Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

IDAI Terbitkan Rekomendasi Larangan Paparan Layar bagi Anak di Bawah Dua Tahun Guna Cegah Gangguan Tumbuh Kembang dan Penyakit Metabolik

badge-check


					IDAI Terbitkan Rekomendasi Larangan Paparan Layar bagi Anak di Bawah Dua Tahun Guna Cegah Gangguan Tumbuh Kembang dan Penyakit Metabolik Perbesar

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara resmi mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh orang tua di Indonesia untuk menerapkan kebijakan "zero screen time" atau tanpa paparan layar sama sekali bagi anak yang berusia di bawah dua tahun. Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif yang mendesak untuk melindungi anak-anak dari berbagai risiko gangguan tumbuh kembang yang bersifat permanen serta ancaman penyakit gaya hidup baru yang kini mulai menyerang usia dini. Pengumuman ini disampaikan di tengah kekhawatiran para ahli medis mengenai semakin tingginya ketergantungan anak-anak terhadap gawai, yang sering kali dipicu oleh kurangnya pengawasan serta pola asuh yang mengandalkan teknologi sebagai sarana penenang anak.

Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K)., menekankan bahwa periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa emas (golden period) di mana otak anak mengalami perkembangan yang sangat pesat. Paparan layar pada periode sensitif ini, baik melalui televisi, ponsel pintar, maupun tablet, dapat mengganggu proses pematangan sirkuit otak yang seharusnya distimulasi oleh interaksi dua arah dengan manusia dan lingkungan fisik sekitarnya. Menurut Piprim, paparan gawai yang berlebihan sejak dini bukan sekadar masalah perilaku, melainkan ancaman serius terhadap kesehatan fisik dan mental generasi masa depan Indonesia.

Konteks Acara dan Peringatan HUT Ke-72 IDAI

Pernyataan resmi ini disampaikan dalam rangkaian kegiatan puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 IDAI yang diselenggarakan di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, pada Minggu, 14 Juni 2026. Acara yang mengusung tema penguatan peran dokter anak dalam mengawal kesehatan nasional ini dihadiri oleh jajaran pengurus pusat dan daerah IDAI, praktisi kesehatan, serta masyarakat umum. Lokasi Ragunan dipilih secara simbolis untuk mendorong keluarga agar lebih aktif melakukan aktivitas luar ruang daripada sekadar menghabiskan waktu di depan layar di dalam rumah.

Dalam kronologi acara tersebut, IDAI menyoroti perubahan paradigma kesehatan anak dalam satu dekade terakhir. Jika dahulu tantangan utama adalah penyakit infeksi dan malnutrisi, kini tenaga medis dihadapkan pada fenomena "new lifestyle diseases" atau penyakit akibat gaya hidup baru. Transformasi digital yang masif tanpa diimbangi literasi kesehatan yang memadai telah mengubah pola aktivitas harian anak-anak Indonesia, yang kemudian berujung pada meningkatnya kunjungan ke klinik tumbuh kembang serta bangsal penyakit dalam anak.

Dampak Perkembangan: Speech Delay dan Fenomena Virtual Autism

Salah satu poin krusial yang diangkat oleh IDAI adalah keterkaitan antara paparan layar dini dengan gangguan komunikasi. Dr. Piprim menjelaskan bahwa tren penggunaan gawai pada balita berkontribusi signifikan terhadap munculnya kasus keterlambatan bicara atau speech delay. Anak yang terpapar layar secara pasif kehilangan kesempatan untuk memproses respons verbal dan non-verbal dari orang tua atau pengasuh. Stimulasi satu arah dari video atau permainan di gawai tidak mampu menggantikan kompleksitas interaksi manusia yang dibutuhkan untuk membangun kemampuan bahasa.

Lebih jauh lagi, IDAI memperingatkan tentang risiko "virtual autism". Istilah ini merujuk pada kondisi di mana anak menunjukkan gejala-gejala yang menyerupai gangguan spektrum autisme—seperti kurangnya kontak mata, kesulitan bersosialisasi, dan asyik dengan dunianya sendiri—akibat stimulasi layar yang berlebihan sejak bayi. Meskipun kondisi ini sering kali bersifat reversibel jika paparan layar segera dihentikan dan diganti dengan terapi interaksi yang intensif, dampaknya pada masa kritis perkembangan dapat menghambat kesiapan sekolah dan kemampuan adaptasi sosial anak di masa depan.

