Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya

Strategi Ketahanan Pangan DIY Melalui Gerakan Menanam Cabai untuk Tekan Inflasi Daerah

badge-check


					Strategi Ketahanan Pangan DIY Melalui Gerakan Menanam Cabai untuk Tekan Inflasi Daerah Perbesar

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara resmi menginisiasi gerakan penanaman cabai massal sebagai instrumen strategis dalam menjaga stabilitas harga pangan dan memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga. Langkah ini merupakan bagian integral dari program MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) yang diselenggarakan di Bangsal Mataram, KPwBI DIY, pada Selasa, 9 Juni 2026. Acara ini melibatkan 200 peserta yang terdiri dari pengurus Tim Penggerak (TP) PKK dari berbagai kabupaten/kota di DIY, perwakilan organisasi perempuan, serta para pemangku kepentingan terkait di sektor pangan.

Inisiatif ini lahir sebagai respons atas dinamika harga komoditas pangan yang kerap menjadi penyumbang utama inflasi di wilayah DIY. Dalam kerangka kerja tahun 2026, KPwBI DIY melakukan penguatan pada program MRANTASI melalui kegiatan Capacity Building yang berfokus pada budidaya cabai secara mandiri. Langkah ini diharapkan mampu meredam volatilitas harga cabai di pasar tradisional yang selama ini sangat sensitif terhadap gangguan pasokan.

Transformasi Strategis: Dari GNPIP Menuju GPIPS

Tahun 2026 menandai babak baru dalam upaya pengendalian inflasi nasional dengan transformasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) menjadi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS). Perubahan nomenklatur ini mencerminkan pergeseran pendekatan yang lebih holistik. Dalam strategi GPIPS, pemerintah dan otoritas moneter menekankan pada implementasi pendekatan 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Kepala Perwakilan BI DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menegaskan bahwa pengendalian inflasi tidak lagi bisa hanya mengandalkan kebijakan fiskal atau intervensi pasar oleh pemerintah pusat. Keterlibatan masyarakat secara aktif di tingkat akar rumput menjadi variabel krusial. Menurut Sri Darmadi, budidaya cabai di pekarangan rumah bukan sekadar aktivitas pertanian skala kecil, melainkan sebuah langkah strategis untuk memutus ketergantungan rumah tangga terhadap fluktuasi harga pasar yang sering kali tidak menentu.

Data historis menunjukkan bahwa hingga Mei 2026, inflasi di DIY masih didominasi oleh kelompok volatile food atau bahan pangan yang harganya bergejolak. Cabai, sebagai salah satu komoditas utama dalam konsumsi masyarakat DIY, secara konsisten mencatatkan kontribusi signifikan terhadap angka inflasi bulanan. Oleh karena itu, melalui program MRANTASI PKK, BI DIY berupaya mengubah perilaku masyarakat dari konsumen pasif menjadi produsen pangan mandiri.

Sinergi Lintas Sektoral dan Distribusi Bibit Unggul

Implementasi program ini dilakukan secara kolaboratif. KPwBI DIY menjalin kemitraan strategis dengan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang untuk memastikan keberhasilan teknis budidaya. Sebagai bentuk dukungan nyata, sebanyak 10.000 bibit cabai rawit varietas Brengos didistribusikan ke 66 kalurahan/kelurahan yang telah ditetapkan sebagai proyek percontohan.

Pemilihan varietas Brengos bukan tanpa alasan. Varietas ini dikenal memiliki ketahanan yang baik terhadap hama dan kondisi cuaca tertentu, sehingga diharapkan dapat memberikan hasil panen yang optimal bagi masyarakat. Selain bibit, setiap paket bantuan juga menyertakan pupuk dan sarana produksi pertanian (saprotan) pendukung lainnya untuk menjamin keberlanjutan pertumbuhan tanaman hingga masa panen.

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan, Noviar Rahmad, yang mewakili Sekretaris Daerah DIY, menyatakan bahwa program MRANTASI merupakan manifestasi dari sinergi antarlembaga yang kuat. Menurutnya, pengendalian inflasi adalah tanggung jawab kolektif yang memerlukan fondasi kerja sama antara pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat. Program yang telah dirintis sejak tahun 2024 ini kini diperluas jangkauannya dengan melibatkan lebih banyak organisasi kemasyarakatan, menunjukkan komitmen Pemda DIY untuk menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Inflasi dan Gerakan Menanam Cabe

Peran Strategis PKK dalam Ketahanan Pangan

Wakil Ketua Tim Penggerak PKK DIY, GKBRAA Paku Alam, memberikan apresiasi tinggi terhadap kolaborasi ini. Dalam pandangannya, PKK memiliki struktur organisasi yang sangat efektif hingga ke tingkat rumah tangga. Posisi strategis ini menjadikan PKK sebagai garda terdepan dalam mensosialisasikan gerakan menanam pangan mandiri.

GKBRAA Paku Alam menekankan pentingnya kader PKK untuk menjadi motor penggerak bagi warga di lingkungannya. Dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang ada, keluarga tidak hanya dapat menghemat pengeluaran untuk belanja bahan pokok, tetapi juga berkontribusi langsung dalam menekan permintaan pasar yang berlebihan terhadap komoditas cabai. Harapannya, gerakan ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kemandirian pangan dimulai dari unit terkecil masyarakat, yakni keluarga.

