Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta secara resmi menyelenggarakan acara pelepasan purnatugas bagi salah satu maestro tari dan pendidik seni terkemuka, Prof. Dr. I Wayan Dana, pada Selasa (5/5/2026). Acara yang berlangsung khidmat di Concert Hall ISI Yogyakarta ini mengusung tema besar "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman: Persembahan 70 Tahun Prof Dr I Wayan Dana". Perhelatan ini bukan sekadar seremoni perpisahan administratif, melainkan sebuah simposium artistik yang merangkum dedikasi panjang sang profesor dalam dunia pendidikan seni, tari, dan kebudayaan nasional.
Refleksi Pengabdian dalam Bingkai Seni
Acara pelepasan ini menjadi ruang refleksi bagi civitas akademika ISI Yogyakarta atas kontribusi nyata Prof. I Wayan Dana yang telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk mengembangkan kurikulum seni tari di Indonesia. Sepanjang kariernya, Prof. Dana dikenal sebagai figur yang menjembatani antara tradisi tari klasik dengan kebutuhan pedagogi modern.
Sebagai bagian dari simbolisme penghormatan, diluncurkan sebuah buku yang mengabadikan perjalanan intelektual dan artistik sang profesor. Dalam momen emosional tersebut, Prof. Dana secara langsung menandatangani poster buku tersebut di hadapan kolega, mahasiswa, dan tamu undangan. Buku ini diproyeksikan menjadi literatur penting bagi para akademisi seni tari di masa depan untuk memahami bagaimana gerak tubuh dapat diterjemahkan menjadi narasi sejarah dan budaya.
Puncak dari rangkaian acara ini adalah penampilan Tari Baris Tunggal yang dipersembahkan langsung oleh Prof. I Wayan Dana. Penampilan ini menjadi pernyataan artistik yang kuat bahwa meskipun secara administratif ia telah memasuki masa purnatugas, jiwa dan tubuhnya tetap melekat erat dengan disiplin seni tari yang ia geluti selama puluhan tahun.
Kronologi Karier dan Jejak Akademis
Prof. Dr. I Wayan Dana bukan sekadar pendidik; ia adalah praktisi yang membumikan teori. Karier akademisnya di ISI Yogyakarta tercatat sebagai salah satu periode paling transformatif dalam pendidikan tari di Indonesia. Beliau telah membimbing ribuan mahasiswa, menghasilkan banyak riset mengenai koreografi, dan menjadi konsultan penting bagi berbagai festival tari baik di tingkat nasional maupun internasional.

Perjalanan kariernya dimulai dari ketertarikan mendalam pada seni pertunjukan Bali yang kemudian ia bawa ke kancah akademis di Yogyakarta. Ia berhasil mengintegrasikan filosofi "Menyulam Gerak"—sebuah metafora tentang bagaimana detail-detail kecil dalam sebuah tarian disatukan untuk membentuk keutuhan estetika—dengan metodologi pengajaran yang sistematis.
Sepanjang dekade 2000-an hingga 2020-an, ia aktif berperan dalam perumusan standar kompetensi bagi seniman tari di perguruan tinggi seni di Indonesia. Keterlibatannya dalam berbagai seminar internasional dan lokakarya seni telah menempatkan ISI Yogyakarta sebagai salah satu kiblat pendidikan seni tari di Asia Tenggara.
Kontribusi bagi Ekosistem Seni Indonesia
Dunia seni tari di Indonesia menghadapi tantangan besar terkait regenerasi dan relevansi di era digital. Dalam konteks ini, Prof. I Wayan Dana hadir sebagai sosok yang mampu menyeimbangkan antara pelestarian nilai-nilai tradisi dengan inovasi kontemporer. "Menarikan Zaman" bukan sekadar tema acara, melainkan filosofi hidup yang ia pegang: bahwa tari harus terus bergerak, beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan akar budayanya.
Data dari departemen kebudayaan mencatat bahwa selama masa baktinya, Prof. Dana berperan aktif dalam proyek dokumentasi tari nusantara yang sempat terancam punah. Beliau adalah salah satu inisiator dalam program digitalisasi arsip gerak tari yang kini tersimpan di perpustakaan digital ISI Yogyakarta. Upaya ini menjadi warisan tak ternilai bagi para peneliti budaya di masa depan.
Selain itu, ia juga dikenal karena ketegasannya dalam menjaga kualitas kurikulum. Banyak rekan sejawatnya menyatakan bahwa Prof. Dana adalah sosok yang sangat detail dalam menilai koreografi. Baginya, setiap gerak jari, arah pandangan mata, hingga irama napas penari adalah bahasa yang harus memiliki makna.
Tanggapan Resmi dan Apresiasi Kolega
Rektor ISI Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas loyalitas dan dedikasi Prof. I Wayan Dana. Menurut pihak universitas, purnatugas bukanlah akhir dari pengabdian, melainkan transisi ke bentuk pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat.

