Dr. Hanifrahmawan Sudibyo, seorang pakar dari Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), kembali mengukuhkan eksistensi Indonesia dalam peta kebijakan iklim dunia. Ia terpilih sebagai Lead Author dalam penyusunan laporan metodologi internasional yang diinisiasi oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Fokus utama dari keterlibatan ini adalah pengembangan pedoman teknis mengenai penggunaan teknologi penghilangan karbon dioksida (Carbon Dioxide Removal/CDR), serta sistem penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon untuk kebutuhan inventarisasi gas rumah kaca (GRK) secara global.
Kepercayaan internasional ini merupakan langkah signifikan bagi Indonesia untuk memengaruhi arah kebijakan mitigasi iklim dunia, khususnya dalam sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya (Agriculture, Forestry, and Other Land Use/AFOLU). Partisipasi ini bukan sekadar penugasan akademis, melainkan representasi dari upaya nasional dalam mengintegrasikan riset berbasis data ke dalam standar operasional global yang akan digunakan oleh berbagai negara dalam melaporkan capaian target emisi mereka.
Urgensi Metodologi Baru dalam Inventarisasi Gas Rumah Kaca
Penyusunan laporan ini berakar dari kebutuhan mendesak untuk memperbarui kerangka kerja yang telah ada, yakni 2019 Refinement to the 2006 IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories. Dunia saat ini menghadapi tantangan besar dalam mengukur efektivitas teknologi mitigasi, terutama terkait aplikasi biochar—material karbon hasil pirolisis biomassa—ke dalam tanah.
Selama ini, terdapat perdebatan ilmiah mengenai interaksi biochar dengan tanah organik dan gambut. Pertanyaan krusial yang perlu dijawab adalah apakah aplikasi biochar memicu positive priming (mempercepat dekomposisi bahan organik tanah yang melepaskan emisi) atau negative priming (memperlambat dekomposisi dan justru menyimpan karbon lebih lama). Ketidakpastian ini sering kali menjadi hambatan dalam perhitungan kredit karbon yang akurat. Melalui partisipasi Dr. Hanifrahmawan, tim IPCC berupaya menetapkan metodologi standar yang didasarkan pada parameter ilmiah yang lebih ketat, seperti suhu pirolisis dan rasio H/Corg, untuk menentukan fraksi karbon persisten (Fperm).
Kronologi dan Tahapan Pengembangan Laporan IPCC
Proses penyusunan pedoman internasional ini bukanlah proyek jangka pendek, melainkan sebuah rangkaian kerja yang terstruktur dengan presisi tinggi. Berikut adalah garis waktu tahapan strategis yang harus dilalui oleh para penulis:

- Pertemuan Perdana (LAM1): Berlangsung pada 14–16 April 2026 di markas Food and Agriculture Organization (FAO), Roma, Italia. Fokus utama pertemuan ini adalah penyelarasan persepsi, penentuan metodologi, dan pembagian tugas antar-ahli.
- Pembahasan First-Order Draft (LAM2): Dijadwalkan berlangsung di Meksiko pada 11–14 Agustus 2026. Fokus pada tahap ini adalah pengumpulan draf pertama dari berbagai sub-sektor yang diteliti.
- Pembahasan Second-Order Draft (LAM3): Akan diselenggarakan di Nepal pada 19–22 Januari 2027. Pada fase ini, draf akan diperdalam dengan masukan dari berbagai tinjauan ahli.
- Finalisasi Laporan (LAM4): Direncanakan berlangsung sepanjang tahun 2027, di mana seluruh metodologi akan difinalisasi sebelum dipublikasikan sebagai standar resmi IPCC.
Konteks Biochar dalam Ekosistem Tropis
Indonesia, sebagai negara dengan kekayaan lahan gambut dan sistem pertanian tropis yang luas, memiliki kepentingan strategis dalam pengembangan metodologi ini. Penggunaan biochar di lahan gambut yang telah mengalami restorasi atau rewetting memiliki potensi besar sebagai penyerap karbon (carbon sink). Namun, tanpa metodologi yang teruji secara ilmiah, potensi ini sulit untuk dihitung ke dalam laporan inventarisasi nasional.
