Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Menilik Kembali Jejak Walter Spies di Bali: ISI Yogyakarta Gelar Pemutaran Film Dokumenter ROOTS dan Diskusi Kritis Seni Budaya

badge-check


					Menilik Kembali Jejak Walter Spies di Bali: ISI Yogyakarta Gelar Pemutaran Film Dokumenter ROOTS dan Diskusi Kritis Seni Budaya Perbesar

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta secara resmi mengumumkan agenda pemutaran film dokumenter bertajuk ROOTS: One Hundred Years Walter Spies in Bali karya sutradara Michael Schindhelm. Acara yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 8 Mei 2026, pukul 13.30 hingga 15.30 WIB di Gedung Sasana Ajiyasa Lantai 2 FSRD ISI Yogyakarta ini menjadi salah satu forum akademik strategis untuk membedah pengaruh sejarah kolonial dan modernitas dalam lanskap kebudayaan Bali.

Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang penayangan karya audio-visual, melainkan sebuah ruang refleksi kritis bagi civitas akademika, praktisi seni, serta masyarakat umum. Dengan menghadirkan narasi sejarah yang melibatkan sosok Walter Spies—seorang seniman Jerman yang menetap di Bali pada tahun 1920-an hingga 1940-an—ISI Yogyakarta berupaya memantik diskusi mendalam mengenai relasi kompleks antara estetika, kolonialisme, dan komodifikasi budaya yang masih dirasakan dampaknya hingga saat ini.

Konteks Sejarah dan Signifikansi Walter Spies bagi Bali

Walter Spies merupakan tokoh sentral dalam sejarah seni rupa dan pertunjukan di Bali. Kedatangannya di Bali pada tahun 1927 membawa pengaruh signifikan terhadap transformasi kesenian lokal. Bersama dengan tokoh seperti Rudolf Bonnet dan Cokorda Gede Agung Sukawati, Spies mendirikan Pita Maha, sebuah organisasi seniman yang menjadi katalisator bagi modernisasi gaya seni lukis Bali.

Secara historis, kehadiran Spies sering dianggap sebagai "jembatan" yang memperkenalkan seni Bali ke dunia internasional. Namun, film ROOTS mencoba melampaui narasi romantis tentang pertemuan Barat dan Timur. Film ini menelusuri kembali jejak Spies selama satu abad terakhir, mengevaluasi bagaimana pandangan orientalis dan kebutuhan industri pariwisata masa kolonial telah membentuk citra Bali sebagai "surga terakhir" atau eksotisme yang terus dinegosiasikan hingga era digital saat ini.

Bagi mahasiswa seni, memahami sejarah Spies adalah memahami bagaimana identitas budaya dapat dikonstruksi. Analisis kritis terhadap sejarah ini sangat penting untuk mencegah pemahaman yang dangkal mengenai asal-usul estetika Bali yang kini menjadi komoditas global.

Detail Agenda dan Diskusi Panel

Pemutaran film yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut akan dibuka secara resmi oleh Dekan FSRD ISI Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, S.Sn., M.T. Kehadiran pimpinan fakultas ini menunjukkan dukungan institusional terhadap penguatan diskursus sejarah seni di lingkungan kampus.

Setelah penayangan film, kegiatan akan berlanjut ke sesi diskusi mendalam yang melibatkan dua panelis kunci:

  1. Yudha Bantono dari Bali Art Focus, yang memiliki perhatian besar pada dinamika ekosistem seni kontemporer di Bali.
  2. Wiwik Sri Wulandari, M.Sn., seorang akademisi dan dosen di Program Studi Seni Murni FSRD ISI Yogyakarta, yang akan memberikan perspektif teoretis mengenai representasi budaya dan estetika.

Diskusi ini dirancang untuk menggali lebih dalam pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam film, seperti: sejauh mana keterlibatan seniman asing dalam membentuk kanon seni lokal? Bagaimana dampak jangka panjang dari "pandangan asing" terhadap keaslian tradisi? Dan bagaimana seniman masa kini harus memposisikan diri di tengah arus globalisasi yang terus mendesak ruang-ruang kebudayaan lokal?

Peran Strategis ISI Yogyakarta dalam Literasi Budaya

ISI Yogyakarta sebagai institusi pendidikan tinggi seni terkemuka di Indonesia terus berupaya memperluas ruang pertemuan antara teori dan praktik. Agenda ini sejalan dengan visi institusi untuk mencetak lulusan yang tidak hanya terampil secara teknis dalam menciptakan karya seni, tetapi juga memiliki ketajaman analitis dalam membaca fenomena sosial.

