Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Foto Jogja

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya Menegaskan Yogyakarta Sebagai Barometer Utama Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional

badge-check


					Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya Menegaskan Yogyakarta Sebagai Barometer Utama Pengembangan Ekonomi Kreatif Nasional Perbesar

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kembali menancapkan posisinya sebagai lokomotif utama dalam peta ekonomi kreatif (ekraf) Indonesia. Dalam kunjungan kerjanya pada Sabtu, 13 Juni 2026, Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Teuku Riefky Harsya, secara terbuka menyebut Yogyakarta sebagai panutan bagi pengembangan ekosistem kreatif di berbagai penjuru tanah air. Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian program penguatan ekonomi kreatif daerah bertajuk "IDE.IND", sebuah inisiatif strategis kementerian untuk menjembatani potensi lokal dengan pasar global.

Pengakuan ini bukan sekadar apresiasi retoris, melainkan didasarkan pada integrasi yang kuat antara kekayaan budaya tradisional dengan modernitas inovasi. Menurut Riefky, Yogyakarta memiliki modalitas yang jarang dimiliki daerah lain, yakni ekosistem yang mampu menjadikan budaya sebagai hulu, sementara hilirnya diperkuat melalui sentuhan kreativitas, teknologi, dan inovasi yang berkelanjutan.

Fondasi Budaya sebagai Pilar Ekonomi

Kekuatan utama Yogyakarta terletak pada kemampuan masyarakatnya dalam mengonversi nilai-nilai budaya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Riefky menjelaskan bahwa ekonomi kreatif bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari transformasi nilai-nilai kultural yang diolah sedemikian rupa melalui kreativitas manusia.

Dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, Yogyakarta telah ditetapkan sebagai satu dari 15 provinsi prioritas yang menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif nasional. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk memperkuat struktur perekonomian Indonesia agar tidak lagi terlalu bergantung pada komoditas mentah, melainkan beralih ke ekonomi berbasis nilai tambah (added value).

Kementerian Ekraf memandang peran Yogyakarta sangat krusial dalam upaya nasional untuk meningkatkan investasi, mendorong ekspor produk kreatif, serta menyerap tenaga kerja yang berkualitas. Keberhasilan Yogyakarta dalam melakukan hilirisasi produk-produk kreatif menjadi model yang kini coba direplikasi di provinsi lain.

Strategi Akselerasi dan Inkubasi Pelaku Usaha

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan ekonomi kreatif adalah bagaimana pelaku usaha lokal dapat naik kelas dari skala mikro menjadi nasional, bahkan global. Kementerian Ekraf saat ini tengah mengintensifkan program kurasi untuk membantu jenama-jenama lokal Yogyakarta.

Proses kurasi ini dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tujuannya adalah memastikan bahwa produk-produk kreatif yang dihasilkan tidak hanya memiliki estetika tinggi, tetapi juga memenuhi standar industri, memiliki manajemen bisnis yang mumpuni, serta akses pasar yang luas. Dengan dukungan regulasi dan pendampingan, diharapkan pelaku usaha di Yogyakarta dapat menjadi pionir dalam penetrasi pasar internasional, yang pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan devisa negara.

Perspektif Pemerintah Kota Yogyakarta: Mengganti SDA dengan SDM

Di sisi lain, Walikota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, memberikan pandangan yang sangat pragmatis mengenai arah pembangunan ekonomi daerahnya. Dengan keterbatasan wilayah dan ketiadaan sumber daya alam (SDA), Yogyakarta tidak memiliki pilihan lain kecuali bertumpu pada sumber daya manusia (SDM).

Secara administratif, penduduk Kota Yogyakarta tercatat sekitar setengah juta jiwa. Namun, jika dilihat dari kepadatan aktivitas harian, jumlah orang yang berada di kota ini bisa mencapai satu juta jiwa akibat tingginya arus pendatang, baik pelajar, pekerja, maupun wisatawan. Karakteristik penduduk yang heterogen inilah yang justru menjadi bahan bakar kreativitas yang tak pernah habis.

Hasto menekankan bahwa strategi ekonomi daerah ke depan akan lebih inklusif. Ia secara khusus menyoroti pentingnya pengembangan sektor ekonomi kreatif yang mampu memberdayakan kelompok rentan, seperti perempuan dan lanjut usia (lansia). Dengan memanfaatkan keterampilan tradisional yang dimiliki, para lansia dan perempuan di Yogyakarta dapat terus berkontribusi pada ekonomi keluarga tanpa harus meninggalkan nilai-nilai luhur yang mereka pegang.

Menteri Ekraf: Yogyakarta panutan pengembangan ekraf di Indonesia

Transformasi Event Menjadi Penggerak Ekonomi

Keberhasilan ekonomi kreatif di Yogyakarta juga tidak lepas dari kemampuan daerah tersebut dalam menyelenggarakan berbagai perhelatan kreatif yang berstandar internasional. Hasto menyebutkan beberapa event besar seperti Custom Fest, Wayang Jogja Night Carnival (WJNC), dan berbagai festival seni lainnya sebagai motor penggerak kunjungan wisatawan.

