Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Hiburan

Waspadai Demam Tanpa Gejala Jelas sebagai Indikasi Infeksi Saluran Kemih pada Anak untuk Mencegah Risiko Gangguan Ginjal Kronis

badge-check


					Waspadai Demam Tanpa Gejala Jelas sebagai Indikasi Infeksi Saluran Kemih pada Anak untuk Mencegah Risiko Gangguan Ginjal Kronis Perbesar

JAKARTA — Kesadaran orang tua terhadap kesehatan saluran kemih anak menjadi poin krusial dalam pencegahan penyakit ginjal jangka panjang. Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi lulusan Universitas Indonesia (FKUI), dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, mengeluarkan peringatan penting bagi para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala demam tinggi pada anak yang muncul secara tiba-tiba tanpa disertai indikasi penyakit umum lainnya. Dalam sebuah diskusi kesehatan ginjal yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (19/6), dr. Henny menekankan bahwa demam yang tidak diketahui penyebabnya (fever of unknown origin) sering kali merupakan manifestasi klinis utama dari Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada kelompok usia anak-anak.

Fenomena demam tanpa gejala penyerta ini sering kali menimbulkan kerancuan diagnosis di tingkat keluarga. Banyak orang tua yang secara refleks menghubungkan kenaikan suhu tubuh anak dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) seperti batuk dan pilek, atau masalah pencernaan seperti diare. Namun, dr. Henny menjelaskan bahwa ISK memiliki karakteristik yang unik, di mana suhu tubuh dapat melonjak drastis hingga mencapai 38,5 hingga 40 derajat Celsius tanpa ada gangguan pada sistem organ lainnya. Kondisi ini, jika diabaikan atau hanya diobati dengan pereda demam tanpa mencari akar masalahnya, berisiko menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan ginjal anak.

Identifikasi Gejala Berdasarkan Kelompok Usia

Tantangan terbesar dalam mendeteksi ISK pada anak adalah variasi gejala yang sangat bergantung pada usia pasien. Pada bayi di bawah usia 24 bulan, gejala sering kali bersifat non-spesifik. Dr. Henny mengungkapkan bahwa pada fase ini, demam adalah satu-satunya alarm yang diberikan oleh tubuh. "Kita punya anak datang demam, tidak ada batuk, tidak ada pilek, tidak ada diare, tidak ada muntah, tiba-tiba demam. Hati-hati, mungkin itu adalah infeksi saluran kemih," ujarnya dalam diskusi tersebut.

Selain demam, indikator lain yang harus diperhatikan pada bayi dan balita adalah pertumbuhan fisik. ISK yang bersifat kronis atau berulang sering kali menghambat penyerapan nutrisi dan mengganggu metabolisme, yang berujung pada kondisi gagal tumbuh. Orang tua disarankan untuk rutin memantau kurva pertumbuhan anak; jika berat badan tidak mengalami kenaikan yang signifikan atau cenderung stagnan dalam beberapa bulan berturut-turut tanpa penyebab yang jelas, pemeriksaan fungsi saluran kemih patut dipertimbangkan sebagai bagian dari prosedur diagnostik.

Pada kelompok neonatus atau bayi baru lahir di bawah usia satu bulan, deteksi dini menjadi jauh lebih kompleks. Gejala ISK pada bayi baru lahir sering kali menyerupai infeksi sistemik berat atau sepsis. Salah satu tanda klinis yang sering ditemukan adalah ikterus atau kondisi kuning yang berkepanjangan (prolonged jaundice). Bayi yang tampak lesu, malas menyusu, atau mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia) alih-alih demam juga harus segera mendapatkan pemeriksaan laboratorium urine untuk menyingkirkan kemungkinan infeksi bakteri pada saluran kemih.

Memasuki usia di atas dua tahun, proses identifikasi biasanya menjadi lebih mudah karena anak mulai mampu mengomunikasikan rasa tidak nyaman yang mereka rasakan. Dr. Henny menjelaskan bahwa gejala pada anak yang lebih besar cenderung lebih terlokalisasi. "Biasanya diawari dengan sakit perut, kemudian pipisnya sakit, anyang-anyangan. Yang pipisnya tadinya bagus tiap tiga sampai empat jam, tiba-tiba dalam satu jam pipis empat kali," jelas dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah tersebut. Perubahan perilaku saat buang air kecil, seperti mengejan, menangis saat urine keluar, atau memegang area kemaluan dengan ekspresi kesakitan, merupakan petunjuk kuat adanya inflamasi pada saluran kemih.

Karakteristik Urine dan Komplikasi Lanjut

Selain aspek frekuensi dan rasa sakit, observasi terhadap kualitas urine itu sendiri menjadi kunci diagnosis mandiri bagi orang tua di rumah. Urine yang sehat biasanya berwarna jernih hingga kuning muda dan tidak memiliki bau yang menyengat. Namun, pada anak yang terinfeksi, urine dapat terlihat keruh, terkadang bercampur darah (hematuria), dan memiliki aroma yang tajam atau busuk akibat aktivitas bakteri dalam saluran kemih.

Jika infeksi telah naik ke bagian saluran kemih atas atau mencapai ginjal (pielonefritis), gejala akan berkembang menjadi lebih sistemik dan berat. Anak mungkin akan mengeluhkan nyeri pada punggung bawah atau area pinggang, mengalami mual yang disertai muntah hebat, hingga menunjukkan tanda-tanda dehidrasi. Pada tahap ini, risiko terjadinya luka parut (scarring) pada ginjal meningkat pesat. Luka parut pada ginjal anak merupakan kondisi ireversibel yang di masa depan dapat memicu hipertensi (tekanan darah tinggi) dan penurunan fungsi ginjal secara bertahap menuju gagal ginjal kronis.

Data dan Konteks Medis Infeksi Saluran Kemih pada Anak

Infeksi Saluran Kemih merupakan infeksi bakteri yang paling umum terjadi pada anak-anak setelah infeksi saluran napas dan telinga. Berdasarkan data medis global, sekitar 8 persen anak perempuan dan 2 persen anak laki-laki akan mengalami setidaknya satu kali episode ISK sebelum mereka mencapai usia 11 tahun. Bakteri Escherichia coli (E. coli) yang berasal dari saluran pencernaan merupakan penyebab paling dominan dalam mayoritas kasus ISK pada anak.

Demam tanpa penyebab jelas bisa jadi tanda ISK pada anak, kata dokter

Secara anatomis, anak perempuan lebih rentan terkena ISK karena saluran uretra yang lebih pendek dan jaraknya yang dekat dengan anus, memudahkan bakteri untuk bermigrasi ke kandung kemih. Namun, pada bayi laki-laki di bawah usia satu tahun, prevalensi ISK bisa lebih tinggi dibandingkan bayi perempuan, terutama jika bayi laki-laki tersebut belum dikhitan. Adanya preputium atau kulup yang belum dibuang dapat menjadi tempat berkumpulnya smegma dan bakteri yang kemudian naik ke saluran kemih.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat bahwa ISK menduduki peringkat kedua sebagai penyebab tersering gangguan ginjal pada anak di Indonesia, setelah sindrom nefrotik. Oleh karena itu, diskusi yang dipimpin oleh dr. Henny ini bertujuan untuk menggeser paradigma pengobatan dari kuratif menjadi preventif dan deteksi dini. Keterlambatan dalam memulai terapi antibiotik yang tepat dalam 24-48 jam pertama sejak munculnya gejala demam pada ISK dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal secara signifikan.

Langkah Diagnostik dan Penanganan Medis

Ketika orang tua membawa anak dengan gejala demam tanpa fokus yang jelas ke fasilitas kesehatan, dokter spesialis anak biasanya akan melakukan serangkaian tes. Langkah pertama adalah urinalisis dan kultur urine. Kultur urine dianggap sebagai standar baku (gold standard) untuk mengidentifikasi jenis bakteri penyebab dan menentukan jenis antibiotik yang paling efektif (uji sensitivitas).

"Penting bagi orang tua untuk tidak sembarangan memberikan antibiotik sisa atau membeli antibiotik tanpa resep dokter," tegas dr. Henny dalam sesi tersebut. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat tidak hanya gagal menyembuhkan infeksi secara tuntas, tetapi juga berisiko menciptakan resistensi bakteri yang membuat pengobatan di masa depan menjadi jauh lebih sulit.

Selain pemeriksaan urine, pada kasus ISK pertama pada anak laki-laki atau ISK berulang pada anak perempuan, dokter sering kali menyarankan pemeriksaan pencitraan seperti ultrasonografi (USG) ginjal dan saluran kemih. Tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya kelainan anatomi bawaan, seperti refluks vesikoureter (VUR)—suatu kondisi di mana urine mengalir kembali dari kandung kemih ke ginjal—atau adanya sumbatan pada saluran kemih yang menjadi faktor predisposisi infeksi berulang.

