Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Terkini

Wawali Yogyakarta Wawan Harmawan Dorong Transformasi Industri Halal Sebagai Gaya Hidup Universal dan Penggerak Ekonomi Kreatif

badge-check


					Wawali Yogyakarta Wawan Harmawan Dorong Transformasi Industri Halal Sebagai Gaya Hidup Universal dan Penggerak Ekonomi Kreatif Perbesar

Pemerintah Kota Yogyakarta tengah melakukan akselerasi strategis dalam mengembangkan ekosistem ekonomi syariah di wilayahnya. Melalui perhelatan Shafiyah Expo 2026 yang berlangsung pada 19 hingga 21 Juni 2026, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menegaskan bahwa konsep halal kini telah bertransformasi dari sekadar pemenuhan syarat religius menjadi standar global yang merepresentasikan kualitas hidup, kebersihan, dan kesehatan. Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Yogyakarta siap memosisikan diri sebagai pusat industri halal yang inklusif bagi berbagai lapisan masyarakat, baik Muslim maupun non-Muslim.

Dalam pandangan Wawan Harmawan, industri halal di Yogyakarta memiliki potensi ekonomi yang sangat luas. Halal tidak lagi dipandang sebagai label eksklusif untuk konsumsi umat Islam, melainkan sebagai gaya hidup (lifestyle) yang mengedepankan prinsip higienitas dan standar mutu yang ketat. Sinergi antara pemerintah daerah, sektor perbankan, dan pelaku UMKM menjadi kunci dalam merealisasikan visi tersebut.

Shafiyah Expo 2026: Menguatkan Ekosistem Ekonomi Syariah

Shafiyah Expo 2026 yang diselenggarakan di Yogyakarta menjadi representasi nyata dari dinamika ekonomi syariah saat ini. Dengan melibatkan 129 tenant yang bergerak di berbagai sektor—mulai dari kuliner, fashion, jasa keuangan syariah, hingga filantropi—acara ini menjadi katalisator bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Manajer Shafiyah Expo, Imam Hidayat, menjelaskan bahwa pemilihan Yogyakarta sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Sebagai kota pendidikan, pusat wisata, dan inkubator kreativitas, Yogyakarta memiliki ekosistem yang sangat matang untuk mendukung pertumbuhan industri halal. Partisipasi dari berbagai sektor ini diharapkan mampu memberikan dampak signifikan bagi perputaran ekonomi lokal pasca-pandemi dan di tengah tantangan ekonomi global.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang pameran produk, tetapi juga sebagai ruang edukasi. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Pariwisata DIY, komunitas dakwah, serta kalangan akademisi menunjukkan bahwa pengembangan industri halal memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan.

Konsep Halal sebagai Standar Kualitas Global

Dalam diskusi mengenai industri halal, sering kali muncul perdebatan mengenai batasan pasar. Namun, Pemkot Yogyakarta memiliki pandangan yang progresif. Wawan Harmawan menekankan bahwa halal mencakup prinsip kebersihan (thoyyib) yang secara universal diterima oleh masyarakat modern. Dalam konteks pariwisata, sertifikasi halal menjadi daya tarik tambahan yang memberikan rasa aman bagi wisatawan mancanegara maupun domestik.

Secara teknis, pengembangan industri halal yang diproyeksikan Pemkot Yogyakarta mencakup beberapa pilar utama:

  1. Pariwisata Ramah Muslim: Penyediaan fasilitas pendukung yang memadai di destinasi wisata.
  2. Kesehatan dan Produk Higienis: Mendorong UMKM pangan untuk memiliki sertifikasi halal sebagai bentuk jaminan mutu.
  3. Ekonomi Kreatif: Mengintegrasikan nilai-nilai etika dan syariah ke dalam desain produk fashion dan kriya.
  4. Pemberdayaan Masyarakat: Mengedukasi pelaku usaha kecil mengenai prosedur sertifikasi halal yang kini lebih mudah melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Strategi Pemkot Yogyakarta Menuju 2027

Menatap masa depan, Pemerintah Kota Yogyakarta memiliki target ambisius untuk menyelenggarakan Expo Halal berskala lebih besar pada tahun 2027. Target ini bukan sekadar tentang besaran acara, melainkan upaya menciptakan "one stop service" bagi ekosistem halal. Artinya, para pelaku usaha dapat mengakses informasi, bimbingan sertifikasi, hingga akses permodalan dalam satu pintu.

Langkah ini dianggap krusial mengingat persaingan industri halal global yang semakin ketat. Negara-negara seperti Malaysia, Thailand, dan Jepang telah lebih dulu menginvestasikan sumber daya besar untuk memenangkan pasar halal dunia. Yogyakarta, dengan modal budaya dan infrastruktur pendidikannya, dipandang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Wawali Yogyakarta: Konsep halal mencerminkan kebersihan dan gaya hidup

Dukungan dari sektor perbankan dalam perhelatan tahun ini juga menjadi indikator bahwa industri syariah semakin dipercaya sebagai instrumen investasi yang stabil. Keterlibatan lembaga keuangan syariah diharapkan dapat mempermudah akses permodalan bagi UMKM yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Yogyakarta.