Data dari berbagai pusat layanan tumbuh kembang anak di kota-kota besar di Indonesia menunjukkan tren peningkatan kasus gangguan sensorik dan motorik halus pada anak prasekolah yang memiliki riwayat penggunaan gawai lebih dari dua jam per hari sejak usia dini. Hal ini memperkuat urgensi rekomendasi zero screen time yang dicanangkan IDAI.

Ancaman Penyakit Metabolik dan Gaya Hidup Sedentari

Selain aspek perkembangan mental dan kognitif, IDAI menaruh perhatian besar pada dampak fisik dari paparan layar. Penggunaan gawai secara berlebihan menciptakan pola hidup sedentari atau kurang gerak. Dr. Piprim mengungkapkan bahwa anak-anak yang terbiasa duduk diam di depan layar cenderung memiliki risiko obesitas yang jauh lebih tinggi. Kondisi ini diperburuk dengan kebiasaan mengonsumsi camilan tidak sehat (ultra-processed food) saat menonton, yang memicu lonjakan kalori tanpa adanya aktivitas fisik untuk membakarnya.

Kekhawatiran IDAI didasarkan pada fakta medis di lapangan yang menunjukkan peningkatan drastis kasus hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus tipe 2 pada anak-anak. Penyakit yang dahulunya identik dengan usia dewasa kini ditemukan pada anak usia sekolah dasar, bahkan balita. Gangguan metabolik ini memiliki implikasi jangka panjang, termasuk risiko penyakit jantung koroner dan gagal ginjal di usia produktif.

"Anak-anak sekarang kurang bergerak karena gawai membuat mereka anteng. Padahal, tubuh mereka butuh aktivitas fisik untuk menjaga sensitivitas insulin dan kesehatan pembuluh darah," tambah Piprim. IDAI mencatat bahwa peningkatan waktu layar berkorelasi positif dengan peningkatan indeks massa tubuh (IMT) pada anak-anak di Indonesia, selaras dengan temuan organisasi kesehatan dunia (WHO).

Anak kurang dari dua tahun sebaiknya tidak terpapar layar sama sekali

Tantangan Pola Asuh di Era Digital

IDAI menyadari bahwa tantangan terbesar dalam menerapkan zero screen time terletak pada pola asuh orang tua. Dalam banyak kasus, gawai digunakan sebagai "digital babysitter" atau alat untuk menenangkan anak agar tidak rewel, terutama saat orang tua sibuk bekerja atau sedang berada di tempat umum. Namun, kenyamanan sesaat ini harus dibayar mahal dengan gangguan perkembangan jangka panjang.

Dr. Piprim mengkritik fenomena di mana orang tua membiarkan anak terpapar layar agar mereka sendiri bisa bebas berselancar di media sosial tanpa gangguan. "Orang tua seringkali senang anaknya anteng melihat gadget agar mereka bisa asyik sendiri dengan media sosial, padahal itu bisa menyebabkan gangguan perkembangan serius," tegasnya.

IDAI mendorong adanya renegosiasi aturan di dalam rumah tangga. Komunikasi antara ayah dan ibu menjadi kunci agar tidak ada standar ganda dalam penggunaan teknologi di depan anak. Selain itu, orang tua diminta untuk menjadi teladan (role model) dengan tidak menggunakan ponsel secara berlebihan saat sedang bersama anak, karena anak adalah peniru ulung yang akan mengikuti perilaku orang dewasa di sekitarnya.

Perbandingan dengan Standar Global dan Rekomendasi Berbasis Usia

Rekomendasi IDAI ini sejalan dengan panduan yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) dan American Academy of Pediatrics (AAP). Berdasarkan standar medis internasional, berikut adalah panduan durasi paparan layar yang ideal bagi anak:

  1. Usia di bawah 2 tahun: Sama sekali tidak disarankan terpapar layar (zero screen time), kecuali untuk panggilan video (video call) dengan keluarga dengan pendampingan orang tua, karena interaksi tersebut masih melibatkan komunikasi dua arah.
  2. Usia 2 hingga 5 tahun: Dibatasi maksimal satu jam per hari, dengan catatan konten yang ditonton harus berkualitas tinggi, edukatif, dan didampingi oleh orang tua untuk membantu anak memahami apa yang mereka lihat.
  3. Usia 6 tahun ke atas: Orang tua harus menerapkan batas waktu yang konsisten dan memastikan bahwa penggunaan gawai tidak mengganggu waktu tidur, aktivitas fisik, serta interaksi sosial harian.

