Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Foto Jogja

DPR apresiasi penurunan angka putus sekolah di Indonesia sebagai wujud hasil kerja keras pemerintah

badge-check


					DPR apresiasi penurunan angka putus sekolah di Indonesia sebagai wujud hasil kerja keras pemerintah Perbesar

Pemerintah Indonesia mencatatkan progres signifikan dalam upaya menekan angka putus sekolah di seluruh jenjang pendidikan selama kurun waktu lima tahun terakhir. Berdasarkan data evaluasi pendidikan nasional periode tahun ajaran 2020/2021 hingga 2024/2025, angka siswa yang tidak dapat melanjutkan pendidikan mengalami tren penurunan yang cukup konsisten. Capaian ini mendapatkan apresiasi dari Komisi X DPR RI yang membidangi sektor pendidikan, meskipun pemerintah diingatkan untuk tidak mengendurkan upaya dalam menjamin hak pendidikan bagi seluruh anak bangsa.

Anggota Komisi X DPR RI, Muhammad Hilman Mufidi, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/5/2026), menyatakan bahwa penurunan ini merupakan cerminan dari kolaborasi lintas sektoral antara pemerintah pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan. Menurutnya, keberhasilan ini adalah buah dari kebijakan perluasan akses pendidikan serta komitmen kuat dalam menjaga keberlanjutan proses belajar-mengajar bagi siswa di berbagai pelosok tanah air.

Tren Penurunan Angka Putus Sekolah dalam Lima Tahun

Data resmi yang dihimpun menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2024/2025, jumlah total siswa putus sekolah tercatat sebanyak 66.866 jiwa. Angka ini merepresentasikan penurunan sebesar 20,1 persen jika dibandingkan dengan data tahun ajaran 2020/2021 yang mencapai 83.724 jiwa. Penurunan ini mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Secara statistik, tren penurunan paling signifikan terlihat pada jenjang pendidikan menengah, yakni SMA dan SMK. Hal ini dinilai tidak terlepas dari intervensi pemerintah melalui program bantuan operasional pendidikan, beasiswa pendidikan, serta revitalisasi sekolah-sekolah rakyat yang masif dilakukan sejak beberapa tahun terakhir. Pembangunan infrastruktur pendidikan yang lebih merata, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menjadi faktor kunci dalam menjaga angka retensi siswa agar tetap berada di lingkungan sekolah.

Analisis Faktor Pendorong Keberhasilan

Keberhasilan dalam menurunkan angka putus sekolah ini tidak datang secara instan. Terdapat serangkaian kebijakan strategis yang diimplementasikan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) sejak 2020. Beberapa di antaranya meliputi:

  1. Optimalisasi Bantuan Operasional Sekolah (BOS): Penyesuaian besaran dana BOS yang lebih fleksibel memungkinkan sekolah untuk menutupi biaya kebutuhan mendesak siswa yang kurang mampu agar tidak perlu meninggalkan bangku sekolah.
  2. Program Indonesia Pintar (PIP): Penyaluran bantuan dana tunai untuk siswa dari keluarga ekonomi rendah terbukti efektif mengurangi beban biaya personal pendidikan yang selama ini menjadi salah satu pemicu utama anak putus sekolah.
  3. Peningkatan Aksesibilitas: Pembangunan ratusan sekolah baru di daerah terpencil memangkas jarak tempuh siswa, yang sebelumnya menjadi kendala fisik utama bagi anak-anak di daerah rural untuk mendapatkan akses pendidikan formal.
  4. Digitalisasi Pembelajaran: Adanya platform pembelajaran jarak jauh yang lebih terintegrasi selama masa transisi pascapandemi juga membantu siswa tetap terhubung dengan kurikulum meskipun terkendala mobilitas.

Tantangan yang Masih Tersisa

Meskipun tren menunjukkan arah positif, Hilman Mufidi menekankan bahwa angka 66.866 siswa yang masih putus sekolah bukanlah angka yang kecil. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh berpuas diri dan harus tetap waspada terhadap potensi lonjakan angka putus sekolah di masa depan.

Ada beberapa tantangan besar yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Kemendikdasmen. Pertama adalah masalah ekonomi. Meskipun bantuan pemerintah telah disalurkan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak siswa terpaksa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, terutama di daerah dengan tingkat kemiskinan ekstrem. Kedua, faktor sosial-budaya di beberapa daerah yang masih menganggap pendidikan formal kurang relevan dibandingkan dengan bekerja atau menikah di usia dini.

