Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

UGM dan Institut Français Yogyakarta Gelar Summer Course Internasional untuk Memperkuat Diplomasi Budaya Melalui Penerjemahan dan Penulisan Kreatif

badge-check


					UGM dan Institut Français Yogyakarta Gelar Summer Course Internasional untuk Memperkuat Diplomasi Budaya Melalui Penerjemahan dan Penulisan Kreatif Perbesar

Di tengah gempuran otomatisasi dan kemajuan kecerdasan artifisial (AI) yang menawarkan kemudahan dalam alih bahasa, peran penerjemah dan juru bahasa manusia tetap menempati posisi yang tak tergantikan. Keunggulan manusia tidak terletak sekadar pada konversi kata per kata, melainkan pada kepekaan terhadap nuansa budaya, kedalaman gaya retoris, dan ketajaman emosional yang sering kali hilang dalam algoritma mesin. Menyadari urgensi ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Institut Français Yogyakarta (IFI) akan menyelenggarakan lokakarya intensif bertajuk "Summer Course on Translation, Interpreting and Creative Writing" pada 18 hingga 22 Mei 2026 mendatang. Acara berskala internasional ini dijadwalkan berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM.

Kegiatan ini dirancang sebagai platform transdisipliner yang mempertemukan akademisi, praktisi, dan mahasiswa untuk mempertajam keterampilan dalam diplomasi budaya dan pengembangan karier internasional. Peserta yang disasar meliputi mahasiswa jurusan bahasa Prancis dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia, peserta program magang pengajaran bahasa Prancis (FLE), serta para pendidik bahasa Prancis tingkat sekolah menengah atas.

Menjawab Tantangan Era Digital dalam Penerjemahan

Penyelenggaraan lokakarya ini bukan tanpa alasan. Di era di mana platform penerjemah otomatis semakin dominan, terdapat kekhawatiran mengenai degradasi kualitas bahasa dan hilangnya kekayaan budaya dalam teks terjemahan. Mesin mungkin mampu menerjemahkan kosakata, namun gagal menangkap konteks sosiokultural yang menjadi jiwa dari sebuah karya sastra atau dokumen diplomatik.

Dalam konteks diplomasi internasional, ketepatan interpretasi adalah kunci. Kesalahan kecil dalam menerjemahkan nuansa bahasa dapat berakibat pada kesalahpahaman yang luas. Oleh karena itu, UGM melalui kegiatan ini ingin menegaskan bahwa keterampilan manusia dalam melakukan interpretasi tetap menjadi pilar utama dalam membangun kepercayaan antarnegara. Diskusi dalam lokakarya nanti secara spesifik akan membedah posisi AI dalam ekosistem penerjemahan, mengeksplorasi bagaimana teknologi dapat menjadi alat bantu, namun tidak boleh menggantikan peran vital seorang ahli dalam pengambilan keputusan linguistik yang sensitif.

Profil Narasumber dan Kolaborasi Lintas Negara

Kehadiran tiga belas narasumber ahli dari Prancis, Malaysia, dan Indonesia menjadi daya tarik utama lokakarya ini. Para pakar yang terlibat merupakan representasi dari berbagai disiplin ilmu yang saling bersinggungan. Dari Prancis, hadir Leonor Graser (penulis skenario dan aktor), Nathanael Frérot (dramaturg dan aktor), Elisabeth Inandiak (penulis dan penerjemah), Jean Pascal Elbaz (penerjemah dan juru bahasa), serta Laure Leroy (pendiri dan direktur penerbit Zulma). Dari Indonesia, akan hadir Laddy Lesmana, Sajarwa, Dr. Hayatul Cholsy, dan Merry Andriani. Sementara dari Malaysia, partisipasi datang dari akademisi terkemuka seperti Dr. Hazlina Binti Abdul Hamid, Dr. Shobehah, dan Dr. Ahmad Kamil Bin Ghazali.

Keterlibatan pakar dari tiga negara ini mencerminkan semangat kolaborasi yang melampaui batas geografis. Seluruh sesi akan disampaikan dalam bahasa Prancis, sebuah keputusan strategis untuk membenamkan peserta dalam lingkungan linguistik yang autentik. Namun, sebagai bentuk inklusivitas, lokakarya khusus mengenai penulisan kreatif dalam bahasa Inggris juga akan dibuka untuk umum pada hari terakhir, sehingga memberikan akses edukasi kepada audiens yang lebih luas.

Konteks Historis dan Evolusi Sastra Indonesia-Prancis

Jika melihat catatan sejarah, hubungan literasi antara Indonesia dan Prancis masih menyisakan ruang besar untuk dikembangkan. Data menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 1958 hingga 2019, hanya terdapat 54 novel Indonesia yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Angka ini dinilai masih sangat kecil mengingat kekayaan naratif yang dimiliki Indonesia.

Namun, tren menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tonggak penting adalah terbitnya karya Eka Kurniawan berjudul Sato l’impie di Prancis pada Mei 2026. Proyek penerjemahan yang digarap oleh Dominique Vitalyos dan Cécile Bellat ini menjadi bukti bahwa karya sastra Indonesia memiliki daya tarik yang kuat di pasar internasional. Lokakarya ini bertujuan untuk menjadi katalisator agar lebih banyak karya penulis Indonesia yang menembus pasar global melalui pendampingan dan jejaring penerjemah yang lebih mumpuni.

Penulisan Kreatif sebagai Alat Diplomasi Budaya

Salah satu fokus utama dari Summer Course ini adalah pemanfaatan penulisan kreatif sebagai instrumen diplomasi budaya. Penulisan kreatif tidak hanya dipandang sebagai aktivitas artistik, tetapi juga sebagai media untuk menyebarkan gagasan, nilai, dan identitas bangsa.

Dalam sesi lokakarya, para narasumber akan mengulas bagaimana elemen-elemen budaya lokal—seperti dongeng tradisional, cerita lisan, dan figur naratif Nusantara—dapat diintegrasikan ke dalam tulisan kontemporer. Pendekatan ini memungkinkan terciptanya dialog budaya yang jujur dan bermakna. Bagi para pendidik dan mahasiswa, keterampilan menulis ini juga diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam mengekspresikan ide-ide mereka di panggung internasional, sekaligus membuka wawasan terhadap perspektif global yang lebih luas.

Implikasi dan Dukungan Strategis

Keberhasilan program ini didukung penuh oleh berbagai pihak yang memiliki kepentingan strategis dalam hubungan internasional. Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, Erlangga, GIK UGM, dan Institut Français Paris bersinergi untuk menyediakan fasilitas dan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri bahasa saat ini.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., menekankan bahwa lokakarya ini merupakan langkah konkret UGM dalam menjembatani kebutuhan dunia kerja dengan pendidikan tinggi. Menurut Wening, mahasiswa yang memiliki keahlian khusus dalam penerjemahan dan interpretariat memiliki prospek karier yang sangat cerah, baik di lembaga internasional, korporasi multinasional, maupun sektor kreatif.

Dampak dari kegiatan ini diharapkan dapat dirasakan dalam jangka panjang, yakni terciptanya komunitas penerjemah dan penulis yang memiliki standar kualitas global. Dengan membekali peserta pada teknik penerjemahan yang presisi dan kemampuan menulis kreatif yang kontekstual, UGM berupaya membentuk generasi baru yang mampu menjadi "jembatan budaya" di tengah dunia yang semakin terhubung namun sering kali penuh dengan sekat komunikasi.

Agenda dan Harapan ke Depan

Secara kronologis, persiapan acara ini telah melibatkan koordinasi intensif antar-lembaga sejak awal tahun 2026. Pemilihan waktu di bulan Mei dianggap ideal untuk memaksimalkan partisipasi mahasiswa sebelum memasuki periode libur semester. Lokasi di GIK UGM dipilih untuk memberikan atmosfer kreatif yang mendukung proses pertukaran gagasan secara dinamis dan kolaboratif.

Melalui program ini, diharapkan terjadi peningkatan jumlah proyek penerjemahan karya sastra dan non-sastra antara Indonesia dan Prancis. Lebih jauh lagi, lokakarya ini diharapkan mampu meredefinisi posisi manusia dalam ekosistem bahasa. Di dunia yang dikendalikan oleh data, sentuhan manusia—melalui pilihan kata, gaya bahasa, dan pemahaman budaya—akan tetap menjadi aset yang paling berharga.

Penyelenggaraan ini menjadi pengingat bahwa bahasa adalah entitas yang hidup. Ia tumbuh melalui percakapan, melalui penulisan kreatif yang jujur, dan melalui upaya-upaya diplomasi yang dilakukan dengan penuh dedikasi. Dengan menyatukan elemen-elemen ini dalam satu forum, UGM dan IFI tidak hanya sekadar menyelenggarakan lokakarya, tetapi sedang merajut masa depan bagi diplomasi budaya Indonesia yang lebih kokoh di mata dunia.

Dengan berakhirnya rangkaian acara nanti, para peserta diharapkan tidak hanya membawa pulang sertifikat, tetapi juga jejaring profesional yang solid, pemahaman mendalam tentang teknik penerjemahan terkini, dan semangat untuk terus berkarya sebagai duta budaya di bidang kebahasaan. Ke depan, inisiatif serupa diharapkan dapat direplikasi dalam bahasa-bahasa lain, menjadikan Indonesia sebagai pusat studi penerjemahan yang diperhitungkan di kancah global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tim Bullseye Consulting FEB UGM Raih Prestasi Gemilang sebagai 1st Runner-up HSBC Indonesia Business Case Competition 2026

9 Mei 2026 - 00:37 WIB

Darurat Pengelolaan Sampah Nasional: Mengurai Benang Kusut Praktik Open Dumping dan Tantangan Infrastruktur Berkelanjutan

8 Mei 2026 - 18:37 WIB

Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta: Seni dan Budaya Sebagai Pilar Utama Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana

8 Mei 2026 - 12:12 WIB

Menggugat Dominasi Penutur Asli dalam Bahasa Inggris: Refleksi Pragmatik dan Identitas Budaya Indonesia di Kancah Global

8 Mei 2026 - 06:37 WIB

Menilik Kembali Jejak Walter Spies di Bali: ISI Yogyakarta Gelar Pemutaran Film Dokumenter ROOTS dan Diskusi Kritis Seni Budaya

8 Mei 2026 - 06:12 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya