Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Headline

UGM Perkuat Daya Saing Industri Kulit Nasional melalui Transformasi Teknologi Berkelanjutan dan Standar Ramah Lingkungan

badge-check


					UGM Perkuat Daya Saing Industri Kulit Nasional melalui Transformasi Teknologi Berkelanjutan dan Standar Ramah Lingkungan Perbesar

Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) secara resmi meluncurkan inisiatif strategis bertajuk "Advanced Training in Sustainable Leather Technology" di Yogyakarta pada Selasa, 23 Juni 2026. Program intensif selama empat hari ini dirancang untuk menjawab tantangan global dalam sektor industri kulit, yakni transisi menuju praktik produksi yang ramah lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini diambil sebagai respons atas tuntutan pasar internasional yang semakin ketat terkait standar keberlanjutan produk (sustainability standards) dan pengelolaan limbah industri.

Kegiatan ini merupakan bagian integral dari proyek ELEGTEC (Enhancing Sustainable and Green Technology in Indonesia), sebuah konsorsium internasional di bawah naungan program Erasmus+. Fokus utama pelatihan mencakup inovasi teknik penyamakan kulit, pemanfaatan bahan kimia alternatif yang lebih aman, serta implementasi ekonomi sirkular dalam rantai pasok industri kulit di Indonesia.

Konteks Industri Kulit Indonesia dalam Peta Global

Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang signifikan dalam industri kulit dunia. Didukung oleh populasi ternak yang besar dan keanekaragaman hayati, sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi bagi banyak komunitas lokal, terutama di sentra kerajinan kulit seperti Yogyakarta, Garut, dan Magetan. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa industri produk kulit dan alas kaki menyumbang kontribusi signifikan terhadap nilai ekspor non-migas nasional.

Namun, di balik potensi tersebut, industri kulit di dalam negeri menghadapi hambatan besar terkait persepsi dampak lingkungan. Proses penyamakan tradisional sering kali menggunakan bahan kimia sintetis berat yang berisiko mencemari ekosistem air jika tidak dikelola dengan teknologi pengolahan limbah yang canggih. Tantangan inilah yang mendorong UGM untuk menjembatani kesenjangan antara kebutuhan akademis dan praktik di lapangan melalui transfer teknologi yang berkelanjutan.

Dekan Fakultas Peternakan UGM, Prof. Budi Guntoro, menegaskan bahwa universitas memiliki tanggung jawab moral dan praktis untuk mentransformasi cara pandang industri. "Fakultas Peternakan UGM berkomitmen penuh untuk mendukung pengembangan industri kulit melalui integrasi antara pendidikan, riset terapan, dan pengabdian masyarakat. Kami ingin memastikan bahwa industri kulit Indonesia tidak hanya besar secara volume, tetapi juga unggul secara kualitas dan bertanggung jawab secara ekologis," ujar Prof. Budi saat membuka sesi pelatihan.

Kolaborasi Strategis Melalui Program Erasmus+

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari ini bukan sekadar seminar teknis biasa. Pelatihan ini menghadirkan ekosistem kolaborasi yang melibatkan akademisi dari universitas mitra mancanegara, praktisi industri yang telah berpengalaman dalam standar ekspor, serta perwakilan pemerintah yang membidangi kebijakan industri hijau.

Direktur Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM, Puji Astuti, menekankan pentingnya sinergi ini. Menurutnya, program ELEGTEC adalah platform vital untuk menstandarisasi teknologi hijau di Indonesia agar selaras dengan regulasi Uni Eropa dan pasar global lainnya. "Industri kulit memiliki multiplier effect yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Namun, tanpa adopsi teknologi ramah lingkungan, produk kita akan sulit bersaing di pasar global yang kini sangat peduli pada jejak karbon dan pengelolaan limbah," jelas Puji.

Selama masa pelatihan, para peserta—yang terdiri dari pelaku UMKM kulit, mahasiswa tingkat akhir, serta peneliti—diberikan akses mendalam mengenai:

UGM memperkuat daya saing industri kulit melalui teknologi berkelanjutan
  1. Teknik penyamakan berbasis bio (bio-tanning) yang meminimalisir penggunaan kromium.
  2. Manajemen efisiensi energi dalam proses pengeringan dan pemotongan kulit.
  3. Strategi pengelolaan limbah cair untuk memenuhi baku mutu lingkungan hidup.
  4. Digitalisasi rantai pasok untuk meningkatkan transparansi asal-usul bahan baku (traceability).

Analisis Dampak: Menuju Industri Kulit Berkelanjutan

Transformasi menuju teknologi hijau bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak bagi keberlangsungan bisnis. Banyak merek fashion global saat ini telah menetapkan kebijakan "Zero Deforestation" dan "Sustainable Sourcing" bagi para pemasok mereka. Jika industri kulit Indonesia gagal beradaptasi, risiko kehilangan pasar ekspor menjadi ancaman nyata.

