ini, keputusan untuk memulangkan pasien sering kali didasarkan pada penilaian klinis yang mungkin masih menyisakan "sisa" kongesti yang tidak terdeteksi. Dengan NAVI-HF, dokter dapat memiliki landasan data yang lebih kuat sebelum memutuskan bahwa seorang pasien benar-benar aman untuk pulang.

Dari perspektif ekonomi kesehatan, NAVI-HF berpotensi menurunkan beban finansial rumah sakit dan negara. Tingginya angka readmission (pasien kembali dirawat) dalam kurun waktu 30 hari setelah pulang merupakan salah satu inefisiensi terbesar dalam penanganan gagal jantung. Dengan memastikan pasien pulang dalam kondisi benar-benar kering (bebas cairan paru), angka rawat inap ulang dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, sifat alat yang relatif mudah digunakan membuka peluang untuk implementasi di tingkat pelayanan kesehatan primer seperti Puskesmas. Di masa depan, Dr. Rony memproyeksikan pengembangan NAVI-HF agar bisa digunakan untuk pemantauan mandiri berbasis rumah. "Kami berharap alat ini mendukung pengembangan pemantauan gagal jantung berbasis rumah sakit yang terintegrasi dengan teknologi telemedis. Pasien bisa melakukan pemeriksaan mandiri, dan datanya langsung terkirim ke dokter yang merawat," tambahnya.

Latar Belakang Akademis dan Kolaborasi Multidisiplin

Proyek inovatif ini merupakan bagian dari penelitian doktoral yang menuntut ketelitian ilmiah tinggi. Dr. Rony Marethianto Santoso menyelesaikan disertasi ini di bawah bimbingan para pakar terkemuka di bidang kardiologi dan teknologi informasi. Prof. Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), FESC, FACC, FAPSC bertindak sebagai promotor utama, didampingi oleh ko-promotor Prof. Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, Sp.JP(K), FIHA dan Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom.

Keterlibatan Prof. Wisnu Jatmiko dari bidang teknik dan komputer menunjukkan bahwa NAVI-HF adalah produk kolaborasi multidisiplin yang menggabungkan kepakaran medis dengan kemajuan teknik informatika. Disertasi ini telah diuji secara komprehensif oleh tim penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. dr. Suhendro, Sp.PD, Subsp.P.T.I.(K), dengan anggota tim penguji yang terdiri dari pakar lintas bidang seperti Prof. Em. Ser Wee, PhD, Dr. dr. Aria Kekalih, MTI, Sp.KKLP, MKK, dan Dr. dr. Nuri Dyah Indrasari, Sp.PK(K).

Penyajian disertasi dan demonstrasi alat dilakukan di Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI) FKUI pada 14 Juli 2026. Lokasi ini dipilih karena IMERI merupakan pusat inovasi kedokteran di Indonesia yang fokus pada pengembangan teknologi kesehatan masa depan.

Tantangan dan Langkah Menuju Komersialisasi

Meskipun NAVI-HF telah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan, perjalanan menuju penggunaan massal di seluruh rumah sakit di Indonesia masih memerlukan beberapa langkah strategis. Dr. Rony mengakui bahwa alat ini masih harus melalui berbagai rangkaian penyempurnaan, termasuk uji klinis fase lanjut dengan cakupan populasi yang lebih luas dan beragam.

Tantangan teknis seperti standarisasi kualitas mikrofon untuk merekam suara paru serta pengembangan antarmuka pengguna (user interface) yang sederhana bagi tenaga medis non-spesialis menjadi fokus pengembangan berikutnya. Selain itu, integrasi data ke dalam Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) juga menjadi aspek penting agar hasil analisis AI dapat langsung tercatat dalam rekam medis elektronik pasien.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan diharapkan dapat memberikan dukungan dalam hal regulasi dan percepatan izin edar bagi inovasi alat kesehatan dalam negeri seperti NAVI-HF. Hal ini sejalan dengan semangat kemandirian alat kesehatan nasional yang terus digalakkan untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor.

Kesimpulan: Era Baru Penanganan Gagal Jantung di Indonesia

NAVI-HF bukan sekadar alat medis baru; ia adalah simbol transformasi digital dalam dunia kedokteran Indonesia. Dengan memanfaatkan kecerdasan buatan, tantangan klasik dalam mendeteksi cairan paru yang selama ini bersifat subjektif kini dapat diatasi dengan pendekatan yang lebih ilmiah, terukur, dan objektif.

Keberhasilan Dr. Rony Marethianto Santoso dan timnya di Universitas Indonesia membuktikan bahwa peneliti lokal mampu menciptakan solusi teknologi tinggi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Di masa depan, NAVI-HF diharapkan tidak hanya menjadi alat diagnostik di rumah sakit besar, tetapi juga menjadi pendamping setia bagi para pejuang gagal jantung dalam memantau kondisi kesehatan mereka setiap hari, memberikan harapan hidup yang lebih baik, dan meningkatkan kualitas hidup pasien secara keseluruhan.

Melalui inovasi ini, Indonesia menunjukkan kesiapannya dalam mengadopsi teknologi AI untuk kemanusiaan, memastikan bahwa setiap detak jantung dan setiap tarikan napas pasien dapat terpantau dengan lebih presisi demi masa depan kesehatan yang lebih cerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kemkomdigi Pastikan Kepatuhan Penuh Operator Seluler Terhadap Regulasi Registrasi Kartu SIM Berbasis Data Biometrik demi Keamanan Digital Nasional

26 Juli 2026 - 06:09 WIB

Adhisty Zara Ungkap Tantangan Peran Atlet Lari Pengidap Kanker Tulang dalam Film Rumah Singgah

26 Juli 2026 - 00:09 WIB

Nam Joo-hyuk Perankan Pengacara Amoral dalam Serial Drama Fantasi Kriminal Code di Disney+

25 Juli 2026 - 18:09 WIB

Samsung Galaxy Z Fold 8 Ultra Hadir dengan Desain Tertipis di Dunia dan Teknologi Kamera 200 Megapiksel untuk Pasar Indonesia

25 Juli 2026 - 12:09 WIB

Revolusi Kecerdasan Artifisial: Potensi Nilai Ekonomi Rp66 Triliun di Sektor Kreatif Indonesia Menurut Laporan Google 2026

25 Juli 2026 - 06:09 WIB

Trending di Hiburan