Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Foto Jogja

Megawati Soekarnoputri Buka Pameran Seni Mata Hati Soekarno di Bantul dalam Rangka Peringatan 125 Tahun Bung Karno

badge-check


					Megawati Soekarnoputri Buka Pameran Seni Mata Hati Soekarno di Bantul dalam Rangka Peringatan 125 Tahun Bung Karno Perbesar

Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, secara resmi membuka pameran seni rupa bertajuk "Mata Hati Soekarno" pada Sabtu (6/6/2026) di Le Gareca Space, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari lahir Presiden pertama RI, Soekarno, yang ke-125 tahun. Kehadiran Megawati dalam pameran ini tidak hanya menjadi simbol penghormatan keluarga terhadap sang proklamator, tetapi juga momen reflektif untuk menggali kembali sisi humanis dan artistik dari sosok Soekarno yang selama ini kerap tertutup oleh narasi politik besar.

Menguak Sisi Seniman Sang Proklamator

Dalam pidato pembukaannya, Megawati Soekarnoputri memberikan perspektif personal yang jarang diketahui publik. Ia mengungkapkan bahwa kedua orang tuanya, Soekarno dan Fatmawati, adalah sosok yang memiliki jiwa seni yang kuat. Menurut Megawati, narasi sejarah selama ini cenderung memosisikan Bung Karno sebagai orator ulung atau politikus revolusioner, namun mengabaikan fakta bahwa beliau adalah seorang pencinta estetika.

Megawati menceritakan memori masa kecilnya di lingkungan Istana Negara. Baginya, seni bukanlah sekadar hobi, melainkan instrumen pembentuk karakter. Ia mengenang bagaimana dirinya dididik untuk menari sejak usia lima tahun. Lebih jauh, Megawati membagikan pengalaman medis yang menarik terkait manfaat seni tari bagi kesehatan fisik. Dalam sebuah pemeriksaan ortopedi, dokter spesialis tulang menyatakan kekagumannya atas kondisi struktur tulang Megawati yang dinilai sangat kuat untuk orang seusianya. Megawati meyakini bahwa disiplin seni tari yang ditanamkan sejak dini telah memberikan kontribusi signifikan terhadap kesehatan fisik dan postur tubuhnya hingga saat ini.

Pernyataan ini menjadi pesan moral bagi generasi muda. Megawati menekankan pentingnya memperkenalkan seni kepada anak-anak sejak dini sebagai sarana pertumbuhan fisik dan mental yang sehat. Ia berharap orang tua masa kini dapat meneladani pola asuh tersebut untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan rasa dan ketahanan fisik yang prima.

Konteks Historis: Seni sebagai Napas Perjuangan

Pameran "Mata Hati Soekarno" hadir di tengah dinamika seni rupa kontemporer Indonesia yang terus mencari relevansi dengan akar sejarah bangsa. Bung Karno memang dikenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan dunia seni. Semasa hidupnya, ia adalah kolektor seni yang aktif dan patron bagi banyak pelukis legendaris Indonesia. Bung Karno kerap mengundang pelukis ke istana untuk berdiskusi, melukis, atau sekadar bertukar pikiran mengenai arah kebudayaan nasional.

Keterlibatan seniman dalam pameran kali ini merupakan upaya kuratorial untuk merespons sosok Bung Karno dari kacamata generasi yang lahir jauh setelah beliau wafat. Kurator pameran, Suwarno Wisetrotomo, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam pameran ini adalah bagaimana para perupa generasi 1990-an mampu melakukan interpretasi visual terhadap sosok yang sangat ikonik.

Kurasi dan Partisipasi 47 Seniman

Pameran ini melibatkan 47 seniman dengan berbagai latar belakang aliran seni rupa. Beberapa karya yang mencuri perhatian dalam pameran tersebut antara lain:

  1. "Sang Flamboyan" karya Nasirun yang mengeksplorasi kharisma Soekarno.
  2. "Happy Birthday Mr. President; Surabaya June 06 1901-2026" karya Ronald Manurung, yang menjadi penanda kronologis usia ke-125 tahun sang proklamator.
  3. "Sang Dirigen Republik" karya Ireanto Lentho yang menggambarkan Soekarno sebagai penggerak orkestra bangsa.
  4. "Kuantar ke Seberang" karya Agus Noor yang memaknai perjalanan ideologis Soekarno.

Suwarno Wisetrotomo menegaskan bahwa Bung Karno bukan sekadar figur sejarah yang statis. Bagi seniman, Bung Karno adalah metafora tentang "air, tanah, angin, dan api" yang terus menghidupi semangat kebangsaan. Pameran ini diharapkan menjadi ruang dialog publik, di mana nilai-nilai yang diwariskan Soekarno dapat diperdebatkan dan dimaknai ulang sesuai dengan tantangan zaman modern.

