Latihan Perairan Terbuka (LPT) XXXVI yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Selam Universitas Gadjah Mada (UGM) di perairan Tulamben, Bali, pada 30 April hingga 4 Mei 2026, menandai sebuah tonggak penting dalam pembinaan olahraga selam di lingkungan perguruan tinggi. Kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan puncak dari rangkaian pendidikan dan pelatihan panjang yang ditempuh oleh 55 calon anggota baru. Dengan didampingi oleh 3 instruktur bersertifikasi dan 5 asisten instruktur, para mahasiswa ini mengaplikasikan seluruh teori, simulasi kolam renang, dan pemahaman teknis yang telah mereka pelajari ke dalam ekosistem laut yang dinamis dan menantang.
Kronologi dan Persiapan Menuju Perairan Terbuka
Perjalanan menuju LPT XXXVI dimulai jauh sebelum para mahasiswa menyentuh air laut Bali. Secara garis besar, calon anggota baru UKM Selam UGM harus melewati serangkaian kurikulum pendidikan yang ketat. Proses ini dimulai dari seleksi fisik, pelatihan teori di ruang kelas, hingga sesi latihan rutin di kolam renang selama beberapa bulan. Di kolam, mereka diajarkan teknik dasar seperti manajemen buoyancy (daya apung), prosedur darurat, penggunaan peralatan selam (scuba gear), hingga komunikasi bawah air.

LPT XXXVI menjadi fase "ujian akhir" di mana seluruh simulasi tersebut diuji langsung di lapangan. Pemilihan Tulamben sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Tulamben merupakan salah satu destinasi selam kelas dunia yang memiliki karakteristik perairan tenang dengan akses langsung dari pantai (shore dive), namun tetap menyajikan kerumitan teknis bagi penyelam pemula, terutama terkait arus mikro dan navigasi di sekitar bangkai kapal.
Menyelami Sejarah di USAT Liberty Wreck
Salah satu titik selam yang menjadi fokus utama dalam kegiatan ini adalah USAT Liberty Wreck. Bangkai kapal kargo milik Angkatan Darat Amerika Serikat ini tenggelam setelah ditorpedo oleh kapal selam Jepang I-166 pada 11 Januari 1942 di perairan dekat Selat Lombok. Kapal ini kemudian terdampar di pantai Tulamben dan akhirnya bergeser ke dasar laut akibat letusan Gunung Agung pada tahun 1963.
Bagi mahasiswa, menyelami situs sejarah ini memberikan dimensi edukasi yang melampaui keterampilan teknis selam. USAT Liberty kini telah bertransformasi menjadi terumbu karang buatan (artificial reef) yang masif, dihuni oleh ratusan spesies ikan karang, penyu, hingga hiu karang kecil. Interaksi langsung dengan ekosistem ini memberikan pemahaman visual dan empiris kepada para peserta mengenai pentingnya menjaga keseimbangan biota laut, sebuah nilai yang menjadi fondasi utama dalam visi UKM Selam UGM.

Analisis Teknis dan Tantangan Lapangan
Dalam dunia penyelaman, transisi dari lingkungan terkontrol seperti kolam renang ke perairan terbuka adalah langkah yang paling krusial. Ardhya Nareswari Candrakirana, Ketua UKM Selam UGM, menjelaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi peserta bukan sekadar teknis, melainkan adaptasi mental terhadap kondisi alam yang tidak terduga.
Di perairan terbuka, penyelam harus mampu mengelola rasa cemas, memahami perubahan arus, serta menjaga posisi tubuh agar tidak merusak ekosistem koral. Secara teknis, peserta dilatih untuk melakukan prosedur ‘buddy system’ secara ketat, di mana keamanan setiap individu bergantung pada koordinasi dengan rekannya. Hal ini membentuk karakter kepemimpinan, kedisiplinan, dan kemampuan pengambilan keputusan yang cepat di bawah tekanan.
Pendekatan Pendidikan Karakter dan Kesadaran Ekologis
Kegiatan LPT XXXVI menekankan pada pembentukan karakter. Penyelaman bukan sekadar olahraga rekreasi, melainkan aktivitas yang membutuhkan tanggung jawab tinggi. Melalui proses ini, UKM Selam UGM ingin mencetak anggota yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis.

