Dunia akademik global selama beberapa dekade terakhir telah menyaksikan kemajuan pesat dalam bidang sains dan teknologi. Namun, kemajuan tersebut sering kali berjalan secara dikotomis, di mana inovasi material tidak dibarengi dengan penguatan sisi humaniora, etika, dan keadilan sosial. Kesenjangan antara capaian intelektual dan realitas sosial inilah yang menjadi fokus utama dalam Diskusi Pemikiran Bulaksumur edisi ke-48 yang diselenggarakan oleh Dewan Guru Besar (DGB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Forum yang berlangsung di Balai Senat Gedung Pusat UGM pada Rabu (20/5) tersebut mengangkat tema Sistem Pengetahuan Transformatif Berbasis Nilai: Pemikiran Kuntowijoyo, sebuah upaya untuk mengontekstualisasikan kembali gagasan almarhum Prof. Kuntowijoyo dalam menjawab tantangan zaman.
Kuntowijoyo (1943–2005) bukanlah sekadar seorang Guru Besar Sejarah di UGM. Beliau adalah sosok intelektual multitalenta yang dikenal luas sebagai sejarawan, budayawan, dan sastrawan besar Indonesia. Sepanjang karier akademisnya, Kuntowijoyo secara konsisten menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh hanya berhenti pada tahap deskriptif atau sekadar menjelaskan realitas. Baginya, ilmu harus memiliki fungsi transformatif; ia harus mampu menjadi instrumen perubahan untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan dan menegakkan keadilan sosial.
Menelisik Akar Pemikiran Kuntowijoyo: Islam sebagai Ilmu
Diskusi ini menghadirkan perdebatan lintas disiplin yang mendalam mengenai bagaimana nilai-nilai ketuhanan dapat diintegrasikan dalam struktur keilmuan modern. Prof. Setiadi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, membuka forum dengan menyoroti relevansi pemikiran Kuntowijoyo mengenai Islam sebagai ilmu. Menurutnya, kegagalan banyak sistem modern dalam membawa kesejahteraan umat berakar pada hilangnya dimensi nilai dalam individu.
"Esensi kehidupan manusia berakar dari karakteristik individual yang sangat mendalam, yaitu nilai-nilai dalam diri manusia. Apakah kita menjadi umat Islam yang sempurna atau tidak, bisa kita lihat dari apa yang dihasilkan oleh perilaku kita dalam kehidupan bermasyarakat," tegas Prof. Setiadi. Pandangan ini sejalan dengan kritik Kuntowijoyo yang melihat bahwa Islam sering kali hanya diperlakukan sebagai ajaran normatif di atas kertas, tanpa diterjemahkan ke dalam metodologi ilmiah yang aplikatif.
Lebih jauh, Dr. Arqom Kuswanjono, dosen dari Fakultas Filsafat UGM, membedah konsep strukturalisme transendental yang digagas Kuntowijoyo. Dalam perspektif Arqom, terdapat miskonsepsi dalam gerakan "Islamisasi ilmu" yang sempat populer. Kuntowijoyo, menurut Arqom, tidak mengajak untuk sekadar menempelkan label Islam pada ilmu-ilmu Barat yang sekuler. Sebaliknya, yang diusung adalah upaya untuk menjadikan Islam sebagai paradigma yang menjiwai proses ilmiah itu sendiri.

"Pemikiran Kuntowijoyo mengintegrasikan rasio empiris, filsafat, tasawuf, dan agama ke dalam satu kerangka utuh. Beliau mengingatkan bahwa kitab suci bersifat mutlak, namun dibaca oleh manusia yang hidup dalam konteks sejarah yang dinamis," ujar Arqom. Ia memberikan ilustrasi bahwa interpretasi terhadap ayat-ayat suci akan terus berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan. Jika tafsir tidak diperbarui secara kontekstual, maka agama akan kehilangan relevansinya dan ditinggalkan oleh masyarakat modern.
Integrasi Sains dan Agama dalam Perspektif Kesehatan
Salah satu poin paling menarik dalam diskusi ini adalah bagaimana pemikiran Kuntowijoyo diimplementasikan dalam disiplin ilmu eksakta, yakni kedokteran. Prof. dr. Mora Claramita, MHPE., Ph.D., Sp.KKLP., dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKK-MK) UGM, menguraikan bagaimana ayat-ayat Al-Qur’an mengandung petunjuk medis yang dapat dibuktikan secara empiris.