Pendidikan dan Pelatihan Teknis sebagai Pilar Keberlanjutan

Guna memastikan program ini tidak berhenti pada sekadar pembagian bibit, KPwBI DIY menyelenggarakan talk show dan pelatihan teknis bagi para peserta. Deputi Kepala Perwakilan BI DIY, Hermanto, memberikan edukasi komprehensif mengenai fungsi Bank Indonesia dan kaitan erat antara kestabilan harga pangan dengan inflasi daerah. Pemahaman ini penting agar masyarakat memahami alasan di balik kebijakan pemerintah dalam mengendalikan inflasi.

Sementara itu, pakar pertanian tanaman pangan, TO Suprapto, memberikan pelatihan praktis terkait teknik budidaya cabai rawit yang tepat. Pelatihan ini mencakup metode penanaman di lahan terbatas, pengendalian hama secara alami, hingga teknik pascapanen agar kualitas hasil tanaman tetap terjaga. Moderasi sesi ini dilakukan oleh Y Sri Susilo, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, yang menekankan pentingnya aspek ekonomi dari gerakan ini terhadap stabilitas ekonomi makro di DIY.

Kronologi dan Rencana Aksi ke Depan

Program MRANTASI PKK 2026 direncanakan berjalan secara berkelanjutan hingga November 2026. Berikut adalah tahapan yang telah dan akan dilakukan dalam periode tersebut:

  1. Juni 2026: Pencanangan program dan penyaluran bibit serta sarana pertanian ke 66 kalurahan percontohan.
  2. Juli – September 2026: Periode pendampingan teknis dan monitoring berkala oleh tim ahli dari Polbangtan dan BI DIY untuk memastikan tanaman tumbuh dengan baik.
  3. Oktober 2026: Pelaksanaan kompetisi antarwilayah untuk memberikan apresiasi bagi kelompok yang berhasil mengelola budidaya cabai dengan hasil paling optimal.
  4. November 2026: Evaluasi akhir program, pengukuran dampak terhadap penurunan biaya belanja rumah tangga, dan penyusunan peta jalan untuk keberlanjutan program di tahun-tahun mendatang.

Analisis Dampak dan Implikasi Ekonomi

Secara makro, inisiatif ini memiliki implikasi positif bagi stabilitas harga pangan di DIY. Pertama, peningkatan suplai cabai dari sektor rumah tangga secara teori akan mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, yang selama ini sering terganggu oleh kendala distribusi. Kedua, pemberdayaan pekarangan dapat meningkatkan literasi ekonomi masyarakat mengenai nilai guna lahan yang sebelumnya tidak produktif.

Namun, keberhasilan jangka panjang dari gerakan ini sangat bergantung pada konsistensi masyarakat dalam merawat tanaman. Sering kali, program berbasis komunitas mengalami penurunan antusiasme setelah fase awal. Oleh karena itu, kompetisi antarwilayah yang direncanakan oleh KPwBI DIY merupakan langkah cerdas untuk menjaga motivasi peserta. Jika program ini berhasil diadopsi sebagai budaya masyarakat secara luas, DIY dapat memiliki bantalan ekonomi yang kuat terhadap guncangan inflasi pangan, terutama saat terjadi kelangkaan pasokan di pasar nasional.

Lebih jauh lagi, keberhasilan MRANTASI PKK akan menjadi tolok ukur bagi daerah lain dalam merancang kebijakan pengendalian inflasi yang berbasis pada pemberdayaan masyarakat. Integrasi antara kebijakan moneter yang dijalankan oleh Bank Indonesia dengan gerakan sosial yang digerakkan oleh PKK membuktikan bahwa sinergi lintas sektor adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.

Melalui upaya terstruktur ini, KPwBI DIY tidak hanya menjalankan mandat pengendalian inflasi, tetapi juga membangun kemandirian pangan yang berkelanjutan. Diharapkan, gerakan ini akan memicu multiplier effect di mana masyarakat menjadi lebih proaktif, kreatif, dan mandiri dalam mengelola kebutuhan pokok mereka, yang pada akhirnya akan menjaga stabilitas harga bahan pokok di DIY secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Evaluasi Strategis Badan Gizi Nasional: Momentum Transformasi Menuju Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis

10 Juni 2026 - 18:57 WIB

Peluang Karier Emas Bank Central Asia Buka Pendaftaran Beasiswa PPBP dan PPTI Tahun Ajaran 2027 Bagi Talenta Muda Indonesia

9 Juni 2026 - 18:57 WIB

Krom Bank Indonesia Tbk Cetak Pertumbuhan Signifikan dengan Capaian Satu Juta Rekening dan Dana Pihak Ketiga Rp10 Triliun

9 Juni 2026 - 12:57 WIB

Audi Resmi Luncurkan The New Audi Q5 Sportback di Indonesia untuk Memperkuat Dominasi di Segmen SUV Premium

9 Juni 2026 - 06:57 WIB

Melampaui Angka Statistik Membedah Kompleksitas Kemiskinan Struktural dan Kegagalan Kebijakan Top-Down di Indonesia

9 Juni 2026 - 00:57 WIB

Trending di Berita Ekonomi Kreatif & UMKM Yogya