Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Biro Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem literasi media melalui program tahunan "ANTARA Sharing Session". Kali ini, kolaborasi strategis dijalin dengan Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dalam rangkaian Pekan Fotografi Sewon (PFS) ke-19. Acara yang dihelat pada Jumat (12/6/2026) ini menghadirkan pewarta foto kawakan ANTARA, Andreas Fitri Atmoko, untuk membedah sisi gelap dan tantangan emosional yang menyelimuti dunia foto jurnalistik di bawah tajuk "Di Balik Foto Berita: Risiko, Trauma, dan Pilihan Bertahan".
Menyingkap Tabir Realitas di Lapangan
Dalam dunia fotografi jurnalistik, publik sering kali hanya disuguhi hasil akhir berupa citra yang estetik, informatif, atau menggugah empati. Namun, di balik setiap bingkai foto yang diterbitkan, terdapat proses panjang yang melibatkan risiko fisik hingga beban psikologis yang berat. Andreas Fitri Atmoko, yang memiliki portofolio panjang dalam meliput berbagai peristiwa nasional, memaparkan bahwa foto jurnalistik bukan sekadar menangkap momen, melainkan tanggung jawab moral terhadap subjek yang difoto dan publik yang mengonsumsi informasi tersebut.
Andreas menyoroti perbedaan mendasar antara fotografi seni dan fotografi jurnalistik. Dalam foto berita, kejujuran realitas menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar. Ia menceritakan bagaimana pengalaman mendokumentasikan bencana alam skala besar, seperti erupsi Gunung Merapi yang berulang kali memuntahkan awan panas, hingga banjir besar di Kabupaten Kudus, menuntut kesiapan mental yang luar biasa. Baginya, jurnalis seringkali harus menanggalkan perasaan pribadinya sejenak demi memastikan pesan dari lokasi bencana tersampaikan secara akurat kepada masyarakat luas.
Kronologi dan Tantangan Etika Jurnalisme Bencana
Sejarah panjang liputan bencana di Indonesia, mulai dari tsunami Aceh 2004 hingga bencana geologi di Yogyakarta, telah menjadi laboratorium hidup bagi para jurnalis foto. Dalam sesi tersebut, Andreas membedah kronologi bagaimana seorang jurnalis harus membuat keputusan dalam hitungan detik di tengah situasi chaos. Ketika berada di zona bencana, seorang pewarta foto dihadapkan pada dilema etika: antara mengabadikan momen kemanusiaan yang tragis atau memberikan bantuan darurat kepada korban.
Tekanan emosional ini, yang sering disebut sebagai trauma sekunder, menjadi topik sentral dalam diskusi. Andreas berbagi perspektif mengenai pentingnya resiliensi atau ketangguhan mental bagi praktisi media. Ia menekankan bahwa risiko yang dihadapi bukan hanya bahaya fisik seperti reruntuhan bangunan atau paparan penyakit di lokasi banjir, tetapi juga dampak psikologis jangka panjang setelah melihat penderitaan manusia secara berulang. Ketangguhan ini tidak datang dengan sendirinya, melainkan melalui pelatihan berkelanjutan dan pemahaman mendalam mengenai batasan profesi.
Pentingnya Literasi Media bagi Generasi Muda
Program yang diinisiasi oleh Biro LKBN ANTARA DIY ini bukan sekadar ajang berbagi pengalaman biasa. Nur Istibsaroh, Kepala Biro LKBN ANTARA DIY, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian integral dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). ANTARA memandang bahwa edukasi mengenai realitas industri media adalah kunci untuk mencetak generasi jurnalis masa depan yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan empati yang tinggi.
Dalam konteks perkembangan teknologi informasi, di mana setiap orang kini bisa menjadi produsen konten melalui gawai mereka, pemahaman mengenai etika jurnalistik menjadi semakin relevan. Nur menegaskan bahwa meskipun alat fotografi semakin mudah diakses, nilai-nilai dasar jurnalisme—seperti akurasi, keberimbangan, dan penghormatan terhadap martabat manusia—harus tetap dijaga. Melalui sesi ini, mahasiswa diharapkan dapat menyerap wawasan praktis yang tidak mereka temukan di dalam ruang kelas konvensional.