Implikasi Ekonomi dan Sosial

Secara makro, dorongan terhadap industri halal di Yogyakarta memberikan implikasi positif terhadap beberapa sektor utama. Pertama, peningkatan daya saing UMKM. Dengan adanya sertifikasi halal, produk UMKM lokal memiliki nilai tambah yang memungkinkannya masuk ke pasar ritel modern dan rantai pasok ekspor.

Kedua, penguatan branding pariwisata Yogyakarta. Sebagai kota wisata utama di Indonesia, mengintegrasikan gaya hidup halal ke dalam destinasi wisata akan meningkatkan kenyamanan bagi wisatawan dari berbagai negara, terutama dari kawasan Timur Tengah dan Asia Tenggara. Hal ini sejalan dengan tren global di mana wisatawan kini semakin sadar akan pentingnya kualitas, kebersihan, dan etika dalam layanan pariwisata.

Ketiga, transformasi perilaku konsumsi masyarakat. Ketika halal dipahami sebagai gaya hidup yang sehat, kesadaran masyarakat akan produk-produk berkualitas akan meningkat. Hal ini secara otomatis menekan peredaran produk-produk yang tidak terjamin keamanannya bagi kesehatan konsumen.

Tantangan dan Peluang ke Depan

Meskipun potensi yang dimiliki sangat besar, tantangan untuk mewujudkan ekosistem halal yang komprehensif tetap ada. Salah satunya adalah hambatan administratif dalam proses sertifikasi halal bagi pelaku UMKM mikro. Wawan Harmawan mengakui bahwa kolaborasi dengan BPJPH sangat penting untuk menyederhanakan birokrasi ini.

Selain itu, tantangan lainnya adalah menjaga konsistensi kualitas. Industri halal tidak hanya berhenti pada saat sertifikat diterbitkan, tetapi harus terjaga sepanjang proses produksi (dari hulu ke hilir). Oleh karena itu, edukasi berkelanjutan kepada pelaku usaha mengenai manajemen mutu berbasis syariah menjadi mutlak diperlukan.

Di sisi lain, peluang yang terbuka sangat lebar dengan adanya dukungan dari generasi muda yang mulai melek terhadap ekonomi syariah. Komunitas mahasiswa dan pelajar yang terlibat dalam Shafiyah Expo 2026 menunjukkan bahwa ada pergeseran paradigma. Generasi muda Yogyakarta tidak lagi melihat ekonomi syariah sebagai hal yang kaku, melainkan sebagai bagian dari identitas modern yang etis dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Langkah Pemerintah Kota Yogyakarta dalam mempromosikan industri halal sebagai gaya hidup universal adalah sebuah strategi yang tepat waktu. Dengan mengedepankan nilai kebersihan, kesehatan, dan kualitas, industri halal berpotensi menjadi motor penggerak baru bagi ekonomi daerah. Kesuksesan Shafiyah Expo 2026 menjadi bukti awal bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menciptakan ekosistem yang inklusif dan produktif.

Harapan ke depan, visi Pemkot Yogyakarta untuk menjadikan 2027 sebagai momentum puncak pengembangan ekosistem halal dapat terwujud dengan dukungan seluruh pihak. Jika ekosistem ini terbentuk secara sempurna, Yogyakarta tidak hanya akan dikenal sebagai kota pelajar dan kota wisata, tetapi juga sebagai kota pusat inovasi ekonomi syariah yang menjadi barometer nasional. Dengan sinergi yang berkelanjutan, industri halal akan terus berkembang menjadi fondasi ekonomi yang tangguh, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta memperkuat citra Yogyakarta sebagai destinasi yang ramah, bersih, dan berkualitas di mata dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Seskab Teddy gagas Kompetisi Setkab Gengs untuk dukung Asta Cita

21 Juni 2026 - 06:16 WIB

Ekonom nilai Indonesia tetap jadi magnet investasi global di tengah tantangan pasar modal internasional

21 Juni 2026 - 00:16 WIB

Strategi Diplomasi Ekonomi Indonesia: Wamendag Roro Esti Perluas Akses Pasar ke Asia Tengah melalui TIIF 2026

20 Juni 2026 - 12:16 WIB

AS dan Hizbullah Resmi Sepakati Gencatan Senjata di Lebanon Setelah Intensifikasi Konflik Regional

20 Juni 2026 - 06:16 WIB

Mengawal program prioritas dengan akal sehat: Menimbang efektivitas dan integritas kebijakan makan bergizi gratis serta koperasi desa

20 Juni 2026 - 00:16 WIB

Trending di Terkini