Dalam dunia pendidikan seni modern, mahasiswa dituntut untuk mampu mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data sejarah, serta melakukan riset budaya yang logis. Pemutaran film ROOTS adalah contoh bagaimana metode pembelajaran di luar kelas (extra-curricular) dapat memperkaya wawasan mahasiswa. Dengan melibatkan komunitas seni dan publik, ISI Yogyakarta memposisikan diri sebagai pusat pengembangan pengetahuan yang berdampak bagi masyarakat luas, bukan sekadar "menara gading" bagi para seniman.

Kolaborasi ini mencerminkan komitmen FSRD dalam membangun ekosistem seni yang dialogis. Dengan mengundang partisipasi publik, diharapkan terjadi pertukaran gagasan yang lebih kaya, di mana pengalaman praktis dari seniman lapangan dapat bertemu dengan kerangka berpikir akademis dari pihak kampus.

Analisis Implikasi: Bali, Pariwisata, dan Warisan Kolonial

Secara sosiologis, pemutaran film ini membawa implikasi penting terhadap cara kita memandang pariwisata. Bali saat ini menghadapi tantangan besar terkait over-pariwisata (overtourism) dan hilangnya ruang-ruang sakral akibat tekanan industri. Narasi yang dibangun dalam film ROOTS memungkinkan audiens untuk menarik benang merah antara kebijakan masa lalu dengan realitas kontemporer.

Jika kita menilik garis waktu sejarah seni Bali:

  • 1920-an: Awal kedatangan seniman Barat dan pembentukan organisasi Pita Maha.
  • 1930-an: Ledakan pariwisata awal yang dipicu oleh representasi visual Bali di Eropa dan Amerika.
  • 1940-an: Krisis Perang Dunia II yang mengubah drastis lanskap politik dan sosial Bali.
  • 2000-an: Era digital di mana citra "surga" Bali dikelola melalui media sosial dan algoritma global.

Film ROOTS menegaskan bahwa Bali adalah ruang yang terus bergerak. Ketegangan antara menjaga tradisi dan merespons pasar global bukanlah hal baru, melainkan sebuah dialektika yang telah dimulai sejak abad lalu. Dengan membedah sejarah Walter Spies, audiens diajak untuk memahami bahwa "keaslian" budaya adalah sebuah konstruksi yang dinamis.

Aksesibilitas dan Informasi Teknis

Penyelenggaraan acara ini bersifat terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya (gratis). Mengingat kapasitas ruang yang terbatas di Gedung Sasana Ajiyasa Lantai 2, pihak penyelenggara mewajibkan peserta untuk melakukan registrasi terlebih dahulu guna memastikan ketertiban acara.

Calon peserta dapat melakukan pendaftaran melalui tautan resmi yang telah disediakan di linktr.ee/bukusenirupa. Untuk informasi lebih lanjut mengenai detail acara atau kebutuhan koordinasi lainnya, pihak penyelenggara dapat dihubungi melalui nomor layanan informasi di +62 895-3231-05919.

Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi rangkaian diskusi lanjutan mengenai sejarah seni rupa Indonesia. Dengan membedah arsip, film, dan karya-karya masa lampau, ISI Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya menjaga warisan seni, tetapi juga aktif melakukan dekonstruksi terhadap sejarah untuk kepentingan masa depan kebudayaan bangsa.

Sebagai penutup, kehadiran film ROOTS di lingkungan kampus ISI Yogyakarta adalah pengingat bahwa seni tidak pernah berdiri sendiri. Seni adalah produk dari sejarah, ekonomi, dan politik. Melalui inisiatif ini, ISI Yogyakarta kembali menegaskan peran krusialnya dalam mendorong literasi seni yang lebih kritis, inklusif, dan relevan dengan dinamika global yang terus berubah, memastikan bahwa generasi seniman masa depan tetap berpijak pada pemahaman sejarah yang mendalam sebelum melangkah ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tim Bullseye Consulting FEB UGM Raih Prestasi Gemilang sebagai 1st Runner-up HSBC Indonesia Business Case Competition 2026

9 Mei 2026 - 00:37 WIB

Darurat Pengelolaan Sampah Nasional: Mengurai Benang Kusut Praktik Open Dumping dan Tantangan Infrastruktur Berkelanjutan

8 Mei 2026 - 18:37 WIB

UGM dan Institut Français Yogyakarta Gelar Summer Course Internasional untuk Memperkuat Diplomasi Budaya Melalui Penerjemahan dan Penulisan Kreatif

8 Mei 2026 - 12:37 WIB

Refleksi 20 Tahun Gempa Yogyakarta: Seni dan Budaya Sebagai Pilar Utama Ketangguhan Masyarakat dalam Menghadapi Bencana

8 Mei 2026 - 12:12 WIB

Menggugat Dominasi Penutur Asli dalam Bahasa Inggris: Refleksi Pragmatik dan Identitas Budaya Indonesia di Kancah Global

8 Mei 2026 - 06:37 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya