Pergeseran paradigma dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) di Indonesia saat ini tengah mengalami evolusi signifikan. Fokus utama lembaga filantropi Islam kini tidak lagi terbatas pada penyaluran bantuan sosial yang bersifat konsumtif atau sekali pakai, melainkan bergerak menuju pemberdayaan ekonomi produktif yang berkelanjutan. Langkah strategis ini tercermin dalam upaya Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang baru saja menghelat pelatihan digital marketing bagi pelaku usaha mikro ayam potong binaan LazisMU. Program yang diinisiasi pada Minggu (17/05/2026) ini menjadi tonggak penting dalam upaya mentransformasi mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat) melalui penguatan kapasitas bisnis.
Sinergi Akademisi dan Praktisi dalam Pemberdayaan Ekonomi
Kolaborasi strategis antara dunia akademik dan praktisi zakat ini mewujud dalam program bertajuk Pelatihan Digital Marketing Berbasis Pada Prinsip Pemasaran Sosial Produk Ayam Potong Bagi Transformasi Mustahik Menjadi Muzakki. Kegiatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan hasil kemitraan antara LPPM UAD dengan PT Lancar Laju Barokah.
Inisiasi pengabdian masyarakat ini dipimpin oleh Dr. Zunan Setiawan, seorang akademisi dari Magister Manajemen (MM) UAD. Tim pengabdian ini telah melakukan pemetaan kebutuhan lapangan sejak Desember 2025. Proses yang berlangsung selama kurang lebih enam bulan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan berbasis riset sangat krusial untuk memastikan bahwa materi pelatihan benar-benar relevan dengan kendala yang dihadapi oleh pedagang ayam potong di tingkat akar rumput.
Kronologi dan Dinamika Pendampingan Mustahik
Perjalanan program ini dimulai dengan tahap observasi lapangan pada akhir 2025. Tim peneliti UAD menemukan bahwa mayoritas pelaku usaha ayam potong di ekosistem LazisMU masih terjebak dalam pola perdagangan konvensional. Ketergantungan pada pasar tradisional tanpa adanya diversifikasi saluran penjualan membuat margin keuntungan mereka sangat rentan terhadap fluktuasi harga pasar dan persaingan yang tidak sehat.
Sejak Desember 2025, tim dari MM UAD mulai menyusun kurikulum yang adaptif. Pendekatan ini tidak menggunakan teori manajemen yang kaku, melainkan menggunakan metode "learning by doing" yang disesuaikan dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman teknis para peserta. Puncak dari serangkaian proses persiapan tersebut adalah pelaksanaan pelatihan intensif pada 17 Mei 2026 yang melibatkan puluhan pelaku usaha mikro yang terdaftar sebagai binaan LazisMU.
Mengapa Digitalisasi Menjadi Kebutuhan Mendesak bagi Usaha Mikro
Dalam lanskap ekonomi modern, digitalisasi bukan lagi sekadar opsi, melainkan keharusan bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan data dari Kementerian Koperasi dan UKM, tantangan terbesar UMKM di Indonesia adalah rendahnya tingkat adopsi teknologi digital. Sektor komoditas pangan hewani, seperti ayam potong, memiliki karakteristik unik karena produknya yang bersifat mudah rusak (perishable goods).
Penerapan digital marketing dalam konteks ini berfungsi sebagai instrumen untuk memperpendek rantai pasok dan memperluas jangkauan pasar. Dengan memanfaatkan platform digital, pelaku usaha tidak hanya bisa memantau tren harga secara real-time, tetapi juga dapat membangun hubungan langsung dengan pelanggan (B2C), sehingga ketergantungan pada pengepul besar dapat dikurangi secara bertahap.
Strategi Pemasaran Sosial dan Diferensiasi Produk
Salah satu materi inti yang disampaikan oleh Dr. Zunan Setiawan adalah pentingnya pemetaan profil pelanggan. Banyak pedagang tradisional selama ini menjual produk tanpa mengetahui siapa target pembeli mereka secara spesifik. Dalam pelatihan ini, peserta diajarkan untuk mengidentifikasi perilaku konsumen—seperti kapan waktu tersibuk pembeli berbelanja, preferensi potongan ayam yang diinginkan, hingga urgensi kebersihan produk.
Strategi diferensiasi yang diusung oleh tim UAD meliputi beberapa aspek fundamental:
- Standar Higienitas: Mengubah citra produk ayam potong pasar tradisional menjadi produk yang bersih dan higienis.
- Ketepatan Distribusi: Mengelola waktu pengiriman untuk menjamin kesegaran produk hingga ke tangan konsumen.
- Pengemasan Inovatif: Memberikan nilai tambah melalui kemasan yang lebih menarik dan informatif, sehingga meningkatkan daya tawar di pasar.
