Menu

Mode Gelap
Di Novel Buya Hamka, A Fuadi Angkat Kisah Hamka dengan Bung Karno dan Haji Rasul Canda Raffi Ahmad saat Anak Keduanya dapat Rp 1 M dari Ibunda Nagita Slavina Ayah Vanessa Angel Sebut Besannya Marah-marah dan Ungkit Biaya Pengasuhan Gala Artis BJ yang Ditangkap karena Narkoba Adalah Bobby Joseph Ben Joshua Sebut Ibunya Syok saat Dengar Hoaks soal Ia Ditangkap karena Narkoba Danang DA Resmi Menikah dengan Hemas Nura

Studi & Edukasi Budaya Yogya

Semangat Belajar Sepanjang Hayat: Djoko Slamet Pudjorahardjo Raih Gelar Magister Teknik Fisika UGM di Usia 68 Tahun

badge-check


					Semangat Belajar Sepanjang Hayat: Djoko Slamet Pudjorahardjo Raih Gelar Magister Teknik Fisika UGM di Usia 68 Tahun Perbesar

Kisah inspiratif datang dari lingkungan akademis Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Djoko Slamet Pudjorahardjo, seorang peneliti senior di Pusat Riset Teknologi Akselerator (PRTA), Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sukses merampungkan pendidikan Magister Teknik Fisika dengan capaian prestasi yang gemilang. Di usianya yang menginjak 68 tahun, Djoko berhasil menyandang gelar magister melalui program Magister by Research (MBR) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,98. Keberhasilan ini tidak hanya menjadi catatan akademis yang membanggakan, tetapi juga simbol dedikasi tinggi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

Djoko resmi dikukuhkan sebagai lulusan pascasarjana dalam prosesi wisuda yang berlangsung di Grha Sabha Pramana pada 22-23 April 2026. Pencapaian ini diraihnya dalam durasi studi yang cukup efisien, yakni satu tahun, sebelas bulan, dan dua puluh sembilan hari. Tesis yang ia pertahankan di depan para penguji berjudul Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp untuk Siklotron 30 MeV. Topik ini dipilih bukan tanpa alasan; ia merupakan hasil dari pergulatan intelektual Djoko yang bertahun-tahun berkecimpung dalam riset teknologi akselerator partikel di institusi tempatnya bernaung.

Kronologi dan Motivasi di Balik Keputusan Studi Lanjut

Keputusan Djoko untuk kembali ke bangku kuliah pada usia yang tidak lagi muda bukanlah sebuah impuls sesaat. Hal ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di lingkup riset nasional. Sebagai periset yang tergabung dalam Kelompok Riset Teknologi Akselerator Linier, Djoko menyadari bahwa dinamika teknologi nuklir dan akselerator partikel bergerak dengan kecepatan yang eksponensial.

Proses pendidikan yang ia jalani dimulai dengan pemanfaatan program Degree by Research yang disediakan oleh BRIN. Program ini memberikan kesempatan bagi para periset untuk mendalami topik spesifik yang linear dengan kebutuhan riset institusi. Bagi Djoko, lokasi UGM yang berada di Yogyakarta—tempat ia berdomisili dan berkantor—menjadi faktor pendukung utama yang memudahkannya dalam melakukan mobilitas antara kegiatan penelitian lapangan dan aktivitas perkuliahan.

Selama periode 2024 hingga 2026, Djoko menjalani ritme ganda. Ia harus membagi fokus antara tanggung jawab sebagai periset yang menuntut presisi tinggi dan kewajiban akademis sebagai mahasiswa pascasarjana. Meskipun dihadapkan pada jadwal yang padat, disiplin yang ia bangun selama puluhan tahun sebagai peneliti membantunya menyelesaikan target akademik tepat waktu.

Tantangan Digitalisasi dan Adaptasi Teknologi

Dalam dunia pendidikan tinggi modern, transformasi digital menjadi keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Bagi mahasiswa generasi senior, transisi menuju ekosistem pembelajaran digital yang sepenuhnya terintegrasi seringkali menjadi hambatan tersendiri. Djoko mengakui secara jujur bahwa tantangan terberat yang ia hadapi selama studi di UGM bukanlah materi keilmuan Teknik Fisika itu sendiri, melainkan adaptasi terhadap ekosistem teknologi informasi kampus.

Kisah Inspiratif, Djoko Lulus S2 Teknik Fisika UGM di Usia 68 Tahun

"Tantangan selama studi di UGM adalah mahasiswa harus familiar dengan teknologi informasi yang digunakan di UGM, sehingga kadang saya merasa gaptek bila dibandingkan dengan mahasiswa lainnya yang rata-rata usianya lebih muda dari saya," ungkap Djoko. Ia menyoroti bagaimana kurikulum modern saat ini sangat bergantung pada penggunaan perangkat lunak simulasi, bahasa pemrograman tingkat lanjut, dan platform kolaborasi daring yang mungkin belum menjadi standar operasional di masa awal karier akademisnya dulu.

Namun, alih-alih menyerah pada keterbatasan, Djoko memilih untuk melakukan kolaborasi antargenerasi. Lingkungan akademik UGM yang inklusif memungkinkannya berinteraksi dengan rekan-rekan mahasiswa yang jauh lebih muda. Ia mendapati bahwa para mahasiswa junior memiliki sikap saling menghormati yang tinggi. Ketika ia menemui kendala teknis dalam penggunaan aplikasi atau bahasa pemrograman, rekan-rekan mahasiswanya tidak segan untuk memberikan asistensi. Proses belajar dua arah ini menjadi salah satu kunci keberhasilan Djoko dalam menaklukkan materi kuliah yang berbasis digital.

Konteks Riset: Mengapa Siklotron 30 MeV?

Untuk memahami relevansi studi Djoko, perlu dipahami peran strategis teknologi akselerator di Indonesia. Siklotron merupakan jenis pemercepat partikel yang digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari riset fisika nuklir, produksi radioisotop untuk kebutuhan medis (seperti deteksi kanker), hingga aplikasi industri.

Tesis yang disusun oleh Djoko mengenai Analisis Desain Sumber Ion Tipe Multicusp adalah langkah krusial dalam upaya kemandirian teknologi nuklir di Indonesia. Sumber ion merupakan komponen utama dalam siklotron. Dengan melakukan analisis desain yang lebih efisien dan canggih, hasil riset Djoko diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan fasilitas siklotron 30 MeV di BRIN. Fokus pada komponen multicusp memungkinkan peningkatan performa berkas ion, yang pada akhirnya berdampak pada efisiensi operasional akselerator.

Langkah ini sejalan dengan arah kebijakan strategis nasional dalam memperkuat basis riset teknologi nuklir yang berdaulat. Keberhasilan Djoko bukan sekadar pencapaian personal, melainkan aset pengetahuan yang akan diteruskan kepada generasi periset muda di BRIN.

Analisis: Implikasi terhadap Budaya Belajar Sepanjang Hayat

Keberhasilan Djoko Slamet Pudjorahardjo memberikan implikasi luas bagi narasi pendidikan di Indonesia. Fenomena "lifelong learning" atau belajar sepanjang hayat seringkali hanya menjadi jargon di atas kertas, namun Djoko membuktikan bahwa hal tersebut dapat dieksekusi dengan hasil yang sangat konkret.

Secara sosiologis, apa yang dilakukan Djoko menantang stigma mengenai usia produktif. Di tengah tren global di mana dunia kerja menuntut pembaruan keahlian (upskilling) secara terus-menerus, usia pensiun tidak lagi dipandang sebagai akhir dari fase pengembangan diri. Sebaliknya, masa menjelang purna tugas dapat menjadi fase puncak di mana pengalaman praktis selama puluhan tahun dikombinasikan dengan pembaruan teori akademik yang mutakhir.

