Yogyakarta menjadi saksi sebuah inisiatif sosial yang signifikan dalam upaya memperkuat ketahanan keluarga di Indonesia. Dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional 2026, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, meluncurkan pesan moral yang mendalam di MAN 1 Yogyakarta pada Kamis, 25 Juni 2026. Melalui program Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), pemerintah menekankan urgensi kehadiran sosok ayah dalam ekosistem pengasuhan anak di tengah tantangan digital yang semakin masif.
Kehadiran Wihaji di sekolah tersebut bukan sekadar seremoni administratif, melainkan sebuah gerakan kultural untuk mendobrak stigma bahwa pendidikan anak adalah domain eksklusif kaum ibu. Di ruang kelas yang dipenuhi oleh para orang tua, ia menekankan bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan pemenuhan kebutuhan finansial atau materiil, melainkan sentuhan psikologis yang hangat dari seorang ayah.
Fenomena Fatherless: Tantangan Struktural dan Psikologis
Data yang diungkapkan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 25 persen anak di Indonesia saat ini diidentifikasi mengalami kondisi fatherless atau kehilangan sosok ayah. Fenomena ini tidak selalu berarti ketiadaan ayah secara fisik karena perceraian atau kematian, melainkan lebih kepada absennya keterlibatan ayah dalam aspek emosional dan pendidikan anak meskipun sang ayah masih berada di dalam rumah yang sama.
Dalam analisis sosiologis, fatherless sering kali berakar pada pembagian peran gender tradisional yang kaku, di mana ayah diposisikan sebagai "pencari nafkah utama" dan ibu sebagai "pengasuh utama". Namun, di era disrupsi saat ini, peran ayah yang absen secara emosional dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental anak. Anak-anak yang kurang mendapatkan interaksi positif dari figur ayah cenderung memiliki kerentanan dalam pengembangan karakter, rasa percaya diri, dan kemampuan mengelola emosi.
Wihaji menegaskan bahwa keluarga adalah unit terkecil dari sebuah negara. Jika unit terkecil ini rapuh, maka fondasi bangsa secara keseluruhan akan terancam. Oleh karena itu, perbaikan kualitas bangsa harus dimulai dari transformasi pola komunikasi di dalam keluarga itu sendiri.
Dampak Teknologi dan Ancaman Digital
Salah satu poin kritis yang disampaikan dalam forum tersebut adalah ancaman "keluarga baru" bagi anak-anak, yaitu telepon pintar atau gawai. Wihaji menyoroti bahwa ketika orang tua, terutama ayah, terlalu sibuk dengan pekerjaan dan mengabaikan interaksi dengan anak, maka anak akan mencari pelarian. Dalam ruang hampa komunikasi tersebut, gawai menjadi teman bicara utama bagi anak.
Kondisi ini berbahaya karena gawai mampu memberikan informasi secara masif, namun tidak memberikan "hati" atau empati. Komunikasi yang terjalin antara anak dan gawai bersifat satu arah dan sering kali tidak memiliki filter nilai-nilai etika. Sekolah, di sisi lain, dituntut untuk tidak sekadar melakukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga harus mampu menanamkan nilai-nilai moral (transfer of value). Namun, tanpa dukungan komunikasi yang intensif dari orang tua di rumah, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan sulit terinternalisasi secara sempurna.
Program GEMAR sebagai Instrumen Perubahan
Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dirancang sebagai instrumen praktis untuk memicu kesadaran para ayah. Mengambil rapor secara langsung adalah langkah awal yang sangat sederhana namun memiliki dampak simbolis yang kuat. Dengan hadir di sekolah, ayah menunjukkan kepada anak bahwa pendidikan mereka adalah prioritas bagi orang tua.
Langkah ini juga membuka ruang dialog antara ayah dan pihak sekolah. Ketika ayah terlibat, mereka mendapatkan gambaran nyata mengenai perkembangan akademik dan perilaku anak, yang selama ini sering kali hanya diserahkan kepada ibu. Bagi pihak sekolah, kehadiran ayah memberikan perspektif baru dalam pengawasan siswa. Pendidik dapat melihat secara langsung sejauh mana dukungan keluarga diberikan kepada siswa tersebut.
Perspektif Orang Tua: Realitas di Lapangan
Agung Baskoro, salah satu orang tua siswa yang berpartisipasi dalam program ini, memberikan testimoni mengenai tantangan yang dihadapi para ayah modern. Menurutnya, kesibukan pekerjaan sering kali menjadi alasan utama mengapa keterlibatan ayah menjadi minimal. Namun, melalui program GEMAR, ia merasa diingatkan kembali akan tanggung jawab moralnya.