"Prof. I Wayan Dana adalah cermin dari apa yang kami sebut sebagai akademisi-seniman. Beliau mampu menulis disertasi yang mendalam, sekaligus mampu mempraktikkan teori tersebut di atas panggung dengan keanggunan yang luar biasa," ujar salah satu rekan dekat beliau di Fakultas Seni Pertunjukan.
Para mahasiswa pun turut merasakan kehilangan figur mentor yang kebapakan namun kritis. Banyak alumni yang kini telah menjadi praktisi tari profesional di berbagai daerah mengakui bahwa keberhasilan mereka di dunia tari tidak lepas dari bimbingan intensif Prof. Dana selama masa studi.
Implikasi bagi Masa Depan Pendidikan Seni
Pensiunnya seorang tokoh sekelas Prof. I Wayan Dana tentu menyisakan ruang kosong dalam struktur akademis ISI Yogyakarta. Namun, secara lebih luas, hal ini memicu diskusi mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan regenerasi pengajar seni yang memiliki kualifikasi ganda—sebagai akademisi dan praktisi.
Analisis dari para pengamat seni menyatakan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana meneruskan visi "Menyulam Gerak" tersebut kepada generasi milenial dan Gen Z. Di tengah gempuran tren budaya populer global, pendidikan seni tari formal di perguruan tinggi dituntut untuk lebih adaptif. Prof. I Wayan Dana telah meletakkan fondasi yang kuat, dan tugas para penerusnya adalah untuk terus "menarikan zaman" tersebut agar tetap relevan di tengah perubahan dinamika sosial-budaya.
Kepergian beliau dari jajaran dosen aktif bukan berarti berhenti berkarya. Diharapkan, pasca purnatugas ini, Prof. Dana akan lebih banyak menghabiskan waktu dalam ruang-ruang kreatif independen, menulis buku-buku baru, atau menjadi konsultan lepas untuk proyek-proyek kebudayaan nasional.
Warisan yang Tetap Hidup
Acara pelepasan yang berlangsung di Concert Hall tersebut diakhiri dengan tepuk tangan panjang dari hadirin. Suasana haru menyelimuti ruangan saat Prof. Dana turun dari panggung setelah mempersembahkan Tari Baris Tunggal. Gerakannya yang masih lincah, penuh tenaga, dan presisi menunjukkan bahwa seni tari adalah bagian integral dari eksistensi dirinya.

Bagi ISI Yogyakarta, Prof. I Wayan Dana adalah sebuah institusi berjalan. Ia telah mewariskan etos kerja, kecintaan pada detail, dan pemahaman mendalam tentang pentingnya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Sebagai kesimpulan, peristiwa ini bukan hanya tentang satu orang, melainkan tentang perayaan akan nilai-nilai seni yang telah diperjuangkan. Dengan berakhirnya masa dinas formal, Prof. I Wayan Dana telah meninggalkan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah pendidikan seni Indonesia. "Menyulam Gerak, Menarikan Zaman" akan terus menjadi pengingat bagi seluruh praktisi tari di Indonesia bahwa seni adalah sebuah dialog terus-menerus antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Dunia seni Indonesia kini menanti langkah selanjutnya dari sang maestro. Meskipun tidak lagi berada di ruang kelas, pengaruhnya akan tetap terasa dalam setiap karya tari yang lahir dari tangan-tangan para mahasiswa yang pernah ia bimbing. Pengabdian yang tulus, sebagaimana yang ditunjukkan Prof. I Wayan Dana, adalah investasi jangka panjang bagi kekayaan budaya bangsa yang tidak akan pernah lekang oleh waktu.