Sebagai contoh, ia merujuk pada QS Al-Baqarah ayat 168 yang berbicara tentang makanan yang halal dan thayyib (baik/sehat). Prof. Mora menekankan bahwa konsep "halal dan sehat" merupakan integrasi antara kepatuhan beragama dan pemeliharaan kesehatan fisik yang merupakan manifestasi dari ilmu pengetahuan. "Islam is knowledge is evident. Ketika kita menelaah ayat-ayat tersebut satu per satu, kita menemukan sistem pengetahuan yang luar biasa untuk kehidupan manusia. Ini membuktikan bahwa Islam tidak hanya berbicara soal keyakinan, tetapi juga tentang keberlangsungan peradaban," paparnya.
Implikasi dan Relevansi bagi Dunia Akademik Modern
Secara historis, pemikiran Kuntowijoyo lahir dari keresahannya melihat keterasingan ilmu pengetahuan dari akar budaya dan agama di Indonesia. Pada era 1980-an hingga 1990-an, Kuntowijoyo merupakan tokoh kunci yang mendorong munculnya pemikiran Islam yang lebih inklusif, humanis, dan berorientasi pada pembebasan sosial.
Diskusi Bulaksumur ke-48 ini memberikan implikasi penting bagi arah pengembangan pendidikan tinggi di Indonesia. Pertama, adanya dorongan untuk melakukan reorientasi kurikulum yang tidak hanya fokus pada hard skill, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etis yang bersumber dari kearifan lokal dan agama. Kedua, perlunya metodologi penelitian yang lebih integratif, di mana ilmu sosial dan humaniora tidak lagi berdiri terpisah dari nilai-nilai transendental.
Dampak yang diharapkan dari forum ini adalah lahirnya model transformasi sosial berbasis nilai yang dapat diadaptasi oleh berbagai fakultas di lingkungan UGM dan universitas lainnya. Jika selama ini sains sering dianggap bebas nilai (value-free), pemikiran Kuntowijoyo menegaskan bahwa sains harus berpihak pada kemanusiaan. Ilmu pengetahuan yang tidak memiliki keberpihakan pada kaum lemah atau tidak memiliki visi keberlanjutan hanyalah alat yang sia-sia bagi peradaban.

Apresiasi Keluarga dan Harapan bagi Masa Depan
Mewakili keluarga besar mendiang Kuntowijoyo, Drs. Susilaningsih, M.A., menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya diskusi ini. Baginya, keterlibatan para akademisi lintas disiplin dalam membedah kembali pemikiran suaminya merupakan bukti bahwa gagasan-gagasan Kuntowijoyo masih hidup dan relevan dengan tantangan masa kini.
"Atas nama keluarga, kami haturkan terima kasih kepada semua pihak yang menjadikan buku-buku Mas Kunto tetap bermanfaat secara luas. Harapan kami, diskusi ini dapat menginisiasi pemikiran-pemikiran baru yang segar, yang mampu menjawab kegelisahan masyarakat di masa depan," ungkap Susilaningsih.
Kesimpulan: Tantangan di Depan Mata
Diskusi Pemikiran Bulaksumur edisi ke-48 ini menjadi pengingat bagi komunitas akademik bahwa tugas ilmuwan tidak selesai di ruang kelas atau laboratorium. Sebagai pewaris intelektual Kuntowijoyo, para dosen dan peneliti diharapkan mampu menjadi agen transformasi yang mampu menjembatani jarak antara nilai-nilai luhur agama dan kemajuan teknologi.
Tantangan ke depan adalah bagaimana mengoperasionalisasikan gagasan-gagasan besar ini menjadi kebijakan kampus dan praktik pengajaran yang konkret. Tanpa keberanian untuk melakukan kritik diri terhadap paradigma ilmu pengetahuan yang dominan, maka nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial akan tetap menjadi slogan normatif. Sebagaimana pesan yang tersirat dari forum tersebut, sudah saatnya ilmu pengetahuan di Indonesia tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga secara aktif mengubahnya menjadi tempat yang lebih baik bagi seluruh umat manusia.
Dengan mengangkat kembali pemikiran Kuntowijoyo, UGM secara tidak langsung menegaskan kembali posisinya sebagai institusi pendidikan yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan. Diskusi ini diharapkan bukan menjadi akhir, melainkan titik tolak bagi serangkaian riset dan diskusi lebih lanjut mengenai integrasi ilmu pengetahuan yang berbasis pada integritas, keberlanjutan, dan keadilan sosial.









