Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Foto Jogja

Dinpar DIY: Fesyen merupakan subsektor ekraf potensial di masa depan

badge-check


					Dinpar DIY: Fesyen merupakan subsektor ekraf potensial di masa depan Perbesar

Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinpar DIY) secara resmi menetapkan sektor fesyen sebagai salah satu pilar utama ekonomi kreatif yang memiliki daya ungkit ekonomi paling signifikan untuk masa depan. Berdasarkan data terbaru, subsektor ini telah membuktikan resiliensinya dan kini diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi wilayah Yogyakarta, melengkapi sektor pariwisata tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung daerah tersebut.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinpar DIY, Iwan Pramana, dalam keterangannya di Yogyakarta, Rabu (17/6/2026), menegaskan bahwa kebijakan ini bukan sekadar respons terhadap tren sesaat. Melainkan, sebuah langkah strategis yang didasarkan pada data statistik empiris yang menunjukkan kontribusi nyata industri fesyen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) DIY.

Transformasi Ekonomi Kreatif dalam PDRB DIY

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menjadi landasan utama bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan ini. Sektor ekonomi kreatif secara keseluruhan tercatat memberikan kontribusi sebesar 11,8 persen terhadap total PDRB DIY. Di dalam ekosistem kreatif tersebut, fesyen menempati posisi yang sangat strategis. Bersama dengan subsektor kriya, fesyen tercatat sebagai penyumbang terbesar kedua setelah sektor kuliner.

Posisi ini sangat krusial mengingat Yogyakarta dikenal sebagai destinasi budaya dan pendidikan yang memiliki basis kreativitas tinggi. Dominasi sektor fesyen tidak terlepas dari profil pelaku usahanya. Tercatat ada sekitar 15 ribu unit usaha fesyen yang beroperasi di wilayah DIY, di mana 97 persen di antaranya dikategorikan sebagai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Angka ini menunjukkan bahwa industri fesyen di Yogyakarta adalah industri yang sangat inklusif dan berbasis pada pemberdayaan ekonomi masyarakat akar rumput.

Tantangan dan Paradoks Industri Kreatif Lokal

Meskipun memiliki jumlah pelaku usaha yang masif, industri fesyen di Yogyakarta menghadapi tantangan struktural yang cukup kompleks. Iwan Pramana menyoroti bahwa masalah utama bagi para pelaku UMKM bukanlah minimnya kreativitas atau kurangnya ide-ide inovatif. Sebaliknya, tantangan utama terletak pada aksesibilitas terhadap pasar yang lebih luas dan keterbatasan permodalan untuk melakukan ekspansi.

Banyak desainer dan produsen lokal yang memiliki kualitas produk setara dengan standar internasional, namun terhambat oleh jalur distribusi dan literasi bisnis yang memadai. Selain itu, masalah perlindungan kekayaan intelektual (KI) masih menjadi isu yang perlu mendapatkan perhatian serius. Dalam ekonomi kreatif modern, nilai tambah sebuah produk fesyen tidak hanya ditentukan oleh kualitas kain atau jahitan, melainkan juga oleh cerita di balik produk (storytelling) dan kekuatan merek yang terlindungi secara hukum.

Strategi Penguatan Ekosistem oleh Dinpar DIY

Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Daerah DIY melalui Dinpar telah menginisiasi pendekatan penguatan ekosistem secara menyeluruh. Pendekatan ini tidak lagi bersifat top-down atau sekadar memberikan bantuan sosial, melainkan berfokus pada peningkatan kapasitas bisnis yang berkelanjutan.

Beberapa program strategis yang telah dan sedang dijalankan antara lain:

Dinpar DIY: Fesyen merupakan subsektor ekraf potensial di masa depan
  1. Rupacipta Creative Bootcamp: Sebuah program inkubasi intensif yang dirancang untuk membekali pelaku usaha fesyen dengan keterampilan manajemen bisnis, desain produk yang relevan dengan tren global, serta teknik pemasaran digital.
  2. Coaching Clinic dan Mentoring: Bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, pemerintah daerah menyelenggarakan sesi mentoring bisnis yang menghubungkan pelaku usaha dengan praktisi industri berpengalaman.
  3. Fasilitasi Akses Pasar: Pemerintah bertindak sebagai fasilitator melalui partisipasi dalam berbagai pameran berskala nasional maupun internasional, seperti Jogja Fashion Week (JFW) yang secara konsisten menjadi etalase produk unggulan daerah.
  4. Business Matching: Mempertemukan para perajin dan desainer lokal dengan pemilik modal serta peritel besar untuk membuka jalur perdagangan yang lebih efisien.
  5. Digitalisasi Usaha: Mendorong transformasi digital agar pelaku fesyen dapat mengoptimalkan platform marketplace, media sosial, dan teknologi manajemen stok yang lebih efektif.