Aspek-aspek tersebut merupakan upaya konkret dalam membangun reputasi bisnis yang kuat. Di era digital, informasi mengenai kualitas produk menyebar dengan sangat cepat. Jika seorang pedagang mampu menjaga konsistensi kualitas, maka kepercayaan pelanggan akan terbangun dengan sendirinya, yang pada akhirnya akan meningkatkan loyalitas pelanggan.
Integrasi Nilai Syariah dalam Operasional Bisnis
Keunikan dari program ini adalah integrasi nilai-nilai spiritual dalam strategi pemasaran. Zunan menekankan bahwa transformasi dari mustahik ke muzakki bukan hanya soal akumulasi modal, tetapi juga soal integritas dalam berbisnis. Sesi mengenai pemasaran sosial berbasis nilai Syariah menjadi salah satu poin yang paling menarik minat peserta.
Prinsip Syariah dalam pemasaran yang ditekankan meliputi:
- Transparansi Harga: Menghindari praktik spekulasi atau penimbunan yang merugikan konsumen.
- Kejujuran Informasi: Memberikan informasi yang akurat mengenai berat, kondisi, dan asal-usul produk.
- Etika Muamalah: Memperlakukan pembeli dengan adil dan menghindari praktik kecurangan dalam penimbangan.
Dengan menanamkan nilai-nilai ini, diharapkan para pelaku usaha tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga membawa keberkahan bagi lingkungan di sekitarnya. Hal ini selaras dengan misi utama LazisMU dalam pemberdayaan umat yang komprehensif.
Analisis Dampak dan Implikasi Jangka Panjang
Jika melihat dampak jangka panjang, program ini memiliki potensi untuk memutus rantai kemiskinan struktural. Mustahik seringkali terjebak dalam siklus bantuan yang tidak memberikan dampak ekonomi jangka panjang. Dengan memberikan pelatihan manajerial dan pemasaran, program ini memberikan "alat" bagi mustahik untuk menjadi mandiri.
Implikasi dari keberhasilan program ini dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi ekonomi, peningkatan efisiensi pemasaran akan secara langsung menaikkan pendapatan bersih pedagang. Kedua, dari sisi sosial, keberhasilan ini akan meningkatkan martabat penerima zakat. Ketika seorang pedagang ayam potong mampu meningkatkan omzetnya secara signifikan, ia akan mulai menunaikan kewajiban zakat, yang berarti dana zakat yang dikelola oleh LazisMU akan berputar kembali untuk membantu mustahik lainnya.
Secara makro, inisiatif UAD ini menjadi model bagi universitas lain dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam mendampingi sektor riil membuktikan bahwa riset di kampus tidak boleh berhenti di jurnal ilmiah saja, tetapi harus mampu memberikan solusi bagi permasalahan nyata di masyarakat.
Tantangan Ke Depan dan Keberlanjutan Program
Meskipun pelatihan telah dilaksanakan, tantangan yang sesungguhnya baru dimulai setelah sesi berakhir. Keberhasilan transformasi mustahik menjadi muzakki sangat bergantung pada konsistensi pelaku usaha dalam menerapkan ilmu yang telah didapat.
Tim pengabdian UAD menyadari bahwa pendampingan tidak boleh berhenti pada tahap pelatihan. Oleh karena itu, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi (monev) yang berkelanjutan untuk memantau perkembangan omzet dan adopsi teknologi oleh peserta. Kolaborasi dengan PT Lancar Laju Barokah diharapkan dapat menyediakan ekosistem pendukung, misalnya dalam hal akses permodalan atau rantai pasok yang lebih stabil.
Selain itu, edukasi berkelanjutan mengenai adaptasi teknologi digital perlu terus dilakukan mengingat dinamika algoritma platform pemasaran yang berubah dengan cepat. Literasi keuangan juga menjadi aspek yang perlu diperkuat di masa mendatang agar para pelaku usaha mikro dapat mengelola modal usaha mereka dengan lebih baik.
Kesimpulan
Upaya yang dilakukan oleh LPPM UAD bersama LazisMU melalui pelatihan digital marketing bagi pedagang ayam potong merupakan langkah progresif dalam ekosistem pemberdayaan ekonomi berbasis zakat. Dengan memadukan strategi pemasaran modern, diferensiasi produk, dan etika bisnis berbasis Syariah, program ini memberikan fondasi yang kuat bagi mustahik untuk naik kelas.
Keberhasilan program ini akan menjadi indikator penting bahwa dengan bimbingan yang tepat, sektor usaha mikro konvensional mampu beradaptasi dan berkembang di tengah iklim bisnis yang semakin kompetitif. Harapannya, model pengabdian masyarakat seperti ini dapat direplikasi di sektor-sektor lain, sehingga cita-cita membangun kemandirian ekonomi umat dapat tercapai secara lebih luas dan merata di seluruh Indonesia. Ke depan, sinergi antara akademisi, lembaga filantropi, dan sektor swasta akan menjadi kunci utama dalam memenangkan tantangan ekonomi di masa depan.









