Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bekerja sama dengan Universiti Malaysia Kelantan (UMK) menyelenggarakan webinar internasional bertajuk "From Fragile to Fearless: Empowering Gen Z for Successful Kickstart of Social Venture" pada Kamis, 2 Juli 2026. Kegiatan ini menjadi momentum strategis bagi mahasiswa dan generasi muda untuk mengubah pola pikir dari individu yang rentan menjadi penggerak perubahan sosial yang berdaya saing global melalui kewirausahaan sosial atau sociopreneurship.
Program ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan UMBY dalam kerangka Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) internasional, yang bertujuan membekali Generasi Z dengan ketahanan mental (resiliensi) serta kemampuan eksekusi bisnis yang konkret. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kolaborasi antara institusi pendidikan dari Indonesia dan Malaysia ini menawarkan pendekatan komprehensif yang menggabungkan aspek psikologis dan manajerial bisnis.
Latar Belakang dan Urgensi Ketahanan Mental Gen Z
Generasi Z, yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, menghadapi tantangan unik dalam lanskap profesional saat ini. Berdasarkan data sosiologis terkini, generasi ini sering dijuluki sebagai generasi yang rentan terhadap tekanan mental atau sering disebut fragile, terutama karena keterpaparan informasi yang masif dan tekanan standar kesuksesan yang tinggi di media sosial.
Dalam konteks kewirausahaan, tantangan utama yang dihadapi Gen Z bukanlah kekurangan ide, melainkan hambatan psikologis untuk memulai tindakan. Banyak anak muda memiliki ide brilian namun terjebak dalam pola pikir perfeksionisme yang melumpuhkan. Webinar ini dirancang untuk memecahkan kebuntuan tersebut melalui integrasi teori psikologi dengan peta jalan bisnis yang praktis, memastikan bahwa ide sosial yang dimiliki dapat bertransformasi menjadi dampak nyata bagi masyarakat.
Sinergi Akademik Internasional: UMBY dan UMK
Rektor UMBY, Agus Slamet, dalam pemaparannya menegaskan bahwa kolaborasi internasional ini bukan sekadar seremoni akademik. "Tujuan utamanya adalah membangun mental tangguh pada Gen Z, menumbuhkan daya juang, dan mendorong keberanian mereka untuk menciptakan peluang melalui kewirausahaan sosial," ujarnya.
Kerja sama ini juga menandai babak baru dalam upaya perluasan jejaring global universitas. Selain pertukaran pengetahuan, kemitraan UMBY dan UMK diharapkan menjadi pintu gerbang bagi riset kolaboratif dan publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi. Sinergi ini mencerminkan kebutuhan akan pendidikan tinggi yang melampaui batas-batas negara, di mana mahasiswa dipersiapkan untuk menghadapi ekosistem kerja lintas budaya.
Konsep HERO dalam Kewirausahaan Sosial
Salah satu poin krusial dalam diskusi webinar adalah pemaparan konsep psikologis HERO oleh narasumber Purnaning Dhyah Guritno. HERO merupakan akronim dari Hope (Harapan), Efficacy (Efikasi diri), Resilience (Resiliensi), dan Optimism (Optimisme).
Dalam dunia bisnis yang penuh risiko, keempat elemen ini menjadi fondasi psikologis bagi seorang wirausahawan. Cognitive reframing atau pembingkaian ulang kognitif menjadi alat utama yang diajarkan kepada peserta. Teknik ini menuntut individu untuk mengubah pola pikir negatif—seperti ketakutan akan kegagalan—menjadi perspektif yang lebih konstruktif. Dengan memfokuskan energi pada aspek-aspek yang berada di bawah kendali pribadi, calon wirausahawan dapat meminimalkan stres dan memaksimalkan produktivitas.