Data menunjukkan bahwa dalam lima tahun terakhir, riset mengenai efek priming biochar menunjukkan kecenderungan ke arah negative priming, yang berarti biochar berperan aktif dalam menahan laju emisi gas rumah kaca dari tanah. Hal ini menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mengadvokasi penggunaan teknologi berbasis alam (nature-based solutions) dalam forum internasional. Dr. Hanifrahmawan menekankan bahwa keberadaan delegasi Indonesia di kursi penulisan IPCC memberikan perspektif yang lebih luas mengenai bagaimana negara berkembang dengan latar belakang agraris yang kuat dapat berkontribusi pada penurunan suhu global.
Analisis Implikasi: Mengapa Ini Penting bagi Indonesia?
Keterlibatan pakar UGM dalam forum ini membawa beberapa implikasi strategis bagi Indonesia:
Pertama, legitimasi data. Dengan keterlibatan dalam penyusunan pedoman IPCC, metodologi yang dikembangkan nantinya akan memiliki pengakuan internasional yang sah. Hal ini akan memudahkan Indonesia dalam melakukan klaim pengurangan emisi yang diakui secara global.
Kedua, penguatan kebijakan domestik. Standar yang ditetapkan oleh IPCC nantinya akan menjadi acuan bagi kementerian dan lembaga terkait di Indonesia dalam menyusun kebijakan nasional terkait pengelolaan lahan dan teknologi pertanian rendah karbon.
Ketiga, peningkatan kapasitas riset. Proses penyusunan ini memaksa para ahli untuk terus memutakhirkan literatur dan bukti ilmiah. Kolaborasi dengan peneliti dari berbagai negara akan membuka akses bagi transfer teknologi dan kolaborasi riset lanjutan yang lebih intensif di masa depan.

Tanggapan dan Harapan Akademisi
Dalam pandangan Dr. Hanifrahmawan, partisipasi ini hanyalah awal. Ia berharap keterlibatan akademisi Indonesia di masa depan akan semakin masif. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam hal data biodiversitas dan sistem lahan yang unik, yang sangat dibutuhkan oleh IPCC untuk menciptakan model inventarisasi yang inklusif.
"Kita berharap bisa semakin memberikan banyak perspektif yang lebih luas. Bahwa untuk konteks negara-negara berkembang seperti Indonesia, memiliki background agriculture yang cukup dalam dan kuat," ujarnya dalam sebuah kesempatan. Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi objek dalam kebijakan perubahan iklim dunia, tetapi juga berperan sebagai subjek yang menentukan arah kebijakan tersebut.
Tantangan ke Depan: Menuju 2027
Tantangan utama yang akan dihadapi oleh tim penulis hingga 2027 adalah memastikan bahwa metodologi yang disusun mampu mengakomodasi variabilitas iklim dan jenis tanah yang berbeda-beda. Penggunaan biochar di tanah mineral tentu berbeda dengan di tanah organik atau gambut. Oleh karena itu, pendekatan kuantitatif yang dikembangkan tim, termasuk pemodelan stok karbon biochar dalam rentang 1 hingga 100 tahun, harus mampu memberikan tingkat kepercayaan (confidence level) yang tinggi.
Selain fokus pada karbon, kajian ini juga merambah pada emisi non-CO2, seperti dinitrogen oksida (N2O) dan metana (CH4). Mengingat sektor pertanian, terutama sawah, merupakan salah satu penyumbang emisi CH4, penemuan metode mitigasi melalui biochar akan menjadi terobosan besar bagi keberlanjutan pangan dunia.
Kesimpulan
Kontribusi Dr. Hanifrahmawan Sudibyo dalam penyusunan pedoman internasional IPCC merupakan bukti nyata peran strategis perguruan tinggi dalam diplomasi iklim. Melalui riset yang mendalam dan keterlibatan aktif dalam forum global, Indonesia kini berada di posisi yang lebih kuat untuk menyuarakan kepentingan negara berkembang dalam upaya mitigasi perubahan iklim.
Diharapkan, hasil akhir dari Methodology Report pada tahun 2027 tidak hanya akan memperkaya literatur ilmiah global mengenai teknologi penghilangan karbon, tetapi juga menjadi instrumen praktis bagi Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission dengan pendekatan yang berbasis sains dan berkelanjutan. Kesuksesan tugas ini akan menjadi tonggak penting dalam sejarah keterlibatan ilmuwan Indonesia di panggung global, sekaligus memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan ekosistem lahan di tanah air dan dunia.