Implikasi dari pelatihan ini cukup luas. Di masa depan, para lulusan pendidikan selam ini diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Dengan memahami keindahan dan kerentanan ekosistem bawah laut Indonesia, para mahasiswa ini diharapkan dapat menyuarakan pentingnya konservasi laut. Indonesia, sebagai negara kepulauan, memiliki potensi kelautan yang sangat besar namun menghadapi ancaman serius dari sampah plastik dan kerusakan terumbu karang. Pengetahuan yang mereka peroleh di Tulamben menjadi modal utama untuk melakukan advokasi lingkungan berbasis data dan pengalaman lapangan.
Perspektif dari Senior dan Peserta
Keberhasilan kegiatan ini juga didukung oleh peran aktif para senior diver. Andari Pratista Widayani, yang bertindak sebagai senior diver pada Diklat 35, menyoroti pentingnya peran pendamping dalam menjaga psikologi peserta baru. Menurutnya, melihat perkembangan peserta dari ketakutan awal hingga mampu melakukan penyelaman dengan tenang adalah sebuah pencapaian yang membanggakan.
Sementara itu, Aulia Zahra Pratiwi dari Diklat 36 merefleksikan pengalamannya sebagai peserta yang baru pertama kali menyelam di laut lepas. Ia mencatat perbedaan kontras antara simulasi di kolam dan realitas di laut. "Rasanya seperti memasuki dunia yang berbeda," ujarnya. Pengalaman sensorik saat berada di bawah air, melihat kehidupan laut yang berwarna-warni, serta merasakan sensasi melayang (weightlessness) memberikan perspektif baru bagi para mahasiswa mengenai skala ekosistem global.

Implikasi dan Proyeksi Masa Depan
Kegiatan LPT XXXVI yang berjalan lancar meskipun dihadapkan pada kendala teknis di lapangan membuktikan efektivitas sistem manajemen pelatihan di UKM Selam UGM. Secara profesional, standar keselamatan yang diterapkan selama kegiatan ini mengacu pada protokol penyelaman internasional. Penggunaan 3 instruktur dan 5 asisten instruktur untuk 55 peserta menunjukkan rasio pendampingan yang ideal, memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan pengawasan yang memadai untuk meminimalisir risiko kecelakaan selam.
Ke depannya, UKM Selam UGM berencana untuk terus meningkatkan standar pendidikan mereka, tidak hanya dalam aspek keterampilan menyelam, tetapi juga dalam riset kelautan sederhana dan partisipasi dalam aksi bersih pantai (coastal cleanup). Hal ini sejalan dengan tuntutan zaman di mana perguruan tinggi dituntut untuk menghasilkan luaran yang relevan dengan tantangan keberlanjutan global.
Kesimpulan
LPT XXXVI di Tulamben bukan sekadar kegiatan seremonial atau pemenuhan agenda organisasi. Ini adalah laboratorium hidup bagi mahasiswa untuk belajar tentang disiplin, keberanian, kerja sama tim, dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan mengintegrasikan aspek sejarah, teknis, dan konservasi, UKM Selam UGM telah berhasil menciptakan platform pendidikan yang komprehensif.

Keberhasilan para peserta dalam menuntaskan rangkaian pelatihan ini merupakan bukti bahwa generasi muda memiliki antusiasme yang tinggi dalam mengeksplorasi dan menjaga kekayaan maritim Indonesia. Dengan berbekal keterampilan dan kesadaran yang telah ditempa di Tulamben, para mahasiswa ini siap untuk menjadi penyelam yang tidak hanya tangguh, tetapi juga bijak dalam berinteraksi dengan dunia bawah laut. Langkah ini adalah bagian kecil dari upaya besar bangsa untuk memahami dan melestarikan warisan laut yang sangat berharga bagi masa depan bumi.