DPR: Penurunan angka putus sekolah wujud hasil kerja keras pemerintah

Selain itu, aksesibilitas di wilayah geografis yang sulit dijangkau tetap menjadi tantangan logistik yang menuntut pendekatan khusus. Pemerintah dituntut untuk tidak hanya sekadar membangun fisik sekolah, tetapi juga memastikan ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten dan berkualitas di wilayah-wilayah tersebut.

Implikasi bagi Kualitas SDM Nasional

Penurunan angka putus sekolah memiliki implikasi yang sangat luas terhadap kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam meningkatkan daya saing bangsa di kancah global. Dengan semakin sedikit anak yang putus sekolah, maka rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia akan meningkat, yang secara langsung berkorelasi dengan peningkatan produktivitas nasional dan penurunan angka pengangguran terbuka.

Pendidikan yang berkelanjutan hingga jenjang SMA/SMK memberikan bekal keterampilan (skill) yang lebih baik bagi siswa untuk masuk ke dunia kerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Oleh karena itu, Komisi X DPR RI terus mendorong agar anggaran pendidikan benar-benar difokuskan pada program-program yang berdampak langsung pada penurunan angka putus sekolah dan peningkatan mutu pembelajaran.

Langkah Strategis ke Depan

Untuk menjaga momentum positif ini, beberapa langkah strategis perlu segera diambil oleh pihak terkait:

  • Sistem Peringatan Dini (Early Warning System): Perlu adanya sistem pendataan yang lebih akurat dan real-time untuk mengidentifikasi siswa yang berisiko putus sekolah sebelum mereka benar-benar meninggalkan bangku sekolah. Hal ini memerlukan peran aktif guru BK dan perangkat desa/kelurahan.
  • Penguatan Sinergi dengan Pemda: Pemerintah pusat perlu memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan bahwa program-program pusat dapat diimplementasikan dengan tepat sasaran sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
  • Pendekatan Holistik: Penanganan putus sekolah tidak bisa hanya dilakukan oleh sektor pendidikan. Diperlukan sinergi dengan kementerian sosial, kementerian ketenagakerjaan, dan kementerian pemberdayaan perempuan serta perlindungan anak untuk menangani akar penyebab ekonomi dan sosial.

Kesimpulan

Apresiasi yang diberikan oleh DPR RI terhadap capaian pemerintah merupakan sinyal bahwa kebijakan yang dijalankan saat ini berada di jalur yang benar. Namun, pesan tersirat dari pihak legislatif adalah agar pemerintah tetap menjaga kewaspadaan dan terus melakukan inovasi kebijakan. Setiap anak Indonesia memiliki hak konstitusional untuk mendapatkan layanan pendidikan yang layak dan berkelanjutan.

Dengan komitmen politik yang kuat serta dukungan anggaran yang memadai, diharapkan target pemerintah untuk menekan angka putus sekolah hingga ke titik minimal dapat tercapai dalam beberapa tahun mendatang. Keberhasilan dalam menjaga keberlangsungan pendidikan bagi generasi muda akan menjadi investasi terbesar bagi masa depan bangsa, memastikan bahwa tidak ada satu pun anak Indonesia yang tertinggal dalam meraih mimpi melalui jalur pendidikan.

Pemerintah melalui Kemendikdasmen kini menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa penurunan angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan perbaikan nyata yang dirasakan oleh setiap keluarga di seluruh pelosok Indonesia. Fokus ke depan adalah pada pemerataan kualitas pendidikan, sehingga bukan hanya akses yang terbuka, tetapi juga mutu lulusan yang semakin kompetitif dan siap menghadapi tantangan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Prabowo Subianto Dorong Reformasi Regulasi Besar-besaran demi Percepatan Penciptaan Lapangan Kerja dan Iklim Investasi Nasional

13 Mei 2026 - 18:22 WIB

Menyulam Gerak Menarikan Zaman Penghormatan Puncak Karier Akademis dan Artistik Prof Dr I Wayan Dana di ISI Yogyakarta

13 Mei 2026 - 18:04 WIB

PT KAI Daop 6 Yogyakarta Antisipasi Lonjakan 136.741 Penumpang Selama Periode Libur Panjang Kenaikan Yesus Kristus 2026

13 Mei 2026 - 00:22 WIB

Bertahan di Tengah Gempuran Digital: Menilik Eksistensi Koran Mading di Alun-Alun Selatan Yogyakarta

12 Mei 2026 - 12:04 WIB

Peternak Ikan Patin Bantul Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Pasokan Bahan Baku Makan Bergizi Gratis

12 Mei 2026 - 06:22 WIB

Trending di Foto Jogja