IDAI menekankan bahwa layar tidak boleh diletakkan di dalam kamar tidur anak dan penggunaan gawai harus dihentikan setidaknya satu jam sebelum waktu tidur untuk menghindari gangguan pada siklus sirkadian dan kualitas tidur anak akibat paparan blue light.

Analisis Implikasi dan Langkah Strategis ke Depan

Kebijakan zero screen time bagi balita di bawah dua tahun memiliki implikasi luas bagi ketahanan nasional. Anak-anak yang tumbuh dengan stimulasi yang tepat akan memiliki kemampuan kognitif dan emosional yang lebih baik, yang pada gilirannya akan mengurangi beban sistem kesehatan nasional akibat penyakit tidak menular (PTM) di masa depan.

Secara sosiologis, imbauan IDAI ini menuntut adanya ekosistem pendukung. Pemerintah daerah diharapkan dapat menyediakan lebih banyak ruang terbuka hijau dan taman bermain yang aman bagi anak, sehingga orang tua memiliki alternatif aktivitas fisik di luar rumah. Di sisi lain, sektor pendidikan anak usia dini juga perlu memperkuat kurikulum yang berbasis aktivitas motorik dan interaksi sosial tanpa ketergantungan pada perangkat digital.

IDAI juga berencana untuk memperluas edukasi ini melalui jaringan dokter anak di seluruh Indonesia, puskesmas, dan posyandu. Edukasi mengenai bahaya gawai akan diintegrasikan ke dalam materi pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak secara rutin. Tujuannya adalah untuk menciptakan kesadaran kolektif bahwa gawai bukanlah mainan untuk bayi, melainkan alat komunikasi orang dewasa yang memiliki risiko kesehatan jika diberikan kepada anak yang belum cukup umur.

Kesimpulan dan Harapan

Sebagai penutup dalam pernyataan di HUT ke-72 tersebut, IDAI mengajak seluruh komponen bangsa untuk kembali pada pola asuh yang mengedepankan kehadiran fisik dan emosional. Teknologi memang tidak bisa dihindari, namun penggunaannya pada anak harus dilakukan dengan sangat bijaksana dan berbasis pada bukti ilmiah kedokteran.

"Membatasi gawai memang sulit di era sekarang, tetapi ini adalah investasi terbaik yang bisa diberikan orang tua untuk masa depan anak mereka. Mari kita biarkan anak-anak kita tumbuh dengan bergerak, berinteraksi, dan mengenal dunia nyata secara langsung," pungkas Dr. Piprim. Dengan adanya komitmen dari orang tua dan dukungan dari para tenaga medis, diharapkan angka gangguan perkembangan dan penyakit metabolik pada anak di Indonesia dapat ditekan secara signifikan dalam tahun-tahun mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Strava Transformasi Pengalaman Aktivitas Luar Ruang Melalui Peluncuran Rangkaian Fitur Hiking Komprehensif dan Integrasi Teknologi Navigasi Mutakhir

14 Juni 2026 - 06:09 WIB

Jakarta Sky Fun Run 2026 Transformasi Koridor 13 Menjadi Jalur Hijau dan Simbol Modernitas Menjelang Usia 500 Tahun Ibu Kota

13 Juni 2026 - 18:09 WIB

Pesona Banyuwangi Pikat Raline Shah: Upaya Memperkuat Citra Pariwisata Berbasis Budaya dan Alam di Ujung Timur Jawa

13 Juni 2026 - 12:09 WIB

Strategi Wuling Motors Memperkuat Penetrasi Pasar Melalui Varian Plug-in Hybrid Electric Vehicle sebagai Jembatan Transisi Otomotif Nasional

12 Juni 2026 - 18:09 WIB

Film Horor Lastri Arwah Kembang Desa Dijadwalkan Tayang di Bioskop Nasional Mulai Juli 2026

12 Juni 2026 - 12:09 WIB

Trending di Hiburan