Strategi Pencegahan dan Edukasi Orang Tua

Mencegah ISK jauh lebih baik daripada mengobatinya, mengingat dampak jangka panjang terhadap fungsi ginjal. Dr. Henny dan para ahli kesehatan anak menekankan beberapa langkah preventif yang dapat dilakukan di lingkungan rumah:

  1. Edukasi Kebersihan (Toilet Training): Orang tua harus mengajarkan anak perempuan untuk menyeka area kemaluan dari arah depan ke belakang (dari uretra ke arah anus) setelah buang air kecil atau besar untuk mencegah kontaminasi bakteri tinja ke saluran kemih.
  2. Hidrasi yang Cukup: Memastikan anak mengonsumsi air putih dalam jumlah yang memadai sesuai kebutuhan usianya akan membantu "mencuci" saluran kemih secara alami melalui aliran urine yang rutin.
  3. Mencegah Konstipasi: Sembelit atau konstipasi kronis sering kali berkaitan dengan ISK. Rektum yang penuh dengan tinja yang keras dapat menekan kandung kemih dan mencegah pengosongan urine secara sempurna, yang kemudian memicu pertumbuhan bakteri.
  4. Kebiasaan Buang Air Kecil: Anak harus didorong untuk tidak menahan kencing. Kebiasaan menahan kencing memberikan waktu bagi bakteri untuk berkembang biak di dalam kandung kemih.
  5. Pemilihan Pakaian Dalam: Menggunakan pakaian dalam berbahan katun yang menyerap keringat dapat membantu menjaga area kemaluan tetap kering dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme.

Implikasi Luas Terhadap Kesehatan Masyarakat

Isu Infeksi Saluran Kemih pada anak bukan sekadar masalah medis individual, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang memiliki dampak ekonomi dan sosial. Anak-anak yang mengalami komplikasi ginjal akibat ISK yang tidak tertangani dengan baik akan memerlukan perawatan medis jangka panjang, bahkan prosedur dialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal di masa dewasa mereka. Hal ini tentu akan memengaruhi kualitas hidup dan produktivitas generasi mendatang.

Diskusi yang diadakan di Jakarta ini diharapkan menjadi momentum bagi para praktisi kesehatan dan orang tua untuk lebih proaktif. Deteksi dini melalui pengamatan gejala demam tanpa penyebab jelas merupakan langkah paling sederhana namun paling berdampak dalam memutus rantai komplikasi penyakit ginjal pada anak. Dengan penanganan yang cepat dan tepat, hampir seluruh kasus ISK pada anak dapat disembuhkan sepenuhnya tanpa meninggalkan sisa masalah kesehatan di masa depan.

Dr. Henny Adriani Puspitasari menutup diskusi dengan pesan kuat bahwa kewaspadaan orang tua adalah garis pertahanan pertama bagi kesehatan ginjal anak. Setiap gejala yang tidak biasa, sekecil apa pun, layak untuk dikonsultasikan dengan tenaga medis profesional demi menjamin tumbuh kembang anak yang optimal dan bebas dari ancaman penyakit ginjal kronis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Menteri Kebudayaan Fadli Zon Perkuat Narasi Ekonomi Kerakyatan Melalui Napak Tilas ke Rumah Kelahiran Bung Hatta di Bukittinggi

21 Juni 2026 - 12:09 WIB

Pesona Pariwisata Banyuwangi Pikat Raline Shah dalam Kunjungan Perdana Bersama Keluarga ke Ujung Timur Pulau Jawa

21 Juni 2026 - 06:09 WIB

Davina Karamoy Penuhi Panggilan Polda Metro Jaya Sebagai Saksi Kasus Dugaan Penipuan Travel Umrah Hanania Group

21 Juni 2026 - 00:09 WIB

Inul Daratista Soroti Transformasi Inklusif Musik Dangdut dalam Menembus Batas Generasi dan Internasionalisasi Budaya Populer Indonesia

20 Juni 2026 - 18:09 WIB

Menkomdigi Meutya Hafid Tekankan Kewajiban Platform Digital dalam Menjamin Keamanan dan Perlindungan Anak Indonesia di Ruang Siber

20 Juni 2026 - 12:09 WIB

Trending di Hiburan