Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Tim Mahasiswa Magister Teknik Sistem UGM Raih Juara Dunia dalam Kompetisi Riset Energi Terbarukan IEOM 2026 di Bangkok

badge-check


					Tim Mahasiswa Magister Teknik Sistem UGM Raih Juara Dunia dalam Kompetisi Riset Energi Terbarukan IEOM 2026 di Bangkok Perbesar

Prestasi membanggakan kembali diukir oleh civitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM) di kancah internasional. Tim mahasiswa dari Program Magister Teknik Sistem (MeTSi), Fakultas Teknik UGM, sukses menyabet gelar juara pertama dalam Graduate Student Paper Competition pada ajang 7th Asia Pacific Industrial Engineering and Operations Management (IEOM) Conference 2026. Kompetisi bergengsi yang diselenggarakan secara virtual dari Bangkok, Thailand, pada 25–27 Maret 2026 ini, menjadi panggung pembuktian bagi inovasi mahasiswa Indonesia dalam merancang transisi energi yang berkelanjutan.

Tim yang beranggotakan lima mahasiswa angkatan 2024, yakni Arham, La Ode Masri Ande Kolewora, Muhammad Taufiq, Saiful M, dan Virtuous Ikmal Wicaksono, berhasil mengungguli delegasi dari 56 negara yang berpartisipasi dalam konferensi tersebut. Di bawah bimbingan dosen ahli energi, Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., tim ini mempresentasikan makalah berjudul The Mid-Term Forecast of South Sulawesi’s Renewable Energy Supply and Demand: An Application of Long-Range Energy Alternatives Planning (LEAP).

Fokus Riset: Proyeksi Energi di Sulawesi Selatan

Pemilihan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai lokus penelitian bukan tanpa alasan. Berdasarkan kajian tim, wilayah ini memiliki kekayaan sumber daya energi baru terbarukan (EBT) yang sangat melimpah dan variatif. Arham, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa riset ini difokuskan pada proyeksi kebutuhan dan pasokan energi listrik di Sulawesi Selatan untuk periode satu dekade, yakni mulai tahun 2025 hingga 2034.

"Sulawesi Selatan memiliki potensi besar dalam pemanfaatan energi air, angin, panas bumi, biomassa, hingga tenaga surya. Di antara semua potensi tersebut, tenaga air menduduki posisi puncak mengingat banyaknya aliran sungai dan anak sungai yang dapat dikonversi menjadi tenaga listrik secara efisien," ujar Arham.

Dalam penelitiannya, tim menggunakan perangkat lunak Long-Range Energy Alternatives Planning (LEAP). Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mensimulasikan berbagai skenario kebijakan energi dalam jangka menengah, sehingga pengambilan keputusan tidak lagi didasarkan pada asumsi semata, melainkan pada pemodelan sistem yang berbasis data empiris.

Analisis Tren Konsumsi Energi dan Kebutuhan Listrik

Riset yang dilakukan oleh tim MeTSi UGM ini didorong oleh temuan dari mata kuliah Sistem Pengembangan Kawasan Berbasis Energi Baru dan Terbarukan. Data menunjukkan bahwa sejak tahun 2015, terdapat lonjakan permintaan energi listrik yang signifikan di Sulawesi Selatan. Peningkatan ini merata di empat sektor utama: rumah tangga, industri, sektor bisnis, dan pemerintahan.

Tren urbanisasi dan pertumbuhan ekonomi di kawasan Sulawesi Selatan menuntut ketersediaan energi yang stabil dan andal. Tanpa perencanaan yang matang, kesenjangan antara pasokan dan permintaan akan semakin melebar. Oleh karena itu, tim melakukan proyeksi mendalam mengenai kebutuhan energi hingga tahun 2034 guna memberikan rekomendasi yang presisi kepada pemangku kepentingan.

Dua Skenario Transisi Energi: Tantangan dan Realitas

Dalam upaya menjawab tantangan krisis energi dan komitmen pemerintah terhadap dekarbonisasi, tim mengajukan dua skenario strategis:

  1. Skenario Transisi Penuh (100% EBT): Skenario ini mengusulkan penghentian total penggunaan energi fosil (batu bara, gas, dan diesel) dan beralih sepenuhnya ke energi terbarukan sesuai dengan program pemerintah hingga tahun 2034.
  2. Skenario Kombinasi (Hybrid): Skenario ini mengusulkan transisi bertahap dengan mengombinasikan energi fosil dan energi terbarukan dalam proporsi tertentu, misalnya 50% dari EBT dan 50% dari energi fosil.

Setelah dilakukan simulasi melalui model LEAP, tim menyimpulkan bahwa langkah yang paling efektif dan realistis untuk kondisi saat ini adalah skenario kombinasi. Penghentian total energi fosil secara mendadak dianggap berisiko terhadap stabilitas pasokan listrik dan keandalan sistem jaringan (grid stability). Oleh karena itu, periode jangka menengah harus digunakan sebagai masa transisi di mana energi fosil dikurangi secara perlahan seiring dengan peningkatan kapasitas pembangkit EBT, khususnya PLTA dan PLTS.

Mahasiswa UGM Juara 1 Kompetisi Makalah di Ajang IEOM Bangkok Conference

Implikasi Kebijakan dan Kontribusi Akademik

Hasil riset ini bukan sekadar tugas akhir atau makalah kompetisi, melainkan memiliki nilai strategis bagi kebijakan publik. Arham dan timnya berharap hasil kajian ini dapat disusun menjadi ringkasan kebijakan (policy brief) yang akan diserahkan kepada pihak-pihak terkait, termasuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), serta Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Integrasi antara hasil riset akademik dan kebijakan daerah merupakan kunci dari keberhasilan perencanaan energi jangka panjang. Dengan menggunakan pendekatan LEAP, pemerintah daerah dapat melihat visualisasi dampak dari setiap kebijakan yang akan diambil, sehingga meminimalisir kegagalan investasi dalam proyek pembangkit listrik.

IEOM Conference: Forum Global Inovasi Teknik

Keberhasilan tim MeTSi UGM di 7th Asia Pacific IEOM Conference menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level internasional dalam bidang teknik industri dan manajemen operasi. IEOM Society International sendiri merupakan organisasi yang sangat dihormati karena menjadi jembatan antara dunia akademis dan industri.

Konferensi ini mempertemukan peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai penjuru dunia untuk mendiskusikan solusi atas tantangan global, seperti perubahan iklim, efisiensi energi, dan manajemen rantai pasok. Penghargaan yang diraih oleh tim UGM ini tidak hanya meningkatkan reputasi universitas di mata dunia, tetapi juga memberikan kebanggaan bagi Indonesia sebagai negara yang berkomitmen terhadap transisi energi global.

Analisis: Mengapa Riset Berbasis Model Sistem Itu Penting?

Dalam dunia perencanaan energi, kompleksitas variabel yang ada membuat metode tradisional sering kali tidak akurat. Penggunaan model seperti LEAP memungkinkan analis untuk melihat "big picture" dari sistem energi. Dalam konteks Indonesia, transisi energi bukan hanya soal mengganti pembangkit, melainkan soal menjaga keseimbangan antara biaya (ekonomi), keandalan (teknis), dan keberlanjutan (lingkungan).

Penelitian tim MeTSi UGM ini relevan karena menyentuh isu "The Energy Trilemma". Mereka tidak hanya mengejar target emisi nol bersih (net zero emission), tetapi juga mempertimbangkan kebutuhan listrik masyarakat yang terus meningkat. Pendekatan moderat yang ditawarkan (skenario kombinasi) menunjukkan kedewasaan berpikir tim dalam memahami realitas operasional di lapangan.

Menuju Masa Depan Energi Berkelanjutan

Keberhasilan ini diharapkan dapat memicu semangat bagi mahasiswa teknik lainnya di Indonesia untuk terus melakukan riset yang aplikatif. Di era disrupsi energi, inovasi sistemik adalah kebutuhan mutlak. UGM sebagai institusi pendidikan tinggi telah menunjukkan perannya dalam melahirkan talenta-talenta yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan pemahaman kebijakan.

Dengan dukungan pemerintah dan kolaborasi antar-sektor, hasil riset seperti yang dilakukan tim MeTSi ini memiliki potensi besar untuk diadopsi dalam Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Ke depan, sinergi antara akademisi, pemerintah, dan praktisi industri akan menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa transisi energi di Indonesia berjalan secara adil, merata, dan berkelanjutan.

Prestasi ini sekali lagi membuktikan bahwa dengan metodologi yang tepat dan visi yang tajam, mahasiswa Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata bagi masa depan energi global, dimulai dari skala regional di Sulawesi Selatan untuk Indonesia yang lebih hijau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Waspada Ancaman El Nino 2026: Sinergi Tata Kelola dan Mitigasi Kebakaran Hutan di Indonesia

6 Mei 2026 - 18:37 WIB

Tantangan Mengatasi Stunting di Indonesia: Mengurai Kompleksitas Akses Pangan hingga Edukasi Pola Asuh

6 Mei 2026 - 12:37 WIB

Empat Mahasiswa ISI Yogyakarta Berhasil Menembus Seleksi Ketat Menjadi Google Student Ambassador 2026 di Tingkat Nasional

6 Mei 2026 - 12:12 WIB

Dari Anak Buruh Tani Menjadi Mahasiswa Berprestasi Utama: Kisah Inspiratif Deni Maulana Menaklukkan Keterbatasan di UGM

6 Mei 2026 - 06:37 WIB

Sinergi Akademisi dan Industri Kreatif: Prodi Animasi ISI Yogyakarta Hadirkan Praktisi Polar Engine untuk Perkuat Kompetensi Profesional

6 Mei 2026 - 06:12 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya