Kawasan objek wisata dan Pasar Digital Candi Banyunibo di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi pusat perhatian publik pada Minggu, 7 Oktober 2018. Lokasi bersejarah yang terletak di Kecamatan Prambanan ini dipilih sebagai tempat penyelenggaraan aksi kolosal pemecahan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori kain stagen terpanjang, yakni mencapai 1001 meter. Kegiatan ini bukan sekadar upaya administratif untuk mendapatkan pengakuan rekor, melainkan sebuah manifestasi strategis dari Pemerintah Kabupaten Sleman untuk menghidupkan kembali kerajinan tenun tradisional yang mulai terpinggirkan oleh modernitas.
Mengenal Stagen dalam Budaya Busana Jawa
Secara historis, stagen merupakan elemen vital dalam tatanan busana tradisional Jawa. Secara teknis, stagen adalah kain panjang yang berfungsi sebagai korset atau sabuk yang dililitkan pada bagian perut. Dalam praktiknya, stagen digunakan untuk menahan kain jarik atau batik agar tidak melorot saat dikenakan, sekaligus memberikan postur tubuh yang lebih tegak dan ramping bagi pemakainya.
Pada masa lampau, baik pria maupun wanita di Jawa menggunakan stagen sebagai komponen wajib sebelum mengenakan busana atasan seperti beskap atau kebaya. Secara dimensi, stagen tradisional umumnya memiliki lebar sekitar 15 sentimeter dengan panjang rata-rata antara lima hingga sepuluh meter. Selain fungsi estetika untuk memperindah penampilan, stagen juga memiliki fungsi praktis dalam menjaga posisi kain tetap stabil saat seseorang beraktivitas.
Hingga saat ini, tradisi penggunaan stagen masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat, terutama di kalangan ibu pasca-melahirkan. Banyak perempuan yang meyakini bahwa dengan melilitkan stagen secara rutin—yang sering kali dikombinasikan dengan konsumsi jamu tradisional—dapat membantu mengembalikan bentuk tubuh, mengencangkan otot perut, dan mempercepat pemulihan fisik pasca-persalinan. Evolusi material stagen pun terus berkembang; jika dahulu didominasi oleh kain tenun tradisional, kini pasar telah menyediakan berbagai varian stagen berbahan elastis atau sintetis yang dianggap lebih praktis oleh konsumen modern.
Ancaman Kepunahan Tenun Bukan Mesin (ATBM)
Di balik perayaan pemecahan rekor MURI ini, terdapat urgensi pelestarian yang mendalam. Produksi stagen tradisional yang menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) kini menghadapi tantangan serius. Jumlah pengrajin yang memiliki keahlian menenun secara manual semakin berkurang seiring dengan minimnya regenerasi.
Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, salah satu sentra utama pengrajin tenun tradisional yang masih bertahan berada di Kecamatan Moyudan. Tercatat hanya ada sekitar 24 pengrajin yang masih aktif menggeluti usaha ini. Keahlian mereka umumnya diperoleh secara turun-temurun dari leluhur, sebuah warisan budaya yang membutuhkan perhatian khusus agar tidak hilang ditelan zaman.
Ketergantungan pada alat tenun manual yang memakan waktu dan tenaga menjadikan produk mereka sulit bersaing secara harga dengan stagen produksi pabrikan massal. Oleh karena itu, inisiatif yang digagas oleh Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman untuk mengangkat stagen ke panggung rekor MURI dipandang sebagai langkah tepat untuk mempromosikan kembali nilai ekonomi dan budaya dari produk tenun lokal.
Kronologi dan Teknis Pelaksanaan Rekor MURI
Prosesi pemecahan rekor ini dirancang dengan melibatkan partisipasi masyarakat luas. Sebanyak 110 anak yatim piatu dari panti asuhan di wilayah Prambanan dilibatkan secara langsung sebagai pengusung kain stagen sepanjang 1001 meter tersebut. Penggunaan anak-anak sebagai pengusung kain ini bukan sekadar teknis, melainkan bentuk pendidikan sejarah dan kebudayaan secara langsung kepada generasi muda mengenai warisan leluhur mereka.
Kain stagen raksasa tersebut dibentangkan dengan koreografi yang disusun sedemikian rupa mengelilingi area Candi Banyunibo. Lokasi ini dipilih bukan tanpa alasan; Candi Banyunibo merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Sleman yang memadukan keindahan arsitektur candi dengan potensi ekonomi kreatif melalui Pasar Digital. Kehadiran ribuan meter kain stagen di tengah latar candi menciptakan kontras visual yang kuat antara nilai historis bangunan dan nilai fungsi dari kain tradisional tersebut.
Integrasi Wisata Budaya dan Olahraga
Selain agenda utama pemecahan rekor, Pemerintah Kabupaten Sleman mengemas acara ini dalam rangkaian kegiatan yang lebih luas bertajuk "Slebor Pit". Ini adalah kegiatan bersepeda santai yang mengambil titik start di kawasan Lava Bantal, Berbah, dan berakhir di Candi Banyunibo.
Rute yang dilalui mencakup kawasan-kawasan yang sedang dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan, seperti Pertanian Jambu Air Dalhari, Goa Jepang, hingga menyusuri pematang sawah yang asri. Penyelenggara berharap bahwa para peserta "Slebor Pit" tidak hanya berolahraga, tetapi juga secara tidak langsung mempromosikan rute wisata tersebut melalui pengalaman langsung di lapangan.
Di garis finis, para peserta dan pengunjung dapat menikmati pengalaman di Pasar Digital Banyunibo. Pasar ini menawarkan berbagai kuliner khas daerah yang dikelola oleh komunitas lokal, yang diharapkan mampu mendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan candi.
Implikasi dan Dampak Strategis bagi Kabupaten Sleman
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, Sudarningsih, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki implikasi strategis bagi pengembangan sektor pariwisata daerah. Pertama, pemecahan rekor MURI berfungsi sebagai instrumen pemasaran yang kuat untuk mengenalkan destinasi wisata di Sleman bagian timur. Selama ini, konsentrasi wisatawan sering kali terpusat pada area tertentu, sehingga penyebaran arus pengunjung ke wilayah Prambanan dan Berbah menjadi prioritas pemerintah daerah.
Kedua, upaya ini merupakan bagian dari visi besar untuk menjadikan Sleman sebagai pusat destinasi wisata belanja, khususnya bagi kerajinan tangan dan souvenir khas daerah. Dengan menonjolkan stagen sebagai produk unggulan, pemerintah berharap dapat memicu minat pasar terhadap produk-produk ATBM lainnya. Harapannya, permintaan pasar yang meningkat akan memberikan insentif ekonomi bagi para pengrajin di Moyudan dan wilayah lainnya, sehingga mereka memiliki motivasi untuk terus memproduksi dan melakukan regenerasi keahlian menenun.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pelestarian berbasis event (event-based tourism) seperti ini memiliki efektivitas tinggi dalam membangun kesadaran publik. Dengan menggabungkan unsur rekor dunia, olahraga (bersepeda), dan kuliner, kegiatan ini mampu menarik segmen pengunjung yang heterogen. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan "brand awareness" terhadap produk lokal di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.
Tantangan ke Depan
Meskipun acara ini sukses secara seremonial, tantangan keberlanjutan tetap menjadi perhatian utama. Pengrajin ATBM di Sleman membutuhkan dukungan berkelanjutan berupa kemudahan akses bahan baku, pelatihan desain agar produk stagen lebih relevan dengan tren mode masa kini, serta bantuan pemasaran digital.
Tanpa adanya ekosistem yang mendukung, kegiatan pemecahan rekor hanya akan menjadi seremoni sesaat. Pemerintah daerah diharapkan dapat menindaklanjuti momentum ini dengan memfasilitasi kemitraan antara pengrajin tenun dengan pelaku industri fashion atau desainer lokal. Dengan mengintegrasikan stagen ke dalam tren busana kontemporer—misalnya sebagai aksesoris tas, ikat pinggang, atau elemen busana etnik modern—nilai jual kain tenun tradisional ini dapat ditingkatkan secara signifikan.
Sebagai penutup, inisiatif pemecahan rekor MURI stagen 1001 meter di Candi Banyunibo adalah contoh nyata bagaimana sebuah pemerintah daerah dapat mengolaborasikan elemen budaya, pariwisata, dan pemberdayaan ekonomi lokal dalam satu rangkaian kegiatan. Keberhasilan acara ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern; sebaliknya, dengan narasi yang tepat, tradisi dapat menjadi aset yang sangat bernilai dalam industri pariwisata masa kini. Kedepannya, sinergi antara komunitas, pemerintah, dan pelaku usaha di Sleman akan menjadi kunci utama dalam memastikan bahwa warisan tenun tradisional tidak hanya sekadar tercatat dalam rekor, tetapi tetap hidup dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.









