Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dengan PT Taman Wisata Candi (TWC) atau InJourney Destinations Management (IDM) untuk memperkokoh ekosistem kesiapsiagaan dan budaya tangguh bencana, khususnya di kawasan cagar budaya yang memiliki nilai historis dan pariwisata tinggi. Kesepakatan ini mengemuka dalam rangkaian kegiatan Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan yang diselenggarakan di Lapangan Garuda, Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, pada Sabtu (23/5/2026). Inisiatif ini tidak hanya berfungsi sebagai latihan teknis, tetapi juga sebagai refleksi mendalam atas peringatan dua dekade gempa bumi dahsyat yang melanda Yogyakarta pada tahun 2006 silam.
Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta dan Urgensi Kesiapsiagaan
Peringatan 20 tahun gempa bumi Yogyakarta menjadi momentum krusial bagi pemerintah dan pengelola objek wisata untuk meninjau kembali protokol mitigasi bencana. Pada 27 Mei 2006, Yogyakarta diguncang gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter yang merenggut lebih dari 6.000 jiwa dan menyebabkan kerusakan masif pada infrastruktur, termasuk situs-situs bersejarah seperti Candi Prambanan.
Kondisi geografis Indonesia yang berada di atas "Cincin Api" atau Ring of Fire menempatkan kawasan cagar budaya dalam posisi rentan terhadap ancaman geologis. Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, Andre Notohamijoyo, menegaskan bahwa integrasi antara manajemen risiko bencana dan pelestarian cagar budaya merupakan keharusan. "Program Kita Tangguh yang digagas Kemenko PMK dirancang untuk mengubah paradigma masyarakat dan pengelola kawasan dari sekadar responsif menjadi proaktif dan tangguh secara budaya," ujar Andre dalam keterangannya.
Peran Strategis Tim Gurila dalam Mitigasi Bencana Nasional
Dalam upaya operasionalisasi kesiapsiagaan tersebut, PT TWC/IDM memperkenalkan unit khusus yang dikenal dengan nama Tim Gurila (Gunung, Rimba, Laut). Tim ini bukan sekadar satuan pengamanan wisata, melainkan unit tanggap bencana yang memiliki spesialisasi dalam pemulihan pascabencana.
Direktur Operasional PT TWC/IDM, Inung Purwita Jati, menjelaskan bahwa pembentukan Tim Gurila merupakan wujud konkret tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan komitmen BUMN dalam mendukung ketahanan nasional. "Gurila kami siapkan sebagai garda terdepan di lingkungan internal perusahaan dan juga sebagai relawan kemanusiaan yang dapat diterjunkan ke berbagai lokasi bencana di Indonesia," jelas Inung.
Sejarah operasional Tim Gurila telah membuktikan kapasitas mereka dalam kancah kemanusiaan. Salah satu catatan penting adalah keterlibatan mereka dalam penanganan dampak bencana di Aceh Tamiang. Keberhasilan misi tersebut menjadi standar operasional (SOP) bagi tim untuk terus terlibat dalam dukungan psikososial, distribusi logistik, dan stabilisasi masyarakat di daerah terdampak bencana.
Pilar Program Kita Tangguh dan Sinergi Lintas Sektor
Program Kita Tangguh yang diusung Kemenko PMK berfokus pada tiga pilar utama: edukasi masyarakat, penguatan infrastruktur fisik, dan kolaborasi multipihak. Di kawasan Candi Prambanan, sinergi ini terlihat dari bagaimana peralatan mitigasi bencana ditempatkan secara strategis dan diuji kesiapannya secara berkala.

Kolaborasi dengan BUMN seperti PT TWC menjadi model percontohan (best practice) bagi sektor lain. Kemenko PMK memandang bahwa pelibatan sektor korporasi melalui BUMN sangat vital karena memiliki sumber daya manusia yang terlatih dan jangkauan operasional yang luas. Dengan mengintegrasikan budaya tangguh bencana, setiap pengelola kawasan wisata tidak hanya melindungi aset negara berupa bangunan cagar budaya, tetapi juga menjamin keselamatan ribuan wisatawan setiap harinya.