Data menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan asing merupakan salah satu indikator utama kesuksesan ekonomi kreatif. Ketika sebuah festival mampu menarik atensi internasional, maka di situlah terjadi perputaran uang, peningkatan okupansi hotel, pertumbuhan UMKM kuliner, hingga jasa kreatif lainnya seperti desain dan produksi kreatif.

Event-event ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang bagi para budayawan dan seniman lokal untuk memamerkan karya sekaligus bertransaksi secara bisnis. Inilah yang disebut Riefky sebagai "hilirisasi nilai ekonomi" yang sesungguhnya: mengubah pertunjukan seni menjadi pengalaman yang bernilai jual tinggi.

Implikasi Ekonomi dan Masa Depan Ekraf Indonesia

Secara makro, apa yang dilakukan di Yogyakarta memiliki implikasi luas bagi ekonomi Indonesia. Jika pola pengembangan yang diterapkan di Yogyakarta berhasil direplikasi di daerah lain, maka ketergantungan Indonesia pada sektor-sektor konvensional akan berkurang.

Beberapa poin implikasi yang dapat dipetakan adalah sebagai berikut:

  1. Peningkatan Daya Saing: Produk kreatif Indonesia akan semakin dikenal di pasar internasional karena memiliki narasi budaya yang unik.
  2. Penciptaan Lapangan Kerja: Ekonomi kreatif bersifat padat karya namun juga padat modal intelektual, sehingga sangat relevan bagi bonus demografi Indonesia.
  3. Pemerataan Ekonomi: Dengan mendorong setiap daerah mengembangkan potensi kreatif lokalnya, maka pusat pertumbuhan ekonomi tidak akan menumpuk di kota-kota besar saja, melainkan menyebar ke daerah-daerah.

Namun, tantangan ke depan tetaplah besar. Infrastruktur digital, perlindungan kekayaan intelektual (HAKI), serta akses permodalan bagi pelaku kreatif menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh Kementerian Ekraf bersama pemerintah daerah.

Kesimpulan dan Harapan

Yogyakarta telah membuktikan bahwa kreativitas adalah aset yang tidak akan pernah habis dieksploitasi, selama ekosistemnya dijaga dengan baik. Kunjungan Menteri Teuku Riefky Harsya ke Yogyakarta menegaskan bahwa pemerintah pusat menaruh harapan besar pada daerah ini untuk terus menjadi laboratorium inovasi bagi ekonomi kreatif nasional.

Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan komunitas kreatif di Yogyakarta diharapkan menjadi model tata kelola ekonomi kreatif di Indonesia. Dengan fokus pada pengembangan SDM, hilirisasi budaya, dan penguatan jaringan pasar global, Yogyakarta berada di jalur yang tepat untuk memimpin transformasi ekonomi kreatif Indonesia menuju tahun-tahun mendatang yang penuh tantangan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Hasto Wardoyo, ketiadaan sumber daya alam bukanlah hambatan, melainkan pemicu untuk berpikir lebih kreatif. Di bawah arahan kebijakan yang tepat dan dukungan ekosistem yang sehat, Yogyakarta akan terus menjadi kiblat bagi siapa saja yang ingin belajar bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi yang tangguh dan berkelanjutan bagi bangsa.

Dengan berjalannya program "IDE.IND" dan berbagai inisiatif pendampingan, diharapkan pula tercipta lebih banyak jenama nasional yang lahir dari tangan-tangan kreatif masyarakat Yogyakarta. Masa depan ekonomi Indonesia bukan lagi tentang berapa banyak sumber daya alam yang kita keruk, melainkan tentang seberapa besar kreativitas yang kita olah menjadi produk yang dicintai dunia. Yogyakarta telah memulainya, dan kini giliran daerah lain untuk mengikuti jejak tersebut demi Indonesia yang lebih kreatif dan sejahtera.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Gubernur DIY: Pelestarian purbakala merawat kesadaran asal usul bangsa

14 Juni 2026 - 00:22 WIB

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya Dorong Transformasi Ekonomi Daerah Melalui Aktivasi Desa Kreatif dan Kreatif Hub

13 Juni 2026 - 18:22 WIB

114 Atlet dari Enam Negara ASEAN Ramaikan Kejuaraan Tenis Meja TTACC 2026 di Bandung

13 Juni 2026 - 12:22 WIB

KPK periksa Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch Iskandar Sitorus

13 Juni 2026 - 06:22 WIB

ANTARA Sharing Session di ISI Yogyakarta Membedah Realitas di Balik Foto Berita dan Ketangguhan Mental Jurnalis

13 Juni 2026 - 00:22 WIB

Trending di Foto Jogja