Presiden ke-5 RI buka pameran seni "Mata Hati Soekarno" di Bantul

Visi Butet Kartaredjasa: Mewarisi Api, Bukan Abu

Budayawan sekaligus penggagas pameran, Butet Kartaredjasa, memberikan catatan penting mengenai spirit di balik perhelatan ini. Menurutnya, tujuan utama pameran bukan sekadar mengenang biografi Soekarno, melainkan menangkap "api" perjuangannya. Ia mengutip filosofi bahwa generasi penerus harus mampu mewarisi semangat (api) keberagaman dan persatuan yang dulu diperjuangkan oleh Soekarno, bukan sekadar memuja sisa-sisa sejarah (abu) tanpa makna.

Butet menyoroti peran Soekarno sebagai tokoh pemersatu yang mampu merangkul berbagai etnis di Indonesia. Dalam konteks politik saat ini, pesan tersebut dianggap sangat relevan untuk meredam polarisasi dan memperkuat kembali fondasi persatuan nasional yang berlandaskan pada kebudayaan.

Kehadiran Tokoh Nasional dan Implikasi Sosial

Pembukaan pameran ini dihadiri oleh jajaran tokoh nasional yang merepresentasikan berbagai spektrum politik dan pemerintahan. Kehadiran Permaisuri Keraton Yogyakarta GKR Hemas, mantan Menko Polhukam Mahfud MD, mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, hingga Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dan Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno menunjukkan bahwa sosok Soekarno tetap menjadi magnet pemersatu di luar sekat-sekat kepentingan politik jangka pendek.

Secara sosiopolitik, pameran ini memberikan dampak yang luas. Pertama, sebagai bentuk "politik kebudayaan" yang halus namun mendalam. Dengan menempatkan seni sebagai medium, pesan-pesan kebangsaan Soekarno dapat menyentuh lapisan masyarakat yang mungkin kurang tertarik pada narasi politik formal. Kedua, pameran ini memperkuat posisi Yogyakarta sebagai pusat wacana intelektual dan artistik di Indonesia.

Analisis Relevansi: Mengapa Soekarno Masih Relevan?

Jika kita menilik garis waktu sejarah, 125 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, mengapa sosok Soekarno tetap menjadi subjek utama dalam karya seni hingga tahun 2026? Analisis objektif menunjukkan bahwa Soekarno memiliki kemampuan retorika dan visi kebudayaan yang melampaui zamannya. Beliau berhasil menanamkan rasa percaya diri nasionalisme melalui identitas visual—seperti pakaian, arsitektur, dan seni rupa.

Pameran "Mata Hati Soekarno" membuktikan bahwa ketika sejarah didekati melalui seni, ia menjadi lebih manusiawi. Generasi perupa muda yang terlibat dalam pameran ini tidak mengalami masa kepemimpinan Soekarno secara langsung, namun melalui riset dan perenungan mendalam, mereka mampu menerjemahkan "jiwa" Soekarno ke dalam bentuk visual yang segar. Ini adalah bentuk regenerasi memori kolektif bangsa agar tidak kehilangan akar sejarahnya.

Kesimpulan dan Harapan

Pameran "Mata Hati Soekarno" yang akan berlangsung selama satu bulan ke depan ini terbuka untuk umum dan diharapkan dapat menjadi destinasi edukasi bagi masyarakat luas, khususnya pelajar dan mahasiswa. Keberhasilan pameran ini dalam menyatukan berbagai elemen bangsa dalam satu ruang seni rupa menjadi pengingat bahwa kebudayaan adalah jalan yang paling efektif untuk merajut kembali persatuan.

Sebagaimana yang diharapkan oleh kurator Suwarno Wisetrotomo, perayaan ulang tahun ke-125 Soekarno melalui seni lukis adalah langkah yang tepat. Seni memberikan ruang bagi publik untuk meresapi, bukan sekadar menghafal sejarah. Dengan berakhirnya pembukaan pameran ini, diharapkan semangat "Mata Hati Soekarno" dapat terus menyala, menginspirasi setiap pengunjung yang datang untuk membawa pulang satu pemahaman baru tentang arti mencintai Indonesia melalui karya dan tindakan nyata.

Pameran ini menjadi bukti bahwa di tengah modernisasi dan digitalisasi yang masif, kekuatan narasi sejarah dan seni rupa tetap memiliki tempat istimewa dalam membentuk jati diri bangsa Indonesia di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Empat personel TNI divonis 1,5 hingga 3 tahun penjara dalam kasus penganiayaan berat terhadap aktivis Andrie Yunus

10 Juni 2026 - 06:22 WIB

Pemerintah Siapkan Digital Single ID Berbasis Kecerdasan Artifisial untuk Transformasi Penyaluran Bansos dan Efisiensi Birokrasi

10 Juni 2026 - 00:22 WIB

Kemenhaj Yogyakarta Pastikan Seluruh Jamaah Haji Kloter 6 Tiba dengan Selamat Meski Sempat Ada Gangguan Kesehatan

9 Juni 2026 - 18:22 WIB

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa paparkan strategi komprehensif kejar target pertumbuhan ekonomi 5,8 hingga 6,5 persen pada 2027

9 Juni 2026 - 12:22 WIB

Wamenkum Tegaskan Hak Prerogatif Presiden dalam Perpanjangan Batas Usia Pensiun Kapolri di Tengah Pengesahan RUU Polri

9 Juni 2026 - 06:22 WIB

Trending di Foto Jogja