Pentingnya Kekayaan Intelektual dan Branding

Di era ekonomi berbasis pengetahuan, Dinpar DIY menekankan pentingnya penguatan branding. Persaingan di pasar fesyen saat ini sangat ketat, tidak hanya antar sesama desainer lokal, tetapi juga dengan produk-produk impor yang membanjiri pasar digital. Oleh karena itu, perlindungan kekayaan intelektual menjadi instrumen pertahanan sekaligus alat untuk meningkatkan nilai tawar produk.

Pemerintah terus mendorong pelaku UMKM untuk mendaftarkan merek dan hak cipta desain mereka. Hal ini penting agar karya-karya kreatif dari Yogyakarta tidak mudah diklaim oleh pihak lain dan memiliki posisi hukum yang kuat saat bersaing di pasar global. Dengan adanya perlindungan hukum, produk fesyen DIY akan memiliki identitas yang kuat, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepercayaan konsumen baik di tingkat nasional maupun internasional.

Implikasi Ekonomi dan Masa Depan Fesyen DIY

Jika dikelola dengan optimal, subsektor fesyen di Yogyakarta memiliki potensi untuk menjadi penggerak utama ekonomi daerah. Keberhasilan dalam menumbuhkan industri ini akan memberikan efek domino (multiplier effect) yang positif. Pertama, penciptaan lapangan kerja baru bagi tenaga kerja terampil di bidang menjahit, desain, hingga pemasaran digital. Kedua, peningkatan pendapatan per kapita pelaku usaha yang mayoritas adalah sektor UMKM.

Secara makro, posisi Yogyakarta sebagai kota kreatif berbasis budaya akan semakin terkukuhkan. Fesyen bukan lagi sekadar pakaian, melainkan medium untuk mengekspresikan identitas lokal yang dipadukan dengan gaya hidup kontemporer. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan sektor swasta menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa fesyen DIY dapat terus relevan di masa depan.

Iwan Pramana menambahkan bahwa fokus pemerintah ke depan bukan lagi sekadar menambah jumlah pelaku usaha, melainkan melakukan kurasi untuk mendorong pelaku usaha yang ada agar "naik kelas". Upaya ini mencakup perbaikan kualitas produk, efisiensi rantai pasok, hingga penguasaan teknologi.

Harapan dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah DIY optimis bahwa dengan dukungan kebijakan yang tepat, industri fesyen di Yogyakarta akan mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan. Peran pemerintah saat ini adalah menjadi jembatan yang menghubungkan kreativitas para pelaku usaha dengan peluang pasar, sumber pembiayaan, teknologi, dan jejaring bisnis.

Sebagai penutup, keberhasilan sektor fesyen di masa depan sangat bergantung pada sinergi semua pemangku kepentingan. Jika ekosistem ini terbentuk dengan kokoh, tidak menutup kemungkinan Yogyakarta akan menjadi salah satu pusat fesyen nasional yang diakui dunia, dengan tetap memegang teguh nilai-nilai budaya lokal yang menjadi jiwa dari setiap karya yang dihasilkan.

Dinamika yang terjadi di industri fesyen DIY mencerminkan tantangan sekaligus peluang bagi ekonomi kreatif Indonesia secara umum. Dengan fondasi UMKM yang kuat, DIY memiliki modal sosial yang besar untuk terus berinovasi. Langkah-langkah strategis yang diambil Dinpar DIY saat ini menjadi bukti nyata bahwa pemerintah daerah mulai serius menggarap sektor-sektor non-komoditas sebagai penopang utama masa depan ekonomi daerah yang lebih tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Enam Kementerian Bersatu Meluncurkan Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak demi Menekan Angka Kekerasan

4 Agustus 2026 - 14:29 WIB

Alfamart dan Cussons Baby Perkuat Akses Kesehatan Anak Melalui Program Sahabat Posyandu di Seluruh Indonesia

26 Juli 2026 - 00:22 WIB

Harmonisasi Budaya dan Identitas Bangsa dalam Perayaan Hari Kebaya Nasional Ketiga di Yogyakarta

25 Juli 2026 - 18:22 WIB

Mata Air Kali Wonosari Menjadi Oase Penopang Kehidupan di Tengah Krisis Kekeringan Gunungkidul

25 Juli 2026 - 12:22 WIB

Pemkab Bantul Gelar Job Fair 2026 Sediakan 1.000 Lowongan untuk Tekan Angka Pengangguran

25 Juli 2026 - 00:22 WIB

Trending di Foto Jogja