Yogyakarta, 1 Mei 2026 – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta secara resmi memberikan penghormatan tertinggi kepada salah satu tokoh sentral dalam dunia pendidikan seni pertunjukan Indonesia, Prof. Dr. I Wayan Dana, S.St., M.Hum. Acara pelepasan purna tugas yang dihelat pada 5 Mei 2026 di Concert Hall ISI Yogyakarta ini bukan sekadar seremoni perpisahan administratif, melainkan sebuah perayaan komprehensif atas dedikasi panjang seorang maestro, pendidik, dan pemikir yang telah memberikan kontribusi fundamental bagi perkembangan ekosistem tari di tanah air.
Bertajuk "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman," perhelatan ini menjadi cerminan dari filosofi hidup dan karya Prof. I Wayan Dana yang senantiasa berupaya menjembatani tradisi tari klasik dengan dinamika modernitas. Acara yang dimulai tepat pukul 09.30 WIB ini melibatkan kolaborasi lintas disiplin, yang mencerminkan betapa luasnya pengaruh dan jejaring akademik yang dibangun oleh Prof. I Wayan Dana selama puluhan tahun berkiprah di lingkungan kampus seni tertua di Yogyakarta tersebut.
Sinergi Lintas Unit sebagai Bentuk Penghormatan Kolektif
Salah satu aspek yang menonjol dari prosesi purna tugas ini adalah keterlibatan lintas fakultas dan jurusan dalam kepanitiaan. Acara ini merupakan kolaborasi strategis antara Jurusan S1 Seni Tari dari Fakultas Seni Pertunjukan, Jurusan S1 Tata Kelola Seni dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, serta Program Pascasarjana ISI Yogyakarta.
Sinergi ini bukan tanpa alasan. Prof. I Wayan Dana dikenal sebagai sosok yang tidak hanya terpaku pada praktik artistik di atas panggung, tetapi juga menaruh perhatian besar pada aspek manajerial seni, riset akademik, dan pengembangan kurikulum pascasarjana. Dengan melibatkan ketiga unit tersebut, ISI Yogyakarta ingin menegaskan bahwa pengaruh Prof. I Wayan Dana telah menyentuh berbagai aspek krusial dalam dunia pendidikan tinggi seni—mulai dari teknis gerak, pengelolaan seni sebagai sebuah ekosistem, hingga perumusan pemikiran teoritis melalui pendidikan lanjutan.
Refleksi Artistik dalam Pertunjukan Tari
Puncak acara ditandai dengan serangkaian pertunjukan tari yang dikurasi secara khusus untuk merefleksikan jejak langkah Prof. I Wayan Dana. Tiga karya tari yang dipentaskan, yakni Tari Sekar Pudyastuti, Tari Topeng Penglembar Keras, dan Tari Janger Abhinaya, dipilih karena memiliki keterkaitan historis dan artistik dengan perjalanan kreatif sang profesor.
Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan bagi para tamu undangan, tetapi berfungsi sebagai medium untuk mendokumentasikan "bahasa tubuh" dan gaya estetika yang dikembangkan oleh Prof. I Wayan Dana sepanjang kariernya. Momen paling emosional terjadi ketika sang profesor sendiri turun tangan melakukan performa tari secara langsung di panggung. Penampilan ini menjadi semacam "pernyataan artistik terakhir" sebagai akademisi aktif, sekaligus sebagai refleksi mendalam atas dialektika antara tubuh, ruang, dan waktu yang telah ia geluti selama 70 tahun hidupnya.
Literasi dan Dokumentasi: Peluncuran Karya Tulis
Selain persembahan artistik, kegiatan ini juga menjadi momentum penting bagi dunia literasi seni pertunjukan di Indonesia. Diluncurkan sebuah buku berjudul "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman: Persembahan 70 Tahun Prof. Dr. I Wayan Dana, S.St., M.Hum." Buku ini memuat kompilasi tulisan dari 44 kontributor yang terdiri dari kolega sejawat, mantan mahasiswa, kritikus seni, hingga budayawan nasional.
Buku tersebut berfungsi sebagai arsip hidup yang merekam berbagai perspektif mengenai pengaruh Prof. I Wayan Dana terhadap perkembangan tari di Indonesia. Kehadiran 44 penulis dengan latar belakang yang beragam menunjukkan bahwa pemikiran Prof. I Wayan Dana telah melintasi batasan-batasan disiplin ilmu. Selain buku, peluncuran Katalog Anotasi I Wayan Dana juga menjadi bagian krusial dalam upaya ISI Yogyakarta untuk mendokumentasikan karya-karya beliau agar dapat dipelajari oleh generasi mendatang. Dokumentasi ini diharapkan menjadi referensi primer bagi para peneliti seni pertunjukan yang ingin mendalami sejarah dan perkembangan tari di era kontemporer.
Profil dan Jejak Langkah Akademik
Prof. Dr. I Wayan Dana, S.St., M.Hum. adalah sosok yang memiliki peran ganda yang sangat kuat, yakni sebagai seniman praktisi sekaligus akademisi murni. Sepanjang kariernya, ia telah mengabdi pada pengembangan seni pertunjukan melalui pengajaran, penulisan riset, dan keterlibatannya dalam berbagai forum kebudayaan nasional.
