BANTUL, bisnisjogja.id – Di tengah pesatnya modernisasi dan gempuran ekonomi kreatif berbasis digital, keberadaan para seniman tradisi sering kali terpinggirkan saat usia senja menjemput. Sebuah aksi kemanusiaan yang menyentuh hati baru saja berlangsung di Dusun Trukan, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul. Anggota Komisi VII DPR RI, Gandung Pardiman, melalui lembaga sosial Yayasan GPC, menyambangi kediaman Lukman (90), seorang maestro sekaligus tokoh seni Jathilan yang telah mengabdi pada kebudayaan selama puluhan tahun. Kunjungan ini menjadi simbol pentingnya keberpihakan negara dan elemen masyarakat terhadap pelestari identitas lokal yang kini tengah berjuang melawan keterbatasan fisik.
Konteks Latar Belakang: Seniman di Masa Senja
Lukman bukanlah sekadar warga biasa di Dusun Trukan. Selama puluhan tahun, ia menjadi figur sentral dalam perkembangan seni Jathilan, sebuah bentuk pertunjukan kuda lumping yang menjadi akar kebudayaan masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Bantul. Namun, tiga tahun terakhir menjadi masa yang berat bagi sang seniman. Akibat faktor usia yang menginjak 90 tahun, Lukman mengalami kelumpuhan yang membuatnya terkurung di dalam kamar.
Kondisi yang dialami Lukman mencerminkan realitas yang sering ditemui di pedesaan, di mana banyak pelaku seni tradisional tidak memiliki jaminan hari tua yang memadai. Seni Jathilan di Yogyakarta sendiri merupakan bagian dari ekosistem pariwisata berbasis budaya yang menyumbang nilai ekonomi besar bagi daerah. Namun, ironisnya, para seniman yang telah membangun fondasi budaya tersebut sering kali hidup dalam keterbatasan ekonomi saat tidak lagi mampu tampil di atas panggung.
Kronologi Kunjungan dan Aksi Kemanusiaan
Kunjungan yang dilakukan oleh Gandung Pardiman didampingi oleh tim Yayasan GPC serta disaksikan oleh jajaran perangkat desa setempat, termasuk Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, dan Dukuh Trukan, Andriyanto. Turut hadir dalam rombongan tersebut Anggota DPRD DIY, Syarif Guska Laksana, yang meninjau langsung kondisi lapangan.
Prosesi penyerahan bantuan berlangsung dalam suasana yang emosional. Gandung Pardiman secara simbolis memberikan satu unit kursi roda, paket kebutuhan pokok (sembako), serta santunan uang tunai. Kursi roda tersebut menjadi instrumen krusial bagi Lukman, yang selama tiga tahun terakhir kehilangan mobilitasnya. Dalam momen tersebut, Lukman menunjukkan gestur yang mengharukan saat ia menyerahkan kembali sebagian santunan yang diterimanya kepada sang istri, sebuah cerminan tanggung jawab dan kasih sayang yang tetap terjaga di tengah keterpurukan kondisi fisik.
Analisis Sosiologis: Mengapa Aksi Ini Penting?
Secara sosiologis, kehadiran tokoh publik di kediaman warga lanjut usia (lansia) seperti Lukman memiliki implikasi yang melampaui bantuan materiil. Pertama, ini adalah bentuk pengakuan eksistensi. Bagi seorang seniman, merasa dilupakan oleh masyarakat dan negara adalah beban psikologis yang berat. Dengan adanya perhatian dari wakil rakyat, secara tidak langsung memberikan validasi bahwa pengabdian Lukman di dunia seni selama ini dihargai oleh generasi setelahnya.
Kedua, aksi ini menjadi model "jaring pengaman sosial" informal. Di Indonesia, sistem jaminan sosial bagi seniman tradisional masih sangat terbatas. Sering kali, perlindungan bagi mereka bergantung pada kepedulian komunitas atau inisiatif personal tokoh masyarakat. Sinergi antara lembaga seperti Yayasan GPC dengan pemerintah daerah diharapkan dapat memicu kebijakan yang lebih sistematis dalam mendata dan membantu seniman sepuh yang kurang mampu.
Pandangan Pihak Terkait
Gandung Pardiman dalam pernyataannya menekankan bahwa dukungan ini bukan sekadar urusan charity atau amal, melainkan investasi moral. Ia menyatakan bahwa ekosistem budaya Yogyakarta tidak akan berdiri tegak tanpa para pendahulu yang menjaga tradisi.
"Ini adalah bentuk dukungan moral. Kami ingin beliau tahu bahwa beliau tidak sendirian. Kursi roda ini adalah alat untuk membuka akses kembali bagi beliau agar bisa berinteraksi dengan lingkungan luar, tidak terus-menerus di dalam kamar," ujar Gandung.
Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah, memberikan apresiasi atas langkah tersebut. Ia menilai bahwa kehadiran tokoh tingkat nasional hingga daerah ke tingkat dusun memberikan dampak psikologis yang positif bagi keluarga. "Bantuan ini sangat berarti. Tidak hanya dari sisi nilai barangnya, tetapi kehadiran dan perhatian dari Bapak Gandung memberikan semangat baru bagi keluarga Pak Lukman," jelas Titik.
Dukuh Trukan, Andriyanto, menambahkan bahwa kunjungan ini menjadi bukti nyata kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat. Baginya, pendekatan personal yang dilakukan oleh wakil rakyat merupakan kunci utama dalam memahami kebutuhan warga yang paling mendasar.
Dampak Ekonomi dan Budaya: Sebuah Integrasi
Jika kita melihat dari perspektif ekonomi, Yogyakarta adalah salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Indonesia. Keberlangsungan ekonomi kreatif di wilayah ini sangat bergantung pada "nyawa" tradisi yang terus dihidupi oleh seniman-seniman lokal. Jika para penjaga tradisi seperti Lukman tidak mendapatkan perhatian yang layak, maka akan terjadi degradasi kualitas dan kuantitas seni budaya di masa depan.
Bantuan sembako dan uang tunai yang diberikan memang bersifat jangka pendek, namun secara makro, aksi ini menyoroti perlunya integrasi antara kebijakan pengentasan kemiskinan ekstrem dengan pemberdayaan pelaku seni. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sering menunjukkan bahwa lansia di wilayah pedesaan merupakan kelompok rentan. Pendekatan personal yang dilakukan Gandung Pardiman dapat dijadikan pilot project atau model percontohan bagi pihak lain—baik itu pelaku usaha melalui dana CSR (Corporate Social Responsibility) maupun organisasi masyarakat—untuk menyalurkan bantuan yang tepat sasaran.
Sinergi Antar Lembaga dalam Aksi Sosial
Kehadiran Anggota DPRD DIY, Syarif Guska Laksana, dalam kegiatan tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas jenjang pemerintahan. Sinergi antara anggota legislatif pusat (DPR RI) dan daerah (DPRD) memungkinkan adanya sinkronisasi antara aspirasi warga di tingkat dusun dengan kebijakan di tingkat yang lebih tinggi. Model kolaborasi ini menjadi krusial agar bantuan tidak tumpang tindih dan benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini menjadi pengingat bagi sektor swasta yang bergerak di bidang pariwisata di Yogyakarta. Banyak pelaku bisnis yang meraup keuntungan dari "menjual" keunikan budaya Yogyakarta kepada wisatawan, namun sering kali lupa untuk berkontribusi kembali kepada ekosistem yang menopang budaya tersebut. Aksi sosial yang dilakukan Yayasan GPC diharapkan dapat menggugah kesadaran pelaku usaha untuk lebih aktif dalam skema tanggung jawab sosial yang berorientasi pada pelestarian pelaku seni.
Menuju Keberlanjutan Perhatian bagi Lansia
Ke depan, tantangan utama adalah bagaimana memastikan bantuan tidak berhenti pada satu momen seremonial saja. Perlu adanya sistem pendampingan berkelanjutan bagi seniman sepuh. Hal ini dapat mencakup pemantauan kesehatan berkala, aksesibilitas sarana pendukung (seperti kursi roda yang diberikan), hingga dukungan psikososial agar mereka tetap merasa menjadi bagian dari komunitas.
Kasus Lukman di Dusun Trukan adalah sebuah mikrokosmos dari realitas yang lebih luas. Dengan populasi lansia di Indonesia yang terus meningkat, kebijakan yang bersifat personal dan humanis seperti yang dilakukan Gandung Pardiman menjadi sangat relevan. Budaya bukanlah benda mati; ia hidup di dalam diri manusia. Oleh karena itu, merawat pelaku budaya sama artinya dengan merawat kebudayaan itu sendiri agar tidak luntur oleh arus zaman.
Kesimpulan
Aksi yang dilakukan oleh Gandung Pardiman dan Yayasan GPC di Dusun Trukan, Sriharjo, bukan hanya sekadar pemberian bantuan sosial, melainkan sebuah pesan kuat tentang etika dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Di balik gemerlap kemajuan ekonomi kreatif, terdapat narasi-narasi tentang pengabdian yang perlu dijaga keberlangsungannya. Dengan memberikan perhatian pada Lukman, masyarakat diajak kembali untuk menoleh ke belakang, menghargai jasa para sesepuh, dan memastikan bahwa mereka yang telah berjasa bagi identitas bangsa tidak terpinggirkan di masa tua mereka. Harapannya, aksi ini menjadi pemicu bagi kebijakan dan inisiatif yang lebih luas, sehingga ekosistem budaya di Yogyakarta tetap terjaga, baik dari sisi nilai keseniannya maupun dari sisi kesejahteraan para penggeraknya.









