Krisis lingkungan hidup yang melanda bumi saat ini bukan lagi sekadar isu ekologis, melainkan ancaman eksistensial bagi peradaban manusia. Fenomena pemanasan global yang dipicu oleh ketergantungan masif pada energi fosil sejak era revolusi industri telah menciptakan beban moral dan ekonomi yang berat bagi generasi mendatang. Peringatan keras ini disampaikan oleh Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D., IPU., dalam pidato Valedictory Lecture bertajuk Pertanggungjawaban Aksiologi Ilmu-Ilmu Teknik di Hadapan Peradaban Manusia dan Semesta yang berlangsung di Auditorium SGLC FT UGM, Jumat (10/7/2026).
Krisis Karbon dan Paradoks Pembangunan Teknik
Dalam paparannya, Prof. Sudaryono menyoroti percepatan kerusakan lingkungan yang terjadi dalam durasi yang relatif singkat. Berdasarkan data yang ia paparkan, sekitar 50 persen karbon yang saat ini terakumulasi di atmosfer disumbangkan hanya dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Angka ini menegaskan bahwa intensitas aktivitas manusia dalam tiga dekade terakhir telah melampaui batas toleransi ekosistem bumi.
Ilmu teknik, yang secara inheren bersifat preskriptif—yakni bertujuan untuk mengubah kondisi eksisting menjadi sesuatu yang baru—dihadapkan pada dilema etis. Di satu sisi, ilmu teknik telah menjadi motor penggerak peradaban, menyediakan infrastruktur, energi, dan teknologi yang meningkatkan kualitas hidup manusia sejak Revolusi Industri. Namun, di sisi lain, ilmu ini juga menjadi penyumbang utama terhadap degradasi lingkungan. Prof. Sudaryono menyebut fenomena ini sebagai sebuah paradoks: ilmu teknik memberdayakan lingkungan, namun secara bersamaan melemahkan daya dukung alam bagi kehidupan.

Ancaman Nyata Tahun 2050
Tanpa adanya perubahan drastis dalam paradigma pembangunan dan pemanfaatan teknologi, Prof. Sudaryono memberikan proyeksi kelam mengenai masa depan kemanusiaan pada tahun 2050. Ia memprediksi bahwa umat manusia akan terjebak dalam dua skenario pahit: konflik horizontal yang dipicu oleh perebutan sumber daya pangan yang semakin langka, atau gelombang migrasi besar-besaran (klimat pengungsi) akibat negara asal yang tidak lagi layak huni.
Pernyataan ini sejalan dengan berbagai laporan dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) yang secara konsisten mengingatkan bahwa keterlambatan dalam memitigasi emisi gas rumah kaca akan menyebabkan dampak yang ireversibel. Ketergantungan pada bahan bakar fosil bukan hanya masalah teknis, melainkan masalah tata kelola wilayah dan kebijakan publik yang harus segera dibenahi oleh komunitas teknik.
Aksiologi sebagai Kompas Keilmuan Teknik
Dalam diskursus filsafat ilmu, Prof. Sudaryono menekankan pentingnya aspek aksiologi—cabang filsafat yang membahas tentang nilai dan kegunaan ilmu. Menurutnya, ilmu teknik tidak boleh hanya berhenti pada aspek epistemologi (bagaimana ilmu dibangun dan dipelajari), tetapi harus diuji melalui aksiologi (untuk apa ilmu tersebut dimanfaatkan bagi masyarakat dan semesta).
Fakultas Teknik, menurut Sudaryono, memiliki kewajiban moral untuk mereformasi sistem pembelajarannya agar lebih tangguh dan berwawasan lingkungan. Mahasiswa teknik tidak hanya dididik untuk menjadi teknokrat yang efisien, tetapi juga etikus yang mempertimbangkan dampak jangka panjang dari setiap rancangan dan kebijakan wilayah yang mereka buat. Preskripsi yang dihasilkan oleh para insinyur harus mampu menjawab tantangan krisis global, bukan justru memperburuk ketergantungan pada sistem yang destruktif.