Peta Jalan Praktis: Mengubah Ide Menjadi Aksi
Psikolog UMBY, Alimatus Sahrah, menekankan bahwa eksekusi adalah kunci. Dalam banyak kasus, niat besar tanpa eksekusi yang nyata tidak akan memberikan perubahan apa pun. Peserta diajak untuk meninggalkan budaya "menunggu sempurna" dan beralih ke prinsip langkah kecil yang konsisten.

Untuk memfasilitasi hal tersebut, Mohamad Hazeem bin Mohmad Sidik dari UMK menyederhanakan kompleksitas bisnis ke dalam kerangka Simple Map. Kerangka ini mencakup empat elemen vital:
- Target Pasar (Who the destination): Siapa yang akan menerima manfaat atau menjadi konsumen utama?
- Rute Solusi (What the route/solution): Bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut secara sistematis?
- Keunikan (Uniqueness): Apa nilai tambah yang membedakan usaha tersebut dari inisiatif lainnya?
- Sumber Daya (Resources/the Fuel): Apa saja modal, keterampilan, dan jejaring yang tersedia?
Model ini memberikan panduan yang mudah dipahami bagi pemula untuk merancang social venture yang tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkelanjutan secara sosial.
Implementasi Nyata: Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat
Salah satu studi kasus yang menjadi sorotan dalam diskusi adalah program pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat kurang mampu. Model bisnis sosial yang diusulkan mencakup pelatihan keterampilan teknis—seperti kerajinan tangan atau pengolahan makanan rumahan—yang disertai dengan pendampingan pemasaran.
Melalui pendampingan ini, masyarakat tidak hanya diberikan bantuan pasif, tetapi dibekali dengan kemampuan untuk menciptakan sumber pendapatan mandiri. Hal ini sejalan dengan tujuan utama kewirausahaan sosial, yakni menciptakan kemandirian ekonomi yang berkelanjutan di tingkat akar rumput. Contoh nyata ini menjadi bukti bahwa Gen Z memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan jika dibekali dengan pola pikir dan metodologi yang tepat.
Analisis Implikasi dan Langkah ke Depan
Moderator webinar, Rani Rengganis, menyimpulkan bahwa tantangan terbesar Gen Z saat ini adalah menjembatani kesenjangan antara motivasi internal dengan tindakan eksternal. Seringkali, energi mental habis hanya untuk memikirkan skenario terburuk, alih-alih mengeksekusi rencana dalam 24 jam ke depan.
Dampak dari webinar ini diharapkan meluas ke ranah praktis. Dengan membingkai ulang pola pikir, diharapkan peserta tidak lagi memandang hambatan sebagai dinding penghalang, melainkan sebagai tantangan yang harus diatasi. Secara lebih luas, inisiatif ini memperkuat ekosistem kewirausahaan sosial di lingkungan kampus yang nantinya dapat berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Kesimpulan dan Harapan
Kolaborasi internasional antara UMBY dan UMK ini memberikan pelajaran berharga bahwa ketangguhan mental bukanlah sifat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Melalui perpaduan antara kecerdasan emosional (konsep HERO) dan kecerdasan manajerial (Simple Map), generasi muda kini memiliki perangkat yang lebih memadai untuk terjun ke dunia bisnis.
Ke depannya, sinergi antara perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia ini diharapkan mampu memicu lebih banyak program serupa. Keberhasilan dalam mengintegrasikan nilai-nilai psikologi ke dalam pendidikan kewirausahaan akan menentukan sejauh mana generasi muda mampu beradaptasi dengan disrupsi global. Dengan mental yang tangguh dan aksi yang konkret, Gen Z tidak hanya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi, tetapi menjadi pemimpin yang membawa dampak sosial positif bagi masyarakat luas.
Penyelenggaraan acara ini ditutup dengan harapan agar para peserta segera mengimplementasikan pengetahuan yang didapat, mengubah keraguan menjadi keberanian, dan membuktikan bahwa inisiatif kecil yang dilakukan hari ini adalah benih dari perubahan besar di masa depan.