Kisah Inspiratif, Djoko Lulus S2 Teknik Fisika UGM di Usia 68 Tahun

Dari sisi kebijakan SDM di institusi riset, model "Degree by Research" yang diikuti oleh Djoko menunjukkan efektivitas yang tinggi. Dengan membiarkan periset tetap berada di lingkungan kerjanya sembari menyelesaikan studi, institusi mendapatkan output riset yang langsung aplikatif terhadap kebutuhan lapangan. Tidak ada "gap" antara teori di kelas dengan masalah yang dihadapi di laboratorium.

Pesan untuk Generasi Mendatang

Dalam refleksinya, Djoko menekankan bahwa batasan usia dalam menuntut ilmu hanyalah konstruksi mental. "Menuntut ilmu tidak terbatas oleh usia, selama kita masih mampu melaksanakannya," ujarnya. Baginya, kelulusan ini adalah kado penutup karier yang manis sekaligus bukti bahwa ia telah memanfaatkan setiap peluang yang diberikan negara dengan sebaik-baiknya.

Pesan ini sangat relevan ditujukan bagi generasi muda (Gen Z dan Milenial) yang saat ini sedang menempuh pendidikan. Djoko mengingatkan bahwa dalam menghadapi kompleksitas dunia modern, kepercayaan diri dan semangat pantang menyerah adalah modal utama. Jika seorang periset senior di usia 68 tahun mampu beradaptasi dengan bahasa pemrograman dan sistem digital yang baru, maka tidak ada alasan bagi generasi yang lebih muda untuk tidak memiliki semangat belajar yang jauh lebih besar.

Kesimpulan: Warisan Pengetahuan

Wisuda yang dijalani Djoko pada April 2026 bukan sekadar seremoni pelepasan mahasiswa. Ini adalah perayaan atas keteguhan hati seorang ilmuwan. Dengan IPK 3,98, ia telah menetapkan standar tinggi bagi siapa pun yang ingin mengejar pendidikan tinggi di masa depan, tanpa memandang berapa pun usia mereka.

Sebagai penutup, kisah Djoko Slamet Pudjorahardjo mengukuhkan UGM sebagai institusi yang tidak hanya fokus pada pendidikan usia dini atau menengah, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi siapa saja yang memiliki rasa ingin tahu yang tidak pernah padam. Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi jutaan pekerja dan peneliti di Indonesia bahwa selama semangat masih menyala, pintu gerbang ilmu pengetahuan akan selalu terbuka lebar.

Data pendukung menunjukkan bahwa tren pendidikan pascasarjana di Indonesia kini semakin banyak diikuti oleh kalangan profesional yang sudah mapan. Hal ini mencerminkan kebutuhan industri dan lembaga riset untuk terus melakukan upgrade terhadap kompetensi teknis di tengah persaingan teknologi global. Kasus Djoko menjadi model percontohan (pilot project) yang sukses, membuktikan bahwa integrasi antara pengalaman praktis dan literasi akademik adalah resep utama dalam menjawab tantangan masa depan bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Universitas Gadjah Mada Lakukan Regenerasi Kepemimpinan Majelis Wali Amanat Periode 2026-2031 untuk Penguatan Tata Kelola Universitas

20 Juni 2026 - 18:37 WIB

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN-PPM 2026: Mengabdi di Pelosok Negeri untuk Ketahanan Pangan dan Pembangunan Berkelanjutan

20 Juni 2026 - 12:37 WIB

LPS Salurkan Bantuan Dana Pendidikan Senilai Rp1,2 Miliar bagi Seratus Mahasiswa UGM Terdampak Bencana di Sumatra

20 Juni 2026 - 06:37 WIB

Perkuat Sinergi Akademisi dan Industri Universitas Gadjah Mada Jalin Kerja Sama Strategis dengan PT Sulzer Indonesia

20 Juni 2026 - 00:37 WIB

Memperkuat Ketahanan Ekonomi Daerah Melalui Ekosistem Global Gotong Royong Tetrapreneur di Wonosobo

19 Juni 2026 - 18:37 WIB

Trending di Studi & Edukasi Budaya Yogya