Di tengah deru digitalisasi yang mengubah drastis lanskap informasi global, keberadaan koran dinding (mading) konvensional di ruang publik seperti Alun-Alun Selatan, Yogyakarta, menjadi fenomena sosial yang menarik untuk dicermati. Pada Selasa (12/5/2026), pemandangan Mardiono (63) yang sedang menyimak informasi dari lembaran koran yang ditempel di papan publik mencerminkan sebuah anomali sekaligus ketahanan tradisi literasi fisik di era layar sentuh. Meskipun akses informasi melalui perangkat seluler kini dapat dilakukan dalam hitungan detik, media luar ruang berbasis cetak tetap memiliki tempat khusus bagi segmen masyarakat tertentu.
Fakta Utama: Ruang Informasi Publik yang Terpinggirkan namun Bertahan
Koran mading, yang secara historis berfungsi sebagai penyebar informasi lokal dan nasional bagi masyarakat yang tidak memiliki akses atau enggan menggunakan perangkat digital, saat ini berada dalam posisi yang unik. Di Alun-Alun Selatan Yogyakarta, fasilitas ini tidak sekadar menjadi papan pengumuman, melainkan ruang interaksi sosial. Bagi warga senior seperti Mardiono, aktivitas membaca koran di ruang terbuka bukan sekadar mencari berita, melainkan sebuah ritual yang memberikan kepuasan kognitif yang berbeda dibandingkan membaca melalui gawai.
Fenomena ini menegaskan bahwa literasi tidak bersifat satu dimensi. Sementara mayoritas populasi telah bermigrasi ke platform media sosial dan aplikasi berita daring, keberadaan mading tetap menjadi jangkar bagi inklusi informasi bagi warga yang mengalami kesenjangan digital (digital divide).

Kronologi Tradisi Literasi Luar Ruang di Indonesia
Sejarah penggunaan media luar ruang untuk diseminasi informasi di Indonesia berakar kuat sejak era sebelum kemerdekaan. Pada masa awal republik, papan informasi atau mading di pusat-pusat keramaian merupakan sumber rujukan utama bagi masyarakat untuk mengetahui kebijakan pemerintah maupun perkembangan situasi politik.
- Era 1970-1990: Masa keemasan papan pengumuman publik di Indonesia, di mana koran harian sering kali bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk menyediakan "koran mading" di titik-titik strategis seperti alun-alun, halte bus, dan balai desa.
- Era 2000-2010: Dimulainya transisi menuju internet. Jumlah mading fisik mulai berkurang secara bertahap seiring dengan penurunan oplah koran cetak dan tumbuhnya portal berita daring.
- Era 2015-2026: Fase "resiliensi". Koran mading mulai bergeser fungsi dari penyebar berita utama (breaking news) menjadi media literasi komunitas dan ruang publik yang bersifat nostalgik sekaligus informatif bagi warga di ruang terbuka hijau.
Data Pendukung dan Perubahan Pola Konsumsi Informasi
Berdasarkan data tren literasi media di Indonesia, terjadi pergeseran drastis dalam lima tahun terakhir. Menurut survei terbaru, lebih dari 85 persen masyarakat urban di Indonesia mendapatkan informasi melalui platform media sosial seperti WhatsApp, TikTok, dan X. Namun, data tersebut juga menunjukkan adanya "kejenuhan digital" (digital fatigue) di kalangan demografi lanjut usia.
Kelompok usia di atas 60 tahun, yang diwakili oleh sosok seperti Mardiono, cenderung merasa lebih nyaman dengan media fisik karena beberapa alasan:

- Kejelasan Visual: Koran cetak tidak memiliki gangguan iklan pop-up atau video putar otomatis yang sering kali membingungkan pengguna gawai lansia.
- Verifikasi Informasi: Berita yang dipajang di mading publik biasanya melalui kurasi yang lebih ketat oleh pengelola, sehingga persepsi masyarakat terhadap kredibilitasnya sering kali lebih tinggi dibandingkan informasi yang berseliweran di grup pesan instan yang rawan hoaks.
- Dimensi Komunal: Membaca di ruang publik memicu interaksi sosial antar warga yang sedang berada di lokasi yang sama.
Tanggapan Resmi dan Perspektif Pengamat Sosial
Para sosiolog melihat fenomena ini sebagai bentuk pertahanan identitas lokal di tengah globalisasi informasi. Menurut pengamat kebijakan publik, penyediaan fasilitas informasi fisik di ruang publik seharusnya tetap dipertahankan oleh pemerintah daerah.
"Mading bukan hanya soal kertas dan berita, ini soal aksesibilitas. Jika kita sepenuhnya beralih ke digital, kita secara sistematis mengucilkan mereka yang tidak memiliki literasi digital yang mumpuni," ujar seorang pakar komunikasi massa. Pemerintah daerah, khususnya di Yogyakarta, dinilai cukup berhasil dalam merawat ruang-ruang publik yang inklusif, termasuk menjaga keberlangsungan mading sebagai bagian dari wajah kota yang humanis.
Dampak dan Implikasi yang Lebih Luas
Eksistensi koran mading di tengah era digital memiliki implikasi mendalam bagi perancangan kota masa depan (smart city). Sebuah kota yang benar-benar cerdas tidak hanya mengandalkan sensor dan internet, tetapi juga memastikan setiap warga dapat mengakses informasi dengan cara yang paling sesuai dengan kemampuan mereka.

Implikasi dari tetap adanya mading adalah sebagai berikut:
- Meminimalisir Kesenjangan Informasi: Menjamin warga lansia dan kelompok ekonomi rendah tetap mendapatkan akses terhadap informasi krusial, seperti kebijakan publik atau peringatan kesehatan.
- Penjaga Tradisi Literasi: Mempertahankan budaya membaca yang bersifat tenang dan fokus, yang sering kali hilang dalam pola konsumsi informasi digital yang cepat dan dangkal.
- Estetika dan Identitas Kota: Koran mading di alun-alun memberikan karakter khas pada ruang publik, menjadikannya bukan sekadar tempat lewat, melainkan pusat edukasi informal.
Tantangan ke depan adalah bagaimana mengintegrasikan media fisik ini dengan teknologi tanpa menghilangkan esensinya. Misalnya, penggunaan QR code pada mading yang memungkinkan pembaca muda untuk mengakses versi daring dari berita yang terpampang, sementara pembaca senior tetap bisa menikmati teks fisik yang ada.
Kesimpulan
Kisah Mardiono di Alun-Alun Selatan Yogyakarta adalah pengingat bahwa teknologi tidak harus memusnahkan metode konvensional. Koran mading telah berevolusi dari sekadar penyebar berita menjadi simbol inklusivitas dan ruang perjumpaan warga. Di masa depan, tantangan bagi pengelola informasi publik adalah bagaimana menyeimbangkan antara kecepatan arus informasi digital dengan kebutuhan akan kedalaman dan aksesibilitas yang ditawarkan oleh media tradisional. Selama masih ada warga yang membutuhkan, ruang bagi mading di ruang publik harus tetap dipelihara, sebagai bagian dari komitmen terhadap literasi yang berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Keberhasilan mempertahankan mading di tengah arus digital bukan berarti menolak kemajuan, melainkan bentuk kebijaksanaan dalam memilih cara terbaik untuk melayani kebutuhan informasi warga negara yang beragam. Dalam setiap lembaran koran yang ditempel di mading alun-alun, tersimpan semangat untuk terus terhubung dengan dunia, melampaui sekat-sekat usia dan teknologi.