Dari perspektif ekonomi, penerapan teknologi berkelanjutan memang memerlukan investasi awal yang cukup tinggi, terutama dalam pengadaan mesin pengolah limbah dan pelatihan tenaga kerja terampil. Namun, jika dilihat dari kacamata jangka panjang, efisiensi penggunaan bahan kimia dan energi akan menurunkan biaya operasional secara signifikan. Selain itu, sertifikasi ramah lingkungan akan meningkatkan nilai jual (premium pricing) produk kulit Indonesia di pasar internasional.

Yogyakarta, sebagai salah satu barometer industri kerajinan kulit, dipandang sebagai model yang tepat untuk penerapan teknologi ini. Potensi produk kulit berkualitas ekspor dari Yogyakarta telah lama diakui, dan dengan adanya intervensi teknologi dari UGM, diharapkan akan lahir inovasi produk yang memiliki daya saing lebih tinggi, baik dari sisi estetika maupun aspek keberlanjutan.

Kronologi dan Langkah Selanjutnya

Program ELEGTEC yang melibatkan UGM ini direncanakan sebagai rangkaian kegiatan berkelanjutan. Pasca-pelatihan empat hari ini, pihak UGM merencanakan tindak lanjut berupa:

  • Pendampingan UMKM: Melakukan audit lingkungan bagi pengrajin kulit kecil agar dapat menerapkan sistem pengolahan limbah sederhana namun efektif.
  • Pusat Riset Kulit: Mengoptimalkan laboratorium Fakultas Peternakan UGM sebagai pusat uji coba bahan penyamak alternatif yang berasal dari sumber daya lokal.
  • Advokasi Kebijakan: Memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah terkait standar industri kulit yang ramah lingkungan untuk diterapkan di kawasan sentra kerajinan.

Pihak penyelenggara optimis bahwa dengan kolaborasi yang terstruktur, industri kulit Indonesia dapat keluar dari stigma sebagai industri polutan dan bertransformasi menjadi industri yang berwawasan lingkungan. Tantangan yang ada, mulai dari pengelolaan limbah hingga efisiensi sumber daya, kini dipandang sebagai peluang bagi Indonesia untuk mengukuhkan posisinya di peta industri kulit dunia sebagai produsen yang kompetitif dan berkelanjutan.

Perspektif Industri dan Tantangan Implementasi

Di lapangan, para praktisi industri menyambut baik inisiatif ini. Beberapa pelaku usaha menyatakan bahwa kendala utama yang mereka hadapi selama ini adalah minimnya informasi mengenai teknologi alternatif yang terjangkau. "Pelatihan ini membuka mata kami bahwa ada metode penyamakan yang lebih efisien dan tidak harus mahal jika dilakukan dengan teknik yang tepat," ungkap salah satu peserta pelatihan yang berasal dari sektor industri kecil menengah di Yogyakarta.

Namun, tantangan terbesar tetap terletak pada skalabilitas. Banyak UMKM di Indonesia masih bekerja dalam skala rumah tangga dengan keterbatasan modal untuk melakukan peremajaan mesin. Oleh karena itu, peran pemerintah dan institusi pendidikan seperti UGM sangat krusial untuk menyediakan skema pendampingan yang berkelanjutan, bukan hanya melalui pelatihan, tetapi juga akses terhadap teknologi yang tepat guna (appropriate technology).

Kesimpulan

Langkah Fakultas Peternakan UGM dalam menyelenggarakan "Advanced Training in Sustainable Leather Technology" merupakan bukti nyata peran universitas sebagai agen perubahan dalam sektor industri nasional. Dengan menyatukan akademisi, praktisi, dan mitra internasional, UGM tidak hanya memberikan solusi teknis, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keberlanjutan.

Di masa depan, kesuksesan industri kulit nasional akan sangat bergantung pada kemampuan untuk mengintegrasikan teknologi hijau dengan kearifan lokal. Jika inisiatif ini mampu diimplementasikan secara luas, Indonesia berpotensi tidak hanya mempertahankan pasar domestiknya tetapi juga memenangkan kepercayaan pasar global sebagai produsen produk kulit yang etis, ramah lingkungan, dan berkualitas tinggi. Komitmen yang ditunjukkan oleh seluruh pemangku kepentingan dalam acara ini menjadi langkah awal yang penting bagi masa depan industri kulit Indonesia yang lebih hijau dan berdaya saing global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Korem 072/Pamungkas Berikan Klarifikasi Terkait Insiden Kesalahpahaman di Ajang Mandiri Jogja Marathon 2026

23 Juni 2026 - 06:03 WIB

Wagub DIY Paku Alam X: Penting edukasi pola asuh anak untuk penurunan stunting

23 Juni 2026 - 00:03 WIB

Kejari Sleman Tahan Anggota DPRD Berinisial RA Terkait Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata Senilai Rp10,95 Miliar

22 Juni 2026 - 18:03 WIB

KAI Daop 6 Yogyakarta Catat Lonjakan Penumpang 22 Persen Selama Periode Libur Sekolah 2026

22 Juni 2026 - 12:03 WIB

Apriyadi Kusbiantoro: Kisah Komikus Asal Bantul yang Menaklukkan Industri Komik Global

21 Juni 2026 - 12:03 WIB

Trending di Headline