"Sering kali kita terjebak dalam rutinitas kerja hingga lupa bahwa anak-anak tumbuh dengan sangat cepat. Kehadiran di sekolah seperti saat pengambilan rapor ini adalah bentuk nyata bahwa kita peduli. Ini bukan soal berapa lama waktu yang dihabiskan, tetapi kualitas kehadiran kita," ujar Agung.
Banyak ayah yang sebenarnya memiliki keinginan untuk terlibat, namun terhambat oleh norma sosial yang menganggap bahwa urusan "domestik" adalah urusan perempuan. Inisiatif pemerintah ini diharapkan mampu meruntuhkan hambatan psikologis tersebut dan menjadikan keterlibatan ayah sebagai bagian dari gaya hidup modern yang membanggakan.
Analisis Implikasi Jangka Panjang
Jika program ini berhasil diimplementasikan secara luas, implikasinya terhadap pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia sangatlah besar. Anak-anak yang tumbuh dengan keterlibatan ayah yang kuat cenderung memiliki:
- Stabilitas Emosional yang Lebih Baik: Kehadiran ayah memberikan rasa aman dan identitas yang kuat, yang membantu anak menghadapi tekanan sosial.
- Performa Akademik yang Meningkat: Dukungan orang tua yang sinergis antara ibu dan ayah terbukti secara ilmiah berkorelasi positif dengan motivasi belajar anak.
- Pencegahan Perilaku Berisiko: Anak-anak yang memiliki hubungan dekat dengan orang tuanya cenderung lebih mampu menghindari pengaruh negatif dari lingkungan luar, seperti narkoba atau pergaulan bebas.
Pemerintah berencana untuk terus mendorong narasi ini melalui berbagai kanal, baik melalui edukasi di sekolah-sekolah maupun melalui kampanye media. Fokus utama bukan sekadar kuantitas waktu, melainkan "kualitas obrolan". Wihaji menekankan bahwa obrolan santai di meja makan atau saat mengantar anak ke sekolah memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada sekadar memberikan materi yang melimpah.
Kronologi dan Peringatan Hari Keluarga Nasional 2026
Kegiatan di MAN 1 Yogyakarta ini merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026. Peringatan ini sendiri memiliki sejarah panjang di Indonesia sebagai momentum refleksi bagi seluruh elemen bangsa untuk menyadari bahwa keluarga adalah pilar utama keberhasilan pembangunan nasional.
Sejak beberapa tahun terakhir, BKKBN di bawah kepemimpinan Wihaji memang telah melakukan pergeseran fokus. Jika dulu BKKBN lebih dikenal dengan program Keluarga Berencana (KB) yang berorientasi pada pembatasan jumlah anak, kini fokus telah bergeser ke arah "Pembangunan Keluarga". Ini mencakup kualitas pengasuhan, kesehatan keluarga, dan ketahanan ekonomi keluarga.
Program GEMAR adalah salah satu dari sekian banyak strategi yang akan digulirkan untuk mengukur keterlibatan ayah di seluruh Indonesia. Ke depannya, diharapkan sekolah-sekolah lain di tingkat nasional dapat mengadopsi pola serupa, di mana sekolah tidak hanya menjadi tempat siswa belajar, tetapi juga menjadi pusat konseling dan pemberdayaan bagi orang tua.
Kesimpulan: Tanggung Jawab Kolektif
Fenomena fatherless adalah masalah sistemik yang membutuhkan pendekatan sistemik pula. Pemerintah melalui Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga telah memberikan langkah awal yang krusial. Namun, keberhasilan dari gerakan ini sangat bergantung pada kemauan individu para ayah di Indonesia untuk beradaptasi.
Peran ayah dalam mendidik anak adalah investasi jangka panjang yang tidak bisa diukur dengan angka. Di masa depan, Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan memiliki karakter yang kuat. Fondasi dari semua itu dibentuk di meja makan, di ruang tamu, dan di koridor sekolah saat ayah meluangkan waktu untuk bertanya, "Bagaimana harimu hari ini, Nak?"
Dengan terus mendorong narasi positif ini, diharapkan Indonesia dapat menekan angka fatherless dan menciptakan keluarga-keluarga yang lebih harmonis, komunikatif, dan responsif terhadap tantangan zaman. Inisiatif di Yogyakarta ini hanyalah permulaan dari gerakan besar yang diharapkan dapat menyebar ke seluruh pelosok tanah air, mengubah wajah pengasuhan keluarga Indonesia menjadi lebih inklusif dan partisipatif.