Sejak bergabung dengan ISI Yogyakarta, Prof. Dana telah membantu mentransformasi metode pembelajaran seni tari dari sekadar hafalan teknik menjadi sebuah kajian yang berbasis riset dan pemikiran filosofis. Ia merupakan salah satu pionir yang mendorong agar seni tari tidak hanya dipandang sebagai komoditas tontonan, melainkan sebagai sebuah entitas budaya yang harus dikelola dengan pendekatan tata kelola seni yang profesional.

Dalam konteks pendidikan tinggi seni di Indonesia, Prof. Dana adalah jembatan antara generasi "pencipta tari" tradisional dengan "peneliti seni" modern. Beliau berhasil membuktikan bahwa tradisi tidak harus statis; tradisi dapat disulam dengan gerak-gerak baru yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa harus kehilangan akar budayanya.
Analisis Implikasi bagi Pendidikan Seni
Pelepasan purna tugas ini sebenarnya membawa implikasi yang lebih luas bagi masa depan pendidikan seni di Indonesia. Pertama, acara ini menyoroti pentingnya peran "tokoh pendidik" dalam membentuk karakter seniman muda. Di tengah gempuran digitalisasi dan tren seni instan, figur seperti Prof. I Wayan Dana menjadi pengingat bahwa proses kreatif yang matang membutuhkan kedalaman riset dan keterikatan emosional dengan akar budaya.
Kedua, keterlibatan lintas disiplin dalam acara ini memberikan sinyal positif mengenai masa depan pendidikan seni di ISI Yogyakarta. Sinergi antara seni tari dan tata kelola seni merupakan sebuah kebutuhan zaman yang mendesak. Seniman di masa depan tidak lagi cukup hanya bisa menari, tetapi juga harus memahami bagaimana mengelola sebuah karya, melakukan branding, dan menempatkan diri dalam peta kebudayaan global.
Ketiga, pengarsipan melalui buku dan katalog anotasi merupakan langkah konkret yang patut ditiru oleh perguruan tinggi lain. Seringkali, pemikiran besar seorang maestro hilang begitu saja setelah masa tugasnya berakhir. Dengan adanya dokumentasi sistematis, ISI Yogyakarta memastikan bahwa "benang merah" pemikiran Prof. I Wayan Dana tetap terjaga dan dapat diurai kembali oleh mahasiswa di masa depan.
Tanggapan Sivitas Akademika
Dalam berbagai diskusi informal di lingkungan kampus, banyak kolega yang menyebutkan bahwa sosok Prof. I Wayan Dana adalah "pustaka berjalan." Kesabarannya dalam membimbing mahasiswa pascasarjana seringkali menjadi acuan bagi dosen muda. Salah satu rekan sejawat menyatakan bahwa cara Prof. Dana dalam memandang sebuah tari sebagai teks budaya telah membuka cakrawala baru bagi banyak orang di lingkungan fakultas.
Kepemimpinan beliau yang tidak konfrontatif namun persuasif dianggap sebagai model kepemimpinan akademik yang efektif. Beliau mampu merangkul berbagai kepentingan, mulai dari para empu tari yang memegang teguh tradisi hingga para seniman muda yang cenderung bereksperimen dengan bentuk-bentuk baru. Kemampuan inilah yang membuat beliau dihormati tidak hanya oleh para senior, tetapi juga oleh para mahasiswa yang baru meniti karier.
Harapan dan Masa Depan
Meskipun secara administratif Prof. Dr. I Wayan Dana telah memasuki masa purna tugas, kontribusi intelektual dan artistiknya tentu tidak akan berhenti begitu saja. Dunia seni pertunjukan Indonesia masih sangat membutuhkan pemikiran-pemikiran kritis beliau untuk menghadapi tantangan disrupsi teknologi dan perubahan selera pasar seni.
ISI Yogyakarta, melalui rangkaian acara ini, ingin mengirimkan pesan kepada publik bahwa institusi tersebut sangat menghargai sejarahnya. Menghargai masa lalu melalui penghormatan kepada para tokoh adalah cara terbaik untuk melangkah ke masa depan. Diharapkan, apa yang telah dilakukan oleh Prof. I Wayan Dana dapat menjadi pemantik bagi generasi berikutnya untuk terus berkarya, meneliti, dan memberikan kontribusi nyata bagi kebudayaan bangsa.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai dokumentasi acara, akses terhadap buku "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman," atau pertanyaan seputar profil Prof. Dr. I Wayan Dana, masyarakat serta pihak media dapat menghubungi narahubung panitia, Surya, melalui nomor telepon +62 812-2565-6808.
Pelepasan ini bukan sebuah akhir, melainkan sebuah babak baru dalam narasi panjang perkembangan seni tari Indonesia. Sebagaimana judul acaranya, Prof. I Wayan Dana telah berhasil "menyulam gerak" dan "menarikan zaman" dengan sangat elok, meninggalkan warisan yang akan terus hidup melalui setiap langkah tari yang diajarkan dan setiap pemikiran yang dituliskan bagi perkembangan seni pertunjukan di tanah air.