Analisis Dampak: Mengapa Budaya Tangguh Bencana Itu Penting?
Secara sosiologis dan ekonomi, bencana alam di Indonesia memiliki dampak jangka panjang yang signifikan. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara konsisten menunjukkan bahwa kerugian ekonomi pascabencana seringkali melampaui biaya pencegahan. Oleh karena itu, langkah Kemenko PMK untuk memformalkan budaya tangguh bencana di kawasan vital seperti candi memiliki beberapa implikasi strategis:
- Ketahanan Destinasi Wisata: Membangun kepercayaan wisatawan (tourist confidence) bahwa kawasan wisata dikelola dengan standar keselamatan yang tinggi.
- Pelestarian Situs Bersejarah: Penanganan yang cepat dan tepat saat terjadi gempa dapat meminimalisir kerusakan struktural pada bebatuan candi yang rapuh.
- Pemberdayaan SDM: Pelatihan rutin bagi Tim Gurila meningkatkan kapabilitas lokal yang dapat diakses pemerintah dalam situasi darurat nasional.
- Resiliensi Masyarakat: Edukasi yang berkelanjutan menciptakan masyarakat di sekitar kawasan candi yang lebih sigap dan terorganisir dalam menghadapi ancaman bencana.
Kronologi dan Peta Jalan Kesiapsiagaan
Langkah strategis yang dilakukan pada Mei 2026 ini merupakan bagian dari peta jalan jangka panjang pemerintah Indonesia dalam mencapai target "Indonesia Tangguh Bencana 2045". Berikut adalah garis waktu logis dari upaya penguatan tersebut:
- 2006: Peristiwa gempa bumi Yogyakarta menjadi titik balik kebijakan mitigasi bencana di kawasan cagar budaya.
- 2015-2024: Penguatan sistem peringatan dini dan manajemen krisis di tingkat nasional oleh BNPB dan Kemenko PMK.
- 2025: Inisiasi penguatan sektor BUMN dalam penanggulangan bencana melalui Program Kita Tangguh.
- Mei 2026: Apel Kesiapsiagaan di Prambanan dan formalisasi peran Tim Gurila sebagai model kolaborasi BUMN-Pemerintah.
Tantangan dan Proyeksi ke Depan
Meskipun kolaborasi ini merupakan langkah maju, tantangan di masa depan tetap ada. Perubahan iklim dan dinamika geologi yang tidak terprediksi menuntut inovasi teknologi yang lebih canggih. Kemenko PMK berkomitmen untuk terus mengevaluasi efektivitas Program Kita Tangguh dengan melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari seismolog, psikolog, hingga ahli pelestarian cagar budaya.
Dalam jangka panjang, diharapkan setiap BUMN yang mengelola aset strategis atau kawasan publik memiliki unit tanggap bencana serupa dengan Tim Gurila. Hal ini akan membentuk jaring pengaman nasional (national safety net) yang lebih rapat. Keterlibatan sektor swasta dan masyarakat sipil juga diharapkan terus meningkat, sejalan dengan semangat gotong royong yang menjadi landasan utama budaya tangguh bencana di Indonesia.
Kesimpulan dari rangkaian kegiatan di Prambanan ini adalah bahwa bencana tidak dapat dihindari, namun dampaknya dapat dikurangi secara signifikan melalui persiapan yang terukur. Sinergi antara kebijakan pemerintah pusat melalui Kemenko PMK dan implementasi taktis oleh entitas seperti PT TWC/IDM adalah formula yang krusial bagi keberlangsungan kawasan cagar budaya di Indonesia di tengah ancaman bencana yang senantiasa mengintai.
Dengan berakhirnya Apel Kesiapsiagaan, pesan yang tersampaikan kepada publik adalah bahwa pemerintah serius dalam menjaga aset nasional dan keselamatan jiwa. Budaya tangguh bencana bukan lagi sekadar slogan, melainkan sebuah kebutuhan nyata untuk menjamin masa depan Indonesia yang lebih aman, lebih waspada, dan lebih siap menghadapi tantangan alam di masa depan.