Apresiasi Kolegial dan Warisan Intelektual
Kegiatan kuliah umum ini sekaligus menjadi momentum purna tugas bagi Prof. Sudaryono. Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., dalam sambutannya memberikan penghormatan tinggi atas dedikasi sang profesor. Prof. Selo menekankan bahwa kontribusi setiap individu dalam civitas akademika adalah fondasi utama kemajuan fakultas.
Salah satu nilai kepemimpinan yang ditekankan Prof. Selo dari Prof. Sudaryono adalah filosofi Jawa: diilengke (diingatkan), dielokke (diperbaiki atau diajak ke arah kebaikan), dan dieman (disayangi). Prinsip ini dinilai menjadi perekat yang efektif dalam mengelola dinamika organisasi di lingkungan pendidikan tinggi teknik yang kompleks.
Sementara itu, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., rekan sejawat Prof. Sudaryono, menyoroti konsistensi sang profesor dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Bambang menekankan bahwa karya-karya Prof. Sudaryono tidak sekadar terdokumentasi dalam jurnal, melainkan tercermin dalam pendekatan penelitian yang membumi, seperti grounded research dan fenomenologi.
"Warisan terbesar bukan hanya karya tulis, melainkan manusia-manusia yang terinspirasi dan dibentuk oleh dedikasi beliau," ungkap Prof. Bambang. Ia menambahkan bahwa kepekaan Prof. Sudaryono terhadap realitas sosial adalah pelajaran berharga bagi generasi akademisi muda.

Implikasi Kebijakan dan Masa Depan Teknik
Krisis lingkungan yang dipaparkan dalam forum ini menuntut adanya pergeseran paradigma dalam dunia teknik di Indonesia. Implikasi dari pesan Prof. Sudaryono mencakup beberapa poin strategis:
- Kurikulum Berbasis Keberlanjutan: Institusi pendidikan teknik harus mengintegrasikan prinsip-prinsip ekonomi sirkular dan teknologi rendah karbon ke dalam kurikulum inti, bukan sekadar mata kuliah pilihan.
- Perencanaan Wilayah yang Resilien: Mengingat peran Prof. Sudaryono di bidang perencanaan wilayah, masa depan kota-kota di Indonesia harus dirancang dengan mempertimbangkan kerentanan iklim dan manajemen sumber daya yang adil.
- Akuntabilitas Etika Insinyur: Perlunya penguatan kode etik insinyur yang mencakup tanggung jawab terhadap lingkungan hidup, sejalan dengan konsep aksiologi yang diusung.
Kronologi dan Konteks Peristiwa
Acara ini diselenggarakan pada 10 Juli 2026 sebagai rangkaian dari tradisi akademik purna tugas di UGM. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya desakan global agar institusi pendidikan tinggi menjadi motor penggerak solusi atas krisis iklim. Dengan mengangkat tema aksiologi, FT UGM secara sadar melakukan refleksi diri terhadap sejarah panjang kontribusinya sejak masa revolusi industri hingga era transisi energi saat ini.
Sebagai penutup, peringatan Prof. Sudaryono bukan sekadar catatan perpisahan, melainkan sebuah seruan untuk beraksi. Dunia teknik berada di persimpangan jalan: terus menjadi bagian dari masalah, atau memimpin transformasi menuju peradaban yang lebih berkelanjutan. Pilihan yang diambil hari ini, sebagaimana ditegaskan oleh sang profesor, akan menentukan apakah generasi mendatang akan memiliki dunia yang layak huni atau hanya mewarisi tumpukan utang krisis peradaban.
Kehadiran para akademisi dan mahasiswa dalam kuliah umum ini mencerminkan kesadaran kolektif akan perlunya integrasi antara teknologi dan etika. Di tengah ketidakpastian masa depan, pesan mengenai tanggung jawab terhadap bumi dan kemanusiaan menjadi pengingat bahwa ilmu teknik pada dasarnya adalah ilmu untuk melayani kehidupan, bukan untuk menguras sumber daya semesta hingga titik nadir.