Integrasi dalam Pekan Fotografi Sewon #19
Kehadiran ANTARA di kampus ISI Yogyakarta bertepatan dengan perhelatan Pekan Fotografi Sewon (PFS) #19. Acara ini merupakan ajang unjuk gigi bagi mahasiswa Jurusan Fotografi ISI Yogyakarta, yang menampilkan karya-karya tugas akhir dari 32 mahasiswa. Pameran yang berlangsung selama empat hari, dari 11 hingga 14 Juni 2026, di Galeri Pandeng dan Gedung Fotografi ISI Yogyakarta ini, menjadi wadah bagi para calon seniman dan jurnalis untuk mengeksplorasi bahasa visual mereka.
Sinergi antara praktisi profesional dari ANTARA dengan akademisi muda di ISI Yogyakarta menciptakan ruang dialog yang dinamis. Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teknik komposisi atau penggunaan perangkat lunak penyuntingan foto, tetapi juga mendiskusikan bagaimana sebuah karya fotografi dapat mempengaruhi opini publik dan membawa perubahan sosial yang positif.
Respon Mahasiswa dan Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Respon antusias terlihat dari para peserta, salah satunya Rizmi Azza Aqiffina. Ia mengungkapkan bahwa sesi ini memberikan perspektif baru yang lebih "membumi" mengenai profesi jurnalis foto. Menurutnya, mendengarkan cerita langsung dari pelaku di lapangan mengubah cara pandang mereka terhadap sebuah foto berita. Foto yang sebelumnya hanya dilihat sebagai gambar statis, kini dimaknai sebagai hasil dari sebuah proses panjang yang melibatkan keberanian, kalkulasi risiko, dan keteguhan hati.
Dampak jangka panjang dari kegiatan seperti ini sangat signifikan. Bagi dunia pendidikan seni dan media, keterlibatan industri media arus utama memberikan gambaran nyata mengenai ekosistem kerja profesional. Hal ini membantu mengurangi kesenjangan (gap) antara ekspektasi mahasiswa dengan realitas dunia kerja. Mahasiswa menjadi lebih siap secara mental untuk menghadapi tantangan industri media yang kian kompetitif dan menuntut adaptabilitas tinggi.
Analisis: Tantangan Masa Depan Foto Jurnalisme
Di era disrupsi digital dan dominasi kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan konten visual, profesi pewarta foto menghadapi tantangan baru yang eksistensial. Keaslian (authenticity) menjadi komoditas yang paling berharga. Foto berita yang dihasilkan oleh jurnalis profesional memiliki nilai verifikasi yang tidak dimiliki oleh konten hasil AI. Oleh karena itu, diskusi mengenai "realitas di balik foto berita" menjadi sangat krusial.
Ketangguhan jurnalis dalam menjaga integritas visual di tengah banjir informasi menjadi benteng terakhir bagi kredibilitas media. Analisis menunjukkan bahwa ke depan, jurnalis foto tidak hanya dituntut menguasai perangkat kamera, tetapi juga harus memiliki pemahaman mendalam tentang manajemen trauma, etika digital, dan kemampuan untuk bercerita (storytelling) yang menyentuh sisi humanis.
Kesimpulannya, kegiatan "ANTARA Sharing Session" di ISI Yogyakarta bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah investasi intelektual bagi talenta muda di bidang fotografi. Dengan memadukan pengalaman lapangan, teori jurnalisme, dan diskusi etika, kegiatan ini berhasil memetakan realitas profesi pewarta foto yang kompleks. Diharapkan, sinergi antara LKBN ANTARA dan institusi pendidikan tinggi seperti ISI Yogyakarta akan terus berlanjut, guna memastikan bahwa masa depan jurnalisme foto di Indonesia tetap diisi oleh praktisi yang memiliki keahlian teknis mumpuni serta kedalaman moral yang kokoh.
Keberlanjutan program semacam ini menjadi urgensi di tengah kebutuhan masyarakat akan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga jujur dan bertanggung jawab. Dengan memahami risiko, trauma, dan pilihan bertahan yang ada di balik sebuah foto, para mahasiswa tidak hanya belajar menjadi fotografer yang lebih baik, tetapi juga menjadi manusia yang lebih peka terhadap dinamika sosial yang terjadi di sekitar mereka.









